Tuesday, March 15, 2011

Kelekatan Ibu dan Anak

Infant Attachment

Infant attachment pada dasarnya sulit untuk diterjemahkan. Bila dicoba untuk dibahasaindonesiakan artinya adalah kelekatan antara anak dengan care-giver, dalam hal ini care-giver dapat berarti seorang ibu, perawat, ataupun pengasuh. Keberadaan rasa kelekatan ibu-anak merupakan pondasi yang penting dalam tumbuh kembang seorang anak, namun bila hal ini diberikan dengan berlebihan maka dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti anak menjadi terlau ketergantungan atau teralu manja.


Pengaruh dari kelekatan ibu-anak bersifat jangka panjang. Hal ini berarti kelekatan ini akan berpengaruh pada anak hingga saat dewasa. Anak yang memiliki kelekatan yang cukup dengan ibunya, saat ia tumbuh dewasa dan memiliki keluarga maka anak tersebut akan memberikan kelekatan yang serupa pada anaknya. Begitu juga sebaliknya, bila anak tersebut tidak atau kurang memiliki kelekatan yang baik ketika kecil, maka anak tersebut akan cenderung memperlakukan hal yang sama ke anaknya. Hal ini sering kali kita dengar sebagai pola pengasuhan yang menurun. Dalam hal ini juga diisyaratkan bahwa pola pengasuhan itu tidak hanya dimulai ketika anak-anak tetapi saat ia masih balita. 

Infant attachment atau kelekatan ibu dan anak ini sangat krusial pada 2 tahun pertama sehingga sangat ditekankan bagi para orangtua untuk memberikan kelekatan ini pada 2 tahun pertama. Namun, setelah itu sebaiknya secara bertahap mulai dikurangi, untuk membentuk kemadirian dari seorang anak. Hingga saat ini belum ada batasan kuantitas pengasuhan non-parental yang mempengaruhi kualitas kelekatan. Dengan kata lain, belum ditemukan hubungan yang berarti antara anak yang diasuh bukan dengan orang tua sendiri dengan hubungan anak tersebut dengan orang tuanya kelak. 

Menurut Bowlby, attachment atau kelekatan adalah ikatan emosional yang berkelanjutan, yang dicirikan atau dimanifestasikan dalam bentuk kecenderungan untuk mencari dan mempertahankan kedekatan dengan suatu figur spesifik, terutamanya saat sang anak dalam keadaan stress. Dalam teori Bowlby ini, hubungan pertama anak adalah cinta, oleh karena itu agar anak terus mencintai orang tuanya, faktor kelekatan ini menjadi begitu penting. Kelekatan dengan figur tersebut akan memberikan proteksi dan rasa aman secara psikologis. sebagai contoh, seornag anak yang tinggal di asrama, saat ia mengalami kesulitan atau sedang dalam keadaan tidak penuh dengan kesibukan akan terdapat kecenderungan untuk teringat akan rumah dan orang tuanya. Hal ini adalah salah satu contoh kelekatan, di mana anak akan merasa lebih aman saat berada dekat dengan figur yang dicintainya atau lekat dengannya.

Adanya care-giver atau orang tua yang selalu siap sedia dan responsif terhadap segala kebutuhan bayi akan membentuk suatu dasar rasa aman dari kelekatan yang membuat bayi mendapatkan kompetensi seperti:
a. Mampu mengeksplorasi lingkungan
b. Mampu membentuk suatu hubungan dengan orang lain
c. Mampu mengembangkan kepercayaan diri

Dalam kehidupan sang anak, dapat terjadi perubahan sifat kelekatan. Perubahan-perubahan tersebut diantaranya:

a. Eksternal, yaitu saat adanya caregiver lain yang akan memberikan attachment yang berbeda. Contohnya guru. Anak yang terlalu dini diles privatkan untuk belajar baca ke seorang guru yang galak dapat membuat anak trauma. Pengalaman dari narasumber yaitu, seorang anak dilaporkan tidak bisa membaca. Saat itu orang tua sangat kesulitan hingga membawa anak tersbeut ke psikiater, setelah ditelusuri anak tersebut bukan tidka bisa membaca namun anak tersebut tidak mau belajar dan tidak mau membaca apapun karena guru yang mengajarnya sangat galak. Akibatnya anak tersebut mendapat gangguan psikologis saat disuruh membaca atau bahkan melihat buku saja. Hal ini diperburuk dengan orang tua yang tidak berada di sampingnya saat ia mengalami ketakutan dnegan guru tersebut. 

b. Internal, yaitu berbagai kondisi internal pada keluarga. Contohnya, perceraian, kematian anggota keluarga, lahirnya saudara, perubahan kondisi ekonomi akan mempengaruhi kelekatan dengan anak.

Terdapat beberapa kategori kelekatan, yaitu:
a. Secure
ini merupakan yang paling bagus. Sekitar 60% anak memiliki secure attachment. Pada attachment jenis ini, apabila anak berada di dalam kondisi stres atau berada dalam kondisi asing, atau dipisahkan dari orangtuanya, anak tersebut hanya menunjukkan rasa marah yang tidak terlalu besar atau terlalu lama. Mereka kemudian akan beraktivitas dan bermain kembali seperti biasa.

b. Anxious/avoidant, anak ini umumnya cemas dalam menghadapi reaksi care-giver. Apabila dia dipisahkan dari orangtuanya selama beberapa minggu, anak-anak tersebut akan menunjukkan tanda-tanda detachment (kehilangan kelekatan), yaitu mengabaikannya orang tuanya seperti tidak kenal.

c. Anxious/ ambivalent, pada anak ini, terjadi perasaan yang campur aduk. Apabila sang anak ditinggal orangtuanya seperti pada dua tipe attachment sebelumnya, reaksi sang anak adalah marah secara terbuka, yang lebih hebat dibanding secure attachment. hal ini dapat ditunjukan dengan menangis sangat hebat atau membanting-banting barang. 

d. Disorganized/disoriented, anak tipe ini tidak memiliki strategi khusus dalam menghadapi pemisahan dirinya dengan orang tua atau care-giver. Saat sang orang tua kembali, reaksinya dapat bermacam2. Anak ini diduga rewel dan depresi.

Studi menunjukkan bahwa kondisi emosional seorang ibu dapat mempengaruhi kelekatannya dengan anak. Ibu dengan schizoprenia, depresi, membuat anak cenderung memiliki tipe kelekatan anxious. Ibu dengan psikopatologi, atau meratapi nasib tanpa henti, atau pernah mengalami pelecehan atau siksaan (child abuse), cenderung memiliki anak dengan tipe kelekatan disorganized. Anak yang mengalami kekerasan/ child abuse 70-100% menjadi anxious, dan kondisi rumah tangga yang buruk dan kemiskinan juga dapat menimbulkan tipe anak dengan anxious attachment.

• Pola-pola attachment dapat memberikan efek pada perkembangan anak, diantaranya adalah:
a. Anak dengan secure attachment cenderung persisten dan antusias saat mengerjakan suatu tugas, mudah bersosialisasi dengan teman, tidak mengutamakan ego-nya. Akan tetapi, sulit untuk menentukan apakah efek ini memang merupakan pengaruh dari secure attachment atau pengaruh dari pengalaman-pengalaman baru sang anak.

b. Anak dengan anxious/disorganized attachment cenderung bermain dengan objek, bukan manusia, fantasinya terbatas, kurang antusias, kurang patuh, sering marah dan frustrasi, dan cenderung menjadi korban bullying. Anak ini juga cenderung menjadi agresif saat berumur 5 tahun.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment