Saturday, January 30, 2010

Neonatorum atau Bayi Kuning

TINDAKAN PREVENTIF DAN TATA LAKSANA
PADA IKTERUS NEONATORUM

OLEH RIZKA HANIFAH

Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat penumpukan bilirubin, sedangkan hiperbilirubinemiaadalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. Gejala ini biasa terjadi antara pada bayi cukup bulan dengan proporsi kejadian 25% hingga 50% dari keseluruhan dan lebih tinggi lagi pada bayi prematur.

Penyebab kuning pada bayi baru lahir sering kali karena fungsi hati yang masih belum sempurna untuk membuang bilirubin dari aliran darah. Kuning juga bisa terjadi karena beberapa kondisi klinis, di antaranya adalah:


• Ikterus fisiologis

• Breastfeeding jaundice

Breastfeeding jaundice dapat terjadi pada bayi yang mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif. Terjadi akibat kekurangan ASI yang biasanya timbul pada hari kedua atau ketiga pada waktu ASI belum banyak dan biasanya tidak memerlukan pengobatan

• Ikterus ASI (breastmilk jaundice)

Ikterus ASI berhubungan dengan pemberian ASI dari seorang ibu tertentu dan biasanya akan timbul pada setiap bayi yang disusukannya bergantung pada kemampuan bayi tersebut mengubah bilirubin indirek. Jarang mengancam jiwa dan timbul setelah 4-7 hari pertama dan berlangsung lebih lama dari ikterus fisiologis yaitu 3-12 minggu.

• Ikterus pada bayi baru lahir akan terjadi pada kasus ketidakcocokan golongan darah (inkompatibilitas ABO) dan rhesus (inkompatibilitas rhesus) ibu dan janin. Tubuh ibu akan memproduksi antibodi yang akan menyerang sel darah merah janin sehingga akan menyebabkan pecahnya sel darah merah sehingga akan meningkatkan pelepasan bilirubin dari sel darah merah..



Gejala kuning pada bayi baru lahir

Ketika kadar bilirubin meningkat dalam darah maka warna kuning akan dimulai dari kepala kemudian turun ke lengan, badan, dan akhirnya kaki. Jika kadar bilirubin sudah cukup tinggi, bayi akan tampak kuning hingga di bawah lutut serta telapak tangan. Cara yang mudah untuk memeriksa warna kuning ini adalah dengan menekan jari pada kulit yang diamati dan sebaiknya dilakukan di bawah cahaya/sinar matahari. Pada anak yang lebih tua dan orang dewasa warna kuning pada kulit akan timbul jika jumlah bilirubin pada darah di atas 2 mg/dL. Pada bayi baru lahir akan tampak kuning jika kadar bilirubin lebih dari 5 mg/dL.

Penatalaksanaan.

I. Mencari Kemungkinan Penyebab

Menetapkan penyebab ikterus tidak selamanya mudah dan membutuhkan pemeriksaan yang banyak dan mahal. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pendekatan khusus untuk dapat memperkirakan penyebabnya. Pendekatan yang dapat memenuhi kebutuhan itu yaitu adalah dengan mencermati saat timbulnya ikterus seperti yang dikemukakan oleh Harper dan Yoon yaitu:

A. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama

• Inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan lain.

• Infeksi intrauterin (oleh virus, toksoplasma, lues dan kadang-kadang bakteri).

• Kadang-kadang oleh defisiensi G-6-PD.

B. Ikterus yang timbul 24- 72 jam sesudah lahir

• Biasanya ikterus fisiologis

• Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini dapat diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat, misalnya melebihi 5 mg%/24 jam.

• Defisiensi enzim G-6-PD

• Polisitemia

• Hipoksia.

C. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama

• Biasanya karena infeksi (sepsis). - Dehidrasi asidosis.

• Difisiensi enzim G-6-PD - Pengaruh obat.

• Sindrom Criggler-Najjar . - Sindrom Gilbert.

D. Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya

• Biasanya karena obstruksi. - Hipotiroidisme.

• “breastmilk jaundice” - Infeksi.

• Neonatal hepatitis. - Galaktosemia.

Pemeriksaan yang perlu diperhatikan yaitu :

• Kadar bilirubin serum berkala

• Darah tepi lengkap

• Golongan darah ibu dan bayi

• Uji coombs

• Pemeriksaan penyaring defisiensi enzim G-6-PD, biakan darah atau biopsi hepar bila perlu.

Pencegahan

Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan :

1. Pengawasan antenatal yang baik.

2. Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi pada masa kehamilan dan kelahiran, misalnya sulfafurazole, novobiosin, oksitosin dan lain-lain.

3. Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus.

4. Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus.

5. Iluminasi yang baik pada bangsal bayi baru lahir.

6. Pemberian makanan yang dini.

7. Pencegahan infeksi.

Penanganan kuning pada bayi baru lahir

1. Penanganan sendiri di rumah

�� Berikan ASI yang cukup (8-12 kali sehari)

�� Sinar matahari dapat membantu memecah bilirubin sehingga lebih mudah diproses oleh hati. Tempatkan bayi dekat dengan jendela terbuka untuk mendapat matahari pagi antara jam 7-8 pagi agar bayi tidak kepanasan, atur posisi kepala agar wajah tidak menghadap matahari langsung. Lakukan penyinaran selama 30 menit, 15 menit terlentang dan 15 menit tengkurap. Usahakan kontak sinar dengan kulit seluas mungkin, oleh karena itu bayi tidak memakai pakaian (telanjang) tetapi hati-hati jangan sampai kedinginan

2. Terapi medis

Pada dasarnya pengendalian bilirubin serum adalah sebagai berikut:

1. Mempercepat proses konjugasi, misalnya dengan pemberian fenobarbital. Obat ini bekerja sebagai ‘enzyme inducer’ sehingga konjugasi dapat dipercepat. Pengobatan dengan cara ini tidak begitu efektif dan membutuhkan waktu 48 jam baru terjadi penurunan bilirubin yang berarti.

2. Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Contohnya pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas. Albumin biasanya diberikan sebelum tranfusi tukar dikerjakan oleh karena albumin akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin yang diikatnya lebih mudah dikeluarkan dengan tranfusi tukar.

3. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi. Fototerapi dapat digunakan untuk pra dan pasca-tranfusi tukar.

4. Tranfusi tukar. Pada umumnya tranfusi tukar dilakukan dengan indikasi sebagai berikut :

- Pada 20 mg%. semua keadaan dengan kadar bilirubin indirek

- Kenaikan kadar bilirubin indirek yang cepat, yaitu 0,3-1 mg%/jam.

- Anemia yang berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung.

- Bayi dengan kadar hemoglobin talipusat < 14 mg% dan uji Coombs direk positif.

Sesudah tranfusi tukar harus diberi fototerapi. Bila terdapat keadaan seperti asfiksia perinatal, distres pernafasan, asidosis metabolik, hipotermia, kadar protein serum kurang atau sama dengan 5 g%, berat badan lahir kurang dari 1.500 gr dan tanda-tanda gangguan susunan saraf pusat, penderita harus diobati seperti pada kadar bilirubin yang lebih tinggi berikutnya.



Fototerapi

Fototerapi telah dilakukan pada sejumlah percobaan sejak tahun 1960 sampai awal tahun 1990. Sesuai dengan petunjuk The American Academy of Pediatrics tahun 2004 indikasi perawatan dengan fototerapi tidak hanya melihat tingkat total bilirubin serum tetapi juga bergantung pada umur kelahiran bayi, umur bayi pada jam-jam sejak kelahiran, dan ada atau tidaknya faktor risiko, seperti penyakit hemolytic isoimmun, kekurangan enzim glucose-6-phosphate dehydrogenase, asfiksia, letargi, ketidakstabilan temperatur, sepsis, asidosis, dan hipoalbuminemia. Kemanjuran fototerapi tergantung pada pemancaran (pengeluaran energi) sumber cahaya. Dosis dan kemanjuran fototerapi sendiri dipengaruhi oleh jenis sumber cahaya. Unit fototerapi yang biasa digunakan berisi tabung fluoresen sinar terang, putih, atau biru. The American Academy of Pediatrics sekarang ini menganjurkan lampu fluoresensi biru spesial atau lampu light-emitting diode (LED) yang telah diketahui lebih efektif untuk fototerapi pada studi klinis. Kemudian daripada itu, dosis dan kemanjuran dari fototerapi biasanya dipengaruhi oleh jarak antara lampu (semakin dekat sumber cahaya, semakin besar irradiasinya) dan permukaan kulit yang terkena cahaya. Oleh karena itu, dibutuhkan sumber cahaya di bawah bayi pada fototerapi intensif. Walaupun uji coba telah menunjukkan bahwa semakin luas permukaan kulit yang terkena, semakin berkurang pula jumlah total bilirubin serum walaupun bayi tetap memakai popok. Namun, bila jumlah total bilirubin serum tetap meningkat walaupun diterapi, popok harus dibuka sampai bilirubin turun secara signifikan. Hal yang perlu diperhatikan adalah kertas alumunium atau kain berwarna putih diletakkan pada mata bayi untuk memantulkan cahaya yang berasal dari fototerapi. Karena cahayanya dapat menyebabkan efek toksik pada retina yang immature sehingga mata bayi harus selalu dilindungi dengan penutup mata yang tidak tembus cahaya. Pada sebagian pasien, fototerapi yang intensif dapat menurunkan 30 hingga 40% pada 24 jam pertama, dengan penurunan terjadi pada 4 – 6 jam pertama; fototerapi dapat dihentikan jika jumlah total bilirubin serum turun hingga dibawah 13 sampai 14 mg/dL (222 sampai 239 ┬Ámol/L).



Efek Samping

Laporan klinis tentang toksisitas yang signifikan pada fototerapi sangat jarang. Purpura dan erupsi bullous jarang dilaporkan pada bayi dengan ikterik cholestasis berat yang menerima fototerapi, yang terjadi kemungkinan adalah hasil dari sensitisasi oleh akumulasi pophyrin. Rash eritem dapat muncul pada bayi yang diterapi dengan tin-meroporphyrin (merupakan obat percobaan yang digunakan untuk mencegah dan mengobati hiperbilirubinemia) kemudian yang diekspose oleh sinar matahari atau lampu floeresent pada siang hari. Porphyria congenital, terdapat riwayat porphyria pada keluarga dan bersamaan dengan penggunaan obat fotosensitizing atau agen lain yang merupakan kontraindikasi absolut terhadap fototerapi, panas yang berat, dan agitasi selama fototerapi dapat menjadi tanda dari porphyria congenital. Jika terapi sinar yang standar tidak menolong untuk menurunkan kadar bilirubin, maka bayi akan ditempatkan pada selimut fiber optic atau terapi sinar ganda/triple akan dilakukan (double/triple light therapy). Jika gagal dengan terapi sinar maka dilakukan transfusi tukar yaitu penggantian darah bayi dengan darah donor. Ini adalah prosedur yang sangat khusus dan dilakukan pada fasilitas yang mendukung untuk merawat bayi dengan sakit kritis, namun secara keseluruhan, hanya sedikit bayi yang akan membutuhkan transfusi tukar



DAFTAR PUSTAKA

Behrman RE, Kliegman RM et al. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed. Philadelphia : WB Saunders Company. 2004.

Mansjoer, Arif, et al, 2002. Hepatologi. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran, 3th ed. Jakarta, Media Aesculapius, pp : 508-516

Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran Dorland, 29th ed. Jakarta: EGC. 2006

Maisels JM, McDonagh FA. Phototherapy for Neonatal Jaundice. Februari 28, 2008. Diunduh dari: http://content.nejm.org/cgi/content/full/358/9/920 pada tanggal 1 September 2009.

Tjipta GD. Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Diunduh dari: http://usupress.usu.ac.id/files/Ragam%20Pediatrik%20Praktis_Final_BAB%201.pdf pada tanggal 1 September 2009

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment