Friday, January 29, 2010

KLASIFIKASI & DIAGNOSIS LUKA BAKAR

Oleh Rizka Hanifah

Luka bakar adalah bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan trauma dengan mortilitas dan morbiditas yang tinggi sehingga memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal. Berdasarkan perjalanan penyakitnya dibedakan tiga fase pada luka bakar, yaitu :


1. Fase awal / fase akut / fase syok
Pada fase ini permasalahan utama berkisar pada gangguan pada saluran nafas (misalnya, cedera inhalasi), gangguan mekanisme bernafas yang disebabkan skar melingkar di dada atau trauma mutiple di rongga toraks, dan gangguan sirkulasi. Gangguan yang terjadi menimbulkan dampak yang bersifat sistemik, menyangkut keseimbangan cairan-elektrolit, metabolisme protein-karbohidrat-lemak, keseimbangan asam basa dan gangguan sistem lainnya.

2. Fase
sub akut
Masalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflamatory Response Syndrome (SIRS), Mult-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS) dan sepsis. Ketiganya merupakan dampak dan atau timbul pada perkembangan masalah fase pertama dan masalah kerusakan jaringan.

3. Fase lanjut
Fase ini berlangsung mulai dari penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan. Kesulitan yang sering dihadapi berupa parut hipertropik, kontraktur, dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan atau struktur tertentu akibat proses inflamasi yang hebat yang berlangsung lama. Hal yang umum menjadi karakteristik luka bakar seperti kerapuhan tendon ekstensor pada jari-jari tangan yang menyebabkan kondisi klinis yang disebut bouttonierre deformity

Klasifikasi luka bakar

a. Berdasarkan penyebab
• Luka bakar karena api
• Luka bakar karena air panas
• Luka bakar karena bahan kimia
• Luka bakar karena listrik dan petir
• Luka bakar karena radiasi
• Cedera akibat suhu sangat rendah

b. Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan

Luka bakar derajat I :
• Kerusakan terbatas pada daerah bagian superfisial epidermis
• Kulit kering, hiperemik memberikan eflorensi berupa eritema
• Tidak dijumpai bula
• Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
• Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari
• Contohnya adalah luka bakar karena sengatan matahari

Luka bakar derajat II :
• Kerusakan meliputi epidermis & sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi akut dan proses eksudasi
• Dijumpai bula
• Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi di atas permukaan kulit normal
• Terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi

Derajat II Dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Derajat dua dangkal :
• Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis
• Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.
• Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari

b. Derajat dua dalam :
• Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis
• Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian masih utuh.
• Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung pada pendises kulit yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

Luka bakar derajat III :
• Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam
• Apendises kulit seperti kelenjar keringat, kelenjar sebasea, folikel rambut mengalami kerusakan
• Tidak dijumpai bula
• Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar akibat koagulasi protein pada lapisan dermis dan epidermis.
• Tidak dijumpai rassa nyeri, bahkan hilang sensasi karena ujung-ujung serabut saraf sensorik mengalami kerusakan atau kematian.
• Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan baik dari dasar luka, tepi luka, maupun apendises kulit.

Berat ringan luka bakar, ditinjau dari kedalaman dan kerusakan jaringan ini ditentukan oleh peran beberapa faktor, antara lain :

1. Penyebab
Kerusakan jaringan yang disebabkan oleh api lebih berat dibandingkan air panas; kerusakan jaringan akibat bahan koloid seperti bubur panas lebih berat dibandingkan air panas. Ledakan selain menimbulkan luka bakar juga menyebabkan kerusakan organ dalam akibat daya ledak (eksplosif). Bahan kimia terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat akibat rekasi jaringan sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan proses penyembuhan. 

Luka bakar akibat listrik memiliki kekhususan kerusakan jaringan tubuh disebakan oleh beberapa hal, diantaranya :
  1. Aliran listrik (arus bolak-balik, alternating current/AC) merupakan energi dalam jumlah besar. Berasal dari sumber listrik, melalui bagian tubuh yang kontak dengan sumber listrik (disebut luka masuk) dialirkan melalui bagian tubuh yang memiliki resistensi paling rendah (yaitu cairan, darah, pembuluh darah) dan melalui bagian tubuh yang kontak dengan bumi (disebut luka keluar) dialirkan ke bumi. Aliran listrik dalam tubuh menyebabkan kerusakan akibat panas yang ditimbulkan oleh resistensi jaringan. Kerusakannya dapat bersifat ekstensif lokal maupun sistemik (otak/enselopati, jantung/fibrilasi ventrikel, otot/rabdomiolisis, gagal ginjal dsb).
  2. Loncatan energi yang ditimbulkan oleh udara, yang berubah menjadi api
  3. Kerusakan jaringan bersifat lambat tapi pasti dan tidak dapat diperkirakan luasnya. Hal ini disebabkan kerusakan sistem pembuluh darah (trombosis, oklusi kapilar) disepanjang bagian tubuh yang dialiri listrik.


2. Lama kontak fisik
Lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan luas dan kedalaman kerusakan jaringan.
Pembagian zona kerusakan jaringan :

1. Zona koagulasi, zona nekrosis
Daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat pengaruh cedera termis, hampir dapat dipastikan jaringan ini mengalami nekrosis beberapa saat setelah kontak; karenanya disebut juga sebagai zona nekrosis.

2. Zona statis
Daerah yang langsung berada di luar/ di sekitar zona koagulasi. Di daerah ini terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit sehingga terjadi gangguan perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapilar dan respon inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera, dan mungkin berakhir dnegan nekrosis jaringan.

3. Zona hiperemi
Daerah di luar zona statis ikut mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi selular. Tergantung keadaan umum dan terapi yang diberikan, zona ketiga dapat mengalami penyembuhan spontan; atau berubah menjadi zona kedua bahkan zona pertama.

Kategori penderita
Berdasarkan berat/ringan luka bakar, diperoleh beberapa kategori luka bakar menurut American Burn Association :

1. Luka bakar berat / kritis (major burn)
a. Derajat II-III > 20% pada pasien berusia dibawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun
b. Derajat II-III > 25% pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama
c. Luka bakar pada muka, telingan, tangan, kaki, dan perineurium
d. Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar
e. Luka bakar listrik tegangan tinggi
f. Disertai trauma lainnya
g. Pasien-pasien dnegan resiko tinggi

2. Luka bakar sedang (moderate burn)
a. Luka bakar dengan luas 15-25% pada dewasa, dengan luka bakar derajat tiga kurang dari 10%
b. Luka bakar dengan luas 10-20% pada usia anak kurang dari 10 tahun atau dewasa lebih dari 40 tahun, dengan luka bakar derajat tiga kurang dari 10 %
c. Luka bakar dengan derajat tiga lebih dari 10% pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineurium 

3. Luka bakar ringan 
a. Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada dewasa 
b. Luka bakar dengan luas kurang 10% pada anak dan usia lanjut 
c. Luka bakar dengan luas kurang 2% pada segala usia; tidak mengenai muka, tangan , kaki, dan perineurium. 

Pemeriksaan Laboratorium 
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan pada luka bakar mayor. Hal ini untuk menunjang tatalaksana, mengingat luka bakar mayor dapat menyebabkan kerusakan yang lebih berat dan gangguan keseimbangan metabolisme tubuh yang berat. Hal ini harus dikenali sehingga bisa diatasi secepat mungkin. 

Pemeriksaan yang dapat dilakukan : 

1. complete blood cell count (CBC) 
Sel darah merah (RBC): dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red Blood Cell) karena kerusakan sel darah merah pada saat injuri dan juga disebabkan oleh menurunnya produksi sel darah merah karena depresi sumsum tulang. Sel darah putih (WBC): dapat terjadi leukositosis (peningkatan sel darah putih/White Blood Cell) sebagai respon inflamasi terhadap injuri 

2. blood urea nitrogen (BUN) 
BUN/Creatinin yang meningkat merefleksikan menurunnya perfusi/fungsi renal, namun demikian creatinin mungkin meningkat karena injuri jaringan. 

3. serum glucose 
Meningkat sebagai refleksi respon terhadap stres 

4. electrolite 
1) Potasium pada permulaan akan meningkat karena injuri jaringan atau kerusakan sel darah merah dan menurunnya fungsi renal; hipokalemia dapat terjadi ketika diuresis dimulai; magnesium mungkin mengalami penurunan. 
2) Sodium pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari tubuh; selanjutnya dapat terjadi hipernatremia. 

5. arterial blood gases 
hal yang penting pula diketahui adalah nilai gas darah arteri terutama jika terjadi injuri inhalasi. Penurunan PaO2 atau peningkatan PaCO2. 

6. pemeriksaan urin 
Adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam urin mengindikasikan kerusakan jaringan yang dalam dan kehilangan/pengeluaran protein. Warna urine merah kehitaman menunjukan adanya mioglobin 

7. kadar hematokrit 
Kadar hematokrit meningkat yang menunjukan hemokonsentrasi dari pengeluaran cairan intravaskuler. Jika ruang intravaskuler tidak diisi kembali dengan cairan intravena maka shock hipovolemik dan ancaman kematian bagi penderita luka bakar yang luas dapat terjadi. 

8. kadar COHbg 
Dengan terhirupnya CO, maka molekul oksigen digantikan dan CO secara reversibel berikatan dengan hemoglobin sehingga membentuk carboxyhemoglobin (COHb). Hipoksia jaringan dapat terjadi akibat penurunan secara menyeluruh pada kemampuan pengantaran oksigen dalam darah. Kadar COHb dapat dengan mudah dimonitor melalui kadar serum darah. Peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya keracunan CO. 

Daftar Pustaka 

  1. Moenadjat Y. Luka Bakar: Pengetahuan Klinik Praktis. Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2003 
  2. Ed. Brunicardi FC, et al. Schwartz’s Manual of Surgery. 8th ed. USA: McGraw-Hill. E-book. 2006. p.138 
  3. Karren KJ, Hafen BQ, Limmer D. Brady First Responder : a skill Approach. 5th ed. USA: Prentice-Hall, inc. 1998. p.336-341 
  4. Herndorn, DN. Total Burn Care. 2nd edition. London: Saunders. 2002. p.49 
  5. Burns. Clinical practice Guidelines. Royal Children’ Hospital Melbourne. 2007 
  6. Cioffi W.G., Rue L.W. Diagnosis and treatment of inhalation injuries. Critical Care Clinics of North America. 1991. p. 195.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment