Tuesday, November 30, 2010

Pemeriksaan Laboratorium Nefrologi

Tes pemeriksaan laboratorium nefrologi atau dengan kata lain tes untuk mengevaluasi fungsi dari organ-organ perkemihan seperti  renal, ureter, kandung kemih, uretra dan prostat. Tes laboratorium ini dibedakan menjadi:

  • Tes laboratorium spesifik. Tes labor spesifik adalah tes yang ditujukan untuk mengobeservasi abnormalitas pada organ nefrologi tertentu, misalnya kreatinin untuk mendeteksi fungsi ginjal. 
  • Tes laboratorium non spesifik. Tes ini digunakan untuk mendeteksi hasil dari abnormalitas pada saluran nefrologi. Misalnya, pemeriksaan hematologi dilakukan untuk mendeteksi anemia yang disebabkan oleh hematuria. 
Tipe tes laboratorium:
a. tes hematologi (Complete blood count, reticulocyte count)
b. urinalisis (urinalisis rutin, manual dan otomatik sedimen)
c. tes kimia klinik (laju fitrasi glomerulus/GFR, tes fungsi renal, penanda tumor dll)
d. pemeriksaan asam basa/ air elektrolit
e. mikroalbuminuria, proteinuria

Persiapan yang dibutuhkan untuk urinalisis yaitu urin segar setelah bangun pagi hari. Kemudian urin dimasukkan ke dalam container dengan tutup berulir dan harus tiba di lab kurang dari 1 jam setelah pengumpulan. 



Hal-hal yang pelru diperhatikan adalah sebelum pemeriksaan urin adalah:

Penampung Urin
Penampung harus bersih dan kering. Jika urin mengandung detergen (quatermory ammonium salts / bactericidal agent) dan antiseptic benzalkonium (zephiron) maka dapat menimbulkan hasil positif palsu. Pemeriksaan urin dapat dilakukan dengan cara manual/konvensional seperti dengan tes benedict, protein, asam asetat dll, atau dengan cara carik celup.
Penampung urin sebaiknya terbuat dari kaca atau plastik dengan mulut lebar dan ada penutupnya. Wadah tersebut harus steril. Untuk hemosiderin urin (butir-butir besi), maka penampung direndam dengan HCl 0,4 M selama 24 jam kemudian dibilas air suling. Terakhir, menyertakan identitas penderita, ruangan, jam, jenis urin, pengawet pada badan botol.

PENGAMBILAN BAHAN
1. Langsung ke penampung
2. Urin porsi tengah / mid stream. Alat genital eksterna dicuci dulu dengan sabun kemudian dibilas lalu ditampung dengan cara: pada perempuan labia mayus dibuka dan pada laki-laki prepusium diangkat ke atas. Tujuannya supaya gk ada kuman yang ikutan masuk ke urin.
3. Kateterisasi. Biasanya pada pasien yang tidak bisa berkemih.
4. Aspirasi suprapubik (SPP). Pasien disuruh minum sampe perutnya menggelembung lalu aspirasi 50 cc. Dilakukan untuk menghindari kontaminasi vagina. SPP dilakukan jika dicurigai adanya tumor untuk pemeriksaan sitologi bukan untuk pemeriksaan rutin.
5. Urine bag – pada bayi dan anak kecil. Harga

JENIS-JENIS CONTOH URIN
1. Urin sewaktu untuk pemeriksaan rutin
2. Urin pagi hari, biasanya pekat baik berat jenis, sedimen, dan proteinnya. Dulu urin pagi hari digunakan untuk tes kehamilan, skrg ada cara yang lebih sensitif yaitu urin wanita yang dicurigai hamil disuntikkan ke kodok jantan bahkan bisa mendeteksi meskipun si wanita belum terlambat haid.
3. Urin postprandial, pada pasien DM / dugaan DM (glukosuria). Urin ditampung 1,5 – 3 jam sehabis makan.
4. Urin puasa, pada pasien DM / dugaan DM
5. Urin 12 jam / 24 jam, disebut juga urin kuantitatif. Untuk menghitung zat kimia seperti Ca, P, asam urat, Na, K, Cl, CCT, UCT. Caranya: pasien disuruh kencing pagi hari biasanya ditetapkan jam 7 pagi, urin pertama dibuang, selanjutnya sepanjang hari urin ditampung, setiap kencing urin dikocok, beri pengawet, esoknya pada jam 7 pagi juga kencing pertama ditampung.
6. Untuk biakan

PENGAWET URIN
Sebaiknya yang diperiksa adalah urin segar yaitu urin yang tiba kurang dari 1 jam. Jika ditunda maka simpan urin dalam lemari es dan diberi pengawet. Urin harus selalu ditampung dalam botol dan tertutup. Urin yang dibiarkan pada suhu ruang tanpa pengawet akan mengalami dekomposisi sebagai berikut :


  • Bakteri akan memecah ureum menjadi amoniak + CO2 sehingga kadar ureum menurun
  • pH urin menjadi alkalis karena sebagian amoniak menguap (pH normal: 4,5-8)
  • Urin tidak dapat dipakai lagi untuk penetapan ureum
  • Glukosa dipakai bakteri sebagai sumber energi sehingga test glukosuria negatif palsu
  • Eritrosit, leukosit & silinder akan menjadi rusak
  • Urobilinogen urin berubah menjadi urobilin 
JENIS PENGAWET URIN

  1. Toluena. Dalam bentuk cair, 2 mL untuk urin 24 jam berapapun banyak urinnya. Biasanya untuk pemeriksaan glukosa, aseton, asam aseto asetat urin
  2. Thymol. Dalam bentuk bubuk, 1 butir untuk urin 24 jam, jika berlebih akan menyebabkan proteinuria positif palsu (cara pemanasan dengan asam asetat)
  3. Formaldehid. Untuk mengawetkan sediment. Sekitar 1-2 mL larutan formaldehyd 40% untuk urin 24 jam. Jika berlebihan akan terjadi reduksi (+) pada Benedict
  4. Asam sulfat pekat. Untuk penetapan kuantitatif Ca & nitrogen
  5. Natrium carbonat untuk urobilinogen 
PEMERIKSAAN URIN

  1. Urin rutin : dikirim 20 mL Secara makroskopik untuk melihat volume, warna, kekeruhan, berat jenis, dan pH. Secara mikroskopik untuk melihat sedimen. Secara kimia untuk mendeteksi protein / albumin, glukosa / reduksi.
  2. Urin lengkap : dikirim 20 mL Secara kimia untuk menemukan hal-hal seperti pada urin rutin ditambah dengan keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar, dan nitrit.
  3. Protein Bnce Jones : dikirim urin segar 50 mL Pemeriksaan kuantitatif urin 24 jam, ukur volume urin dengan tepat menggunakan gelas ukur yang besar di lab, kocok lalu diambil sebagian untuk pemeriksaan. Protein Esbach (mendeteksi protein jika lebih dari 0,25 gr/24 jam), protein kuantitatif dan asam urat : ketiganya menggunakan pengawet toluena / thimol. Untuk pemeriksaan Ca dan fosfat menggunakan pengawet asam sulfat. Elektrolit Na+ / K+ / Cl- menggunaka toluen / thimol.
  4. Pemeriksaan hemosiderin dengan menggunakan penampung khusus bebas besi. Untuk biakan mikroorganisme dan resistensi di dalam botol steril 
Interpretasi Pemeriksaan Makroskopik Urin

  1. Jumlah urin Normal 1500 – 1800 mL / 24 jam Poliuri lebih dari 2000 mL / 24 jam. Oligouri 300 – 750 mL / 24 jam. Anuri 0 – 300 mL / 24 jam
  2. Warna urin. Normalnya urin berwarna kuning muda (pigmen urokhrom), namun dapat berubah akibat pengaruh obat-obatan misalnya rifampisin (urin jadi merah), makanan misalnya bit (urin merah), penyakit misalnya hepatitis (urin kuning tua / coklat)
  3. Kejernihan. Normalnya urin jernih (segar). Urin segar yang mula-mula sudah keruh disebabkan oleh fosfat yang banyak, adanya bakteri, sedimen yang banyak, chylus dan benda-benda koloid. Urin yang keruh setelah didiamkan disebabkan karena urat amorf, fosfat amorf dan adanya bakteri dalam botol penampung.
  4. Berat jenis. Normalnya urin memiliki berat jenis1003 – 1030 tergantung pada produksi urin, komposisi urin dan fungsi pemekatan ginjal. Cara mengukur BJ dengan menggunakan urinometer, refraktometer atau carik celup.
  5. Bau urin. Normalnya bau urin adalah khas. Dalam keadaan tertentu urin dapat berbau buah-buahan (pada DM), bau amoniak (karena perombakan oleh bakteri, bau busuk (pada Ca saluran kemih) dan bau jengkol
  6. Reaksi dan pH urin. pH urin normal berkisar 4,5 – 8. Cara mengukur pH urin dengan menggunakan kertas lakmus, kertas nitrasin, carik celup dan pH meter.
Interpretasi Pemeriksaan Mikroskopik Urin
Cara kerja
10-15 mL urin disentrifugasi dengan kecepatan 1500-2000 rpm, selama 15 menit. Kemudian supernatan dibuang dan disisakan 0,5 mL – ambil 1 tetes diletakkan di atas kaca objek – ditutup dengan kaca tutup – mikroskop.

Bahan pemeriksaan dapat berupa urin pagi segar, urin sewaktu segar dan urin dengan pengawet (formaldehyde 40%)

Pewarnaan
  • Sternheimer Malbin (untuk sel darah, epitel, silinder)
  • Sudan III/IV (oval fat bodies). Sudan pada tinja=pada urin
  • Prusian Blue (untuk hemosiderin urin biasanya disebabkan oleh hemolisis intravaskuler)
  • Natif 



MACAM-MACAM SEDIMEN URIN UNSUR ORGANIK

  • Epitel. Normalnya ada dalam jumlah sedikit. Jika terjadi peradangan maka jumlah epitel akan meningkat. Epitel transisional (dari pelvis ginjal hingga bagian atas uretra), epitel gepeng (uretra distal, vagina), epitel tubuli ginjal (pada kerusakan ginjal jumlahnya
  • Eritrosit. Normal dengan 0-1 / LPB. 
  • Leukosit. Normalnya 0-5 / LP, ada enzim leukosit esterase (5-15 / LPB), jika leukosit รก menandakan adanya infeksi bisa berupa PN, sistitis, uretritis, GN, dehidrasi, demam, SLE. 
  • Silinder. Terbentuk di tubulus ginjal, biasanya di tubulus distalis dan tubulus pengumpul. Penjelasan mengenai silinder. Mekanisme terbentuknya silinder yaitu adanya Presipitasi protein Tamm – Horsfall (matriks protein) di tubulus ginjal kemudian terjadi penggumpalan sel-sel ke dalam matriks tersebut. Kalo DNA biasanya eritosit meningkat sehingga disebut silinder eritrosit. Faktor penunjang terbentuknya silinder yaitu berkurangnya aliran urin (oliguri, anuri) suasana yang asam, urin yang pekat, dan terjadi proteinuria. Silinder selalu berasal dari ginjal dan merupaka petunjuk adanya kelainan ginjal. 
    • Jenis silinder yaitu silinder hialin, silinder eritrosit, silinder leukosit, silinder berbutir/granula, silinder lilin, dan silinder lemak. 
      • Silinder hialin. Paling sering ditemukan, biasanya secara fisiologis ditemukan di urin yaitu dalam jumlah kecil, jika meningkat itu artinya patologis. Terdiri protein Tamm – Horsfall (mukoprotein disekskresi oleh tubulus ginjal). Tidak berwarna, homogen, transparan dan dijumpai pada urin normal. 
      • Silinder eritrosit. Dalam matriks protein terdapat eritrosit menandakan hematuria. Dijumpai pada GNA (Glomerulunefritis Akut) yaitu pada Silinder Goodpasture, trauma ginjal dan infark ginjal.
      • Silinder leukosit. Yang sering membentuk silinder adalah neutrofil.
      • Silinder berbutir / granula Terbentuk dari deskuamasi sel epitel tubuli ginjal. Terjadi pada degenerasi & nekrosis tubulus ginjal, infeksi virus (hepatitis, CMV), reaksi penolakan transplantasi ginjal.
      • Silinder lilin Tidak berwarna / kuning / abu-abu. Berasal dari silinder berbutir halus – degenerasi lebih lanjut. Dijumpai pada GGK, netropati diabetik, amiloidosis ginjal.
      • Silinder lemak. Mengandung butir lemak bebas – degenerasi lemak dari epitel tubuli yang disebut oval fat bodies. Dijumpai : sindroma nefrotik, GNC, SLE. Selain itu bisa juga dijumpai spermatozoa, parasit dan bakteri pada urin 
UNSUR ANORGANIK 
Pada urin normal, terdapat unsur anorganik yang harus dikenal yaitu kristal Ca-oxalat (berbentuk amplop), triple-fosfat (berbentuk peti mayat), urat amorf, fosfat. Jika patologik dapat ditemukan kristal cholesterol, cystine, leucine. 

PEMERIKSAAN KIMIAWI URIN 
Dengan parameter sebagai berikut: Protein, darah samar, glukosa, keton, bilirubin, urobilin, urobilinogen, leukosit, nitrit, pH dan berat jenis urin. 

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment