Sunday, September 19, 2010

Tumor Hipofisis

Oleh Rizka Hanifah


TUMOR KELENJAR HIPOFISIS1,2
Sekitar 10% dari seluruh tumor intrakranial merupakan tumor hipofisis, terutama terdapat pada usia 20-50 tahun, dengan insiden yang seimbang pada laki-laki dan wanita. Adenoma hipofisis terutama timbul pada lobus anterior hipofisis, pada lobus posterior (neurohipofisis) jarang terjadi, tumor ini biasanya jinak.

Etiologi
Kemajuan biologi molekuler membuktikan tumor ini berasal dari monoklonal, yang timbul dari mutasi sel tunggal diikuti oleh ekspansi klonal. Neoplasia hipofisis merupakan proses multi-step yang meliputi disregulasi pertumbuhan sel atau proliferasi, diferensiasi dan produksi hormon. Ini terjadi sebagai hasil aktifasi fungsi onkogen setelah inaktifasi gen tumor supresor. Proses aktivasi fungsi onkogen merupakan hal yang dominan, karenanya gangguan allel tunggal dapat menyebabkan
perubahan fungsi sel. Inaktifasi tumor supresor bersifat resesif, karenanya kedua gen allel harus terlibat untuk mempengaruhi fungsi seluler. Heterogenitas defek genetik ditemukan pada adenoma hipofisis sesuai dengan proses neoplastik multi step. Abnormalitas protein G, penurunan ekspresi protein nm23, mutasi ras gen, delesi gen p53, 14 q, dan mutasi, kadar c-myc onkogen yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan adenoma kelenjar hipofisis. Penelitian in vitro membuktikan peranan estrogen dalam menginduksi terjadinya hiperplasia hipofisis dan replikasi laktotroph. Terbukti produk PTTG (Pituitary tumor transforming gene) menyebabkan transformasi aktifitas dan menginduksi sekresi dasar bFGF, sehingga memodulasi angiogenesis hipofisis dan formasi tumor. PTTG ini diinduksi oleh estrogen.

Klasifikasi
Ada beberapa klasifikasi yang digunakan untuk tumor hipofisis, yaitu:
A. Klasifikasi berdasarkan gambaran patologi
1. chromophobe, asalnya dianggap sebagai non fungsional, walaupun pada kenyataannya memproduksi prolactin, GH atau TSH.
2. Acidophil (eosinophilic), memproduksi prolactin, TSH dan GH yang menyebabkan acromegaly dan gigantisme
3. basophil, memproduksi LH, FSH, beta lipoprotein dan terutama ACTH yang menyebabkan caushing’s disease.

B. Klasifikasi berdasarkan gambaran radiology
1. Grade 0 : tumor tidak terlihat secara radiologi
2. Grade I dan II : adenoma yang terbatas dalam sella turcica
3. Grade III dan IV : adenoma yang menginvasi ke jaringan sekitarnya
C. Klasifikasi berdasarkan hormon yang diproduksinya, tumor pada kelenjar ini dibedakan menjadi 2 jenis:
1. Adenoma hipofisis non fungsional (tidak memproduksi hormon)
2. Tumor hipofisis fungsional yang terdiri dari:
a. adenoma yang bersekresi prolaktin
b. adenoma yang bersekresi growth hormon (GH)
c. adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH)
d. adenoma yang bersekresiadrenokortikotropik hormon (ACTH)

1. Adenoma Hipofisis non fungsional
Tumor ini berkisar sekitar 30% dari seluruh tumor pada hipofisis. Biasanya muncul pada dekade ke 4 dan ke 5 dari kehidupan, dan biasanya lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada wanita. Nama lain dari tumor ini yaitu Null cell tumor, undifferentiated tumor dan non hormon producing adenoma. Karena tumor ini tidak memproduksi hormon, maka pada tahap dini seringkali tidak memberikan gejala apa-apa. Sehingga ketika diagnosa ditegakkan umumnya tumor sudah dalam ukuran yang sangat besar, atau gejala yang timbul karena efek masanya. Tumor biasanya solid walaupun bisa ditemukan tumor dengan campuran solid dan kistik.


2. Tumor Hipofisis fungsional
Pada penelitian dari 800 pasien yang menderita tumor hipofisis, 630 pasien merupakan tipe functioning pituitary tumors yang terdiri dari:
• 52% merupakan tumor yang mengsekresikan prolactin
• 27% tumor yang mengsekresikan GH
• 20% tumor yang mengsekresikan ACTH
• 0,3% tumor yang mengsekresikan TSH
kelenjar hipofisis bagian anterior berperan dalam sekresi dan pengaturan dari berbagai hormon peptida dan stimulating factor. Tumor yang berasal dari bagian ini akan memproduksi secara berlebihan beberapa atau salah satu dari hormon peptida, jika ini terjadi maka dinamakan fungsional atau secreting adenoma Adanya adenoma kelenjar hipofisis anterior bisa dideteksi dengan melihat aktifitas endokrin dan dengan immunohistochemical staining. Immunohistochemical staining bisa menunjukkan adenoma yang memproduksi hormon peptida, termasuk adenoma yang sebelumnya diduga tidak bersekresi ternyata memproduksi peptida inactive, salah satu yang paling sering yaitu alpha subarakhnoid unit yang efeknya terhadap sistemik tidak diketahui.

Berdasarkan ukurannya adenoma dibagi sebagai berikut:
a. Mikroadenoma
b. Makroadenoma

Adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH)
TSH berperan dalam pengaturan kecepatan metabolik melalui hormon tiroid, sedang LH dan FSH berperan dalam pematangan sexual dan fungsi reproduksi. Insidensi tumor ini sangat jarang sekitar 1% dari seluruh tumor hipofisis.

Gejala:
• Kecuali untuk tumor yang bersekresi TSH, yang menunjukkan hypertiroidism glycoprotein secreting adenoma tidak memberikan gejala yang spesifik sehubungan dengan hipersekresinya, sehingga adenoma ini biasanya baru ditemukan sesudah memberikan efek kompresi pada struktur didekatnya seperti chiasma optikum atau tangkai hipofisis
• Hipertiroid yang disebabkan oleh TSH adenoma berbeda dengan Graves disease, graves disease merupakan penyakit yang diturunkan, dimana terdapat resistensi yang efektif terhadap hormon tiroid yang menyebabkan pengaruh umpan balik negatif dari hormon tiroid atau TSH lemah, sehingga timbul hipersekresi TSH. Kelainan ini sering bersamaan dengan bisu tuli, stipled epiphyse dan goiter, ini yang membedakan dengan hipertiroid akibat adanya adenoma.
• Pada hipertiroid akibat TSH adenoma, biasanya lebih banyak mengenai wanita, gejala lainnya yaitu gangguan lapang pandang, pretibial edema dan kadar serum immunoglobulim stimulasi tiroid jumlahnya sedikit.

Diagnosa
Hormon TSH, LH dan FSH masing-masing terdiri dari alpha dan beta subarakhnoid unit, alpha subarakhnoid unitnya sama untuk ketiga hormon, sedang beta subarakhnoid unitnya berbeda. Dengan teknik immunohistokimia yang spesfik bisa diukur kadar dari alpha subarakhnoid unit atau kadar alpha dan beta subarakhnoid unit. Pada tumor ini terdapat peninggian kadar alpha subarakhnoid unit, walaupun pada adenoma non fungsional 22% kadar alpha subarakhnoid unitnya juga meningkat. MRI dengan gadolinium, pada pemeriksaan ini tidak bisa dibedakan antara adenoma yang satu dengan yang lainnya.

Terapi
Operasi sebaiknya dikombinasikan dengan terapi radiasi, walaupun hasilnya tidak menggembirakan sehingga indikasi terapi radiasi tetap kontroversi.

Daftar Pustaka
1. Douglas W. Principle of neurosurgery. London : Mosby, 1994: 32.2-34.19
2. John G. basic neurology. 2nd ed. New York: McGraw Hill, 1992: 236
3. Kumar V, Abbas AK, Fausto N. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2005.
4. Lukitto P, Manoppo A, Azamris, et al. 2003. Protokol Penatalaksanaan Tumor/ Kanker Tiroid. Jakarta : Perhimpunan ahli bedah onkologi Indonesia.
5. Marijata. 2006. Pengantar Bedah Klinis. FK UGM : Yogyakarta.Velde, van de C.J.H., Bosman, F.T., Wagener, D.J.Th. (1997). Onkologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Reaksi:

1 komentar:

  1. Good fill someone in on and this post helped me alot in my college assignement. Thanks you on your information.

    ReplyDelete