Sunday, December 5, 2010

Zat terlarut dalam tubuh dan osmolalitas

Solut atau zat terlarut di dalam tubuh  terbagi menjadi 2 yakni solut permeabel dan solut impermeable.

a. Solut permeabel (inefektif)
Solute permeable bebas melintas seluruh membran sel, tidak efektif mempengaruhi tekanan osmotik, dan tidak menyebabkan perpindahan air. Contoh solut permeabel adalah urea.

b. Solut impermeabel (efektif)
Solut impermeabel tidak bebas melintas membran sel, efektif mempengaruhi tekanan osmotik dapat menyebabkan perpindahan air. Contoh: natrium, glukosa, mannitol, sorbitol.

Solut yang mempengaruhi osmolalitas dalam tubuh adalah natrium, kalium, glukosa dan urea.

Osmolalitas adalah
rasio antara jumlah solut dan air. Kalau jumlah solut bertambah, osmolalitas juga naik, begitupun sebaliknya. Perbedaan osmolalitas dan osmolaritas yakni pada satuannya. Osmolalitas adalah jumlah solut dalam 1 kg air sedangkan Osmolaritas adalah jumlah solut dalam 1 liter larutan.

Tonisitas
Tonisitas dalah perbandingan jumlah solut impermeabel dan air. Dengan adanya perbedaan ini, air berpindah dari kompartemen dengan tonisitas rendah ke tonisitas tinggi.
Perhitungan : 

Posm efektif (mOsm/kg H2O) = 2{(Na)mEq/L} + (glucose mg/dL)/18 + (X mg/dL)/(BM/10)
X = Manitol, Gliserol dan Sorbitol


Osmolalitas plasma adalah osmolalitas seluruh cairan tubuh, apabila tercapai keseimbangan antara cairan intra sel dan ekstra sel, maka osmolalitas plasma tentu mewakili osmolalitas seluruh cairan tubuh. Jadi, kalau osmolalitas itu jumlah solut dalam 1 kg air, sementara tonisitas hanya osmolalitas efektif saja (Na, K, dll)

Pergerakan air / Hidrodinamik tidak lepas dari pergerakan antara ECF dan ICF atau sebaliknya. Pergerakan air tegantung pada tekanan hidrostatik  dan tekanan osmotik

Tekanan osmotik
Semakin tinggi osmalilitas efektif, Makin tinggi tekanan osmotik. Tekanan osmotik terbagi dua:
• Tekanan osmotik kristaloid
• Tekanan osmotik koloid contoh albumin (onkotik) 


Tekanan hidrostatik ditentukan oleh tekanan darah yang semakin menurun semakin kearah distal.

Ada 2 regulator keseimbangan air dan natrium : Osmotik dan volume.
1. Osmotik ini dipengaruhi osmolalitas plasma dengan reseptor berupa osmoreseptor hipotalamus. Contoh pada keadaan osmolalitas plasma meningkat, osmoreseptor hipotalamus menerima sinyal ini dan mengeluarkan ADH sehingga air diretensikan. ADH bekerja di duktus koligen, sehingga terbentuk aquaporin 2 pada dinding lumen tubulus yang mengeluarkan air ke interstitium medula ginjal dalam usaha mengembalikan osmolalitas plasma menjadi normal.


2. Volume. Yaitu berupa volume sirkulasi efektif yaitu volume darah yang cukup dalam melakukan perfusi oksigen secara normal. Tergantung pada volume intravaskuler maupun ekstrasel. Sensornya ada pada 3 tempat (sinus karotis, atrium, aferen,  glomerulus). Sinus karotis berhubungan dengan aktivitas saraf simpatis. Atrium berhubungan dengan Atrial Natriuretic Peptide. Aferen berhubungan dengan RAAS.

Pressure natriuresis berhubungan dengan tekanan darah, tergantung volume air. Kalau volume air naik, tekanan darah naik, berarti terjadi pengeluaran natrium. Regulasi volume juga mempengaruhi pengeluaran ADH, kalau volume sirkulasi efektif turun , maka akan dikeluarkan ADH dari hipotalamus. sementara kalau sirkulasi volume efektif turun, maka sinus karotis merangsang saraf simpatis, sehingga pembuluh darah konstriksi. Aktivitas simpatis yang meningkat juga akan meningkatkan RAAS. Sehingga aldosteron akan membuat Na channel di tubulus koligen, sehingga terjadi retensi Na. Kalau volume darah meningkat akan terjadi peregangan pada reseptor atrial natriuretic peptide, sehingga ANP disekresikan, ditangkap di tubulus koligen, yang kemudian mensekresikan Na dari sel ke dalam lumen tubulus. Pada arteri aferen, kalau volume sirkulasi turun, akan dirasakan oleh arteri aferen lalu mengaktifkan RAAS.
Sehingga regulasi volume mempengaruhi ekskresi Na, adapun regulasi osmotik mempengaruhi ekskresi air.

Contoh kasus apabila terjadi hipernatremia, maka osmolalitas plasma meningkat. Osmoreseptor teraktivasi kemudian ADH dikeluarkan. ADH meningkat, kemudian bekerja di duktus koligen, sehingga terbentuk aquaporin 2 pada dinding lumen tubulus yang mengeluarkan air ke interstitium medula ginjal dalam usaha mengembalikan osmolalitas plasma menjadi normal.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment