Apotik Online - BeliObatOnline.com

Mau beli obat secara online? Buka aja BeliObatOnline.com. Pengiriman ke seluruh Indonesia. Harga khusus pemesanan banyak. Aman dan Terpercaya

Jasa Cari dan Buka Jurnal Kedokteran Berbayar

Butuh partner cari jurnal? mau buka jurnal berbayar? yuk lihat buktinya! cuma 20.000/jurnal.

Jasa Pembuatan Tinjauan Pustaka dan Slide Presentasi

Sibuk? Butuh bantuan membuat tinjauan pustaka atau slide presentasi? Hubungi Kami. Klik di sini.

Terjemahan Inggris-Indonesia untuk Umum dan Kedokteran

Butuh bantuan untuk menerjemahkan? Kami bisa bantu. Lihat kualitas kerja kami di sini.

Artikel Edukasi Kesehatan untuk Masyarakat

Tersedia berbagai macam artikel untuk masyarakat agar bisa lebih mengerti kesehatan dengan baik.

Wednesday, June 30, 2010

Tatalaksana Rinitis Alergi

Oleh Rizka Hanifah


Terapi rinitis alergi terbagi dalam tiga pendekatan, meliputi edukasi penghindaran terhadap allergen, farmakoterapi untuk pencegahan dan penanganan gejala, dan imunoterapi spesifik. Penghindaran terhadap allergen merupakan cara yang paling memberikan hasil. Cara yang paling efektif untuk menghindari allergen adalah mengetahui tipe allergen itu sendiri, setiap orang dapat memiliki alergi terhadap berbagai hal, sehingga sangat dianjurkan untuk mengikuti suatu tes alergi di dokter. Contoh-contoh alergi yang banyak pada masyarakat adalah alergi debu, tungau, udang, bulu kucing, dan lainnya. Terapi farmakologi pada rinitis alergi didasarkan pada gejala yang terjadi. Antihistamin dan dekongestan merupakan golongan obat yang sering dipakai untuk menangani rhinitis alergi.1  Rinitis alergi adalah inflamasi pada mukosa hidung yang bersifat minimal persistent, sehingga terapi farmakologi yang digunakan hanya pada saat bergejala, melainkan harus terus menerus.

Saturday, June 19, 2010

Sesak Nafas pada Penyakit Paru-Paru (DISPNEA)

SESAK NAPAS & NYERI DADA
PADA PENYAKIT SISTEM RESPIRASI
OLEH RIZKA H

Definisi Sesak Napas


Dispnea (breathless) adalah keluhan yang sering memerlukan penanganan darurat tetapi intensitas dan tingkatannya berbeda-beda.1,2 Ada yang berupa rasa tidak nyaman di dada yang bisa membaik sendiri, atau yang membutuhkan bantuan nafas yang serius, hingga yang dapat berakibat fatal. Sesak nafas juga dapat diartikan sebagai merupakan suatu pengalaman subjektif seseorang akan ketidaknyamanan bernapas yang terdiri dari sensasi yang intensitasnya berbeda. Pengalaman itu merupakan interaksi dari fisiological, psikologikal, sosial, dan faktor lingkungan, dan dapat diinduksi secara respon psikologikal dan kelakuan.1 Keluhan dispnea tidak selalu disebabkan karena penyakit; sering pula terjadi pada keadaaan sehat tetapi terdapat stres psikologis.2

Penyebab Sesak Napas dapat berasal dari berbagai tempat di paru

Wednesday, June 9, 2010

Elasitas, Volume, dan Kapasitas Paru-Paru

ELASTISITAS, VOLUME, DAN KAPASITAS PARU
Oleh, Rizka Hanifah

Selama siklus pernapasan, paru secara bergantian mengembang selama inspirasi dan menciut selama ekspirasi. Sifat elastik paru disebabkan oleh adanya serat-serat jaringan ikat elastic dan tegangan permukaan alveolus. Sifat elastisitas paru melibatkan dua konsep yang saling berkaitan yaitu: recoil elastic dan compliance.1
  1. Recoil elastic (penciutan elastik) mengacu kepada seberapa mudah paru kembali ke bentuknya setelah diregangkan. Sifat ini menentukan kembalinya paru ke volume prainspirasi sewaktu otot-otot inspirasi melemas di akhir ekspirasi.1
  2. Compliance mengacu kepada seberapa besar usaha yang diperlukan untuk meregangkan atau mengembangkan paru; hal ini analog dengan usaha untuk meniup sebuah balon.1 Peningkatan volume dalam paru menghasilkan tekanan positif, sedangkan punurunan volume dalam paru menimbulkan tekanan negatif. Perbandingan antara volume paru dengan satuan perubahan tekanan saluran udara (ΔV / ΔP) menggambarkan kemudahan diregangkannya (komplians) jaringan paru dan dinding dada.2 Secara spesifik, compliance adalah ukuran tingkat perubahan volume paru yang ditimbulkan oleh gradient tekanan transmural. Untuk peningkatan perbedaan tekanan tertentu, paru dengan compliance yang tinggi akan mengembang lebih besar dibandingkan paru yang compliance nya rendah. Dengan kata lain, semakin rendah compliance paru, semakin besar gradient tekanan transmural yang harus dibentuk selama inspirasi untuk menghasilkan pengembangan paru yang normal.1
Pada gilirannya, gradient tekanan transmural lebih besar dari normal dapat dicapai hanya dengan membuat tekanan intrapleura lebih subatmosferik dibandingkan dengan biasanya. Hal ini dilakukan dengan ekspansi toraks yang lebih besar melalui kontraksi otot inspirasi yang lebih kuat. Dengan demikian, semakin rendah compliance paru, semakin besar kerja yang diperlukan untuk menghasilkan inflasi dalam derajat tertentu. Paru yang compliance nya rendah disebut paru “kaku”, karena tidak memiliki daya regang seperti paru normal. Compliance pernapasan dapat menurun akibat adanya beberapa factor, misalnya digantikannya jaringan paru normal oleh jaringan ikat fibrosa akibat inhalasi serat asbestos atau iritan serupa.1,2


Sifat elastic paru terutama bergantung pada dua factor; jaringan ikat paru yang sangat elastic dan tegangan permukaan alveolus. Jaringan ikat paru mengandung sejumlah besar serat elastin. Selain memperlihatkan sifat elastic, serat-serat ini juga tersusun dari suatu jaringan yang semakin memperkuat daya elastic tersebut, seperti benang pada selembar kain rajutan yang dapat diregangkan.1 Factor yang lebih penting lagi yang mempengaruhi sifat elastic paru adalah tegangan permukaan alveolus yang diperlihatkan oleh lapisan cairan tipis yang meliputi semua alveolus.1,2 Pada pertemuan air-udara, molekul-molekul air di permukaan melekat lebih erat ke molekul air di sekitarnya dibandingkan ke udara di atas permukaan. Tarik-menarik yang tidak seimbang ini menciptakan suatu gaya yang dikenal sebagai tekanan permukaan di permukaan cairan. Tegangan permukaan menimbulkan dua efek. Pertama, lapisan cairan menahan setiap gaya yang meningkatkan luas permukaannya; yaitu, lapisan tersebut melawan ekspansi alveolus karena molekul-molekul air permukaan menentang memisahkan mereka.1
Dengan demikian, semakin besar tegangan permukaan, semakin rendah compliance paru. Kedua, luas permukaan cairan cenderung menjadi sekecil-kecilnya karena molekul-molekul air permukaan, yang lebih tertarik satu sama lain, mencoba berdekatan satu sama lain. Dengan demikian, tegangan permukaan cairan yang melapisi sebuah alveolus cenderung memperkecil ukuran alveolus, dan memeras udara yang ada di dalamnya. Sifat ini, bersama dengan sifat elastin menyebabkan paru menciut kembali ke ukuran pra inspirasinya setelah inspirasi berakhir.1

Peran Surfaktan
Gaya-gaya kohesif antara molekul-molekul air sedemikian kuatnya, sehingga apabila alveolus dilapisi oleh air tegangan permukaan akan menjadi sedemikian besar dan paru akan kolaps; gaya recoil yang ditimbulkan oleh serat elastin dan tingginya tegangan permukaan akan mengalahkan gaya regang yang ditimbulkan oleh gradient tekanan transmural. Selain itu, compliance paru menjadi sangat rendah, sehingga diperlukan kerja otot yang melelahkan untuk meregangkan dan mengembangkan alveolus.1
Besarnya tegangan permukaan yang ditimbulkan oleh air murni dalam keadaan normal dilawan oleh surfaktan paru yang disekresikan oleh sel-sel alveolus tipe II. Surfaktan merupakan suatu lipid yang merendahkan tegangan permukaan. Surfaktan merupakan campuran dipalmitoilfosfatidilkolin (DPPC), berbagai lipi lain dan protein.2 Surfaktan paru yang terselip di antara molekul-molekul air dalam cairan yang melapisi alveolus akan menurunkan tegangan permukaan alveolus karena gaya kohesif antara sebuah molekul air dengan sebuah molekul surfaktan sangat rendah. Dengan menurunkan tegangan permukaan alveolus, surfaktan paru memberikan dua keuntungan penting: (1) meningkatkan compliance paru, sehingga mengurangi kerja yang diperlukan untuk mengembangkan paru; dan (2) menurunkan kecenderungan paru menciut, sehingga paru tidak mudah kolaps.1
Peran surfaktan paru dalam menurunkan kecenderungan alveolus untuk menciut, sehingga mencegah alveolus kolaps, penting untuk memelihara stabilitas paru. Pembagian paru menjadi sedemikian banyak kantung udara memberikan keuntungan berupa peningkatan luar biasa luas permukaan yang tersedia untuk pertukaran O2 dan CO2 tetapi hal ini juga menimbulkan masalah pemeliharaan stabilitas semua alveolus tersebut. Ingatlah bahwa tekanan yang dihasilkan oleh tegangan permukaan alveolus memiliki arah ke dalam dan memeras udara yang terdapat di dalam alveolus. Apabila alveolus dipandang sebagai gelebung sferis, menurut hukum LaPlace kekuatan tekanan ke arah dalam yang menyebabkan kolapsnya alveolus berbanding lurus dengan tegangan permukaan dan berbanding terbalik dengan jari-jari gelembung.1,2

P = 2T/r

Dengan : P = Tekanan kea rah dalam yang menyebabkan kolaps
T = Tegangan permukaan
r = jari-jari gelembung

karena tekanan ke arah dalam berbanding terbalik dengan jari-jari, semakin kecil alveolus, semakin kecil jari-jarinya dan semakin besar kecenderungan alveolus kolaps pada tegangan permukaan tertentu. Dengan demikian apabila dua alveolus dengan ukuran berbeda tetapi tegangan permukaan sama, alveolus yang lebih kecil karena memiliki tekanan untuk kolaps yang lebih besar memiliki kecenderungan kolaps dan mengalirkan udaranya ke alveolus yang lebih besar. Namun, alveolus kecil dalam keadaan normal tidak kolaps dan meniupkan udaranya ke alveolus besar, karena surfaktan paru lebih mengurangi tegangan permukaan alveolus kecil dibandingkan dengan mengurangi tegangan permukaan alveolus besar.1 Molekul-molekul fosfolipid bergerak menjauh sewaktu alveolus membesar saat inspirasi, dan tegangan permukaan meningkat. Sebalikanya, tegangan permukaan menurun selama molekul bergerak saling mendekati selama ekspirasi.2 Surfaktan paru menurunkan tegangan permukaan alveolus kecil lebih besar karena molekul-molekul surfaktan berada lebih berdekatan satu sama lain di alveolus yang lebih kecil.1 Semakin besar alveolus, semakin menyebar molekul surfaktannya sehingga efek surfaktan pada tegangan permukaan juga berkurang. Penurunan tegangan permukaan di alveolus kecil yang ditimbulkan oleh surfaktan mengalahkan efek kecilnya jari-jari alveolus tersebut dalam menentukan tekanan kolaps. Dengan demikian, keberadaan surfaktan menyebabkan tekanan kolaps di alveolus kecil setara dengan tekanan yang terdapat di alveolus besar dan memperkecil kecenderungan alveolus kecil untuk kolaps dan mengalirkan udaranya ke alveolus besar. Dengan demikian, surfaktan paru membantu menstabilkan ukuran alveolus dan membantu alveolus tersebut agar tetap terbuka dan ikut serta dalam pertukaran gas.1
Surfaktan juga berfungsi membantu mencegah terjadinya edema paru. Berdasarkan perhitungan diketahui bila tidak terdapat surfaktan, tegangan permukaan alvelolus yang tidka dilawan akan menimbulkan tekanan sebesar 20 mmHg yang mengakibatkan transudasi cairan dari darah ke dalam alveolus.2
Faktor kedua yang berperan dalam stabilitas alveolus adalah interdependensi alveolus yang berdekatan. Setiap alveolus dikelilingi oleh alveolus lain, yang berhubungan dengannya melalui jaringan ikat. Jika sebuah alveolus mulai kolaps, alveolus di sekitarnya akan teregang karena dinding mereka tertarik ke arah alveolus yang sedang kolaps tersebut. Sebaliknya, alveolus ini, karena menahan peregangan, menimbulkan gaya yang mengembangkan alveolus yang sedang kolaps tersebut dan dengan demikian menjaganya agar tetap terbuka. Fenomena ini, yang dapat dipersamakan dengan “tarik tambang” yang seimbang antara alveolus yang berdekatan, yang disebut interdependensi. Gaya-gaya berlawanan yang bekerja di paru (yaitu, gaya yang menjaga alveolus tetap terbuka dan gaya yang menyebabkan alveolus kolaps) diringkas dalam Tabel.1

Gaya – Gaya yang Menjaga Alveolus Tetap Terbuka Gaya-gaya yang Mendorong Kolapsnya Alveolus
Gradien Tekanan Transmural Elastisitas serat jaringan ikat paru yang mengembang
Surfaktan paru (yang melawan tegangan permukaan alveolus) Tegangan permukaan alveolus
Interdependensi alveolus

Proses pematanagn surfaktan dalam paru juga dipercepat oleh hormon glukokortikoid. Menjelang umur kehamilan cukup bulan didapatkan peningkatan kadar hormon kortisol fetal dan amternal, serta parunya kaya akan reseptor glukokortikoid.2 Paru janin yang sedang berkembang biasanya belum memiliki kemampuan untuk sintesis surfaktan paru sampai kehamilan tahap akhir. Khususnya pada bayi premature, surfaktan paru mungkin tidak cukup mengurangi tegangan permukaan alveolus ke tingkat yang dapat ditoleransi. Kumpulan gejala yang timbul kemudian disebut sebagai sidrom distress pernapasan pada bayi baru lahir (new born respiratory distress syndrome). Untuk mengalahkan tingginya permukaan dan mengembangkan paru yang sangat rendah compliancenya tersebut diperlukan usaha inspirasi yang sangat kuat. Yang semakin menimbulkan dilemma adalah kenyataan bahwa alveolus cenderung kolaps total akibat tidak memiliki surfaktan pada setiap ekspirasi, sehingga usaha bernapas semakin berat.1 Pada volume tertentu, usaha untuk mengembangkan suatu alveolus yang sudah kolaps akan lebih rumit (memerlukan gradient tekanan transmural yang lebih besar) daripada memperbesar sebuah alveolus yang sudah mengembang sebagian.1
Pada sindrom distress pernapasan pada bayi baru lahir, bayi tersebut seolah-olah harus mati. Masalah diperberat dengan kenyataan hanya otot bayi baru lahir masih lemah. Distress pernapasan yang terjadi pada defisiensi surfaktan dengan cepat menimbulkan kematian karena usaha bernapas menyebabkan kelelahan atau inadekuat untuk menunjang pertukaran gas yang efisien. Sampai sel penghasil surfaktan cukup matang, pasien harus mendapatkan terapi antara lain berupa peniupan udara ke dalam paru bayi dengan tekanan yang lebih besar daripada tekanan atmorfir atau tekanan “positif”. Dengan meningkatkan derajat tekanan atmosfer secara artificial, dapat terbentuk gradient tekanan yang cukup besar untuk mendorong udara masuk ke dalam paru. Penelitian-penelitian klinis terakhir juga memperlihatkan keberhasilan terapi dengan pengganti surfaktan.1 Pemberian fosfolipid saja secara inhalasi tidak banyak bermanfaat pada penyakit ini. Namun, kini tersedia surfaktan sintesis serta preparat surfaktan yang diambil dari paru sapi.2

Energi Pernafasan
Selama bernafas tenang dan normal, otot-otot pernafasan harus bekerja sepanjang inspirasi untuk mengembangkan paru melawan gaya-gaya elastik dan mengatasi resistensi saluran pernafasan, sementara ekspirasi adalah suatu proses pasif. Dalam keadaan normal, paru bersifat sangat tunduk dan resistensi saluran pernafasan rendah, sehingga hanya 3% dari energi total yang dipakai oleh tubuh untuk melakukan usaha bernafas. Usaha nafas dapat meningkat pada empat situasi yang berbeda:1
1. Apabila compliance paru menurun, diperlukan kerja keras untuk mengembangkan paru.
2. Apabila resistensi saluran pernafasan meningkat, diperlukan kerja yang lebih keras untuk menghasilkan gradien tekanan yang lebih besar untuk mengatasi resistensi, sehingga udara dapat mengalir secara adekuat.
3. Apabila recoil elastik menurun, ekspirasi pasif mungkin tidak adekuat untuk mengeluarkan udara yang secara normal dihembuskan selama bernafas biasa. Dengan demikian, otot-otot abdomen harus bekerja membantu mengosongkan paru, walaupun orang yang bersangkutan sedang istirahat.
4. Apabila terdapat peningkatan kebutuhan akan ventilasi, misalnya selama berolahraga, dibutuhkan kerja yang lebih keras untuk menghasilkan pernafasan yang lebih dalam (volume udara yang keluar masuk setiap bernafas menjadi lebih besar) dan lebih cepat (frekuensi bernafas per menit meningkat).

Selama berolahraga berat, jumlah energi yang diperlukan untuk menjalankan ventilasi paru dapat meningkat sampai dua puluh lima kali lipat. Namun, oleh karena pengeluaran energi tubuh meningkat sampai lima belas atau dua puluh lima kali lipat selama berolahraga berat, energi yang digunakan untuk menjalankan ventilasi tetap hanya 5% dari pengeluaran energi total. Sebaliknya, pada pasien dengan compliance paru yang rendah atau mengidap penyakit paru obstruktif, energi yang diperlukan untuk bernafas bahkan ketika istirahat dapat meningkat hingga 30% dari pengeluaran energi total. Pada kasus ini, kemampuan individu yang bersangkutan untuk olahraga menurun drastis sebab bernafas itu sendiri telah menjadi olahraga yang melelahkan.1

Volume dan Kapasitas Paru
Dalam keadaan normal paru mengandung 2 sampai 2,5 liter udara selama siklus respirasi, tetapi dapat diisi hingga 5,5 liter atau dikosongkan sampai tersisa 1 liter. Pada orang dewasa sehat, rata-rata jumlah maksimum udara yang dapat dikandung oleh paru adalah 5,7 liter pada pria (4,2 liter pada wanita). Bentuk anatomis, usia, distensibilitas paru, dan ada atu tidaknya oenyakit pernafasan mempengaruhi kapasitas paru total ini.1
Secara normal, selama proses pernafasan biasa, paru tidak pernah mengalami pengembangan maksimum atau penciutan yang mendekati volume minimumnya. Dengan demikian, secara normal paru mengalami pengembangan tingkat sedang selama siklus pernafasan. Pada akhir respirasi normal, paru masih memiliki 2200 ml udara. Selama satu kali bernafas biasa dalam keadaan istirahat, 500 ml udara dihirup dan udara dalam jumlah yang sama dihembuskan, sehingga selama bernafas tenang volume paru bervariasi antara 2200 ml pada akhir ekspirasi dan 2700 ml pada akhir inspirasi. Selama ekspirasi maksimum, volume paru dapat menurun sampai 1200 ml pada pria (1000 ml pada wanita), tetapi paru tidak akan pernah dapat dikosongkan secara total karena saluran pernafasan kecil akan kolaps selama ekspirasi paksa pada volume paru yang rendah sehingga aliran udara keluar lebih lanjut dicegah.1
Konsekuensi atas ketidakmampuan mengosongkan paru secara total tersebut adalah pertukaran gas antara darah yang mengalir ke paru dan udara alveolus yang tersisa dapat tetap berlangsung, bahkan dalam ekspirasi maksimum. Malahan, tidak terdapat fluktuasi yang lebar dalam penyerapan O2 dan pengeluaran CO2 oleh darah karena paru tidak mengalami pengosongan atau pengisian maksimum dalam setiap proses bernafas. Hal ini menyebabkan kandungan gas dalam darah yang dikeluarkan dari paru ke sistem jaringan tetap konstan selama siklus pernafasan. Selain itu, ingatlah bahwa usaha yang dipergunakan untuk mengembangkan alveolus yang sudah mengembang sebagian lebih mudah daripada alveolus yang kolaps total.1

Perekam perubahan volume paru- SPIROMETRI
Metode sederhana untuk mempelajari ventilasi paru adalah dengan mencatat volume udara yang masuk dan keluar paru-paru, suatu proses yang disebut spirometri. Bentuk spirometer dasar yang khas dilukiskan pada Gambar 1. Spirometer ini terdiri dari sebuah drum yang dibalikkan di atas bak air dan drum tersebut diimbangi oleh suatu beban. Dalam drum terdapat gas untuk bernapas, biasanya udara atau oksigen; dan sebuah pipa yang menghubungkan mulut dengan ruang gas. Apabila seseorang bernapas dari mulut dengan ruang ini, drum akan naik turun dan terjadi perekaman yang sesuai di atas gulungan kertas yang berputar.3 Naik-turunnya drum tersebut dapat dicatat sebagai spirogram yang dikaliberasikan ke perubahan volume. Pena mencatat inspirasi sebagai defleksi ke atas dan inspirasi sebagai defleksi ke bawah.1
Gambar 2 adalah sebuah spirogram yang menunjukkan perubahan volume paru pada berbagai kondisi pernapasan. Untuk memudahkan pengertian peristiwa ventilasi paru, maka udara dalam paru pada diagram dibagi menjadi empat volume dan empat kapasitas.3


Pada bagian kiri Gambar 2 dituliskan empat “volume” paru, bila semuanya dijumlahkan, sama dengan volume maksimal paru yang mengembang. Volume paru dan kapasitas paru berikut ini (kapasitas paru adalah jumlah dari dua atau lebih volume paru) dapat ditentukan:1,2,3
• Tidal Volume (TV)
Volume udara yang masuk atau keluar selama satu kali bernafas. Nilai rata-rata pada keadaan istirahat=500ml
• Volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume, VCI)
Volume tambahan yang dapat secara maksimal dihirup melebihi tidal volume istirahat. VCI dihasilkan oleh kontraksi maksimum diafragma, otot antariga eksternal, dan otot inspirasi tambahan. Nilai rata-ratanya = 3000 ml.
• Kapasitas Inspirasi
Volume akhir udara yang dapat dihirup pada akhir ekspirasi normal tenang (KI=VCI+TV). Nilai rata-ratanya=3500 ml.
• Volume cadangan ekspirasi
Volume tambahan udara yang dapat secara aktif dikeluarkan oleh kontraksi maksimum melebihi udara yang dikeluarkan secara pasif pada akhir tidak volume biasa. Nilai rata-ratanya = 1000 ml.
• Volume residual
Volume minimum udara yang tersisa di paru-paru bahkan setelah ekspirasi maksimum. Nilai rata-ratanya=1200 ml. Volume residual tidak dapat diukur secara langsung oleh spirometer karena volume udara ini tidak keluar masuk paru. Namun, volume ini dpaat dihitung melalui tekhnik dilusi-gas berupa penghirupan gas-pelacak yang tidak bahaya dalam jumlah tertentu, misalnya helium.
• Kapasitas residual fungsional (KRF)
Volume udara di paru pada akhir ekspirasi pasir normal (KRF=VCE+VR). Nilai rata-ratanya = 2200 ml.
• Kapasitas Vital (KV)
Volume maksimum udara yang dapat dikeluarkan selama satu kali bernafas setelah inspirasi maksimum. Subyek mula-mula melakukan inspirasi maksimum, kemudian melakukan ekspirasi maksimum (KV= VCI+TV+VCE). KV mencerminkan perubahan volume maksimum yang dapat terjadi di dalam paru. Volume ini jarang diapaki karena kontraksi otot maksimum yang terlibat menimbulkan kelelahan, tetapi bermanfaat untuk menilai kapasitas fungsional paru nilai rata-ratanya = 4500 ml.
• Kapasitas paru total (KPT).
Volume udara maksimum yang dapat ditampung oleh paru (KPT= KV + VR). Nilai rata-ratanya = 5700 ml.
• Volume ekspirasi paksa dalam satu detik.
Volume udara yang dapat diekspirasi selama detik pertama ekspirasi pada penentuan KV. Biasanya FEV1 adalah sekitar 80%; yaitu, dalam keadaan normal 80% udara yang dapat dipaksa keluar dari paru yang mengembang maksimum dapat dikeluarkan dalam 1 detik pertama. Pengukuran ini memberikan indikasi laju aliran udara maksimum yang dapat terjadi di paru. FEV1 mungkin menurun pada penderita penyakit asma, atau yang mengalami peningkatan tahanan saluran udara akibat konstriksi bronkus.
Menentukan kapasitas residu fungsional, volume residu dan kapasitas paru total—Metode pengenceran (dilusi) Helium. Kapasitas rendah fungsional, yaitu volume udara yang secara normal tetap berada dalam paru di antara pernapasan, penting untuk fungsi paru. Nilainya berubah nyata pada beberapa jenis penyakit paru, sebab itu lah maka kita seringkali perlu mengukur kapasitas ini. spirometer tidak dapat digunakan untuk mengukur langsung kapasitas residu fungsional karena udara dalam volume residu paru tidak dapat diekspirasi ke dalam spirometer, dan volume ini kira-kira merupakan separuh dari kapasitas residu fungsional. Untuk mengukur kapasitas residu fungsional, spirometer harus digunakan secara tidak langsung biasanya dengan menggunakan metode pengenceran helium.3

Makna dari Volume dan Kapasitas Paru
Pada orang normal volume udara dalam paru bergantung pada bentuk dan ukuran tubuh. Posisi tubuh juga mempengaruhi volume dan kapasitas paru, biasanya menurun bila berbaring, dan meningkat bila berdiri. Perubahan pada posisi ini disebabkan oleh dua factor, yaitu kecenderungan isi abdomen menekan ke atas melawan diafragma pada posisi berbaring dan peningkatan volume darah paru pada posisi berbaring, yang berhubungan dengan pengecilan ruang yang tersedia untuk udara dalam paru.3 Faktor utama yang mempengaruhi kapasitas vital adalah bentuk anatomi tubuh, posisi selama pengukuran kapasitas vital, kekuatan otot pernapasan dan pengembangan paru dan rangka dada. Penurunan kapasitas paru dapat disebabkan oleh kelumpuhan otot pernapasan, misalnya pada penyakit poliomyelitis atau cedera saraf spinal, berkurangnya compliance paru, misalnya pada penderita asma kronik, tuberkulosa, bronchitis kronik, kanker paru dan pleuritis fibrosa dan pada penderita penyakit bendungan paru, misalnya pada payah jantung kiri.3 Volume dan kapasitas seluruh paru pada wanita kira-kira 20-25% lebih kecil dibandingkan pria dan lebih besar lagi pada atletis dan orang yang bertubuh besar daripada orang yang bertubuh kecil.3 Latihan fisik akan menyebabkan otot menjadi kuat. Perbaikan fungsi otot,terutama otot pernapasan menyebabkan pernapasan lebih efisien pada saat istirahat. Ventilasi paru pada orang yang terlatih dan tidak terlatih relative sama besar, tetapi orang yang berlatih bernapas lebih lambat dan lebih dalam. Hal ini menyebabkan oksigen yang diperlukan untuk kerja otot pada proses ventilasi berkurang, sehingga dengan jumlah oksigen sama, otot yang terlatih akan lebih efektif kerjanya.4 Pada orang yang dilatih selama beberapa bulan terjadi perbaikan pengaturan pernapasan. Perbaikan ini terjadi karena menurunnya kadar asam laktat darah, yang seimbang dengan pengurangan penggunaan oksigen oleh jaringan tubuh. Latihan fisik akan mempengaruhi organ sedemikian rupa sehingga kerja organ lebih efisien dan kapasitas kerja maksimum yang dicapai lebih besar. Faktor yang paling penting dalam perbaikan kemampuan pernapasan untuk mencapai tingkat optimal adalah kesanggupan untuk meningkatkan capillary bed yang aktif, sehingga jumlah darah yang mengalir di paru lebih banyak, dan darah yang berikatan dengan oksigen per unti waktu juga akan meningkat. Peningkatan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen.4 Penurunan fungsi paru orang yang tidak berolahraga atau usia tua terutama disebabkan oleh hilangnya elastisitas paru-paru dan otot dinding dada. Hal ini menyebabkan penurunan nilai kapasitas vital dan nila forced expiratory volume, serta meningkatkan volume residual paru.5
Manfaat pengukuran berbagai volume dan kapasitas paru dapat memberikan petunjuk bagi dokter yang merawat berbagai penyakit saluran pernafasan. Terdapat dua kategori umum disfungsi pernafasan yang menimbulkan hasil spirometri yang abnormal penyakit paru obstrukstif dan restriktif.

Penyakit lain yang mengenai fungsi pernafasan mencakup:1
1. Penyakit yang mengganggu difusi O2 dan CO2 menembus membran paru.
2. Penuruanan ventilasi akibat kegagalan mekanis, seperti penyakit neuromuskular yang mengenai otot-otot pernafasan, atau akibat penekanan pusat kontrol pernafasan oleh alkohol, obat, atau zat kimia lain.
3. Gangguan aliran darah paru
4. Kelainan ventilasi/perfusi yang melibatkan ketidakcocokan udara dan darah sehingga pertukaran gas menjadi tidak efisien. Sebagian penyakit paru sebenarnya adalah campuran dari berbagai jenis gangguan fungsional. Untuk menentukan kelainan, dokter menggunakan berbagai uji fungsi pernafasan selain spirometri, termasuk pemeriksaan sinar X, penentuan gas darah, dan oemeriksaan untuk mengukur kapasitas membran kapiler alveolus.

Kesimpulan :
Elastisitas paru melibatkan dua konsep yakni recoil elastik dan compliance. Sifat elastic paru terutama bergantung pada dua factor; jaringan ikat paru yang sangat elastic dan tegangan permukaan alveolus. Surfaktan mampu menurunkan tegangan permukaan alveolus. Energi yang dikeluarkan tubuh untuk bernafas sangatlah kecil. Namun, energi yang dikeluarkan tersebut dapat meningkat bila terjadi situasi-situasi tertentu seperti berolahraga. Dalam keadaan normal paru mengandung 2 sampai 2,5 liter udara selama siklus respirasi, tetapi dapat diisi hingga 5,5 liter atau dikosongkan sampai tersisa 1 liter. Latihan fisik dapat melatih otot pernafasan sehingga pernafasan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Daftar Pustaka
1. Sherwood, Lauralee. Human Physiology from Cells to Systems, 6th ed. California: Thomson Brooks/Cole, 2007
2. Ganong WF. Review of Medical Physiology. 22nd ed. USA: McGraw-Hill; 2005.
3. Guyton AC. Textbook of physiology. USA: Hall E. WB Saunders Co 9th edition. Pg 475-7.
4. Yunus, F. 1997. Faal Paru dan olahraga. Jurnal Respirologi Indonesia, 17, 100 – 105.
5. Wilmore, J. Costill, D. 1994. Physiology of Sport and Exercise. New York : Human Kinetics. 192 – 208, 217, 226 – 236.