Friday, January 29, 2010

FISIOLOGI LAPAR

FISIOLOGI LAPAR
Oleh Rizka Hanifah

Kontrol dari keseimbangan energi dan asupan makanan adalah fungsi utama dari hipotalamus. Secara klasik, hipotalamus dianggap memiliki sepasang pusat nafsu makan yang terletak di bagian lateral (luar) hipotalamus, satu di setiap sisi, dan satu pasang pusat kenyang yang terletak di daerah ventromedial (bawah-tengah). 

Arcuate nucleus adalah kumpulan neuron yang berbentuk seperti busur yang terletak berbatasan dengan dasar dari ventrikel ketiga. Arcuate nucleus dari hipotalamus memegang peranan utama baik dalam long term control dari keseimbangan energi dan berat tubuh dan juga dalam short term control dari asupan makanan. Begitu terintegrasinya dan banyaknya jalur yang melewati arcuate nucleus mengindikasikan bahwa begitu kompleksnya sistem yang terlibat dalam nafsu makan dan rasa kenyang. 

Sinyal dari nafsu makan akan
membangkitkan sensasi dari rasa lapar yang menyebabkan kita makan. Sebaliknya rasa kenyang akan menyebabkan kita berhenti makan. Arcuate nucleus mempunyai dua subset neuron yang memiliki fungsi berlawanan. Satu subset mengeluarkan neuropeptida Y dan yang lain mengeluarkan melanocortins. Neuropeptida Y adalah suatu stimulator nafsu makan yang paling potensial yang akhirnya mengakibatkan adanya peningkatan asupan makanan yang juga akan meningkatkan berat badan. Melanocortins adalah sekumpulan hormone yang secara tradisonal diketahui memiliki fungsi penting untuk memvariasikan warna kulit untuk tujuan penyamaran pada beberapa spesies. Saat ini, telah diketahui ternyata melanocortins memiliki peranan tak terduga dalam homeostatis energy. Melanocortins yang dikenal dengan nama α melanocyte stimulating hormone menekan rasa lapar yang akhirnya mengurangi asupan makanan dan menyebabkan berkurangnya berat badan. Melanocortins tidak berfungsi untuk pewarnaan kuliat pada manusia. Peranan pentingnya dalam tubuh kita hanyalah menekan nafsu makan sebagai respons terhadap meningkatnya cadangan lemak.
Tetapi Neuropeptida Y dan Melanocortins bukanlah efektor terakhir dalam control nafsu makan. Messenger kimia pada arcuate nucleus ini sebaliknya mempengaruhi pengeluaran neuropeptida pada bagian lain dari otak yang memberikan pengaruh langsung pada asupan makanan. Ada 2 jenis proses pengaturan asupan makanan, yaitu long term dan short term regulation.

Short Term Regulation
Short term regulation memiliki arti pengaturan dari asupan makanan yang berhubungan dengan banyaknya jumlah makanan yang dapat diproses oleh sistem gastrointestinal dalam periode waktu yang diberikan. Misalnya, apabila seseorang melebihi kapasitas GI tractnya maka ia akan menjadi sakit. Maka dalam proses makan, ada dua mekanisme yang akan mencegah terjadinya kelebihan makanan.
1. “Metering” makanan saat melewati mulut
2. Reflex yang disebabkan oleh terjadinya pelebaran GI tract bagian atas.
Metering makanan memiliki arti reseptor sensoris pada mulut dan faring mendeteksi banyaknya jumlah kunyahan, air liur, penelanan dan perasaan sehingga dapat mengkuantitasikan jumlah makanan yang melewati mulut. Dalam suatu cara yang sampai sekarang masih belum dimengerti, informasi ini akan diteruskan ke pusat pengaturan makan di hipotalamus untuk menghambat rasa lapar hingga 30 menit sampai satu jam, tetapi tidak lebih. Demikian juga begitu makanan mengisi lambung dan bagian lain pada GI tract bagian atas, impuls sensoris visceral (disebabkan terutama karena pelebaran usus) ditransmisikan ke pusat makan dan menghambat nafsu makan. Melalui cara ini kelebihan makanan pada GI tract dapat dihindari.

Dua peptide yang penting dalam kontol short-term dari asupan makanan telah dapat didentifikasi, yaitu ghrelin dan peptide PYY3-36 yang merupakan stimulator untuk rasa lapar dan kenyang secara berurutan. Keduanya dihasilkan dalan GI tract. Ghrelin, yang disebut juga hormone rasa lapar, adalah suatu stimulator nafsu makan potensial yang dihasilan oleh lambung dan diatur oleh status asupan makanan. Sekresi dari Ghrelin mencapai puncaknya sesaat seblum makan dan mulai menurun pada saat makanan masuk ke mulut. Ghrelin menstimulasi nafsu makan dengan mengaktifkan neuron yang menghasilkan NPY.
PYY3-36 memiliki peranan yang berlawanan dengan ghrelin. Sekresi PYY3-36 yang dihasilkan oleh usus, mencapai level terendahnya sebelum makan tetapi meningkat selama makan dan mensinyalkan rasa kenyang. Peptida ini bertindak dengan menghambat pengaktivasian neuron yang menskresikan NPY pada arcuate nucleus.

LHA dan PVN
Dua area pada hipotalamus disupply oleh akson yang berasal dari neuron yang mensekresikan NPY dan melanocortin. Namun, ada area neuronal di luar arcuate nucleus yang juga terlibat dalam keseimbangan energi dan asupan makanan, yaitu area lateral hipotalamus (LHA) dan paraventricular hypothalamic nucleus (PVN). LHA dan PVN mengeluarkan sinyal kimia sebagai respon terhadap input dari neuron-neuron di arcuate nucleus. LHA memproduksi dua neuropeptida yang sangat dekat dan berhubungan, yaitu orexins, yang merupakan stimulator potensial untuk nafsu makan. NPY menstimulasi sedangkan melanocortins menghambat pengeluaran orexins, yang berdampak pada meningkatnya nafsu makan dan lebih banyak makanan yang dikonsumsi. Sebaliknya, PVN mengeluarkan sinyal kimia, sebagai contoh, kortikotropin releasing hormone, yang menurunkan nafsu makan dan asupan makanan. Melanocortins menstimulasi dan NPY menghambat pengeluaran nuropeptida-neuropeptida penghambat nafsu makan ini.
Berlawanan dengan peran kunci hipotalamus dalam menjaga keseimbangan energi dan long term control dari berat badan, suatu daerah pada batang otak yang disebut nucleus tractus solitaries (NTS) memproses sinyal yang penting untuk merasa kenyang. NTS dikenal sebagai pusat rasa kenyang. NTS tidak hanya menerima input dari daerah hipotalamus yang lebih tinggi, tetapi NTS juga menerima impuls afferent dari GI tract.

Kolesistokinin sebagai sinyal rasa kenyang
Kolesistokinin (CCK), salah satu dari hormone dalam GI tract yang dihasilkan oleh mukosa duodenal selama proses pencernaan makanan, adalah sinyal rasa kenyang yang penting untuk mengatur jumlah makanan yang masuk. CCK dihasilkan sebagai respon atas adanya nutrient dalam usus halus. Melalui berbagai macam pengaruh, CCK memfasilitasi pencernaan dan penyerapan nutrient ini. CCK juga berkontribusi untuk menimbulkan rasa kenyang setelah makanan dikonsumsi tetapi sebelum makanan itu benar-benar dicerna dan diserap. Kita sudah merasa kenyang saat makanan yang cukup dapat melengkapi cadangan di dalam saluran pencernaan walaupun cadangan energi masih rendah. Hal ini menjelaskan mengapa kita berhenti makan sebelum makanan yang dicerna tersedia untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh.

Faktor faktor yang diduga berpengaruh dalam mengontrol pemasukan makanan antara lain :
1. Ukuran Simpanan Lemak
Menurut teori lipostatik, peningkatan simpanan lemak di jaringan adiposa memberikan sinyal kenyang. Menurut teori ini, gliserol berfungsi sebagai sinyal yang mengalir melalui darah antara simpanan lemak dan daerah-daerah di otak yang mengontrol pemasukan makanan. Jumlah gliserol dalam darah menjadi indikator yang menunjukkan jumlah total lemak trigliserida yang tersimpan di jaringan lemak. Pada teori ini, yang penting dalam penentuan lapar dan kenyang adalah presentase pengisian setiap sel lemak. Dengan demikian, orang dengan jumlah sel lemak banyak tetap merasakan lapar pada tahap orang normal merasa kenyang karena sel-sel adiposa mereka belum kenyang

2. Tingkat pemakaian glukosa (Teori Glukostatik)
Menurut teori glukostatik, rasa kenyang timbul karena sinyal yang ditimbulkan oleh peningkatan penggunaan glukosa yang tersedia untuk digunakan karena zat tersebut sedang diserap dari saluran pencernaan. Setelah penyerapan makanan selesai, terjadi penurunan penggunaan glukosa oleh sel yang membangkitkan rasa lapar.
Yang mendukung teori ini adalah adanya anggapan bahwapeningkatan insulin; suatu hormon yang dilepaskan pankreas untuk merangsang penyerapan, penggunaan dan penyimpanan glukosa dan nutrien lain oleh sel, akan memberi sinyal rasa kenyang.

3. Intensitas Produksi Kekuatan Sel (teori iskimetrik)
Teori isketrik menerangkan bahwa sinyal untuk kontrol jangka-pendek pemasukan makanan bukanlah defisit atau surplus salah satu nutrien utama, misal glukosa, tetapi berkaitan dengan besarnya produksi tenaga sel (ATP). Perubahan ketersediaan salah satu atau semua nutrien untuk sel dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan kecepatan pertukaran ATP/ADP, yang dapat ditransduksikan menjadi semacam kekuatan sinyal saraf atau sinyal hematogen rendah (rasa lapar) atau yang tinggi (rasa kenyang).

4. Tingkat Sekresi Kolesistokinin
Terdapat banyak bukti yang menyatakan kolesistokinin(CCK) ; hormon saluran pencernaan yang dikeluarkan dari mukosa duodenum selama ingesti makanan, merupakan sinyal rasa kenyang yang penting. Kolesistokinin dikeluarkan sebagai respon terhadap adanya nutrien di usus halus. Melalui berbagai efek pada salurn pencernaan CCK mempermudah pencernaan dan penyerapan nutrien-nutrien tersebut.

5. Pengaruh Neurotransmitter
Berbagai sirkuit saraf di otak tampaknya ikut berperan dalam mengontrol perilaku makan. Pada hewan percobaan dengan otak yang dipajankan ke berbagai neurotransmitter telah dibuktikan menginduksi pola pemasukan makanan. Sebagai contoh norepinefrin dan neuropeptida Y meningkatkan konsumsi karbohidrat sementara dopamin dan serotonin menekan konsumsi karbohidrat. Bagaimana pengeluaran berbagai neurotransmitter ini dikaitkan dengan kontrol pemasukan makanan masih belum jelas

6. Pengaruh Psikososial
Selain faktor-faktor involunter yang dapat timbul secara otomatis di atas, kebiasaan makanan seseorang juga dibentuk oleh faktor psikologi dan sosial. Seperti makan tiga kali sehari bukan karena lapar, namun karena kebiasaan.
Kenikmatan yang diperoleh dari makan dapat memperkuat perilaku makan. Makan makanan dengan rasa lezat, aroma menggugah selera, dan bentuk menarik dapat meningkatkan nafsu makan dan pemasukan makanan. Hal ini dibuktikan dengan eksperimen pada tikus-tikus yang ditawari berbagai makanan manusia yang lezat. Tikus-tikus itu makan berlebihan sampai sebanyaj 70%-80% dan mengalami kegemukan.
Stres, rasa cemas depresi dan rasa bosan juga dibutikan mengubah perilaku makan melalui cara-cara yang tidak berkaitan dengan kebutuhan energi, baik pada hewan percobaan dan manusia. Dengan demikian, setiap penjelasan menyeluruh mengenai bagaimana pemasukan dikontrol harus memperhitungkan tindakan-tindakan mengkonsumsi makanan secara volunter tersebut yang dapat memperkuat atau mengalahkan sinyal-sinyal internal yang mengatur perilaku makan.


Daftar Pustaka
Sherwood, Lauralee. Human Physiology. 6thed. USA: The Thomson Corporation. 2007.
Guyton A.C. Physiology of The Human Body. 5th ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 1979.
Reaksi:

2 komentar:

  1. jika stimulus lapar tidak terpenuhi (dengan Makan) , lantas apa ada mekanisme alternatif yang akhirnya menggunakan lemak / otot sebagai gantinya??

    thanx infonya

    ReplyDelete
  2. Mohon ijin berpromosi. service Ac segala jenis merk. kami service Ac mencakup wilayah coverage seluruh Surabaya, Gresik, Sidoarjo. kami juga menerima jasa service perbaikan AC bongkar dan pasang AC. pekerjaan kami cepat, tepat, profesional, harga kompetitif di banding harga jasa luaran.
    service ac split sidoarjo
    tukang service ac sidoarjo
    service ac surabaya sidoarjo
    service ac surabaya selatan
    service ac surabaya timur
    service ac surabaya barat
    service ac surabaya utara
    service ac kota surabaya

    SPLIT-TYPE AIR CONDITIONERS
    MULTI-SPLIT AIR CONDITIONERS
    CHILLED WATER FAN COIL UNITS
    VRF AIR CONDITIONERS
    CHILLERS
    WINDOW-TYPE AIR CONDITIONERS

    JASA LAS
    JASA LAS BEKASI

    http://jualjasaacsurabaya.blogspot.com
    Segera hubungi kami, dan kami akan datang kerumah Anda 24 Jam Non Stop.
    (Hari Sabtu / Minggu / Hari Libur buka)
    PIN BBM : 54BE0B4B / 5474CD93 / TELP : 085645475574

    ReplyDelete