Wednesday, June 30, 2010

Tatalaksana Rinitis Alergi

Oleh Rizka Hanifah


Terapi rinitis alergi terbagi dalam tiga pendekatan, meliputi edukasi penghindaran terhadap allergen, farmakoterapi untuk pencegahan dan penanganan gejala, dan imunoterapi spesifik. Penghindaran terhadap allergen merupakan cara yang paling memberikan hasil. Cara yang paling efektif untuk menghindari allergen adalah mengetahui tipe allergen itu sendiri, setiap orang dapat memiliki alergi terhadap berbagai hal, sehingga sangat dianjurkan untuk mengikuti suatu tes alergi di dokter. Contoh-contoh alergi yang banyak pada masyarakat adalah alergi debu, tungau, udang, bulu kucing, dan lainnya. Terapi farmakologi pada rinitis alergi didasarkan pada gejala yang terjadi. Antihistamin dan dekongestan merupakan golongan obat yang sering dipakai untuk menangani rhinitis alergi.1  Rinitis alergi adalah inflamasi pada mukosa hidung yang bersifat minimal persistent, sehingga terapi farmakologi yang digunakan hanya pada saat bergejala, melainkan harus terus menerus.


Antihistamin2
Antihistamin terdapat dua golongan yakni penghambat resptor H1 dan penghambat reseptor H2. Antihistamin yang dapat mengobati edema, eritema, dan pruritus tetapi tidak dapat melawan efek hipereksresi lambung akibat histamin digolongkan sebagai antihistamin penghambat reseptor H1. Mekanisme kerja obat golongan ini adalah berikatan dengan reseptor H1 tanpa mengaktivasinya sehingga mencegah ikatan dan aksi histamine. AH1 seperti diphenhydramine, hydroxyzin, menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos.  Dengan kata lain, AH1 mampu menghambat bronkokonstriksi akibat histamin begitupun dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan edema dapat dihambat. 
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif. Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang dideritanya. Tetapi efek ini mengganggu bagi pasien yang memerlukan kewaspadaan tinggi. AH1 dapat merangsang maupun menghambat SSP. Efek perangsangan yang kadang-kadang terlihat dengan dosis AH1 ialah insomia, gelisah, dan eksitasi. Efek perangsangan ini juga dapat terjadi pada keracunan AH1. Dosis terapi AH1 umumnya menyebabkan penghambatan SSP dengean gejala misalnya kantuk, berkurang kewaspadaan dan waktu reaksi yang lambat.

Secara klinis antihistamin generasi pertama sangat efektif menghilangkan rinore karena mempunyai efek antikolinergik. Efek ini terjadi karena kapasitas ikatan obat terhadap reseptor yang tidak selektif sehingga obat terikat juga pada resptor kolinergik. Kekurangan lain dari antihistamin adalah ketidakstabilan ikatannya pada reseptor sehingga daya kerjanya pendek.1 Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular. 

Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen. AH1 berguna untuk mengobati alergi tipe eksudatif akut misalnya pada polinosis dan urtikaria. AH1 bersifat palitif, sehingga tidak berpengaruh terhadap intensitas reaksi antigen antibodi. AH1 dapat menghilangkan bersin, rinore pada gatal mata hidung dan tenggorokan pada pasien seasonal hay fever. AH1 tidak efektif untuk rinitis vasomotor. Manfaat AH1 untuk mengobati batuk anak dengan asma diragukan karena AH1 mengentalkan sekresi bronkus sehingga menyulitkan ekspektorasi. 2
Pada dosis terapi AH1 menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat serius. Terdapat variasi pada tiap individu. Efek yang paling sering adalah sedasi. Efek samping yang berhubungan dengan efek sentral AH1 ialah vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan kabur, gelisah dan lainnya. Efek antikolinergik seperi mulut kering, papitasi, hipotensi juga dapat terjadi. Efek sentral AH1 berbahaya bagi anak kecil karena dapat menimbulkan halusinasi, ataksia, inkoordinasi dan kejang. Pada orang dewasa keracunan ditandai dengan depresi pada permulaan akhirnya depresi SSP lebih lanjut. 

Antihistamin generasi kedua 
Sering disebut sebagai antihistamin nonsedatif. Mereka bersaing dengan histamin untuk reseptor histamin tipe 1 (H1) pada dalam pembuluh darah, saluran pencernaan, dan saluran pernafasan, yang, pada gilirannya, menghambat efek fisiologis yang pada normalnya diinduksi histamin pada reseptor H1. Beberapa tidak memunculkan hasil klinis berupa sedasi yang signifikan pada dosis biasa, sementara yang lain memiliki tingkat sedasi yang rendah.3 Semua antihistamin efektif dalam mengendalikan gejala rinitis alergi (yaitu, bersin, rhinorrhea, gatal-gatal) tetapi tidak secara signifikan menghilangkan kongesti nasal. Untuk alasan ini, beberapa antihistamin generasi kedua ini tersedia sebagai persiapan sebuah kombinasi yang mengandung dekongestan. Mereka sering lebih disukai untuk terapi lini pertama rinitis alergi, terutama untuk gejala musiman atau episodic, karena keberhasilan yang bagus serta profil keamanan.3 Kelebihan lain antihistamin generasi dua ini adalah mempunyai masa kerja yang panjang sehingga penggunaannya lebih praktis karena cukup diberikan sekali sehari. Antihistamin baru tersebut adalah: astemizol, loratadin, setrizin, ternefadin. Beberapa antihistamin baru kemudian dilaporkan menyebakan gangguan jantung pada pemakaian jangka panjang (astemizol, ternefadin) sehingga dibeberapa negara obat ini tidak lagi digunakan. Antihistamin yang unggul adalah yang bekerja cepat dengan waktu kerja yang panjang, tidak memeiliki efek sedatif dan tidak toksik terhadap jantung.1
Azelastine Topical dan olopatadine adalah semprotan hidung antihistamin yang efektif mengurangi bersin, gatal, dan rhinorrhea tetapi juga secara efektif mengurangi congestion. Digunakan dua kali per hari, terutama bila dikombinasikan dengan topikal kortikosteroid nasal, azelastine efektif dalam mengelola alergi dan nonallergic rhinitis.3

Dekongestan
Alpha agonis banyak digunakan sebagai dekongestan nasal pada pasien rinitis alergi atau rinitis vasomotor dan pada pasien infeksi saluran pernafasan atas dengan rinitis akut. Obat-obat ini menyebabkan venokonstriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor alpha 1 sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian mengurangi penyumbatan hidung. 1,2 Reseptor alpha dua terdapat pada arteriol yang membawa suplai maknan bagi mukosa hidung. Vasokonstriksinya dapat menyebabkan kerusakan struktural pada mukosa tersebut. Alpha 1 agonis yang lebih selektif menurunkan kemungkinan kerusakan mukosa.2
Dalam praktek, dekongestan dapat digunakan secara sistemik (oral), yakni efedrin, fenil propanolamin dan pseudo-efedrin atau secara topikal dalam betuk tetes hidung maupun semprot hidung yakni fenileprin, efedrin dan semua derivat imidazolin. Dekongestan topikal terutama berguna untuk rinitis akut karena tempat kerjanya yang lebih selektif. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik.4 Penggunaan secara topikal lebih cepat dalam mengatasi buntu hidung dibandingkan dengan penggunaan sistemik. Obat ini sering digunakan berlebihan oleh pasien sehingga menyebabkan rebound congestion. Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.2
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan pada dosis terapinya.4 Pemberian dekongestan oral tidak dianjurkan untuk jangka panjang, terutama karena memepunyai efek samping stimulan SSP sehingga menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Obat ini tidak boleh diberikan kepada penderita hipertensi, penyakit jantung, koroner, hipertiroid, dan hipertropi prostat. Dekongestan oral pada umumnya terdapat dalam bentuk kombinasi dengan antihistamin antau dengan obat lain seperti antipiretik dan antitusif yang dijual sebagai obat bebas.1

Nasal Steroid
Kortikosteroid adalah obat antiinflamasi yang kuat dan berperan penting dalam pengobatan RA. Penggunaan secraa sistemik dapat dengan cepat mengatasi inflamasi yang akut sehingga dianjurkan hanya untuk penggunaan jangka pendek yakni pada gejala buntu hidung yang berat. Gejala buntu hidung merupakan gejala utama yang paling sering mengganggu penderita RA yang berat. Pada kondisi akut kortikosteroid oral diberikan dalam jangka pendek 7-14 hari dengan tapering off, tergantung dari respon pengobatan. 
Kortikosteroid meskipun mempunyai khasiat antiinflamasi yang tinggi, namun juga mempunyai efek sistemik yang tidak menguntungkan. Pemakaian intranasal akan memaksimalkan efek topikal pada mukosa hidung dan mengurangi efek sistematik. Berbagai produk kortikosteroid intranasal dipasarkan dengan menggunakan berbagai karakteristik. Untuk meningkatkan keamanan kortikosteroid intranasal digunakan obat yang memepunyai efek topikal yang kuat dan efek sistemik yang rendah. Kepraktisan dalam pemakaian serta rasa bau obat akan emmepengaruhi kepatuhan penderita dalam menggunakan obat jangka panjang. Dosis sekali sehari lebih disukai daripada dua kali sehari karena lebih praktis sehingga meningkatkan kepatuhan. Beberapa kortikosteroid intranasal yang banyak digunakan adalah beklometason, flutikason, mometason, dan triamisolon. Keempat obat tersebut mempunyai efektifitas dan keamanan yang tidak berbeda. Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.

Antagonis Leukotrien
Leukotrien adalah asam lemak tak jenuh yang mengandung karbon yang dilepaskan selama proses inflamasi. Leukotrien, prostaglandin dan tromboksan merupakan bagian dari grup asam lemak yang disebut eikosanoid. Senyawa ini diturunkan melalui aktivasi berbagi tipe sel oleh lipooksigenasi asam arakhidonat yang dibebaskan oleh fosfolipase A2 di membran perinuklear yang memisahkan nukleus dari sitoplasma. Asam arakhidonat sendiri merupakan substrat dari siklooksigenase yang aktivitasnya menghasilkan prostglandin dna tromboksan.1 Dengan kata lain, leukotrien juga merupakan mediator yang penting dalam terjadinya buntu hidung pada rinitis alergi. 
Dewasa ini telah berkembang obat antileukotrien yang dinilai cukup besar manfaatnya bagi pengobatan RA. Ada dua macam antileukotrien yakni inhibitor sintesis leukotrien dan antagonis reseptor leukotrien. Yang terbaru dapat satu inhibitor sintesis leukotrien dan tiga antagonis reseptor leukotrien, yakni CysLT1 dan CYsLT2. Yang pertama merupakan reseptor yang sensitif terhadap antagonis leukotrien yang dipakai pada pengobatan RA. Pada dasarnya antileukotrien bertujuan untuk menghambat kerja leukotrien sebagai mediator inflamasi yakni dengan cara memblokade reseptor leukotrien atau menghambat sintesis leukotrien. Dengan demikian diharapkan gejala akibat proses inflamasi pada RA maupun asma dapat ditekan. Tiga obat antileukotrien yang pernah dilaporkan penggunaannya yakni dua nataginis reseptor (zafirlukast dan montelukast), serta satu inhibitor lipooksigenase (zileuton). Laporan hasil penggunaan obat tersebut pada RA belum secara luas dipublikasikan sehingga efektifitasnya belum banyak diketahui.1

Penanganan Rhinitis alergi yang terakhir adalah dengan imunoterapi. Terapi ini disebut juga sebagai terapi desensitisasi. Imunoterapi merupakan proses yang panjang dan bertahap dengan cara menginjeksikan antigen dengan dosis yang ditingkatkan. Imunoterapi memiliki biaya yang mahal serta risiko yang besar, serta memerlukan komitmen yang besar dari pasien.4

Kesimpulan
Kebanyakan kasus dari rinitis alergi memiliki respon terhadap farmakoterapi. Pasien dengan gejala intermiten sering diberikan antihistamin oral, dekongestan, atau keduanya bila diperlukan. Penggunakan regular dari semprotan steroid intranasal lebih sesuai untuk pasien dengan gejala kronis. Penggunaan harian dari antihistamin, dekongestan, atau keduanya dapat dianggap baik sebagai pengganti atau tambahan pada nasal steroid. Yang lebih baru, antihistamin generasi kedua (yaitu, nonsedating) biasanya lebih disukai untuk menghindari sedasi dan efek negatif lain yang terkait dengan antihistamin generasi pertama. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit.

Daftar Pustaka
1. Mulyarjo. Penanganan Rinitis Alergi: Pendekatan Berorientasi pada Simtom. Malang. 2006.
2. Gunawan GS, Setiabudy R, dkk. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2007
3. Sheikh J. Rhinitis, Allergic: Treatment & Medication. 2009. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/134825-treatment . Pada tanggal 30 Juni 2010. Pukul 08.03.
4. Dipiro. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. 6ed. McGraw-Hill.2005


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment