Monday, March 22, 2010

Hematuria

HEMATURIA
Oleh Rizka Hanifah

Pendahuluan
Hematuria adalah salah satu temuan kemih paling umum pada anak-anak dengan penyakit nephrologis pediatrik. Secara umum, hematuria didefinisikan sebagai muculnya 5 atau lebih sel darah merah per LPB dalam 3 dari 3 spesimen urin yang disentrifugasi secara berturut-turut yang diperoleh paling sedikit 1 minggu. Pemeriksaan hematuria dengan dipstik harus dikonfirmasi dengan analisa urin mikroskopis dengan cara mensentrifuse 10-15 ml urin segar. False negatif terjadi bila terdapat formalin (bahan preservatif urin) atau pada urin dengan konsentrasi asam askorbat yang tinggi. False positif bila terkontaminasi darah menstruasi, urin basa dengan pH kurang dari 9, atau terkontaminasi agen oksida yang digunakan untuk membersihkan perineum sebelum mengambil spesimen. Hematuria dapat gross/ makroskopik (yaitu, terang-terangan urin berdarah, atau berwarna teh) atau mikroskopis.

Hematuria mungkin memiliki gejala
atau tanpa gejala, sementara atau terus-menerus, dan dapat pula terisolasi atau berhubungan dengan proteinuria dan kelainan saluran kencing lainnya. Peran dokter dalam perawatan utama pengelolaan anak dengan hematuria adalah dengan mengkonfirmasi temuan serta menegakan etiologinya.


Epidemiologi
Di Amerika Serikat, prevalensi hematuria gross pada anak-anak diperkirakan 0,13%. Lebih dari setengah dari kasus (56%) ini disebabkan oleh penyebab yang mudah diidentifikasi. Penyebab paling umum tampaknya sistitis (20-25%). Seks mungkin mempengaruhi seorang anak untuk menderita penyakit tertentu yang bermanifestasi sebagai hematuria. Misalnya, penyakit terkait seks yaitu sindrom Alport memiliki kecenderungan pada laki-laki, sedangkan nefritis lupus lebih sering terjadi pada gadis remaja. Prevalensi kondisi tertentu juga bervariasi dengan usia. Misalnya, tumor Wilms lebih sering pada anak-anak usia prasekolah, sedangkan postinfectious glomerulonefritis akut lebih sering terjadi pada usia anak sekolah. Pada orang dewasa, hematuria sering merupakan tanda keganasan dari saluran Genitourinary (misalnya, karsinoma sel ginjal, kandung kemih tumor, tumor prostat). Kondisi ini jarang terjadi pada anak-anak.

Etiologi
  • Hematuria dapat berasal dari glomerulus atau nonglomerular. Kencing berwarna kecokelatan, RBC gips, dan sel darah merah yang dysmorphic (small deformed, misshapen, fragmented) dan proteinuria memiliki kecenderungan glomerular hematuria. Air seni kemerahan atau merah muda, passage of blood clots, dan eritrosit yang eumorphic (ukuran normal, berbentuk bikonkaf) memiliki kecendurangan nonglomerular hematuria.
Potensi penyebab hematuria pada anak-anak meliputi: 
Glomerular hematuria 
  • Ig A nephropathy 
  • alport syndrome
  • thin glomerular basement membran disease
  • glomerulonephritis post infeksi streptococus
  • Sindrom hemolitik-uremic 
  • Membranoproliferative glomerulonefritis 
  • Lupus nephritis 
  • Anaphylactoid purpura (purpura Henoch-Schönlein)

Nonglomerular hematuria 
  • Mekanik Trauma (masturbasi) 
  • Menstruasi 
  • Benda asing 
  • Infeksi saluran kemih 
  • Hiperkalsiuria / urolithiasis 
  • Penyakit sel sabit / ciri 
  • Koagulopati 
  • Tumor 
  • Hyperuricosuria
  • Obat / racun (NSAID, antikoagulan, siklofosfamid, ritonavir, indinavir) 
  • Kelainan anatomi (hidronefrosis, penyakit ginjal polikistik, malformasi vaskular) 
  • Stenosis Meatal (penyempitan saluran)

Patofisiologi 
Etiologi dan patofisiologi hematuria bervariasi. Misalnya, hematuria yang berasal dari glomerulus dapat merupakan hasil dari gangguan struktural dalam integritas membran basal glomerulus yang disebabkan oleh peradangan atau proses kekebalan. Bahan kimia beracun dapat menyebabkan gangguan dari tubulus ginjal, sedangkan mekanik kalkuli dapat menyebabkan erosi pada permukaan mukosa saluran Genitourinary sehingga mengakibatkan hematuria. 

Diagnosis
Traktus urinarius bagian atas yang menyebabkan hematuri biasanya berasal dari nephron (glomerulus, ductus colektivus dan interstitium). Traktus urinarius bagian bawah yang menyebabkan hematuri berasal dari sistem pelvicalyceal (berhubungan dengan kalises dan pelvis ginjal), ureter, bladder dan urethra. Hematuri dari glomerulus biasanya berwarna coklat, warna cola, burgundy, proteinuria 100mg/dl dipstik, cast sel darah merah dan RBC urin yang tidak berbentuk. Hematuri dari ductus colektivus disertai dengan leukosit atau cast epitel tubulus renal. Kebalikannya tractus urinarius bawah dihubungkan dengan adanya gross hematuria dan terminal hematuria (gross hematuri pada pancaran urin terakhir), bekuan darah, morfologi RBC baik dan proteinuria normal (dipstik) lebih dari 100mg/dl.

Pasien dengan hematuri biasanya memiliki gejala yang mengarah pada kelainan tertentu. 
  • Warna teh, edema, hipertensi dan oliguri mengarah pada sindrom nefritis akut, termasuk glomerulonefritis post infeksi streptococus, IgA nephropaty, membranoproliferatif glomerulonephritis, henoch-schonlein purpura nefritis, systemic lupus erythematosus nefritis, wegener granulomatosis, microscopic polyarteritis nodusa, good pasteur syndrom dan hemolitic uremic syndrome. 
  • Riwayat infeksi saluran nafas atas, kulit dan pencernaan mengarah pada glomerulonefritis akut, hemolitic uremic syndrom atau HSP. 
  • Rash dan nyeri sendi mengarah pada HSP atau SLE. 
  • Sering buang air kecil, dysuria dan demam mengarah pada infeksi saluran kemih dan mungkin merupakan suatu nephrolithiasia. 
  • Adanya massa pada flank area kemungkinan suatu hydronephrosis, penyakit kistik, trombosis vena renalis atau tumor. 
  • Hematuri dengan sakit kepala, pandangan berubah, epistaksis atau CHF mengarah pada hypertensi. 
  • Pasien dengan riwaya trauma memerlukan evaluasi segera. 
  • Riwayat keluarga juga perlu ditanyakan untuk kemungkinan terjadinya alport syndrom, thin glomerular basement membrane disease, SLE nephritis, IgA nephropathy (Berger disease). Kelainan ginjal lain yang bersifat herediter diantaranya penyakit ginjal polikistik, urolithiasis, dan penyakit sickle cell. 


Daftar Pustaka 
1. Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2005. H. 892. 
2. Sudoyo WA, Setiyohadi B, Alwi I, dkk. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. 2009. 
3. Meyers KE. Evaluation of Hematuria in Children. Urol Clin North Am 2004; 31(3):559-73 
4. Patel HP, Bissler JJ. Hematuria in Children. Pediatr Clin North Am 2001; 48(6): 1519-37 
5. Gulati S. Hematuria. February, 24. 2009. Di Unduh dari http://emedicine.medscape.com/article/981898-overview pada tanggal 22 Maret pukul 17:40
Reaksi:

1 komentar: