Monday, December 6, 2010

Retensi urin

Retensi urin

Proses Berkemih
Secara umum buli-buli menjalankan dua fungsi utama, yaitu:
1. Menyimpan urin (vesica urinaria/buli-buli)
2. Mengosongkan (mikturisi) urin

Ada 3 organ utama yang berperan dalam proses berkemih: buli-buli, sfingter uretra, dan saluran keluar uretra



Fungsi penyimpanan (Storage)



  • mampu mengakomodir kenaikan volume dan menjaga agar fase pengisian tetap terjadi sehingga kita bisa tau kalau ingin kencing
  • otot buli-buli berelaksasi saat pengisian urin dan menjaga tekanan dan volume
  • compliance (atau kapasitas) buli berkaitan dengan elastisitas dinding buli. Contoh ada penyakit yang kapasitas buli-buli jadi kecil sehingga lebih sering kencing
  • bladder outlet juga harus dalam keadaan tertutup sehingga mencegah terjadinya leakage. 
  • Tidak boleh ada kontraksi involunter buli-buli.
Pada volume 20, 30, 40 mL masih relatif konstan tekanan di bladdernya. Tetapi sampai titik tertentu tekanan meningkat dan menimbulkan keinginan untuk berkemih.

Fungsi pengosongan vesica urinaria
  • terjadi peningkatan kontraksi otot polos (m.detrussor) secara adekuat baik durasi maupun amplitudonya. Kalau pompanya (kontraksinya) tidak kuat maka akan ada residual urin. Kekuatan pompa tergantung hambatan di sfingter. Misal pada pembesaran prostat sfingter terhambat sehingga harus lebih keras kerja pompanya. 
  • Harus ada tahanan yang lebih rendah di tingkat sfingter eksterna. Sama seperti tadi (hambatan akibat sumbatan oleh prostat) jadi tidak boleh ada hambatan
  • Tidak boleh ada sumbatan dalam proses pengosongan

Sistem Persarafan Vesika urinaria
Pada saat (vesica urinaria) terisi, medulla spinalis dan saraf simpatik di rangsang : 

  1. stimulasi sistem saraf alfa adrenergik kemudian memediasi kontraksi bladder neck sehingga memicu pengosongan. 
  2. menghambat kontraksi buli-buli melalui penghambatan beta adrenergik pada otot polos buli-buli. Kontrol persarafan terutama pada dewasa dapat terlihat pada kemampuan untuk menahan kencing walaupun sudah ada kenginan untuk kencing. Ini lah bedanya dengan anak kecil belum bisa nahan kencing karena belum berkembang sarafnya
  3. Untuk mempertahankan pintu keluar kencing tetap tertutup saat fase pengisian, otot yang ada di uretra berkontrakasi

Sebelum mempelajari tentang retensi urin, berikut adalah proses berkemih secara volunter


  • Sfingter akan berlelaksasi sehingga terjadi peningkatan kontraksi otot polos dari rangsangan N. parasimpatik pelvis.
  • Meskipun pengosongan buli merupakan respon sistem parasimpatis, pusat yang mengorganisir proses berkemih terdapat di batang otak dan melibatkan jalur asending dan desending medulla spinalis. Pusatnya di S2-4 medula spinalis
  • proses berkemih merupakan proses yang kompleks dan bisa terjadi secara involunter atau volunter

RETENSIO URIN Retensi urin adalah keadaan di mana seseorang tidak dapat berkemih spontan sesuai kehendak. Retensi urin bisa dibagi menjadi 2 keadaan yaitu akut dan kronik.


Retensi urin akut
Retensi urin yang akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba-tiba dan disertai rasa sakit meskipun buli-buli terisi penuh. Berbeda dengan kronis, tidak ada rasa sakit karena urin sedikit demi sedikit tertimbun. Kondisi yang terkait adalah tidak dapat berkemih sama sekali, kandung kemih penuh, terjadi tiba-tiba, disertai rasa nyeri, dan keadaan ini termasuk kedaruratan dalam urologi. Kalau tidak dapat berkemih sama sekali segera dipasang kateter.

Retensi urin kronik
Retensi urin kronik adalah retensi urin ‘tanpa rasa nyeri’ yang disebabkan oleh peningkatan volume residu urin yang bertahap. Hal ini dapat disebabkan karena pembesaran prostat, pembesaran sedikit2 lama2 ga bisa kencing. Bisa kencing sedikit tapi bukan karena keinginannya sendiri tapi keluar sendiri karena tekanan lebih tinggi daripada tekanan sfingternya. Kondisi yang terkait adalah masih dapat berkemih, namun tidak lancar , sulit memulai berkemih (hesitancy), tidak dapat mengosongkan kandung kemih dengan sempurna (tidak lampias). Retensi urin kronik tidak mengancam nyawa, namun dapat menyebabkan permasalahan medis yang serius di kemudian hari.

Perhatikan bahwa pada retensi urin akut, laki-laki lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 3/1000 : 3/100000. Berdasarkan data juga dapat dilihat bahwa dengan bertambahnya umur pada laki-laki, kejadian retensi urin juga akan semakin meningkat. 


Patofisiologi penyebab retensi urin dapat dibedakan berdasarkan sumber penyebabnya

Klasifikasi

  • supravesikal, 
  • vesikal,
  • infravesikal.
Contoh gangguan supravesikal adalah gangguan inervasi saraf motorik dan sensorik. Misalnya DM berat sehingga terjadi neuropati yang mengakibatkan otot tidak mau berkontraksi
Contoh gangguan vesikal adalah kondisi lokal seperti batu di kandung kemih, obat antimuskarinik/antikolinergik (tekanan kandung kemih yang rendah)
Contoh gangguan infravesikal adalah bladder outlet obstruksi (Anatomi, meningkatnya resistensi uretra, obat simpatomimetik (fisiologis).

Diagnosis
  • Temuan Anamnesis: Keluhan tidak dapat berkemih
  • PF: distensi kandung kemih. Pada volume lebih daripada 200 mL bisa dipalpasi, kalau volume lebih daripada 150 mL bisa diperkusi. 
  • USG kandung kemih
  • Kateterisasi
Pada retensi kronik digunakan:
  • Urinalisis untuk melihat adanya infeksi
  • USG untuk melihat vol residu urin
  • Foto polos abdomen/BNO
  • CT Scan
Tatalaksana Retensi Urin
Dekompresi kadung kemih
- kateterisasi 12F – 18F.

Ukuran kateter dilihat berdasarkan F. F adalah singkatan dari France. Ukurannya yaitu 3 France = 1 mm.

Masalah yang bisa terjadi pada pemasangan kateter adalah
  • Pasien tidak relaks karena tegang sehingga terjadi kontraksi sfingter eksterna. Hal yang harus dilakukan adalah menenangkan pasien dan membimbingnya, bisa juga dengan diajak ngobrol. Bila perlu diberikan relaksan/analgesik atau anestesi berupa xylocaine jelly yang lebih banyak. 
  • Striktura uretra. Pada keadaan ini digunakan kateter yang lebih kecil sampai dengan 10 F
  • Lobus medius prostat menonjol sehingga terjadi false route

Bila kateterisasi tidak berhasil bisa dilakukan pungsi suprapubic/sistostomi perkutan dengan syarat:
  • Buli-buli harus penuh
  • Pasien supine, jarum tegak lurus - 20°
  • 2 jari atas simfisis
  • Jarum suntik/ abbocath 14G
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment