Thursday, November 4, 2010

Nutrisi Ibu Hamil dan pada Masa Laktasi

NUTRISI PADA MASA KEHAMILAN & LAKTASI
Oleh Rizka Hanifah


Status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Oleh karena itu, kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil. Kebutuhan gizi ibu hamil dapat ditutupi oleh makanan sehat yang seimbang. Hal ini dapat membantu mendapatkan gizi yang dibutuhkan. Namun, terkadang diperlukan pula tambahan suplemen sesuai kebutuhan. Pada dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan, namun kerapkali dijumpai kekurangan pada asupan protein dan beberapa mineral seperti Zat Besi dan Kalsium. 

Kebutuhan Gizi Pada Ibu Hamil
• Kebutuhan Kalori
Seorang wanita selama kehamilan memiliki kebutuhan energi yang meningkat. Energi ini digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pembentukan plasenta, pertumbuhan jaringan payudara, cadangan lemak, dan jaringan yang baru. Selain itu, tambahan kalori dibutuhkan sebagai tenaga untuk proses metabolisme jaringan baru. Oleh karena itu, kebutuhan energi dan zat gizi lainnya pun turut meningkat selama kehamilan. Kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan pertumbuh janin yang tidak sempurna.1
Kebutuhan energi pada trimester I meningkat secara minimal. Kemudian sepanjang trimester II dan III kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu seperti penambahan volume darah, pertumbuhan uterus, dan payudara, serta penumpukan lemak. Selama trimester III energi tambahan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Kebutuhan energi untuk kehamilan yang normal perlu tambahan 80.000 kalori selama masa kurang lebih 280 hari. Hal ini berarti perlu tambahan ekstra sebanyak kurang lebih 300 kalori setiap hari selama hamil.2
Energi yang tersembunyi dalam protein ditaksir sebanyak 5180 kkal, dan lemak 36.337 Kkal. Agar energi ini bisa ditabung masih dibutuhkan tambahan energi sebanyak 26.244 Kkal, yang digunakan untuk mengubah energi yang terikat dalam makanan menjadi energi yang bisa dimetabolisir. Dengan demikian jumlah total energi yang harus tersedia selama kehamilan adalah 74.537 Kkal, dibulatkan menjadi 80.000 Kkal. Untuk memperoleh besaran energi per hari, hasil penjumlahan ini kemudian dibagi dengan angka perkiraaan lamanya kehamilan dalam hari sehingga diperoleh angka 300 Kkal.2 WHO menganjurkan jumlah tambahan 150 kkal per hari pada trisemester I dan 350 kkal per hari pada trisemester II.3

• Karbohidrat 
Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan karbohidrat sebagai sumber kalori utama. Total intakenya harus 50-65% dari total kalori. Apabila karbohidrat kurang, misalnya karena diet ketat saat hamil atau memakan asupan protein saja, maka yang terjadi adalah glukoneogenesis. Dalam glukoneogenesis, 80 gram protein hanya diubah menjadi 50 gram glukosa. Intake yang adekuat adalah 175 g. Normalnya 135-175 g, tidak boleh terlalu rendah karena dapat menyebabkan hipoglikemia dantidak boleh terlalu tinggi agar tidak terjadi ketosis.4 Pilihan yang dianjurkan adalah karbohidrat kompleks seperti roti, serealia, nasi dan pasta. Selain mengandung vitamin dan mineral, karbohidrat kompleks juga meningkatkan asupan serat yang dianjurkan selama hamil untuk mencegah terjadinya konstipasi atau sulit buang air besar dan wasir. 

• Lemak
Pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan lemak sebagai sumber kalori. Lemak dijadikan sumber energi, disimpan di jaringan adiposa, sebagai komponen membran sel, prekursor sintesis eikosanoid, mempengaruhi fungsi reseptor sel, mempengaruhi fungsi enzim, dan lain-lain. Lemak merupakan sumber tenaga yang vital dan untuk pertumbuhan jaringan plasenta. Pada kehamilan yang normal, kadar lemak dalam aliran darah akan meningkat pada akhir trimester III. Tubuh wanita hamil juga menyimpan lemak yang akan mendukung persiapannya untuk menyusui setelah bayi lahir. Semua asam lemak esensial adalah PUFA. PUFA terbagi menjadi dua yaitu omega tiga dan omega enam. Tidak semua omega tiga dan omega enam adalah asam lemak esensial. Hanya omega tiga yang bernama asam alfa linolenat yang esensial. Omega enam yang esensial adalah asam linoleat.4
Asam alfa linolenat (omega 3) dapat berubah menjadi EPA dan DHA. EPA dan DHA penting saat masa kehamilan dan laktasi. Fungsi EPA adalah sebagai penurun inflamasi (bersifat antiinflamasi), vasodilatasi pembuluh darah, dan menurunkan fungsi pembekuan darah. Sedangkan fungsi DHA adalah sebagai komponen fosfolipid utama di membrane sel sistem saraf pusat termasuk reseptor cahaya di retina Kebutuhan EPA dan DHA saal hamil dan menyusui adalah 300 mg/ hari Kebutuhan asam linoleat adalah 5-10% dari total energy, kebutuhan asam alfa linolenat adalah 0,6-1,2 % dari total kalori. Sumber asam lemak esensial banyak terdapat di kloroplas tumbuhan dan fitoplankon. Fitoplankton dimakan oleh ikan seperti tuna, lemuru, salmon. Salah satu sumber linoleat adalah jagung, sedangkan sumber alfa linolenat salah satunya adalah minyak kedelai Sumber EPA dan DHA antara lain ikan laut dan kerang.4

• Protein
Kebutuhan ibu hamil akan protein meningkat sampai 68%. Protein tersebut dibutuhkan untuk membentuk jaringan baru, maupun plasenta dan janin. Protein juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel.5 Menambahkan protein ke dalam makanan merupakan cara yang efektif untuk menambah kalori sekaligus memenuhi kebutuhan protein. Kebutuhan protein dewasa sekitar 0.8g per kg berat badan per hari.4 Jumlah protein yang harus tersedia sampai akhir kehamilan sekitar 925 g yang tertimbun dalam jaringan ibu, janin dan plasenta.5 Sekitar 1 kg tambahan protein selama masa kehamilan yang dibagi menjadi kebutuhan per harinya yang berbeda tiap trimester. Trimester pertama diperlukan tambahan 1,3 gram per hari. Trimester kedua diperlukan tambahan 6,1 gram per hari. Trimester ketiga diperlukan tambahan 10,7 gram per hari.4 Bahan pangan yang dijadikan sumber protein sebaiknya (2/3 bagian) pangan yang bernilai biologi tinggi, seperti daging tak berlemak, ikan, telur, susu dan hasil olahannya. Protein yang berasal dari tumbuhan (nilai biologinya rendah) cukup 1/3 bagian.5

• Asam Folat
Asam folat sangat diperlukan sebelum kehamilan dan pada awal kehamilan. Folat merupakan vitamin B yang memegang peranan penting dalam perkembangan embrio. Preparat suplementasi sebaiknya diberikan sekitar 28 hari setelah ovulasi atau pada 28 hari pertama kehamilan, karena otak dan sumsum tulang belakang dibentuk pada hari-hari pertama kehamilan. Dengan demikian, pemberian suplementasi harus dilaksanakan sebelum konsepsi terjadi. Kebutuhan asam folat pada wanita normal 50-100 mikrogram/hari dan 300-400 mikrogram/hari pada wanita hamil.6
Kekurangan asam folat berkaitan dengan bayi lahir rendah, ablasio plasenta dan, neural tube defect. CDC (1991) menganjurkan wanita yang pernah melahirkan bayi penderita neural tube defect, untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 4 mg sehari pada kehamilan selanjutnya. Sementara Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi V 1993 menganjurkan dosis sebesar 200 mikrogram tanpa membatasi pernah tidaknya melahirkan bayi cacat.6 Makanan yang banyak mmengandung asam folat atau folic acit adalah ragi (1000 mg/100 g.) Hati (250 mg/100 g), brokoli, sayuran berwarna hijau, bayam, asparagus, dan kacang-kacangan sumber lain seperti ikan, daging, jeruk dan telur.7

• Zat Besi
Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau Zat Besi. Zat besi dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin, yaitu protein di sel darah merah yang berperan membawa oksigen ke jaringan tubuh. Selama kehamilan, volume darah bertambah untuk menampung perubahan pada tubuh ibu dan pasokan darah bayi. Perkiraan besaran zat besi yang perlu ditimbun selama hamil ialah 1040 mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg Fe ditransfer ke janin, dengan 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah darah merah.7
Setiap wanita hamil dianjurkan untuk menelan zat besi sebanyak 30 mg tiap hari. Takaran ini tidak akan terpenuhi hanya melalui makanan oleh sebab itu suplemen sebesar 30-60 mg dimulai pada minggu ke12 kehamilan yang diteruskan sampai 3 bulan pasca partum perlu diberikan setiap hari. Zat besi bisa didapatkan secara alami dari daging merah, ikan, unggas, sereal sarapan yang telah difortifikasi zat besi, dan kacang-kacangan.7

• Kalsium
Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk menguatkan tulang dan gigi. Selain itu, kalsium juga digunakan untuk membantu pembuluh darah berkontraksi dan berdilatasi. Kalsium juga diperlukan untuk mengantarkan sinyal saraf, kontraksi otot, dan sekresi hormon. Jika kebutuhan kalsium tidak tercukupi dari makanan, kalsium yang dibutuhkan bayi akan diambil dari tulang ibu.7 Kadar kalsium dalam darah wanita hamil dapat menurun drastis sampai 5% ketimbang wanita tidak hamil. Secara kumulatif, janin menimbun kalsium sebanyak 30 g, dengan kecepatan 7, 110, dan 350 mg masing-masing pada trimester I, II, III. Asupan yang dianjurkan kira-kira 1200 mg/hari bagi wanita hamil yang berusia di atas 25 tahun dan cukup 800 mg untuk mereka yang berusia lebih muda. Sumber utama kalsium adalah produk susu seperti susu, keju, yogurt. Selain itu ikan teri juga merupakan sumber kalsium yang baik.7
• Vitamin A
Vitamin A memegang peranan penting dalam fungsi tubuh, termasuk fungsi penglihatan, imunitas, serta pertumbuhan dan perkembangan embrio. Kekurangan vitamin A dapat mengakibatkan kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah. Vitamin A dapat ditemukan pada buah-buahan dan sayuran berwarna hijau atau kuning, mentega, susu, kuning telur, dan lainnya.8
• Vitamin B komplek 
Vitamin B komplek mengandung vitamin B1, B2, asam nikotin (niasin), B6, B12 dan asam folik. Vitamin B1 penting untuk pembakaran hidrat arang, guna menghasilkan tenaga serta urat saraf. Vitamin B2 penting untuk pernafasan antar sel, pemelihaan jaringan saraf, kulit dan kornea mata. Sumber vitamin B2; bermacam-macam buah, sayur biji kacang.8 Vitamin B12 penting sekali bagi keberfungsian sel-sel sum-sum tulang, sistem persyarafan dan saluran cerna. Sumber vitamin B12 ialah hati, telur, ikan, kerang, daging, unggas, susu, dan keju.7
• Vitamin C
Vitamin C yang dibutuhkan janin tergantung dari asupan makanan ibunya. Vitamin C merupakan antioksidan yang melindungi jaringan dari kerusakan dan dibutuhkan untuk membentuk kolagen dan menghantarkan sinyal kimia di otak. Wanita hamil setiap harinya disarankan mengkonsumsi tambahan 10 mg dari kebutuhan awal, peningkatan diharapkan untuk mencegah scurvy pada bayi. Anda dapat dengan mudah mendapatkan vitamin C dari makanan seperti tomat, jeruk, strawberry, jambu biji, dan brokoli. Makanan yang kaya vitamin C juga membantu penyerapan zat besi dalam tubuh.4

• Vitamin D
Kekurangan vitamin D selama hamil berkaitan dengan gangguan metabolisme kalsium pada ibu dan janin. Gangguan ini berupa hipokalsemia dan tetani pada bayi baru lahir, hipoplasia enamel gigi bayi, osteomalasia pada ibu. Insidensi dapat ditekan dalam pemberian 10 mikrogram (400 IU) per hari.7

• Yodium
Kekurangan yodium selama kehamilan mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme, yang selanjutnya berkembang menjadi kreatinisme karena peran hormone tiroid dalam perkembangan dan pematangan otak menempati posisi strategis. Kerusakan saraf akibat hipotiroidisme yang berlangsung pada akhir kehamilan tidak separah jika hal ini terjadi di awal kehamilan. Karena itu, koreksi terhadap kekurangan yodium sebaiknya dilakukan sebelum atau selama 3 bulan pertama kehamilan. Anjuran asuhan per hari untuk wanita hamil dan menyusui sebesar 200 µg (Food and Nutrition Board of the National Academy of Scient\ces in the United State), dalam bentuk garam beryodium, pemberian suplementasi pada hewan ternak, pemberian minyak beryodium per oral atau injeksi.7

• Serat
Serat dibagi menjadi serat larut dan serat tidak larut. Secara umum, kebutuhan serat tergantung dengan kebutuhan kalori. Kebutuhannya adalah 10-14 g per 1000 kalori. Hal ini juga berlaku bagi ibu hamil. Jadi karena ibu hamil terjadi penambahan kebutuhan kalori maka terjadi juga penambahan kebutuhan serat. Perbandingan antara serat tidak larut dan serat larut adalah 3:1. Sumber serat larut antara lain buah-buahan (jeruk, apel, stroberi, wortel) gandum,, kacang, sereal. Sumber serat tidak larut: buah-buahan, sayuran, whole grain (padi/gandum yang masih ada kulitnya).4

Nutrient Requirement Pregnancy Sumber
Vitamin B1
(Tiamin) 0.5 mg/1000 kcal, minimal 1 mg for energy intake (2000 kcal) + 0.3 mg Jeroan (hati, ginjal), kacang, sereal dan roti, kentang, beras whole grain (belum dilepas kulitnya)
Vitamin B2 1.3 mg + 0.3 mg Susu, sayuran hijau, jeroan, sereal, telur, roti
Niasin 14 mg + 4.0 mg Ikan, hati, daging, unggal, susu, telur, kacang-kacangan, polong-polongan
Vitamin B6 1.3 mg + 0.4 mg Ayam, hati, ikan, kuning telur, Sereal whole grain, kentang, pisang
Vitamin B12 2.4 mg + 0.2 mg Ginjal, hati, susu dan turunannya, daging, telur 
Asam folat 400 mg + 200 mg Sayur hijau (asparagus, bayam, kacang, polong, ragi), hati, ginjal

Kebutuhan Nutrisi Laktasi9,10
Kebutuhan nutrisi selama masa laktasi, berkaitan langsung kepada volume dan komposisi dari susu yang diproduksi serta pada kebutuhan dan status nutrisi awal ibu sebelum kehamilan. Diantara para wanita yang menyusui secara eksklusif, kebutuhan energi pada masa laktasi melebihi kebutuhan pada masa sebelum kehamilan. Kelebihan tersebut mencapai 640 kkal/hari pada 6 bulan pertama post partum, dibandingkan dengan pada trimester kedua kehamilan yang hanya mencapai 300 kkal/hari. Berbeda dengan kebutuhan energi, kebutuhan akan beberapa nutrien, misalnya besi, secara umum lebih rendah pada masa laktasi dibandingkan dengan pada masa kehamilan. 
Untuk sebagian besar nutrien, telah diteliti bahwa peningkatan RDA (Recommended Daily Allowance), atau angka kebutuhan gizi, dipertimbangkan untuk melebihi pengeluaran zat gizi tersebut (melalui air susu ibu) sehari-hari dalam masa laktasi. Angka RDA untuk ibu menyusui sama untuk semua umur, berbeda dengan angka RDA untuk wanita yang tidak hamil maupun tidak menyusui yang berbeda-beda bergantung pada umur. 
Jika wanita menyusui tidak memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk dirinya dan untuk mengganti nutrien yang hilang lewat air susu ibu, nutrien tersebut harus diambil dari cadangan tubuhnya. 

• Energi
Untuk menghasilkan 100 ml susu, membutuhkan sekitar 85 kkal energi. Rata-rata sekresi air susu pada 6 bulan pertama adalah 750 ml/hari dan turun menjadi 600 ml/hari pada 6 bulan kedua. Oleh karena itu, kebutuhan RDA untuk energi membutuhkan tambahan dibandingkan dengan sebelum hamil dan menyusui. Simpanan jaringan adiposa yang teraikumulasi selama kehamilan menyediakan sekitar 100 sampai 150 kkal/hari selama bulan-bulan pertama masa laktasi. Di saat simpanan jaringan lemak tersebut menurun, tambahan suplai energi melalui makanan sangatlah diperlukan. Efek utama yang dirasakan pada saat menyusui jika ibu dalam keadaan undernutrition adalah berkurangnya produksi susu setiap harinya. Produksi susu dengan kuantitas suboptimal juga dapat merupakan akibat dari asupan cairan ibu yang tidak adekuat. Selain itu, penggunaan kontrasepsi oral juga akan menekan produksi susu, khususnya pada 6 – 10 minggu pertama. 

• Protein
Kebutuhan akan protein pada masa laktasi, menurut Angka kebutuhan gizi (RDA), meningkat sekitar 15 gram pada 6 bulan pertama dan 12 gram pada 6 bulan kedua. Kebutuhan protein rata-rata selama masa laktasi tersebut merupakan estimasi dari data komposisi air susu ibu dan rata-rata volume air susu harian yang diproduksi dengan mengasumsikan bahwa efisiensi dari konversi protein dalam diet menjadi protein dalam air susu ibu adalah 70%. 

• Kalsium
Asupan kalsium pada ibu menyusui merupakan hal yang harus diperhatikan. Hal ini dikarenakan rata-rata ibu menyusui mengalami kesulitan dalam memenuhi angka kecukupan gizi 1200 mg/hari, khususnya jika produk susu bukanlah bagian besar dari asupan makanannya. Jika asupan kalsium tidak mencapai sasaran, hal yang harus dikhawatirkan bukanlah berkurangnya konsentrasi kalsium dalam air susu ibu, melainkan efeknya pada densitas tulang ibu. Hal tersebut terjadi karena jika terjadi kekurangan asupan kalsium, produksi susu akan mengambil kalsium dari simpanan kalsium ibu di tulang. Kondisi ini akan diperburuk jika masa laktasinya panjang.

• Vitamin E
Walaupun asupan vitamin E ibu dapat mempengaruhi kadar vitamin ini dalam air susu, belum terdapat bukti adanya defisiensi vitamin E pada individu dengan absorpsi lemak yang normal.

• Thiamin
Peningkatan angka kebutuhan gizi untuk thiamin selama masa laktasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang jumlah yang dikeluarkan melalui air susu ibu. Hal ini terjadi karena kebutuhan akan thiamin bergantung pada asupan energi, yang diharapkan untuk naik selama masa laktasi. Asupan thiamin sedikitnya 1,3 mg/hari sangat dianjurkan pada wanita yang mengkonsumsi 2200 kkal/hari.

• Folat
Folat cenderung untuk diekskresikan dalam urin jika asupan melebihi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, simpanan folat dalam tubuh tidak banyak. Dengan keadaan ini, jika asupan folat selama masa menyusui tidak memenuhi angka kebutuhannya, maka simpanan folat yang diambil dari ibu akan habis hanya dalam beberapa bulan masa menyusui. Pada penelitian yang dilakukan pada wanita menyusui, wanita ya g tidak mengkonsumsi suplemen folat, kadar folat dalam sel darah merah nya menurun hingga 30% pada 2 bulan pertama masa menyusui. 

• Sumber Makanan
Kalsium : susu, keju yogurt, ikan dengan tulang yang bisa dimakan, tahu yang diproses dengan kalsium sulfat, 
dan brokoli 
Zinc : daging, produk ternak, makanan laut, telur, kacang-kacangan, yogurt. 
Magnesium : kacang, sayur-sayuran hijau, scallops, oyster, whole grain.
Vitamin B6 : pisang, produk ternak, daging, ikan, kentang, bayam, semangka, sereal, dan kacang
Thiamin : ikan, whole grains, jeroan, jagung, kacang
Folate : buah-buahan, hati, kacang hijau, legumen


Daftar Pustaka
1. Kardjati S. Aspek Kesehatan dan Gizi Anak Balita. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1999
2. Nasution A H, dkk. Gizi untuk Kebutuhan Fisiologis Khusus. Terjemahan. PT Gramedia. Jakarta. 1998
3. Badan Litbang Kesehatan, Depkes, Survei Kesehatan Rumah Tangga, Jakarta. 1991. h.43-48
4. Sayogo S, Tambunan V. Slide Kuliah Nutrition In Pregnancy. FKUI. 2010
5. Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2003. h.42-50
6. Hanafiah TM. Perawatan Antenatal dan Peranan Asam Folat dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Ibu Hamil dan Janin. 2006. Diunduh pada tanggal 1 November 2010 dari http://library.usu.ac.id/download/e-book/pidato%20hanafiah.pdf
7. Arisman. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC, 2004.
8. Depkes RI, 1993. Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dalam Konteks Keluarga. Jakarta: Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 
9. Mahan, L. Kathleen., Arlin, Marian. 2000. Krause’s Food, Nutrition & Diet Therapy 8th ed. Philadelphia : Saunders
10. Committee on Nutritional Status During Pregnancy and Lactation. Nutrition During Lactation. Diunduh dari : 
http://books.nap.edu/openbook.php?record_id=1577&page=213. (1 November 2010)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment