Tuesday, November 9, 2010

Kontrasepsi Hormonal pada Perempuan

Kontrasepsi Hormonal Pada Perempuan
Oleh Rizka Hanifah

Kontrasepsi ialah pencegahan konsepsi atau pencegahan kehamilan. Untuk mencapai tujuan ter-sebut, berbagai cara dapat dilakukan, antara lain penggunaan obat per oral, injeksi, atau intravaginal; penggunaan alat dalam saluran reproduksi (kondom, alat kontrasepsi dalam rahim/AKDR); operasi (tubektomi, vasektomi); atau dengan obat topikal intravaginal yang bersifat spermisid.1,2 Dari sekian banyak cara tersebut, penggunaan obat hor¬monal oral atau suntikan dan AKDR, merupakan cara yang paling banyak digunakan karena sudah lama dikenal dan efektivitasnya sebagai kontrasep¬si cukup tinggi. Selanjutnya di sini hanya akan di¬bahas mengenai kontrasepsi hormonal, yang umumnya digunakan secara oral, suntikan atau im-plantasiasi subkutan.


Berdasarkan mekanisme kerjanya, teknik kontrasepsi dapat digolongkan menjadi:3,4 
A. Blok transport sperma ke ovum
• metode alamiah (sistem kalender) 
• coitus interruptus (senggama terputus) 
• kontrasepsi kimia (spermisida) 
• metode barrier (kondom, diafragma)
• sterilisasi (vasektomi, tubektomi)

B. Hambatan Implantasi
Hambatan implantasi umumnya dimasukan suatu alat intrauterus kecil ke dalam uterus oleh seorang dokter. Implantasi juga dihambat oleh apa yang disebut sebagai morning-after pill, yaitu jenis kontrasepsi oral yang berbeda dari pil anti-hamil biasa.3
C. Hambatan ovulasi 
kontrasepsi hormonal yaitu analog progesterone dan estrogen menghinhibisi GnRH, FSH dan LH
Di bawah pengaruh hipotalamus, hipofisis mengeluarkan FSH dan LH yang merangsang ovarium untuk membuat estrogen dan progesterone. Keseimbangan estrogen dan progesterone selama siklus haid menyebabkan perubahan-perubahan pada endometrium yang penting untuk proses reproduksi. Fungsi HPG axis yang normal akan menyebabkan perubahan siklik kadar hormon-hormon tersebut. Kontrasepsi hormonal berupa estrogen dan atau progesterone sintetik bekerja dengan mengganggu siklus haid normal. Sediaan progesteron sintetik yang dipakai terutama yang berasal dari 19 nor-testosteron yakni noretinodrel, norethindron asetat, etinodiol diasetat, dan norgestrel. Estrogen yang banyak dipakai adalah etinil estradiol dan mestranol yang memiliki potensi lebih tinggi daripada estrogen alamiah bila ditelan per os karena kurang mengalami perubahan selama melalui system portal berkat adanya gugus ethynil pada C17.1,2

• kontrasepsi oral3,4,5
o cara kerja
Komponen estrogen menekan sekresi FSH menghalangi maturasi folikel dan ovarium, LH tidak disekresi. Kurangnya FSH dan tidak adanya LH surge di tengah siklus haid menyebabkan ovulasi terganggu. Estrogen dosis tinggi dapat pula mempercepat perjalanan ovum dan menyulitkan implantasi. Komponen progesterone memperkuat efek estrogen untuk mencegah ovulasi. Progesterone dalam dosis tinggi sendiri dapat menghambat ovulasi, namun tidak dalam dosis rendah. Efek progesterone:
1. lendir serviks mengental, menghalangi penetrasi sperma
2. kapasitasi spermatozoon terganggu
3. beberapa progesterone, seperti noretinodrel mempunyai efek antiestrogenik terhadap endometrium, sehingga menyulitkan implantasi.

Efek samping kelebihan estrogen; mual, muntah, diare, kembung, retensi cairan, sakit kepala, nyeri pada mamma, fluor albus. Efek samping kelebihan progesterone; perdarahan tidak teratur, bertambahnya nafsu makan dan berat badan, akne dan alopesia, kadang payudara mengecil, fluor albus, hipomenorea, depresi. Efek samping serius; tromboemboli.

• indikasi – kontrasepsi jangka pendek

Jenis dan Cara Penggunaan1,2
Kontrasepsi oral. Dikenal 4 tipe kontrasepsi oral, yakni tipe kombinasi, tipe sekuensial, pil mini, dan pil pascasanggama (morning after pill). Tetapi yang banyak digunakan sampai saat ini adalah tipe kombinasi dan pil mini. Tipe kombinasi merupakan kontrasepsi oral yang paling banyak dikenal dan efektivitasnya juga paling tinggi, karena itu tipe inilah yang sampai sekarang paling banyak digunakan.

Tipe kombinasi terdiri dari 21 pil dan ada yang berisi 28 pil, 22 merupakan pil aktif (berisi derivat estrogen dan progestin dosis kecil, untuk penggunaan satu siklus), dan 6 pil merupakan plasebo. Pil per¬tama mulai diminum pada hari ke 1 perdarahan haid, selanjutnya setiap hari 1 pil sampai habis 1 blister. Umumnya 2-3 hari sesudah pil terakhir (pil yang mengandung hormon) diminum, akan timbul perdarahan haid, yang sebenarnya me¬rupakan perdarahan putus obat (withdrawal bleed¬ing). Penggunaan pada siklus selanjutnya, sama seperti siklus sebelumnya, yaitu pil pertama ditelan pada hari ke 1 perdarahan haid. Untuk kit yang berjumlah 21 diminum 1 pil setiap hari (sebaiknya malam sebelum tidur) mulai hari ke-5 haid, dan berhenti jika isi habis, kit berikutnya diminum setelah 7 hari. Jika lupa minum pil 2 hari berturut-urut, dapat diminum 2 pil keesokan harinya dan 2 pil lusanya. Anggaplah penggunaan kit pertama belum aman mencegah kehamilan. Sangat dianjurkan pemeriksaan pap smear dan pemeriksaan mammae setahun sekali pada pemakaian pil. 

Tipe sekuensial terdiri dari 14-15 pil yang hanya berisi derivat estrogen dan 7 pil berikutnya berisi kombinasi estrogen dan progestin. Cara penggunaannya sama dengan tipe kombinasi. Efektivitasnya sedikit lebih rendah dan lebih sering menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan bila di¬bandingkan dengan tipe kombinasi, oleh karena itu di beberapa negara tipe ini ditarik dari peredaran. Di Indonesia pil jenis ini belum pernah beredar. tidak seefektif pil kombinasi, selama 14-16 hari, kontrasepsi yang diminum hanya yang mengandung estrogen saja, disusul dengan pil yang mengandung estrogen dan progesterone untuk 5-7 hari.

Tipe pil mini yang hanya berisi derivat pro¬gestin, noretindron atau norgestrel, dosis kecil, ter¬diri dari 21-22 tablet. Cara pemberiannya sama dengan tipe kombinasi. pemberian klormadinon asetat 0,5 mg per hari, tidak menghambat ovulasi, efek utamanya adalah terhadap lendir serviks dan endometrium. 

Pil pascasanggama yang diminum dalam waktu kurang dari 72 jam pascasanggama, mempunyai efektifitas 99 % dalam mencegah kehamilan. Mekanisme kerja tergantung pada siklus menstruasi saat kit pil kontrasepsi darurat dikonsumsi (menghambat ovulasi atau menyebabkan degenerasi prematur korpus luteum dan mencegah implantasi). 

Table 40–4. Schedules for Use of Postcoital Contraceptives.
Conjugated estrogens: 10 mg three times daily for 5 days
Ethinyl estradiol: 2.5 mg twice daily for 5 days
Diethylstilbestrol: 50 mg daily for 5 days
L-Norgestrel: 0.75 mg twice daily for 1 day (eg, Plan B1)
Norgestrel, 0.5 mg, with ethinyl estradiol, 0.05 mg (eg, Ovral, Preven1): Four tablets (two
immediately and two at 12 hours)
immediately and two at 12 hours)

Usaha lain untuk mendapatkan sediaan yang cukup efektif dan seaman mungkin, adalah dengan mengadakan modifikasi dosis dan cara mengkom¬binasi derivat estrogen dan progestin. Modifikasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga fluktuasi jumlah hormon yang diberikan selama satu siklus, mirip dengan fluktuasi hormon endogen yang terjadi selama suatu siklus haid normal tanpa kontrasepsi. Dengan pendekatan ini wanita yang menggunakan¬nya akan terpapar (exposed) dengan jumlah dan jenis hormon yang biasa dialaminya selama satu siklus haid normal dan diharapkan reaksi yang mungkin timbul akan seminimal mungkin. Sediaan jenis ini disebut sediaan biphasic atau triphasic dimana dosis dari dua komponen hormonalnya berubah satu atau dua kali selama satu siklus haid. Contohnya, (1) 6 tablet yang berisi 0,03 mg etinilestradiol (EE) dan 0,05 mg levonorgestrel (LN) untuk 6 hari pertama; (2) 5 tablet yang berisi 0,04 mg EE dan 0,075 mg LN untuk selama 5 hari berikutnya; dan (3)10 tablet yang berisi 0,03 EE dan 0,125 mg LN untuk 10 hari terakhir.1

Farmakodinamik1,2
Mekanisme Kerja
Penggunaan sediaan kom¬binasi atau sekuensial yang dimulai pada hari ke 5 siklus haid akan meniadakan kadar puncak FSH dan LH pada pertengahan siklus. Penurunan kadar gonadotropin ini menyebabkan hambatan ovulasi. Penggunaan preparat yang hanya mengandung derivat proges¬teron atau progestin saja, tidak selalu dapat meng¬hambat ovulasi. Senyawa ini terutama mengubah jumlah dan konsistensi mukus kelenjar serviks sedemikian rupa sehingga menghambat masuknya sperma dan dengan demikian mengurangi ke¬mungkinan terjadinya konsepsi. Hormon kelamin eksogen yang digunakan terus menerus juga dapat mengganggu kontraksi tuba Falopii, sehingga per¬jalanan telur dapat terhambat, selain itu terjadi pula gangguan keseimbangan hormonal sehingga ni¬dasi telur yang telah dibuahi terganggu.

Pengaruh terhadap Organ Reproduksi
Ovarium. Penggunaan hormon kelamin eksogen terus menerus dapat menyebabkan fungsi ovarium relatif menurun, pertumbuhan folikel dan korpus luteum terganggu dan sekresi hormon endogen menurun. Perubahan ini biasanya akan menghilang bila penggunaan obat dihentikan, tetapi pada penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang, kembalinya fungsi ovarium ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Uterus. Penggunaan kontrasepsi dosis besar atau jangka panjang, dapat menyebabkan perubahan gambaran histologi endometrium dan miometrium. Umumnya terjadi hipertrofi miometrium, dilatasi sinusoid dan udem. Pemberian progestin jangka panjang dapat menyebabkan atrofi endometrium, sedangkan estrogen menyebabkan otot uterus menjadi lunak dan mengalami hipertrofi. Perubahan tersebut pada umumnya bersifat reversibel. Perubahan morfologi ini disebabkan oleh adanya perubahan biokimiawi dan enzimatik yang cukup kompleks, dengan akibat terjadi perubahan meta¬bolisme endometrium. 

Serviks. Sekresi mukus serviks yang dalam ke¬adaan normal bersifat cair, jernih dan jumlahnya banyak, oleh pengaruh progestin akan menjadi le¬bih kental, keruh dan jumlahnya berkurang. Ke-adaan inilah yang menjadi salah satu mekanisme efek kontrasepsi preparat yang hanya mengandung progestin.

Kelenjar payudara. Stimulasi terhadap kelenjar payudara terjadi sebagian besar pada akseptor yang menggunakan kontrasepsi yang mengandung estrogen. Beberapa akseptor pil kom¬binasi mengalami pembesaran kelenjar payudara. Kadang-kadang pembesaran kelenjar ini diser¬tai rasa nyeri tekan, dan hal ini sering berhubungan dengan besarnya dosis obat. Penyebab keadaan di atas belum diketahui dengan jelas. Penggunaan preparat kombinasi estrogen da¬pat menghambat laktasi. Besarnya hambatan lak¬tasi Ini berkaitan dengan dosis estrogen atau pro¬gestin yang digunakan. Umumnya estrogen dapat menghambat laktasi sedangkan derivat proges¬teron hampir tidak mempengaruhi laktasi.

Siklus haid. Pemberian kontrasepsi hormonal se¬ring menyebabkan gangguan siklus haid. Beberapa akseptor kontrasepsi oral dengan dosis estrogen yang rendah dapat tidak mengalami perdarahan putus obat atau menjadi amenore, atau hanya spot¬ting. Beberapa akseptor kontrasepsi suntikan sering mengalami perdarahan sedikit-sedikit (spot¬ting), yang kadang-kadang berkepanjangan. Pada penghentian penggunaan golongan obat ini, sebagian akseptor akan mengalami ovulasi kembali segera setelah obat dihentikan; pada sebagian lain ovulasi baru terjadi beberapa bulan sesudahnya, bahkan ada pula yang terjadi bebe¬rapa tahun setelah kontrasepsi dihentikan. Sebab terjadinya keadaan di atas belum diketahui dengan jelas, diduga hal ini berhubungan dengan waktu yang dibutuhkan ovarium untuk kembali ke keadaan fungsi yang normal.

Efek Lain
Hepar. Estrogen dan progestin alami maupun sintetik dapat mempengaruhi proses bio¬kimia dan fungsi fisiologik hepar yang merupakan organ penting dalam proses metabolisme. Gang¬guan ini mudah terjadi pada penggunaan estrogen dosis besar untuk jangka waktu lama atau pada mereka yang sebelumnya pernah mengalami pe¬nyakit hepar. Dapat terjadi hambatan sekresi em¬pedu, eksreksi bilirubin dan asam ernpedu, serta metabolisme sulfobromophtalein. Gangguan sekresi em-pedu akibat kontrasepsi oral, prosesnya sangat kompleks dan dapat merupakan hasil akhir dari efek hormon kelamin terhadap metabolisme di parenkim sel hepar. Wanita yang sering mengalami ikterus pada masa kehamilannya akan lebih mudah meng¬alami ikterus kolestatik pada penggunaan kontra¬sepsi oral. Gangguan uji fungsi hati dan ikterus yang disebabkan kontrasepsi ini akan hilang bila peng¬gunaan obat dihentikan.

Metabolisme karbohidrat. Pengaruh kontrasepsi hormonal pada metabolisme karbohidrat sebenar-nya sangat kompleks. Pada pemberian pil oral kom¬binasi, dapat terjadi gangguan penggunaan glukosa yang akan dikompensasi oleh meningkatnya sek¬resi insulin. Pada beberapa akseptor, terutama pada mereka yang mempunyai predisposisi genetik atau yang dalam riwayat keluarganya ada pasien diabetes melitus, pil ini dapat menurunkan toleransi karbohidrat, meskipun hal ini bersifat reversibel. Gangguan ini antara lain disebabkan oleh mening¬katnya hormon pertumbuhan yang sering terjadi pada tahun pertama penggunaan obat; hormon pertumbuhan ini bersifat anti-insulin. Estrogen dan progestin, kedua-duanya dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat, tetapi tampaknya progestinlah yang mempunyai efek lebih besar. 

Metabolisme lemak dan protein. Adanya hubung¬an antara penggunaan kontrasepsi hormonal de-ngan perubahan metabolisme lemak dan lipoprotein darah telah lama diketahui. Perubahan ini selanjutnya dapat menyebabkan gangguan sistem kardiovaskuler, terutama pada wanita perokok. Estrogen dapat meningkatkan kolesterol total, trigliserid, lipoprotein densitas tinggi (HDL) dan lipoprotein densitas ren¬dah (LDL). Progestin, terutama yang merupakan derivat 19-nortestosteron mempunyai pengaruh yang berlawanan. Preparat dengan efek proges¬togenik kuat dapat menurunkan HDL, oleh karena¬nya sedapat mungkin dihindari pada wanita yang mempunyai resiko untuk mendapatkan penyakit kardiovaskular. Perubahan taktor koagulasi darah sering pula dilaporkan pada akseptor pil oral, antara lain terjadinya peningkatan protrombin dan faktor VII, VIII, IX dan X, serta penurunan antitrombin III. Peningkatan corticosteroid - binding globulin (CBG) dan sex-hor¬mone-binding globulin (SHBG) dapat terjadi pada penggunaan pil oral dengan estrogen dosis besar.

Kardiovaskular. Penggunaan kontrasepsi hormonal, terutama yang mengandung estrogen, dapat mengakibatkan peningkatan curah jantung yang berasosiasi dengan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolic. Tekanan darah akan kembali ke keadaan semula saat penggunaan kontrasepsi dihentikan. 

Efek Samping1,2
Efek samping kontrasepsi hormonal ber¬variasi dari yang ringan sampai yang berat. Reaksi ringan meliputi mual, mastalgia, perdarahan antar¬haid, sakit kepala ringan, perubahan berat badan dan udem. Umumnya pada keadaan tersebut obat tidak perlu dihentikan, kecuali bila hal ini dirasakan sangat mengganggu.
• Sakit kepala dapat berupa migren, dan hal ini dihubungkan dengan gangguan vaskular. 
• Pening¬katan berat badan sering terjadi akibat derivat pro¬gestin yang berefek anabolik. sedangkan 
• Edem berhubungan dengan efek retensi air dan elektrolit dari estrogen. 
• Perubahan psikik sehubungan dengan rasa aman karena tidak ada kekhawatiran menjadi hamil; kadang-kadang depresif atau agre¬sif; dan perubahan libido, rasa cepat tersinggung seperti pada keadaan prahaid.
• Amenore setelah penghentian penggunaan kontrasepsi hormonal sering menimbulkan kegeli-sahan karena kekhawatiran tentang kemungkinan hamil. Lamanya amenore bervariasi dari 2-3 bulan sampai lebih dari 1 tahun. 
• Eksaserbasi akne mungkin timbul akibat penggunaan progestin androgenik.
• Gangguan metabolisme karbohidrat lebih mudah terjadi pada mereka dengan predisposisi diabetes melitus atau pada penggunaan dosis besar secara terus-menerus. Sering terjadi abnor-malitas kurva toleransi glukosa oral atau sekresi insulin, meski umumnya glukosa darah tidak me¬nunjukkan kelainan. Diduga salah satu penyebab¬nya ialah gangguan penggunaan glukosa yang akan dikompensasi dengan peningkatan sekresi insulin.
• Gangguan metabolisme lemak dan lipoprotein lebih mudah terjadi pada mereka de¬ngan predisposisi hiperlipidemia atau pada peng¬gunaan dosis besar jangka panjang. Kelainan irn sering dihubungkan dengan timbulnya gangguan sistem kardiovaskular meskipun telah diketahui pula adanya faktor penentu lain yaitu usia, merokok, dan alkoholisme. 
• Gangguan sistem kardiovaskular. Tidak sedikit akseptor yang mengalami kenaikan tekanan darah dari yang ringan sampai berat. Perubahan ini reversibel, tetapi kadang-kadang menetap mes¬kipun obat telah dihentikan. Hal ini antara lain dapat disebabkan oleh peningkatan renin darah; dugaan lain ialah karena perubahan kardiodinamik jantung akibat progestin yang bersifat androgenik atau estrogen yang meretensi air dan elektrolit. Pe¬rubahan waktu agregasi trombosit, rigiditas eritrosit dan beberapa faktor pembekuan darah sering di¬hubungkan dengan penggunaan kontrasepsi hor¬monal.
• Perubahan sistem darah dan metabolisme lemak memudahkan terjadinya trombosis. Menurut laporan yang ada, terutama dari The British Committee on Safety of Drug, persen¬tase tromboemboli pada pemakai kontrasepsi pil lebih besar dibandingkan dengan pada wanita dalam masa reproduksi tanpa obat. Beberapa keadaan yang dapat mempermudah tirnbulnya trombosis pada pemakai obat ini ialah obesitas, sickle cell anemia, diabetes melitus dan hiperlipidemia. Kemungkinan golongan darah 0 mengalami tromboemboli pada wanita lebih kecil daripada yang bergolongan darah A, B atau AB. Timbulnya emboli berhubungan de-ngan sklerosis pembuluh darah yang bersangkutan, yang akan dipermudah oleh peninggian beberapa fraksi lipid darah, atau gangguan sistem pem¬bekuan darah.

Kontraindikasi1,2
Kontrasepsi hormonal tidak boleh diberikan pada pasien yang sedang atau yang pernah meng¬alami tromboemboli, tromboflebitis, apopleksi serebri, hipertensi berat, gangguan fungsi hati, anemia hemolitik kronik, hiperlipidemia, perdarahan genitalis yang belum diketahui sebabnya dan amenore. Kanker payudara atau genital, depresi mental yang hebat, varises, hiperlipidemia, penyakit Hodgkin, migrain dan payah jantung. Pemberian pil oral dapat memperberat diabetes melitus, asma dan dermatitis eksematosa. Penggunaan sediaan hormonal ini tidak dianjurkan pada usia lebih 35 tahun, kecuali yang hanya berisi derivat progestin dapat digunakan sampai usia 40 tahun.

Interaksi Obat1,2
Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral, harus measpadai interaksi penting yang dapat terjadi antara kontrasepsi oral dengan obat anti microbial. Karena flora normal gastrointestinal meningkatkan bioavailabilitas dari estrogen, maka obat antimicrobial yang menggangu mikroorganisme tersebut akan mengurangi efektifitas dari kontrasepsi oral. Selain itu, potent inducer dari enzyme mikrosomal hati, seperti rifampicin, dapat meningkatkan katabolisme estrogen dan progestin oleh hati sehingga sangat mengurangi efektifitas dari kontrasepsi oral. 

Kontrasepsi suntikan. Kontrasepsi suntikan yang banyak digunakan ialah medroksiprogesteron asetat (MPA) 150 mg dalam bentuk depo. Jenis suntikan ini diberikan pada hari kelima perdarahan haid, secara IM dan harus cukup dalam, di daerah gluteus. Kontrasepsi ini disuntikkan setiap 12 minggu. Saat ini juga tersedia kontrasepsi suntikan bulanan yang berisi kombinasi 50 mg MPA dan 10 mg estradiol¬sipionatyang disuntikkan 30 hari sekali.2 
• kontrasepsi suntikan (Depo Provera, Noristerat)5
Depo Provera adalah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif. 
o cara kerja
 menghambat ovulasi dengan menekan pembentukan releasing factor oleh hipotalamus
 lendir serviks bertambah kental, sehingga menghambat penetrasi sperma melalui serviks uteri
 menghambat implantasi ovum 
 mempengaruhi kecepatan transport ovum melalui oviduct

o metode
Untuk program postpartum, sebaiknya disuntikkan setelah ASI terbentuk, yakni hari 3-5. Suntikan IM dalam 150 mg/cc 3 bulan sekali. Keuntungan; (1) efektivitas tinggi, (2) pemakaian sederhana, (3) cukup menyenangkan bagi akseptor (cukup 4x setahun), (4) reversible, (5) cocok untuk ibu menyusui. Kekurangan; (1) sering menimbulkan perdarahan tidak teratur (spotting, breakthrough bleeding), (2) dapat menimbulkan amenorea. 

o indikasi 
ibu yang baru bersalin dan menyusui, karena tidak mengganggu laktasi dan terjadinya amenorea setelah suntikan tidak mengganggu karena berbarengan dengan masa amenorea laktasi.

Kontrasepsi implantasi
Kontrasepsi jenis ini di¬perkenalkan oleh Population Council tahun 1985, dan pada tahun yang sama WHO menyatakan bahwa metoda ini dapat digunakan dalam program Keluarga Berencana. Di Indonesia cara ini mulai digunakan pada tahun 1986, yaitu implant yang terdiri dari 6 tube silastik yang berisi 36 mg levonorgestrel (Norplant), yang ditanam Subkutan di le¬ngan atas kiri, dan digunakan untuk 5 tahun. Kemu¬dian tersedia juga jenis implant yang terdiri dari satu tube silastik, berisi 3-keto-desoges¬trel 68 mg, dengan cara penggunaan yang sama dengan Norplant, dapat bekerja sebagai kontrasep¬si selama 3 tahun. Tiga-ketodesogestrel merupa¬kan bentuk metabolit aktif dari desogestrel yang telah lama digunakan sebagai kontrasepsi oral. Kedua jenis implant ini, rata-rata akan me¬ngeluarkan 30 µg/hari zat aktifnya. Setelah habis masa kerjanya kedua jenis implant tersebut harus dikeluarkan dari tubuh.1,2
• kontrasepsi implant (IKDK) / alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) / susuk KB / norplant5
Alat kontrasepsi yang mengandung levonorgestrel ini dibungkus kapsul silastic-silicone (polydimethylsiloxane) dan disusukkan di bawah kulit. 6 kapsul dengan panjang 34 mm dan berisi 36 mg levonorgestrel disusukkan ke dalam kulit. Setiap hari 30 mcg levonorgestrel dilepaskan ke dalam darah secara difusi melalui dinding kapsul. 

o Cara kerja
 mengentalkan lendir serviks uteri sehingga menyulitkan penetrasi sperma
 menimbulkan perubahan pada endometrium sehingga tidak cocok untuk implantasi zygote
 pada sebagian kasus dapat pula menghambat ovulasi

o Metode
Waktu pemasangan terbaik untuk pemasangan KB susuk adalah sewaktu haid berlangsung atau masa pra-ovulasi. 6 kapsul KB ditanamkan pada lengan kiri (lengan pasif) ± 6-10 cm di atas lipatan siku. Kelebihan; (1) cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan estrogen, (2) tidak meningkatkan tekanan darah, (3) risiko terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil daripada AKDR, (4) dapat digunakan untuk jangka panjang dan bersifat reversible. Efek samping antara lain gangguan pola haid (spotting, perdarahan memanjang atau lebih sering/metrorrhagia, amenore), mual, anoreksia, pening, sakit kepala, perubahan libido dan berat badan, akne.

o Indikasi 
 wanita yang ingin menggunakan kontrasepsi untuk jangka lama tapi tidak bersedia menjalani kontap atau menggunakan AKDR
 wanita yang tidak boleh menggunakan pil KB yang mengandung estrogen

o kontraindikasi; kehamilan, penyakit hati, kanker payudara, kelainan jiwa (psikosis, neurosis), varikosis, riwayat kehamilan ektopik, diabetes mellitus, kelainan kardiovaskular

Daftar Pustaka
1. Katzung. 2004. Basic and Clinical Pharmacology 9th ed. USA : McGraw Hill
2. Gunawan, Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta : Gaya Baru
3. Sherwood L. Human physiology: from cells to systems. 6th ed. Belmont: Thomson Brooks/Cole; 2007.
4. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed ke-20. Jakarta: EGC; 2001.
5. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T (editor). Ilmu kandungan. Ed ke-2. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment