Monday, December 13, 2010

Dispnea Paru

sesak napas
Dispnea adalah:
• Suatu istilah yang menggambarkan suatu persepsi subjektif mengenai ketidaknyamanan bernapas yang terdiri dari berbagai sensasi yang berbeda intensitinya
• Merupakan hasil interaksi berbagai faktor fisiologi, psikologi, sosial dan lingkungan dan dapat menginduksi respons fisiologi dan perilaku sekunder
• Menurut Comroe (1996)
“…bukan takipnea, bukan hiperkapnea dan bukan hiperventilasi tapi pernapasan yang sulit, sejenis pernapasan yang tidak menyenangkan maupun menyakitkan
Sedangkan pengertian pada orang awam: tidak bisa menghirup cukup udara, udara tidak masuk sempurna, rasa penuh di dada, dada terasa berat dan sempit, rasa tercekik, napas pendek, napas berat
Beberapa sensasi pernafasan terkait keadaan patologis adalah:

Dispnea dibagi menjadi dua, yaitu akut dan kronik, disebut kronik jika sudah terjadi lebih dari satu bulan. Mekanisme dispnea adalah aktivasi sistem sensorikpusat pernapasan di otakrespiratory related signals kognitif, kontesktual, perilaku muncul sensasi dispnea

Pada pernapasan normal, kita hampir tidak menyadarinya, namun ada kondisi dimana kita menyadari usaha bernapas itu. Rasa sadar akan hal itu dipercaya muncul dari sinyal yang ditransmisikan dari korteks motorik ke korteks sensorik, secara bersamaa dengan perintah motorik ke otot2 pernapasan. Panah dari batang otak ke korteks sensorik mengindikasikan bahwa output motorik dari batang otak juga berkontribusi pada rasa usaha bernapas. Rasa kekurangan udara juga dipercaya berasal dari meningkatnya aktivitas respirasi di batang otak dan sensasi chest tightness yang muncul akibat stimulasi reseptor vagal. Walaupun informasi aferen dari jalur nafas, paru, dan reseptor dinding dada melewati batang otak sebelum mencapai korteks sensorik, garis putus2 keraguan apakah terdapat bypass langsung menuju korteks sensorik atau tidak.
Beberapa reseptor yang ada pada sistem respirasi adalah:
• Kemoreseptor :Hiperkapnia, Hipoksia
• Mekanoreseptor
– Saluran napas atas
– Reseptor di paru
– Reseptor di dinding dada
Afferent mismatch gangguan hubungan antara tension yang dibentuk otot pernapasan dan dampak perubahan panjang otot dan volume parunya (ada ketidaksesuaian)
area kortikal yang terlibat dalam persepsi dispnea
Kemoreseptornya terdapat pada medulla oblongata

Tabel mekanisme dispnea yang terjadi pada beberapa kondisi patologis
Penilaian terhadap sesak napas dilakukan dengan beberapa kuesioner, yaitu:
• Borg Scale
• American Thoracic Society Scale
• St George Respiratory Questionaire (SGRQ)
• Visual Analogue Scale for dyspnea

Mekanisme dispnea
Organ dan sistem terkait dengan dispnea:
• Sistem respirasi
• Sistem neuromuskular
• Sistem kardiovaskular
• Sistem hematologi  Hb rendah
• Sistem ginjal / metabolik  pada gagal ginjal
• Sistem endokrin
• Intoksikasi
• Psikogenik
• Obesiti
Kategorik fisiologik penyebab dispnea:
1. Gangguan mekanik terhadap proses ventilasi:
Obstruksi aliran napas (sentral atau perifer)
– Asma, PPOK
– Tumor endobronkial
– Stenosis trakea / laring
Gangguan pengembangan paru (stiff lung)
– Interstitial fibrosis
– Gagal jantung kiri
– Tumor linfangitik
Gangguan pengembangan dinding dada atau diafragma
– Penebalan pleura, kifoskoliosis, obesiti, masa intraabdomen, kehamilan
2. Kelemahan pompa napas (respiratory pump)
Absolut :Riwayat poliomyelitis, Penyakit neuromuskular (Sindrom Guillain Barre, muscular dystrophy, SLE, hipertiroidisme)
Relatif :Hiperinflasi ,Efusi pleura, Pneumotoraks
3. Peningkatan respiratory drive
Hipoksemia
Asidosis metabolik :Penyakit ginjal ,Anemia, hemoglobinopati ,Penurunan curah jantung
Stimulasi reseptor intrapulmoner : Infiltrative lung disease, hipertensi pulmoner, edem paru
4. Ventilasi rugi
Destruksi kapiler : Misal pada emfisema, interstitial lung disease
Obstruksi pembuluh darah besar :Misal emboli paru, vaskulitis pulmoner
5. Disfungsi psikologik: somatisasi, ansietas, depresi
Pendekatan diagnostic dan diagnosis banding mending diliat dari slide aja yah…map gw ngeliatnya aja udh males,hehehee….
Dispnea pada penyakit paru dapat terjadi karena:
• Abnormalitas mekanisme bernapas, paru2 menjadi kaku (stiff). Kelemahan otot2 pernapasan
• Penyakit paru restriktif (gangguan ventilasi)
• Penyakit paru obstruktif (gangguan ventilasi)
• Gangguan difusi
• Gangguan perfusi
Klasifikasi
Berdasarkan beratnya sesak (American Thoracic Society)
1. Tidak ada  Normal
2. Ringan  Dapat berjalan seperti orang lain sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Tetapi tidak untuk menaiki tangga.
3. Sedang  Tidak dapat seperti orang lain sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Tetapi masih dapat berjalan jauh dengan kecepatan yang berbeda/lebih lambat.
4. Berat  Tidak dapat berjalan > 100 meter, sesak membuat berhenti.
5. Tidak dapat berjalan lebih dari beberapa langkah tanpa sesak napas; bahkan sesak timbul saat berpakaian atau mandi
Dispnea dpat dibedakan menjadi akibat penyakit paru: edema paru, asthma, COPD, efusi pleura, pneumonia, pneumothoraks dan akibat penyakit jantung aritmia, MI akut, iskemia miokard.
Perbedaan Dyspnea pada Sistem Kardiovaskular dan Respirasi:
Penyakit paru restriktif
• Lung :
- atelectasis dibagi menjadi dua, yaitu
Obstruktif pada saluran antara trakea dan alveolus yang menyebabkan udara akan diserap kembali dan paru menciut (kurang paham sih maksudnya, tapi begitulah kata dr.Budi)
Non-obstruktif karena adanya loss contact pleura, kurangnya surfaktan dan fibrosis interstitial
Pada atelectasis dapat terjadi penarikan organ2 sekitar, misalnya trakea sehingga tidak berada pada posisi normalnya dan juga dapat terjadi penyempitan sela iga
- fibrosis
- lung tumour
- bullae
- lung abscess
• Mediastinum : - mediastinal tumour
- cardiomegali
- pericardial effusion

Pancoast tumor tumor pada apex paru yang bisa menembus keluar dan menghancurka iga, vertebra, dan pleksus brakialis
• Pleura :
• - pleural effusion jantung bergeser dan mendesak iga serta paru kea rah sebaliknya
- pleural tumour
- pneumothorax gambaran vaskularisasi paru hilang, pada hidropneumothoraks ada gambaran airfluid level, dimana merupakan perbatasan antara air dan udara.
• Diaphragm : - hernia of diaphragm
- paralize of diaphragm
• Bone : - rib fracture
- pectus excavatum  kelainan congenital pada dinding anterior dada (dindingnya terlalu masuk ke dalam
- scoliosis, kyphosis
Muscle : - miasthenia gravis

Penyakit paru obstruktif:
• Asthma
• COPD : - Chronic bronchitis dan Emphysema (merupakan suatu kelainan dimana elastisitas paru berkurang sehingga paru akan berbentuk seperti tong meskipun dalam keadaan ekspirasi karena elastisitasnya berkurang barrel chest
• Bronchiectasis  infeksi yang menyebabkan inflamasi, dilasi irreversible pada bronchial tree dan menyebabkan bronchial tree gampang colaps
• Lung tumour
• Foreign body
Gangguan proses difusi
• Dinding alveolar
• ruanginterstitial
• Dinding arteri
• Plasma
• Dinding sel darah merah
Gangguan perfusi emboli paru, CHF
Sindrom hiperventilasi
Biasa terjadi pada keadaan stress dan anxietas, pasien mengekshalasi CO2 lebih cepat daripada memproduksinya, pembuluh darah pada otak konstriksi, anxietas, dizziness, kepala terasa ringan, kejang dan tidak sadar, nyeri dada, dispnea, anesthesia, kebas pada jari-jari, sekitar mulut dan hidung, spasme pad carpus dan kaki (carpopedal)

Gangguan pada saluran napas atas yang bisa menyebabkan dispnea adalah:
Obstruksi benda asing, edema faring, Croup, epiglotitis

Obstruksi benda asing bisa terjadi parsial atau complete. Diduga pada anak2 yang tiba2 dispnea, dan hilang kesadaran, dan pada orang dewasa bila dispnea dan hilang kesadaran ketika makan

Edema faring pembengkakan jaringan lunak tenggorokan, akibat reaksi alergi atau bila ada luka bakar. Menimbulkan Hoarseness, stridor, drooling

Epiglotidids disebabkan oleh infeksi sehingga menyebabkan edema pada epiglottis. Sering terjadi pada anak usia 4-7 thaun dan juga pada orang dewasa. Biasanya onsetnya cepat, demam tinggi, stridor, sore throat dan drooling.

Croup laryngothracheobronchitis akibat infeksi virus yang bisa menyebabkan edema pada trachea dan laring. Sering terjadi pada usia 6 bulan-4 tahun. Onsetnya lambat, menyebabkan hoarseness, batuk, stridor pada malam hari, dyspnea. Ketika ragu, tangani seperti epiglotitis

Pada saluran napas bawah
Asma dan COPD (emfisema dan bronchitis kronik)

Asma merupakan penyakit paru obstruktif yang reversible. Terjadi pada orang muda (80% sebelum berumur 30 th. Terdapat hipersensitivitas saluran napas bawah pada allergen, stress emosional, iritan dan infeksi.
Pada asma terjadi bronkospasme, edema bronchial, meningkatnya produksi mucus, sumbatan sehingga akan meningkatkan resistensi aliran udara dan kerja pernapasan pun meningkat
Pada asma, penyempitan jalan napas mengganggu proses ekshalasi sehingga udara terjebak pada dada dan mempengaruhi pertukaran gas. Pada orang asma gejala khasnya adalah mengik (wheezing, batuk dan penekanan pernapasan). Namun, tidak semua mengik merupakan asma, dapat juga disebabkan oleh keadaan patologis lain, seperti edema, emboli paru, anafilaksis, aspirasi benda asing dan pneumonia.

COPD
Dipicu oleh infeksi pernapasan dan trauma pada dada. Tanda dan gejalanya adalah kesulitan pernapasan, takipnea, batuk dengan sputum berwarna hijau hingga kuning
Bronkitis kronik inflamsi kronik pada saluran napas bawah yang meningkatkan produksi mucus dan menyebabkan batuk, sering terjadi pada lelaki perokok perkotaan dengan usia > 30 th. Mukus dan pembengkakan yang ada akan menganggu pernapasan sehingga meningkatkan CO2 dan menurunkan O2. Sianosis terjadi pada awal penyakit (blue bloater) dan juga akan menyebabkan kerja ventrikel kanan meningkat sehingga dapat menyebabkan gagal jantung kanan edema perifer.
Emfisema kehilangan elastisitas jalur napas kecil, destruksi dinding alveolar. Sering terjadi pada perokok di daerah perkotaan dengan usia> 40-50 th. Paru kehilangan kemampuan untuk kembali ke ukuran semula (elastic recoil), CO2 tertahan dan O2 norma. Sianosis tidak langsung terjadi. Bentuk dada menjadi Barrel Chest (diameter antero-posterior meningkat). Ekshalasi menjadi lebih lambat. Disebut juga pink puffer.
Ayam goreng suharti atau ayam goreng mbok berek. Ayam bakar wong solo juga

Gangguan Fungsi Alveolar
Edema paru cairan di dalam dan sekitar alveolus dan saluran napas kecil sehingga menyebabkan gagal jantung kiri, toxic inhalants, aspirasi, drowning (suffocation karena paru terisi cairan dan pertukaran gas tidak terjadi), Trauma
Tanda dan gejala yang ada:
Sukar dalam bernafas, batuk, rales (suara yang pendek pada saat inhalasi), ronki, wheezes, sputum yang berwarna pink, sesak pada perubahan posisi, konsentrasi O2 yang tinggi, perlu ventilasi bantuan, dispnea, nyeri dada, takikardia, takipnea, hemoptysis
Pada edema paru dapat terjadi sumbatan pada sirkulasi vena jantung kanan sirkulasi pulmoner terganggu. Seringkali terasosiasi dengan keadaan: bedrest dan imobilisasi berkepanjangan, traksi ortopedik, pemberdahan pelvis dan ekstremitas bawah, phlebitis.
Dyspnea mendadak tanpa adanya penyebab khusus emboli paru

Manajemen dispnea:
Hal terpenting adalah mengobati penyakit dasar serta komplikasinya, misalnya :
– Pneumonia à antibiotik
Asma à bronkodilator dan pengontrol (kortikosteroid, LABA)
Tatalaksana simptomatik dispnea
Menurunan sensasi usaha napas dan meningkatkan fungsi otot
• Energy conservation (e.g., pacing)
• Breathing strategies (e.g., pursed-lip breathing)
• Position (e.g., leaning forward)
• Correct obesity or malnutrition
• Inspiratory muscle exercise
• Respiratory muscle rest (e.g., cuirass, nasal ventilation, transtracheal oxygen)
• Medications (e.g., theophylline)
Menurunkan usaha pernapasan
• Oxygen
• Opiates and sedatives
• Exercise conditioning
• Vagal nerve section
• Carotid body resection
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment