Wednesday, December 22, 2010

Pemeriksaan Fungsi Kognitif

PEMERIKSAAN FUNGSI KOGNITIF
Oleh Rizka H
Evaluasi status mental merupakan penialian fungsi kognitif dan emosi yang sistematis. Berbeda dengan proses pemeriksaan fisik, pada pemeriksaan status mental dibutuhkan pemeriksaan yang berurutan karena untuk memeriksa suatu keadaan diperlukan pemeriksaan keadaan lainnya terlebih dahulu. Pada pemeriksaan mental diperiksa hal berikut, yaitu:

1. Tingkat kesadaran
2. Atensi
3. Orientasi
4. Berbahasa
5. Memori
6. Pengetahuan umum
7. Berhitung
8. Abstraksi
9. Gnosisa
10. Praksia
11. Respon emosional

Atensi (Pemusataan Perhatian) dan Konsentrasi
Atensi merupakan kemampuan untuk memfokuskan perhatian pada masalah yang dihadapi. Konsentrasi merupakan kemampuan untuk mempertahankan fokus tersebut. Atensi memungkinkan seseorang untuk memborbardir otak yang dianggap perlu dan membutuhkan pemprosesan lebih lanjut, dari hal-hal yang perlu diabaikan.

Pemeriksaan
• Tes mengulang angka
Pasien diminta mengulangi sebaris angka yang dipilih secara acak; dimulai dengan tiga angka, kemudian ditingkatkan sampai terdapat kesalahan, atau sampai dapat mengulangi tujuh angka. Waktu untuk pasien adalah satu angka satu detik. Contoh: 2-5-9; 1-4-6-7,, dst. Orang dewasa normal dapat mnegulangi sampai 6 atau 7 angka. Bila orang yang normal tidak mampu mengulangi lebih dari 5 angka, perhatiannya mungkin kurang.
• Tes mengetuk Jari
Pasien diminta mengetukan jarinya ke meja bila ia mendengar angka tertentu misalnya 4. Kita sebutkan serangkaian angka misalnya 1-12-4-7-9-10-6-2-0-4. Angka disebutkan satu angka per detik. Dapat pula digunakan huruf.
Orientasi
Orientasi yang perlu dinilai adalah terhadap individu, waktu, dan tempat.

Memori
Memori menghubungkan masa lalu dan masa kini. Gangguan memori merupakan keluhan yang sering dijumpai pada pasien dengan sindrom mental organik. Namun tidak semua disebabkan gangguan organik, faktor psikiatrik, terutama depresi dan ansietas dapat juga mempengaruhi fungsi memori dan kognitif. Rentang waktu yang digunakan untuk memeriksan memori dapat singkat atau setelah bertahun-tahun seperti mengingat kembali pengalaman semasa kanak-kanak. Proses memori terdiri dari beberapa tahapan. Pertama-tama informasi diterima oleh modalitas sensorik kuhsus (raba, auditif) atau visual dan kemudian diregistrasi. Sekali input memori telah diterima dan diregistrasi, informasi ini disimpan sebentar di memori jangka pendek. Langkah ke dua terdiri dari menyimpan dan mempertahankan informasi dalam bentuk yang lebih permanen (memori jangka panjang). Proses penyimpanan ini dapat ditingkatkan oleh pengulangan atau oleh penggabungan dengan informasi lain yang sudah berada di dalam simpanan. Penyimpanan merupakan proses aktif yang membutuhkan upaya melalui praktek dan latihan. Langkah terakhir ialah recall informasi yang disimpan atau menjumpt informasi yang disimpan. Tiap-tiap tahapan pada seluruh proses memori bertumpu pada integritas langkah-langkah sebelumnya. Bia ada interupsi dalam urutannya, hal ini dapat menghalangi penyimpanan suatu memori. Di klinik, memori dibagi atas tiga jenis berdasarkan kurun waktu antara presentasi stimulus dan retrieval memori. Memori segera, memori baru jangka pendek, memori rimot jangka panjang.

Pemeriksaan
Memori segera merupakan pemanggilan setelah rentang waktu beberapa detik, seperti pada pengulangan deret angka.
Memori baru. Memori baru mengacu pada kemampuan pasien mengingat kejadian yang abru terjadi. Pememeriksaan memori baru mencakup memori verbal dan visual. Pemeriksaan memori verbal dengan menilai memori baru tentang orientasi, menilai kemampuan mempelajari hal baru dan tes memori 4 kata yang tidak berhubungan. Orientasi adalah hal pertama yang harus di tes.
Memori rimot (jangka panjang) Memori rimot digunakan bagi kemampuan mengumpulkan fakta tau kejadian yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya, seperti nama guru atau teman satu sekolah dulu.
Amnesia umumnya melukiskan defek pada fungsi memori. Rentang waktu amnesia dapat sesingkat bebrapa detik sampai beberapa tahun.
Amnesia psikogenik. Manesia dapat juga berbentuk amnesia pasikogenik dimana dalam hal ini pasien memblok suatu kurun waktu. Hilangnya memori yang berdasarkan keadaan psikologis mengakibatkan lubang-lubang memori jangka panjang dan pendek.
Kemampuan mempelajari hal yang baru perlu dinilai. Untuk kinerja yang baik dibutuhkan integritas seluruh sistem memori: pengenalan registrasi input sensorik inisial, retensi, dan penyimpanan informasi dan pemanggilan kembali atau penjumputan informasi yang disimpan.
Tes dengan 4 kata yang tidak berhubungan. Sebelumnya sampaikan pada pasien apa yang hendak dilakukan; untuk memastikan pasien memahami. Kemudian minta beliau mengulangi kata-kata tersebut setelah kita sebutkan. Penderita manula membutuhkan beberapa kali pengulangan namun bila dibutuhkan pengulangan sampai 4-5 kali, dicurigai ada gangguan memori. Setelah 5 menit berlalu minta pasien untuk menyebutkan keempat kata tadi. Kemudian setelah 20 dna 30 menit minta hal yang sama. Bila pasien tidak mampu dapat dilakukan bantuan dan memberinya petunjuk, bila kemampuan pasien lebih baik dengan cara mengenal dari pada menyebutkan hal ini menunjukan bahwa problem memori terletak apda permasalahan penjumputan ketimbang akuisisi atau defisit penyimpanan.
Memori visual Penialaian memori visual harus dilakukan pada semua pasien. Tes ini berguna bagi pasien dengan kemampuan verbal yang kurang atau dengan pendidikan yang kurang. Cara melakukan tes memori visual: Pasien menggunakan 5 objek kecil yang dengan mudah dapat disembunyikan di sekitar pasien, misalnya: pinsil, sisir, kunci, mata-uang, pisau. Objek ini kemudian disimpan di sekitar pasiensewaktu objek disembunyikan pasien harus melihatnya . Steelah onbjek disembunyikan pasien diberi tugas lain untuk mengalihkan perhatiannya. Setelah 5 menit berlalu, pasien ditanya objek apa yang disembunyikan dan dimana. Skor memori visual, orang normal dibawah 60 tahun dapat menyebutkan 4 atau 5 objel yang disembunyikan setelah 5 menit berlalu tanpa kesulitan. Kinerja yang lebih rendah dari 3 objek memnandakan terdapat gangguan memori.
Memori jangka panjang. Tes memori ini dapat mengenai informasi pribadi, pengetahuan umum, dan sejarah.

Implikasi Klinik
Beberapa aspek proses memori terjadi pada bangunan neuro anatomi tertentu atau sistem neuronal. Penelitian patologik anatomik telah banyak mendokumentasikan bahwa bagunan limbik terlibat dalam penyimpanan jangka panjang dan penjumputan informasi baru. Namun demikian, struktur yang berperan untuk pemanggilan kembali segera dan memori rimot belum dapat ditentukan. Walaupun jejak memori visual, verbal, dan taktil mungkin sekali disimpan di neo korteks, banyak bangunan subkortikan dibutuhkan untuk proses total dari memori. Kerusakan pada berbagai sistem kortikal atau subkortikal akan mengakibatkan berbagai pola gangguan fungsi.

Abstraksi (berfikir abstrak) merupakan fungsi intelektual tingkat tinggi, yang membutuhkan pemahaman dan pertimbangan. Mengintepretasikan makna suatu pepatah atau kiasan membutuhkan pengetahuan umum, kemampuan menggunakan pengetahuan ini pada situasi tertentu dan kemampuan berfikir abstrak. Pasien yang tidak mampu mengemukakan dengan kemungkinan abstrak dari suatu pepatah atau kiasan akan menjawab dengan konkrit saja. Keadaan ini umum dijumpai pada gangguan organik, demensia. Cara lain menilai berfikir abstrak adalah menanyakan persamaan dan perbedaan. Selain itu cara berpikir abstrak dapat dinilai lewat penilaian pertimbangan.

Gnosis
Seseorang dapat mengenal suatu objek melalui salah satu inderanya. Agnosia dapat didefinisikan sebagai gagal mengenal suatu objek kendati sensasi primernya berfungsi baik. Beberapa jenis agnosia yang dikenal di klinik mencakup: agnosia visual, agnosia jari, agnosia taktil. Dengan kata lain gangguan persepsi sensasi, walaupun sensabilitasnya primernya normal, disebut agnosia.
Agnosia Visual Agnosia visual ialah tidak mampu mengenal objek secara visual pada hal penglihatannya adekuta. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh kelainan yang melibatkan area asosiasi visual otak. Ada beberapa sub-jenis agnosia visual, termasuk gagal mengenali lingkungan yang sudah biasa diketahui dan gagal beorientasi pada lingkungan yang sebelumnya diketahui.
Agnosia jari ialah keadaan pasien yang tidak mampu mengidentifikasi jarinya atau jari orang lain, misalnya ia tidak memapu melakukan suruhan: “tunjukan telunjukmu!” Pasien dengan agnosia jari biasanya memppunyai lesi di hemisfer yang dominan. Lesi di parietal-oksipital mungkin dapat menyebabkan agnosia jari. Bila didapatkan pula kelainan disfagia, tes ini sulit dilakukan atau sulit dinilai.
Agnosia taktil ialah keadaan di mana terdapat kegagalan mengenal suatu objek melalui perabaan, sedang sensorik primernya baik. Keadaan ini kadang disebut juga sebagai asterognosia. Agnosia taktil dapat dijumpai pada lesi yag melibatkan lobus parietal yang non-dominan.
Anosognia ialah tidak mengakui adanya penyakit atau kelainan, dan merupakan keadaan tidak mengakui atau tidak menyadari adanya gangguan fungsi pada tubuh. Pasien tidak mengakui adanya kelumpuhan padahal jelas terlihat hemiplegia. Kelainan yang terkait terletak di frontal posterior dan lobus parietal dari otak dan lebih sering terlihat bila lesi melibatkan hemisfer yang non dominan.

Praksis
Praksis dalam arti sempit berarti integrasi motorik yang digunakan untuk melakukan gerakan kompleks yang bertujuan. Tugas konstruksional seperti menggambar garis dan bangunan balok sangat berguna dalam mendeteksi penyakit otak organik dan harus dimasukan pada tiap pemeriksaan status mental. Ketidakmampuan melaksanakan tugas konstruksional disebut ketidakmampuan konstruksional. Fungsi kognitif nonverbal tingkat tinggi ini, merupakan tugas motorik perseptual yang kompleks yang melibatkan integrasi fungsi lobus oksipital, parietal dan frontal. Karena luasnya daerah kortikal yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas konstruksional, jejas otak yang dini atau ringan sering telah menggangu kinerjanya. Dapat digunakan beberapa tes dasar seperti tes menggambar segi empat, membuat konstruksi dari balok 3 dimensi dan sebagainya.
Apraksia merupakan gangguan didapat pada gerakan mototrik yang dipelajari dan berurutan, yang bukan disebabkan oleh gangguan elementer pada tenaga, koordinasi, sensorik atau kurangnya pemahaman atau atensi. Hal ini merupakan hendaya dalam menyeleksi dan mengorganisasi inervasi motorik yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu aksi.
Apraksia Ideomotor merupakan jenis apraksia yang paling sering dijumpai. Penderita dengan jenis apraksia ini tidak mampu melakukan gerak motorik yang sebelumnya pernah dipelajarinya secara akurat. Pada keadaan ini terdapat ketidakmampuan lobus frontal untuk menerjemahkan aksi menjadi gerakan motorik. Pasien misalnya tidak mampu melakukan suruhan berikut: peragakan bagaimana minum menggunakan sedotan. Kegagalan tersebut disebut apraksia bukofasial. Bila terdapat kesulitan dalam gerakan lengan atau tungkai dapat didteksi melalui suruhan seperti beri hormat dan sebagainya. Kegagalan ini disebut apraksia anggota gerak. Pasien apraksia ideomotor mungkin tidak dapat memejamkan mata atas suruhan, namun ia dapat mengedipkan mata secara spontan.
Apraksia ideasional merupakan gangguan perencanaan motorik yang kompleks, yang lebih tinggi dari ideomotor. Hal ini merupakan kegagalan dalam melaksanankan tugas yang mempunyai berbagai komponen yang berurutan. Contoh: Pasien diminta menuangkan air dari teko ke dalam gelas; kemudian meminum air dari gelas. Pasien mungkin gagal menuangkan air ke dalam gelas, dan mungkin mengangkat gelas ke bibirnya atau langsung minum dari teko. Apraksia ideasional merupakan disabilitas yang komples yang biasa dijumpai pada pasien dnegan penyakit otak bilateral. Penyakit kortikal yang difus terutama yang mengenai lobus parietal.

Respon Emosional
Pada penderita kelainan neurologik tidak jarang dijumpai perubahan suasana hati. Penderita dengan lesi hemisfer yang bilateral dapat kehilangan kontrol terhadap respon emosional. Dapat terjadi menangis atau tertawa oleh rangsangan yang ringan.

DAFTAR PUSTAKA
Lumbantobing SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: FKUI. 2008. h.152-199.




Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment