Monday, December 13, 2010

Histologi Sistem Pernafasan, Paru

HISTOLOGI


Sistem pernapasan dibagi menjadi dua daerah utama, yaitu:
1. bagian konduksi, yang terdiri atas rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronki, bronkiolus, dan bronkiolus terminalis. 2 fungsi utamanya, yaitu menyediakan sarana bagi udara yang keluar-masuk paru dan mengondisikan udara yang dihirup tersebut. Sebagian besar bagian konduksi dilapisi oleh epitel khusus yang ada pada sistem pernapasan, yaitu epitel respirasi.
2. bagian respirasi (tempat berlangsungnya pertukaran gas), yang terdiri atas bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan alveoli.

Epitel Respirasi
Epitel respirasi merupakan epitel bertingkat silindris bersilia yang mengandung banyak sel goblet. Epitel respirasi yang khas terdiri atas 5 jenis sel:
1. Sel terbanyak, sel epitel silindris bersilia. Setiap selnya memiliki lebih kurang 100 silia pada permukaan apikalnya.
2. Sel kedua terbanyak, sel goblet mukosa. Bagian apikal sel ini mengandung droplet mukus yang terdiri atas glikoprotein.
3. Sel silindris selebihnya dikenal sebagai sel sikat(brush cells) karena banyaknya mikrovili pada permukaan apikalnya. Sel sikat memiliki ujung saraf aferen pada permukaan basalnya dan dianggap sebagai sel reseptor sensorik.
4. Sel basal (pendek), yaitu sel bulat kecil yang terletak di atas lamina basal namun tidak meluas sampai permukaan lumen epitel. Sel-sel ini diduga merupakan sel induk generatif yang mengalami mitosis dan kemudian berkembang menjadi jenis sel lain.
5. Jenis sel terakhir adalah sel granul kecil, yang mirip sel basal kecuali bahwa sel ini memiliki banyak granul berdiameter 100-300 nm dengan bagian pusat yang padat.
RONGGA HIDUNG
Vestibulum
Vestibulum merupakan bagian paling anterior dan paling lebar di rongga hidung. Kulit luar hidung memasuki nares (cuping hidung) dan berlanjut ke dalam vestibulum. Di sekitar permukaan dalam nares, terdapat banyak kelenjar sebasea dan kelenjar keringat, selain rambut pendek tebal vibrisa, yang menahan dan menyaring partikel-partikel besar dari udara inspirasi. Di dalam vestibulum, epitelnya tidak berlapis tanduk lagi dan beralih menjadi epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis.
Fosa Nasalis (Kavum Nasi)
Kedua kavum nasi dipisahkan oleh septum nasi oseosa. Dari tiap dinding lateral, keluar 3 tonjolan bertulang mirip rak yang dikenal sebagai konka. 3 konka tersebut adalah konka superior, media, dan inferior, dengan konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi. Konka superior ditutupi epitel olfaktorius khusus. Adanya konka berfungsi mempermudah pengkondisian udara inspirasi dengan memperluas permukaan epitel respirasi dan menimbulkan turbulensi aliran udara, sehingga meningkatkan kontak antara aliran udara dengan lapisan mukosa. Lapisan mukosa ini juga melembabkan udara yang masuk.
Di dalam lamina propria konka terdapat pleksus vena besar yang dikenal sebagai badan pengembang (swell bodies). Setiap 20-30 menit, badan pengembang pada satu sisi fosa nasalis akan penuh terisi darah sehingga mukosa konka membengkak dan mengurangi aliran udara, kemudain sebagian besar udara diarahkan lewat fosa nasalis lain. Interval penutupan periodic ini mengurangi aliran udara sehingga epitel respirasi dapat pulih dari kekeringan.
Gw gak tau apakah pleksus vena besar ini sama dengan plexus kiesselbach di hidung juga. Pleksus ini merupakan sinus venosus di hidung dengan arah aliran darah dari dalam hidung ke arah vestibulum. Gunanya jelas buat menghangatkan udara masuk. Plexus ini mudah berdarah, dan inilah yang bikin epistaksis a.k.a mimisan.

Epitel Olfaktorius
Epitel olfaktorius merupakan tempat terletaknya kemoreseptor olfaktorius. Epitel ini terletak di atap rongga hidung. Pada manusia, luasnya sekitar 10 cm2 dengan tebal sampai 100 m. Epitel ini merupakan epitel bertingkat silindris yang terdiri atas 3 jenis sel:
1. Sel penyokong atau sel sustentakular, dia punya apeks silindris yang lebar dan basis yang lebih sempit. Pada permukaan bebasnya terdapat mikrovili, yang terendam dalam selapis cairan. Kompleks tautan yang berkembang baik mengikatr sel-sel ini pada sel-sel olfaktori di sebelahnya. Sel-sel ini mengandung pigmen kuning muda yang menimbulkan warna mukosa olfaktorius.
2. Sel-sel basal berukuran kecil, bulat atau kerucut, membentuk suatu lapisan pada basal epitel.
3. Diantara sel-sel basal dan sel penyokong terdapat sel-sel olfaktorius, yaitu neuron bipolar yang intinya terletak di bawah inti sel penyokong. Apeksnya, yaitu dendrite memiliki daerah meninggi dan melebar, tempat 6-8 silia berasal. Silia ini sangat panjang, nonmotil, dan berespons terhadap zat pembau dengan membangkitkan suatu potensial reseptor. Lamina propria di epitel olfaktorius memiliki kelenjar Bowman. Sekretnya menghasilkan suatu medium cair di sekitar sel-sel olfaktorius yang mampu membersihkan silia, yang memudahkan akses zat pembau yang baru. Jadi gak mungkin lw nyium ketek orang trus masih kecium 1 km jauhnya. Itu sih kalo gak ketek lw yaaaaa, idung sama mulut deket lah..

SINUS PARANASAL
Sinus paranasalis dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan mengandung sedikit sel goblet. Lamina proprianya mengandung sedikit kelenjar kecil dan menyatu dengan periosteum dibawahnya.

NASOFARING
Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi, lagi pada bagian yang berkontak dengan palatum molle.

LARING
Di dalam lamina propria laring terdapat sejumlah tulang rawan laring. Tulang rawan yang lebih besar (tiroid, krikoid, dan kebanyakan aritenoid) merupakan tulang rawan hialin, sementara tulang rawan yang lebih kecil (epiglotis, kuneiformis, kornikulatum, dan ujung aritenoid) merupakan tulang rawan elastis.
Epiglotis, yang terjulur keluar dari tepian laring ke dalam faring memiliki permukaan lingual dan laringeal. Seluruh permukaan lingual dan bagian apikal permukaan laringeal ditutupi oleh epitel berlapis gepeng. Pada permukaan laringeal dekat basis epiglotis, epitelnya beralih menjadi epitel respirasi, lagi dengan kelenjar campuran mukosa-serosa dibawahnya.
Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk 2 pasang lipatan yang meluas ke dalam lumen laring. Pasangan atas membentuk pita suara palsu (plika vestibularis), yang ditutupi epitel respirasi. Pasangan lipatan bawah membentuk pita suara sejati. Berkas-berkas besar serat elastin yang berjalan paralel, yang membentuk ligamentum vokalis, berada dalam pita suara, yang ditutupi oleh epitel berlapis gepeng tanpa tanduk. Pita suara inilah yang menentukan merdu-tidaknya sura, kata dokternya, kalo suara serak2 basah mungkin pita suaranya udah dilapisi tanduk (epitel berlapis gepeng dgn lapisan tanduk, bukan tanduk hewan). Sejajar dengan ligamen, terdapat berkas otot rangka, yaitu muskulus vokalis yang mengatur ketegangan lipatan tersebut beserta ligamennya.

TRAKEA
Trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Di dalam lamina proprianya terdapat 16-20 cincin tulang rawan hialin berbentuk C yang menjaga agar lumen trakea tetap terbuka dan terdapat benyak kelenjar seromukosa yang menghasilkan mukus yang lebih cair. Ujung terbuka dari cincin tulang rawan ini terdapat di permukaan posterior trakea. Ligamen fibroelastis dan berkas otot polos terikat pada periosteum dan menjembatani kedua ujung bebas tulang rawan. Ligamen tersebut berfungsi mencegah distensi berlebihan dari lumen, sementara otot polos berfungsi untuk pengaturan lumen.

BRONKUS
Bronkus terbagi menjadi 2, yaitu bronkus primer yang memasuki hilus paru bersama arteri, vena, dan pembuluh limfe yang dikelilingi jaringan ikat padat menjadi akar paru, dan bronkus sekunder atau bronkus lobaris yang memasok lobus paru. Setiap bronkus primer bercabang secara dikotom (jadi dua) sebanyak 9-12 kali, dan masing-masing cabang makin mengecil sehingga tercapai diameter sekitar 5 mm. Mukosa bronkus secara struktural mirip dengan trakea, dengan tulang rawan bronkus yang berbentuk lebih tidak teratur daripada tulang rawan trakea. Dengan mengecilnya garis tengah bronkus, cincin tulang rawan digantikan oleh lempeng-lempeng tulang rawan hialin. Pada lamina propria bronkus tampak adanya lapisan otot polos yang tersusun menyilang. Berkas otot polos menjadi lebih jelas terlihat di dekat bagian respirasi. Oleh karena terjadi pengerutan otot setelah kematian, penampilan mukosa bronkus menjadi berlipat-lipat. Lamina propria banyak mengandung serat elastin dan banyak memiliki kelenjar serosa dan mukosa, dengan saluran yang bermuara ke lumen bronkus. Banyak limfosit yang berada di dalam lamina propria dan di atas sel-sel epitel. Terdapat kelenjar getah bening yang terutama banyak dijumpai di tempat percabangan bronkus, namanya BALT.
BRONKIOLUS
Bronkiolus tidak memiliki tulang rawan ataupun kelenjar dalam mukosanya, hanya terdapat sel goblet pada epitel segmen awal. Pada bronkiolus yang lebih besar, epitelnya adalah epitel bertingkat silindris bersilia, yang makin memendek dan semakin sederhana sampai menjadi epitel selapis kuboid (yang sama dosennya dibilang sel epitel kubis dan terdengar seperti pubis. Tapi di buku sih kuboid) pada bronkiolus terminalis yang lebih kecil. Epitel bronkiolus terminalis juga memiliki sel Clara, yang tidak bersilia, memiliki granul sekretori di apeksnya dan menyekresikan protein yang melindungi lapisan bronkiolus terhadap polutan oksidatif dan inflamasi. Kalo kata narasumber pleno, temuan baru menemukan kalo sel Clara ini juga ada yang menghasilkan surfaktan.
Bronkiolus memperlihatkan daerah-daerah spesifik yang dibentuk oleh sekumpulan sel yang mengandung granula sekretoris dan menerima ujung saraf kolinergik. Walau belum diketahui fungsinya, badan-badan ini kemungkinan kemoreseptor yang bereaksi terhadap perubahan komposisi dalam gas napas dan terlibat dalam proses pemulihan sel-sel epitel jalan napas setelah mengalami cedera.
Lamina propria bronkiolus sebagian besar terdiri atas otot polos dan serat elastin. Otot-otot bronki dan bronkioli berada di bawah kendali nervus vagus dan susunan saraf simpatis. Stimulasi nervus vagus mengurangi diameter struktur-struktur ini, stimulasi simpatis menghasilkan efek kebalikannya, yaitu merelaksasikan otot polos.

BRONKIOLUS RESPIRATORIUS
Bronkus respiratorius merupakan peralihan antara bagian konduksi dan bagian respirasi dari sistem pernapasan. Mukosa bronkiolus respiratorius identik secara struktural dengan mukosa bronkiolus terminalis selain dindingnya yang diselingi banyak alveolus tempat terjadinya pertukaran gas. Bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kuboid bersilia dan sel Clara, tetapi pada tepi muara alveolus, epitel bronkiolus menyatu dengan sel-sel alveolus gepeng. Otot polos dan jaringan ikat elastis terdapat di bawah epitel bronkiolus respiratorius.

DUKTUS ALVEOLARIS
Duktus alveolaris dan alveolus dilapisi oleh sel alveolus gepeng yang sangat halus. Dalam lamina propria yang mengelilingi tepian alveolus terdapat anyaman sel otot polos. Berkas otot polos mirip sfingter ini tampak sebagai tombol diantara alveoli yang berdekatan. Otot polos tidak dijumpai lagi pada ujung distal duktus alveolaris. Matriks serat-serat elastin dan kolagen merupakan satu-satunya penunjunag duktus serta alveolinya. Biar bisa diitung, 1 ekor, 2 ekor, dst
Duktus alveolaris bermuara ke dalam atrium, yang berhubungan dengan sakus alveolaris. Dua atau lebih sakus alveolaris bersal dari setiap atrium. Banyak serat elastin dan retikulin membentuk jalinan rumit mengelilingi struktur-struktur ini. Serat elastin memungkinkan alveolus mengembang sewaktu inspirasi dan berkontraksi secara pasif selama ekspirasi. Serat retikulin berfungsi sebagai penunjang yang mencegah perkembangan yang berlebihan dan pengrusakan kapiler halus dan septa alveolar yang tipis.

ALVEOLUS
Alveolus menyerupai kantung kecil yang terbuka pada satu sisi, mirip sarang lebah. Dinding alveolus terletak di antara 2 alveolus yang bersebelahan dan disebut sebagai septum interalveolar. Satu septum interalveolar terdiri atas 2 lapis epitel gepeng tipis, dengan kapiler, fibroblas, serat elastin dan retikulin, matriks, dan sel jaringan ikat di antara kedua lapisan tersebut. Kapiler dan jaringan ikat membentuk interstisium.
Udara dalam alveolus dalam alveolus dipisahkan darah kapiler oleh 3 unsur yang secara kolektif disebut sebagai sawar darah-udara, yaitu (1)lapisan permukaan dan sitoplasma sel alveolus, (2)lamina basal yang menyatu dari sel alveolus dan endotel, dan (3) sitoplasma sel endotel. Membran basal dibentuk oleh penyatuan dua lamina basal yang diproduksi oleh sel endotel dan sel epitel (alveolar) dinding alveolus.
Sel endotel kapiler sangat tipis dan sering dikacaukan dengan sel epitel alveolus tipe I. Lapisan endotel kapiler bersifat kontinu dan tidak bertingkap. Inti dan organelnya berkumpul di satu tempat. Sitoplasma mengandung vesikel pinositotik.
Sel tipe I, atau sel alveolus gepeng, merupakan sel yang sangat tipis yang melapisi permukaan alveolus. Sel tipe I menempati 97% dari permukaan alveolus. Organel-organelnya berkumpul di sekitar inti, sehingga sebagian besar sitoplasma bebas dari organel. Sitoplasma pada bagian tipis mengandung vesikel pinositotik. Selain desmosom, sel ini mempunyai taut kedap yang berfungsi mencegah perembesan cairan jaringan ke dalam ruang udara alveolus. Fungsi sel ini adalah untuk membentuk sawar dengan ketebalan minimal yang dapat dilalui gas dengan mudah.
Sel tipe II, tersebar di antara sel-sel alveolus tipe I, menempati 3% dari permukaan alveolus. Kedua jenis sel ini melekat dengan taut kedap(tight junction) dan desmosom. Sel tipe II berbentuk bundar yang biasanya berkelompok dengan jumlah 2 atau 3 di sepanjang permukaan alveolus di tempat pertemuan dinding alveolus yang membentuk sudut. Sel ini membelah dengan cara mitosis untuk mengganti populasinya sendiri dan mengganti populasi sel tipe I. Sel tipe II memiliki sitoplasma bervesikel khas atau berbusa. Vesikel ini disebabkan oleh adanya badan lamela, mengandung lamela konsentris atau paralel yang dibatasi oleh suatu membran. Badan lamela menghasilkan surfaktan paru.
Lapisan surfaktan terdiri atas suatu hipofase aqueous berprotein yang ditutupi oleh selapis tipis fosfolipid monomolekular, yang terutama terdiri atas fosfatidil dipalmitoil dan fosfatidilgliserol, dan mengandung beberapa tipe protein. Fungsi utama surfaktan adalah mengurangi tegangan permukaan sel-sel alveolus, sehingga diperlukan daya inspirasi yang lebih sedikit untuk mengisi alveolus, sehingga beban kerja pernapasan berkurang. Surfaktan juga mencegah alveolus kolaps saat ekspirasi. Dalam masa fetus, surfaktan muncul pada minggu-minggu terakhir kehamilan bersama dengan badan lamela dan sel tipe II. Lapisan surfaktan ini diganti secara terus-menerus, lipoprotein dihilangkan oleh vesikel pinostotik di sel epitel gepeng, makrofag, dan sel tipe II. Cairan pelapis alveolus juga dibuang lewat aktivitas sila ke atas lewat jalan napas, bergabung dengan mukus bronkus menjadi cairan bronkoalveolar yang membantu pengeluaran partikel halus dan komponen berbahaya dari udara inspirasi.

Makrofag Paru
Hampir pada setiap sediaan paru-paru ditemukan fagosit bebas. Karena mereka mengandung debu maka disebut sel debu. Pada beberapa penyakit jantung sel-sel tersebut mengandung butir-butir hemosiderin hasil fagositosis pigmen eritrosit.
Pori-pori Alveolar
Septum interalveolar mengandung pori-pori berdiameter 10-15 m yang menghubungkan alveoli yang bersebelahan. Pori-pori ini menyeimbangkan tekanan udara dalam alveoli dan memudahkan sirkulasi kolateral udara bila bronkiolus tersumbat. Tapi kolateral ini seperti pedang bermata ganda, infeksi bisa dengan mudah menyebar ke alveoli lain lewat kolateral ini.
Pleura
Seperti juga jantung, paru-paru terdapat didalam sebuah kantong yang berdinding rangkap, masing-masing disebut pleura visceralis dan pleura parietalis. Kedua pleura ini berhubungan didaerah hilus. Sebelah dalam dari tiap lapisan pleura, yaitu daerah diantara keduanya yang merupakan rongga pleura dilapisi oleh mesotel. Rongga pleura berisi sedikit sekali cairan pelumas, sehingga memudahkan pergeseran antar pleura sewaktu bernapas. Pleura tersebut terdiri atas jaringan pengikat yang banyak mengandung serabut kolagen, elastis, fibroblas dan makrofag. Di dalamnya banyak terdapat anyaman kapiler darah dan pembuluh limfe.
Reaksi:

1 komentar:

  1. coba daftar pustakanya di tampilin juga..lebih bagus :)

    ReplyDelete