Monday, December 13, 2010

Gangguan Sensorik

Manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya jika ia tidak tahu adanya bahaya yang mengancam atau menimpa dirinya. Adanya bahaya dapat diketahui dengan melihat, mendengar, mencium, dan merasakan rasa-nyeri, rasa-raba, rasa panas, rasa dingin, dan sebagainya. Inilah yang disebut sistem sensorik. Sistem sensorik menempatkan manusia berhubungan dnegan sekitarnya. Sensasi (sensibilitas) dapat dibagi empat jenis, yaitu: eksteroseptif, proprioseptif, interoseptif, dan khusus.1 Impuls somatosensotik dari perifer dihantarkan di sepanjang serabut saraf afferen ke badan sel neuron, yang terletak di gangglion radiks dorsalis. Impuls kemudian dihantarkan menuju sistem saraf pusat, tanpa melewati sinaps perantara, di sepanjang penonjolan sentral pada neuron yang sama. Akson ini membuat kontak sinaptik dengan nueron kedua di medula spinalis atau batang otak, yang aksonnya kemudian menjalar ke arah sentral, dan menyebrangi garis tengah menuju sisi yang berlawanan pada level tertentu di sepanjang perjalanannya. Neuron ketiga terdapat di thalamus. Neuron ini berproyeksi ke berbagai area kortikal, yang terpenting adalah korteks somatosensorik yang terletak di girus post-sentralis di lobus parietalis.2

Gejala gangguan sensorik3 :
• Anestesia  kehilangan sensasi yang selalu disebabkan oleh kerusakan saraf atau reseptor.
• Hyposthesia  penurunan kepekaan secara abnormal terutama terhadap sentuhan
• Hyperesthesia  peningkatan kepekaan terhadap rnagsnagan terutama terhadap sentuhan terjadi akibat reseptor impuls protopatik / serabut saraf perifer atau lintasan spinotalamik mengalami gangguan sehingga ambang rangsangnya menurun, maka perasaan yang wajar menghasilkan perasaan yang berlebihan. Gangguan ini dapat bersifat mekanik, toksik, vaskuler.
• Parestesia  perasaan yang timbul secara spontan pada permukaan tubuh tanpa adanya perangsangan. Perasaan yang timbul seperti perasaan dingin/panas setempat, kesemutan, rasa berat atau rasa dirambati sesuatu.
• Nyeri

• Gangguan Sensorik Negatif  Merupakan salah satu manifestasi sindrom neurologik yang disebut Defisit Neurologi
• Gangguan sensorik positif  Nyeri

Defisit sensorik akibat lesi radikular2
Defisit sensorik yang jelas terlihat dalam distribusi segmental biasanya hanya ditemukan bila lesi melibatkan beberapa radiks yang berdekatan karena masing-masing dermatom mewakili medula spinalis atau level redikular tertentu. Lokasi dermatom yang mengalami defisit sensorik merupakan indikator yang sangat bermakna untuk menentukan level lesi atau satu atau beberapa radiks.
Dermatom untuk rasa raba memiliki daerah tumpang tindih yang lebih luas dibandingkan dermatom untuk nyeri suhu sehingga pada lesi yang mengenai satu atau dua radiks yang berdekatan, defisit rasa raba menjadi sulit ditentukan, sednagkan sensasi nyeri suhu lebih mudah terlihat. Dengan demikian lesi radiks dapat lebih sensitif dideteksi dengan menguji adanya hiperalgesia atau analgesia daripada hiperesthesia atau anesthesia. (Gambar 1)

Gambar 1. Persarafan segmental kulit.

Gambar 2. Persarafan Kulit oleh saraf Perifer Gambar 3. Medula Spinalis dnegan Jaras Asenden

Defisit sensorik akibat lesi saraf tepi2
Lesi yang mengenai pleksus saraf atau saraf perifer menimbulkan defisit sensorik yang sangat berbeda dibandingkan lesi radikular karena lesi pleksus biasanya lebih menunjukan defisit motorik. Ketika terjadi cedera pada saraf tepi, serabut yang berada di dalamnya berasal dari beberapa radiks, maka serabut pada saraf yang cedera tidak mencapai dermatomnya lagi sehingga defisit sensorik yang terjadi memiliki distribusi yang berbeda dari defisit dermatom yang terjadi pada cedera radikular. Selain itu area kutaneus yang dipersarafi oleh sebuah perifer tumpang tindih lebih sedikit dibandingkan area yang dipersarafi oleh radiks yang berdekatan. Dnegan demikian, defisit saraf sensorik akibat lesi saraf perifer lebih mudah terlihat daripada akibat lesi radikular. (Gambar 2)

Lesi Kolumna Posterior2
Kolumna posterior terutama menghantarkan impuls yang berasal dari proprioseptor dan reseptor kutaneus.
Tanda-tanda klinis lesi di kolumna posterior:
• Hilangnya sensasi posisi dan gerakan
• Astereognosis : pasien tidak dapat mengenali dan menyebutkan objek melalui bentuk dan beratnya hanya dengan sensasi raba saja.
• Agrafestesia : pasien tidak dapat mengenali suatu angka atau huruf yang digambarkan oleh jari pemeriksa di telapak tangan.
• Hilangnya diskriminasi dua titik
• Hilangnya sensai getar : Pasien tidak dapat merasakan getaran garfu tala yang ditempelkan di tulangnya
• Tanda Romberg postif : Pasien tidak dapat berdiri dalam jangka lama dnegan kedua kaki bersatu dan mata tertutup tanpa bergoyang dan mungkin terjatuh.

Lesi Traktus Spinotalamikus Anterior2
Serabut sentral neuron orde pertama traktus ini berjalan naik dengan jarak yang bervariasi di kolumna posterior ipsilateral, membentuk kolateral di sepanjang perjalanan neuron kedua, yang serabutnya kemudian menyilang garis tengah dan naik lagi di dalam traktus spinotalamikus anterior kontralateral. Dengan demikian lesi pada traktus ini setinggi vertebra lumbal atau torakal umumnya menimbulkan sedikit atau tidak ada gangguan pada rasa raba, karena banyak impuls yang naik dapat menutup lesi melalui bagian ipsilateral jaras ini. Namun, lesi pada traktus spinotalamikus anterior setinggi servikal akan menimbulkan hipesthesia ringan pada eksremitas bawah kontralateral.

Lesi Traktus Spinotalamikus lateralis2
Traktus ini merupakan jaras utama untuk nyeri dan suhu. Pada daerah ini dapat dilakukan transeksi untuk menghilangkan nyeri. Jika traktus spinotalamikus lateralis ditranseksi di bagian ventral medula spinalis sensasi nyeri dan suhu berkurang pada sisi kontralateral satu atau dua segmen di bawah tingkat lesi, sedangkan sensai raba tetap baik.

Lesi Korteks Somatosensorik2
Lesi korteks somatosensorik unilateral menyebabkan gangguan subtotal pada persepsi nyeri, suhu, dan stimulus taktil pada sisi kontralateral tubuh; namun, diskriminasi dan sensasi posisi kontralateral hilang total, karena sensasi ini bergantung pada korteks yang intak.

Astereognosis2
Cedera pada ustau area di bagian inferior lobus parietalis merusak kemampuan untuk mengenali objek melalui perabaan telapak tangan kontralateral.

Defisit Somatosensorik Akibat Lesi Pada Lokasi Spesifik di Sepanjang Jaras Somatosensorik2
• Lesi subkortikal atau kortikal di area somatosensorik yang sesuai pada lengan dan tungkai menyebabkan paraestesia dan kebas pada eksremitas kontralateral, yang lebih jelas di bagian distal daripada bagian proksimal. Lesi iritatif pada lokasi ini dapat menimbulkan kejang fokal sensorik karena korteks motorik terletak tepat di sebelahnya, umumnya sering didapatkan cetusan motorik juga (kejang jaksonian). (a&b)
• Lesi di semua jaras sensorik di bawah thalamus menghilangkan semua sensasi pada tubuh di sisi kontralateral. (c)
• Jika semua jaras somatosensorik terkena kecuali jaras untuk nyeri dan suhu, terdapat hipestesia pada sisi tubuh dan wajah kontralateral. (d)
• Lesi pada lemniskus trigerminalis dan traktus spinotalamikus lateralis di batang otak merusak sensasi nyeri dan suhu pada sisi tubuh dan wajah kontralateral, tetapi tidak merusak modalitas somatosensorik lain. (e)
• Lesi di lemniskus medialis dan traktus spinotalamikus anterior, semua modalitas somatosensorik pada setengah sisi tubuh kontralateral terganggu, kecuali nyeri dan suhu. (f)
• Lesi di nukleus spinalis dan traktus nervus trigerminalis serta traktus spinotalamikus lateralis merusak sensai nyeri dan susu pad asetengah sisi wajah ipsilateral dan setengah sisi tubuh kontralateral. (g)
• Lesi Kolumna posterior menyebabkan hilangnya sensai posisi dan getar, diskriminasi, dan sebagainya, diserati oleh ataksia ipsilateral. (h)
• Lesi di kornu posterior medula spinalis, sensasi nyeri dan suhu ipsilateral hilang, tetapi modalitas lain tidak terganggu. (i)
• Lesi yang menegnai beberapa radiks posterior yang berdekatan menyebabkan nyeri radikular dan paraestesia serta kerusakan atau hilangnya semua modalitas sensorik di area tubuh yang terkena, selain itu didapatkan hipotonia atau atonia, arefleksia, dan ataksia jika radiks tersebut mempersarafi eksremitas atas atau bawah. (j)
Pola Defisit Sensorik :
• Hemihypesthesia  defisit sensorik pada salah satu sisi tubuh saja. Hal ini biasa disebabkan oleh karena lesi pada salah satu hemisfer serebri.
• Hemihypesthesia Alternans  hipestesia pada sisi wajah ipsilateral dan hipestesia pada sisi badan kontralateral. Hal ini disebabkan oleh karena lesi pada jaras spinotalamik & traktus spinalis N. trigeminalis di medulla oblongata.
• Hipestesia tetraplegik  hipestesia pada bagian tubuh batas leher ke bawah, wajah dan kepala tidak terganggu. Ini disebabkan oleh karena lesi yang memotong medulla spinalis di tingkat servical. Bila lesi medulla spinalis dibawah tingkat Thoracal maka deficit sensorik yang terjadi disebut : Hipestesia Paraplegik.
• Saddle Hypestesia (hipestesia selangkangan)  hipestesia pada daerah kulit selangkangan. Ini akibat lesi di kauda equine.
• Hipestesia perifer  hipestesia pada kawasan saraf perifer yang biasanya mencakup bagian bagian beberapa hematoma.

DAFTAR PUSTAKA
1. Lumbantobing SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: FKUI. 2008. h.115
2. Frotscher M, Baehr M. Diagnosis Topik Neurologi DUUS. Edisi ke 4. Jakarta: EGC. 2010. h.17-46
3. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi ke 25. Jakarta: EGC. 1998

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment