Wednesday, December 1, 2010

Antibiotik & Antiseptik pada Infeksi Saluran Kemih

Antibiotik dan Antiseptik pada Infeksi Saluran kemih

Antiseptik adalah antimikroba yang bekerja pada permukaan dalam epitel traktus urinarius. Infeksi saluran kemih sebagian besar diakibatkan oleh bakteri gram negative terutama Escherihia coli. Pada ISK stadium akut dengan gejala infeksi sistemik, pengobatan yang seharusnya diberikan yaitu antibiotik sedangkan antiseptic digunakan untuk mencegah kambuhnya infeksi dan untuk pengobatan ISK bagian bawah yang tidak disertai dengan komplikasi. 


Antibiotik yang biasa digunakan untuk pengobatan ISK antara lain:

1. Trimethoprim – Sulfamethoxazole ( Cotrimoxazole)
Cara kerja:
sulfonamide bekerja dengan berkompetisi dengan PABA karena strukturnya yang mirip sedangkan trimethoprim bekerja dengan menghambat enz.dihydrofolate reductase. Konsentrasi cotrimoxazole tinggi di prostate karena dapat menembus jaringan prostat. Sedikit antimikroba yang dapat menembus prostat. Cotrimoxazole dapat mengobati pneumocystis carinii yang disebabkan oleh infeksi HIV.




2. Fluoroquinolone
Fluorokuionolon bekerja dengan menghambat DNA girase atau topoiomerase II (enzim yang memotong dan menghubungkan kembali DNA yang sangat penjang sehingga bisa muat di nucleus yang sangat kecil). Fluorokuinolon memiliki masa paruh panjang. Absorpsinya akan terhambat jika diberikan bersama dengan antacid. Selain itu fluorokuinolon dapat mengganggu metabolism theopylin sehingga bisa menyebabkan keracunan
Jenis – jenis fluoroquinolones antara lain: ciprofloxacin, levofloxacin dan moxifloxacin. Fluoroquinolones efektif untuk pengobatan infeksi saluran nafas bagian bawah karena sebagian besar gram negatif sebaliknya fluoroquinolones kurang efektif untuk pengobatan infeksi saluran nafas atas karena sebagian besar infeksi saluran nafas atas disebabkan oleh gram positif. Ada beberapa jenis fluoroquinolones yang memiliki kehususan seperti ciprofloxacin efektif untuk melawan P. aeruginosa, moxifloxacin efektif untuk melawan gram positif.




3. Penicilin 
Penicilin memiliki daya bunuh terhadap kuman karena memiliki cincin beta laktam. Jika cincin beta laktam rusak dan pecah, maka penicillin kehilangan daya bunuhnya terhadap bakteri. Namun, kuman dapat mengeluarkan enzim beta lactamase yang dapat memecah cincin beta lactam.

4. Aminoglikosida
Aminoglikosida memiliki daya bunuh kuat terhadap bakteri. Bersifat bakterisidal dengan menghambat sintesis protein. Aminoglikosida memiliki efek samping yaitu nefrotoksik dan ototoksik. Ototoksik ditandai dengan vertigo dan menurunnya daya dengar untuk nada- nada tinggi. Sedangkan nefrotoksik antara lain ditandai dengan meningkatnya kadar kreatinin dalam darah karena ginjal tidak mampu mengeliminasi kreatinin yang seharusnya dikeluarkan melalui urin. Jenis gentamycin sangat dihindari pemberiannya secara topical karena tingkat resistennya tinggi. Tetapi pemberian gentamycin secara topical ini terpaksa diberikan pada penderita luka bakar untuk mengatasi bakteri pseudomonas.Jika gentamycin diberikan maka obat yang seharusnya tidak diserap akan ikut terserap sedangkan pada penderita luka bakar sangat mungkin mengalami gangguan gunjal sehingga gentamycin dan obat yang ikut terserap sulit untuk dieliminasi.Amikasin diberikan jika sudah resisten terhadap gentamycin

Antiseptik yang biasa digunakan untuk pengobatan ISK antara lain:
1. Nitrofurantoin
Jarang menyebabkan resistensi, kontraindikasi terhadap penderita G6PD defisiensi, efektif untuk pengobatan infeksi saluran kemih bagian bawah terutama pada wanita

2. Methenamin
Daya bunuh terhadap bakteri hilang jika Ph meningkat, pada pH rendah akan melepas formaldehid (sedikit kuman yang resisten kecuali proteus)
Reaksi:

2 komentar:

  1. antiseptiknya sumbernya dari mana ya?? mohon dapusnya ya..

    ReplyDelete