Sunday, December 12, 2010

Mengenal Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN (PJB)
Oleh Rizka Hanifah


Penyakit jantung pada anak ada yang bersifat bawaan, didapat, atau terkait sistemik. Penyakit jantung bawaan atau sejak lahir contohnya tetralogy of fallot, Atrial Septal Defect (ASD) dll. Penyakit jantung didapat pada anak contohnya rheumatic heart disease, kawasaki, dan kardiomiopati. Selain itu ada pula penyakit jantung pada anak yang didasari penyakit sistemik lain seperti thalasemia, leukimia, dan lain sebagainya. Pada artikel ini akan dibahas lebih detail mengenai penyakit jantung bawaan pada anak atau yang biasa disebut penyakit jantung kongenital.

Apa penyebab penyakit jantung bawaan ini?
Genetik merupakan sebab dari 10% kasus kelainan jantung bawaan seperti trisomi dan sindrom Turner. Selain itu, kelainan kromosom (7%) dan faktor lingkungan (3%) juga dapat mengakibat kelainan jantung bawaan ini. Contoh pengaruh lingkungan yang menyebabkan penyakit jantung bawaan adalah infeksi rubella saat kehamilan. 90% kasus PJB bersifat multifaktorial.

Apa saja jenis PJB?

Penyakit jantung bawaan dibagi menjadi dua bagian besar: 


  • Asianosis (tidak biru). Pada PJB asianosis, saturasi oksigen dalam aliran darah sistemik masih normal, disebut juga left to right shunt. Pada PJB jenis ini aliran darah bersih bercampur ke aliran darah kotor, sehingga aliran darah yang dibawa ke seluruh tubuh tetap bersifat bersih, sedangkan aliran darah kotor yang tercampur darah bersih tadi tetap dibawa ke paru untuk dibersihkan kembali. 
  • Sianosis disebut juga right to left shunt. Darah dari jantung kanan (darah kotor)  masuk ke sebelah kiri (darah bersih), akibatnya darah bersih yang harus dibawa ke seluruh tubuh menjadi kotor dan saturasi oksigen menurun. Turunnya saturasi oksigen ini akan menyebabkan pasien terlihat biru.
Apa saja contoh PJB Asianosis? dan apa contoh PJB sianosis? 


  • Acyanosis
    • Dengan tekanan paru normal (oligemi)
      • Pulmonary Stenosis (PS)
      • Aortic Stenosis (AS)
      • Coarctatio Aorta (CoA)
    • Dengan tekanan paru meningkat 
      • Patent Ductus Arteriosus (PDA)
      • Atrial Septal Dfect (ASD)
      • Ventricular Sseptal Defect (VSD)
Pada tipe PJB dengan aliran darah pulmonal meningkat sulit terdengar murmur, sehingga sering tidak terdiagnosis, biasanya murmur datang pada umur 3 bulan. Karena tekanan paru masih tinggi, sehingga walaupun ada kebocoran, tidak ada perbedaan tekanan yang bermakna. Pada usia 3 bulan, tekanan pulmonal semakin turun, maka murmur akan terdengar. 

  • Cyanosis
    • Dengan tekanan paru normal
      • Transposition of Great Artery  (TGA) without PS
    • Dengan tekanan paru meningkat
      • TGA with VSD
      • Truncus arteriosus
      • Total anomaly pulmonary vein drainage (TAPVD)
    • Dengan penurunan tekanan pada paru
      • Tetralogy of Fallot (ToF)
      • Pulmonary atresia (PA)
      • Tricuspid atresia 
PJB sebaiknya dideteksi sejak neonatus. Dalam penelitian, sebagian (30%) bayi-bayi yang menderita penyakit jantung bawaan tidak terdiagnosis. Untuk menegakkan diagnosis PJB, perlu diperhatikan berbagai gejala klinis yang muncul, terutama sesak nafas dan sianosis. Selain itu, tersedianya ultrasound sebagai alat pemeriksaan bagi ibu hamil dapat mempermudah dan mempercepat deteksi kelainan pada bayi, yaitu sejak kehamilan 20 minggu. 

Apabila terjadi keterlambatan diagnosis, maka bayi dapat meninggal, mengalami kerusakan otak, gagal multiorgan, dan kematian pasca-operasi.

Bagaimana cara mengenali bayi PJB dengan sianosis?
  1. Bayi membiru : Jika terjadi di mukosa membran, mulut dan lidah terutama, maka itu berasal dari sentral, jika hanya di akral berarti hanya di perifer
  2. Saturasi oksigen dalam darah rendah : Jika diberi oksigen, saturasi oksigen segera naik, berarti kelainan di paru, kalau kelainan jantung pemberian saturasi tidak akan merubah situasi malah memperberat pasien.
  3. Dispneu : biasanya pada kelainan jantung, si pasien sering disebut “happy dyspneu”(tidak terlihat retraksi dan gejala yang memberatkan pasien, hanya sesak napas aja.)
  4. Exercise intolerance : Bayi akan mudah lelah bila menyusu, hal ini dikarenakan rendahnya curah jantung, (Intermittent feeding, Prolonged feeding) 
  5. Orthopneu : Sesak nafas saat terjaid perubahan posisi dari berdiri ke terlentang (biasanya pasien harus tidur dengan bantal yang tinggi.
  6. Recurrent respiratory tract infection : Hal ini berarti bayi tersebut sering atau mudah terserang batuk pilek. Hal ini umum terjadi pada pasien PJB yang terjadi peningkatan tekanan pada paru seperti ASD, VSD,
  7. Poor weight gain : (gizi buruk, karena pasien bayi yang sangat susah menerima asupan ASI karena jantungnya lemah melakukan aktivitas)
  8. Asymptomatic murmur : tidak adanya murmur tidak menjamin terbebasnya pasien dari PJB. Namun, murmur/bising juga biasa terjadi pada bayi baru lahir secara normal, oleh karena itu diperlukan alat bantu diagnostik. 
Untuk pasien yang tidak membiru, harus dicek kadar Hb. Jika Hb rendah (anemia), maka bisa saja tidak menyebabkan biru.

Bagaimana cara mendiagnosis PJB dan jenis2nya?
Selain dengan alat-alat radiologi, kita bisa menghitung pH darah dan saturasi darahnya, sehingga sangat mudah menentukan apakah si anak menderita PJB bahkan tanpa memperlihatkan sianosis.


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment