Saturday, February 5, 2011

Anatomi Organ Pencernaan

Secara anatomis, sistem pencernaan terdiri atas saluran gastrointestinal dan organ-organ pencernaan aksesoris. Organ dari saluran gastrointestinal adalah rongga mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, dan usus besar. Organ aksesoris pencernaan adalah gigi, lidah, kelenjar saliva, hati, kandung empedu, dan pankreas. Sebelum masuk ke dalam organ-organ tersebut, akan dibahas terlebih dahulu membran serosa yang melapisi sebagian besar organ pencernaan.

Membran Serosa
Organ-organ pencernaan di daerah abdominopelvis dilapisi oleh membran serosa yang meliputi rongga pada batang tubuh dan melapisinya. Membran serosa tersusun oleh jaringan epitel skuamosa selapis yang diperkuat oleh jaringan penyokong. Membran serosa menghasilkan cairan serosa yang melubrikasi organ-organ yang dilapisi. Membran serosa terdiri dari dua bagian, yaitu bagian parietal yang bersinggungan dengan dinding tubuh dan bagian visceral yang bersinggungan dengan organ-organ dalam. Membran serosa yang melapisi rongga abdominal disebut peritoneum.
Peritoneum parietal melapisi dinding rongga abdominal dan pada bagian posterior rongga abdomen membentuk pelipatan berlapis dua yang disebut mesenterium, yang berfungsi menahan saluran pencernaan sambil memungkinkan terjadinya gerakan peristaltik serta sebagai jalur persarafan dan pembuluh darah. Mesocolon adalah bagian dari mesenterium yang menyokong usus besar. Sementara, peritoneum viseral melapisi organ pencernaan. Rongga peritoneal merupakan ruang di antara peritoneum parietal dan visceral. Beberapa organ pencernaan berada posterior dari peritoneum parietal, sehingga disebut retroperitoneal, yang terdiri dari pankreas, ginjal, sebagian duodenum dan kolon, serta aorta abdominal.
Ligamentum Falciformis, membran serosa yang didukung oleh jaringan penyokong menyambungkan hati ke diafragma dan dinding abdomen anterior. Omentum majus memanjang dari kurvatura mayor lambung ke kolon transversum, membentuk struktur yang menutupi hampir seluruh usus halus. Fungsi dari omentum majus ini adalah adalah menyimpan lemak, sebagai bantalan organ, menyokong nadus limfa, dan membatasi penyebaran infeksi. Pada inflamasi terlokalisir. Omentum ini mencegah penyebarannya terhadap rongga peritoneal lainnya. Omentum minus berawal dari kurvatura minor lambung dan duodenum atas sampai permukaan inferior hati.
Masih bingung? Intinya sih yang ngebungkus rongga abdomen itu adalah peritoneum parietal, yang nempel ke dinding abdomen. Nah, di daerah posterior(punggung), dia kayak menjulur ngeluarin perpanjangan ke dalam yang namanya mesenterium. Mesenterium ini memanjang sampe ke organ-organ intraperitoneal, dan begitu dia menyentuh organ, dia menyelubungi organ tersebut, dan selubung tersebut namanya peritoneum visceral. Kalo salah, coba diklarifikasi deh. Skemanya gini:


Rongga Mulut & Faring
Fungsi dari mulut dan struktur yang berasosiasi dengan mulut adalah sebagai penerima pertama makanan, yang memulai pencernaan melalui proses mastikasi, kemudian menelan. Mulut, yang disebut juga oral cavity/rongga mulut dibentuk oleh pipi, bibir, palatum durum, dan palatum molle. Bagian vestibula dari rongga mulut merupakan struktur cekungan diantara pipi dan bibir dengan gigi dan gusi. Bukaan dari rongga mulut disebut juga orifisia oris (oral orifice), dan bukaan antara rongga mulut dengan faring disebut fauces.

Lidah
Lidah berfungsi untuk menggerakkan makanan saat mastikasi dan membantu dalam proses menelan. Lidah berupa otot rangka yang diselubungi oleh membran mukosa. Otot ekstrinsik lidah menggerakkan lidah dari sisi-ke-sisi dan keluar-masuk. Dua per tiga bagian lidah berada di rongga mulut, sementara sepertiganya berada di faring, melekat dengan tulang hioid. Tonsila lingualis berada pada permukaan superior dari pangkal lidah, dan bagian inferior lidah berhubungan dengan garis tengah dari dasar mulut dengan frenulum lingualis. Pada permukaan lidah terdapat papilla yang memberikan permukaan kasar pada lidah yang membantu pergerakan makanan dan sebagian memiliki kuncup pengecap.

Gigi
Terdapat 4 jenis gigi, yaitu gigi seri/incisors, gigi taring/canines, dan gigi geraham premolar dan molar. Gigi geraham memiliki permukaan buccal yang bersinggungan dengan pipi, sementara gigi seri dan gigi taring memiliki permukaan labial yang bersinggungan dengan bibir. Semua gigi memiliki permukaan lingual yang bersinggungan dengan lidah.

Kelenjar Saliva
Kelanjar saliva merupakan kelenjar pencernaan aksesoris yang menghasilkan saliva. Banyak kelenjar-kelenjar saliva minor yang berlokasi di membran mukosa daerah palatum di dalam rongga mulut, akan tetapi terdapat 3 pasang kelenjar saliva di luar rongga mulut yang memproduksi sebagian besar dari saliva yang dialirkan ke rongga mulut melalui saluran tertentu. Kelenjar parotid merupakan kelenjar saliva terbesar, yang berada di bagian depan-bawah dari daun telinga, di antara kulit dan otot masseter. Saliva yang diproduksi kelenjar ini dialirkan melalui duktus parotid(Stensen’s) yang keluar di rongga mulut berhadapan dengan gigi molar atas kedua. Kelenjar submandibular berada di bawah mandibula, di sisi dalam dari rahang, ditutupi otot mylohioid. Saliva dari kelenjar ini dialirkan melalui duktus submandibularis (Wharton’s), yang keluar di dasar mulut di bagian lateral dari frenulum lingualis. Kelenjar sublingualis berada di bawah membran mukosa dari bagian dasar mulut, dangan saliva yang dikeluarkan melalui duktus sublingual (Rivinus’ duct) yang keluar di dasar mulut pada area posterior dari papilla ductus submandibularis.

Esofagus
Esofagus merupakan bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan faring dengan lambung. Esofagus merupakan organ berbentuk tabung yang memiliki panjang kurang lebih 25 cm, berawal dari laring di vertebra servikal VI dan berada posterior dari trakea. Esofagus berada di dalam mediastinum dari toraks dan melewati diafragma melalui suatu lubang, yaitu esophageal hiatus menuju lambung. Esofagus dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis tanpa lapisan tanduk. Sepertiga bagian superiornya terdiri dari otot rangka, sepertiga tengah merupakan kombinasi otot rangka dan otot polos, dan sepertiga bawahn ya hanya dibentuk oleh otot polos. Pada persambungan antara lambung dan esofagus terdapat gastroesophageal sphincter, yang merupakan penebalan dari serat otot sirkular. Setelah makanan atau cairan masuk ke lambung, sphincter tersebut menyempit untuk mencegah isi perut mengalami regurgitasi kembali ke dalam esofagus akibat tekanan pada daerah toraks lebih rendah dibanding tekanan pada abdomen sebagai hasil dari paru-paru yang terisi udara. Berdasarkan posisinya, esofagus terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pars servikalis, pars torakalis, dan pars abdominalis. Esofagus mengalami empat penyempitan: (1) pada trakea dan saraf laring, 15 cm dari gigi seri, (2) lengkung Aorta, 22 cm dari gigi seri, (3) Bronkus kiri, 27 cm dari gigi seri, (4) pada diafrgama, pada hiatus esofagus, 37 cm dari gigi seri.

Lambung
Lambung merupakan organ pada sistem GI yang memiliki kemampuan meregang paling tinggi, yang berada di regio hipokondria sinistra, epigastrikum, dan umbilikalis, tepat di bawah diafragma. Berbentuk seperti huruf J saat kosong, lambung berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan yang akan dicerna sementara makanan tersebut dicampur dengan sekret dari lambung untuk menjadi chyme, yang akan bergerak menuju usus halus. Lambung dibagi menjadi empat bagian, yaitu cardia, fundus, corpus, dan pylorus. Cardia merupakan bagian atas yang langsung berhubungan dengan esofagus, tepat di bawah sphincter esofagus. Fundus merupakan bagian kubah di daerah sinistra yang langsung bersentuhan dengan diafragma. Corpus merupakan bagian tengah dari lambung yang berukuran paling besar, sementara pylorus merupakan bagian berbentuk saluran/cerobong pada bagian ujung dari lambung. Sphincter pylorus merupakan otot sirkular yang termodifikasi pada ujung pylorus yang bersambungan dengan usus halus. Persambungan ini mengatur pergerakan chyme menuju usus halus dan menghambat aliran balik ke arah lambung. Pylorus terbagi menjadi bagian antrum, canal, dan sphincter.
Lambung memiliki dua permukaan dan dua batas. Bagian permukaan terbagi menjadi permukaan anterior dan posterior. Batas medial yang berbentuk konkaf merupakan kurvatura minor, yan di bagian tersebut juga terdapat magenstrasse waldeyer, yang merupakan jalur khusus untuk air, sementara batas lateral yang berbentuk konveks disebut kurvatura mayor. Omentum minor membentang di antara kurvatura minor dengan hati, sementara omentum mayor melekat pada kurvatura mayor.

Usus Halus/ Intestinum Tenue
Usus halus merupakan bagian dari saluran GI di antara sphincter pylorus lambung dan katup ileocecal yang membuka ke usus besar. Usus halus berada di bagian tengah dan bawah dari rongga abdominal dan disokong oleh mesenterium, kecuali bagian awalnya. Mesenterium tersebut berfungsi untuk memberikan kemampuan bagi usus untuk bergerak namun mencegah usus menjadi terpilin atau bengkok. Di dalam mesenterium terdapat pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfa. Usus halus pada manusia hidup memiliki panjang kurang lebih 3m dengan diameter 2,4 cm, akan tetapi panjangnya akan menjadi dua kali lipat pada kadaver, dimana muskularis externanya mengalami relaksasi. Usus halus merupakan organ pencernaan utama dan daerah utama penyerapan nutrisi. Usus halus dipersarafi oleh pleksus mesenteria superior, diperdarahi oleh arteri mesenteria superior dan cabang-cabang dari arteri celiaca dan arteri mesenteria inferior, dan memiliki sistem drainase melalui vena mesenterika superior. Usus halus terbagi menjadi 3 bagian:
1. Duodenum
Berbentuk C, dengan ukuran 25 cm, dari sphincter pylorus sampai fleksura duodenojejunum. Terkecuali sebagian kecil yang menempel dengan lambung, duodenum merupakan organ retroperitoneal. Bagian konkafnya yang menghadap sinistra menerima sekresi empedu dari hati dan kandung empedu melalui duktus koledokus dan sekresi pankreas melalui duktus pankreatikus major. Dua saluran ini menyatu membentuk jalan masuk ke duodenum yang disebut hepatopancreatic ampulla (ampulla Vater), yang menembus dinding duodenum, yang keluar di duodenum pada duodenal papilla. Di sanalah empedu dan enzim pankreas masuk ke dalam usus halus. Papilla duodenal dapat dibuka-tutup oleh sphincter ampulla (Oddi).
2. Jejunum
Merupakan terusan duodenum ke ileum, memiliki panjang 1 m dengan lumen yang lebih besar dan pelipatan internal yang lebih banyak dibandingkan ileum.
3. Ileum
Berukuran panjang 2 m, ujung terminal dari ileum mengarah ke bagian medial dari sekum melalui katup ileocecal. Pada ileum juga banyak ditemui Peyer’s patch. Perbedaan lainnya adalah mesenterium dari ileum memiliki vasa arcades yang lebih banyak dibanding jejunum disertai dengan vasa recta yang pendek.

Usus Besar/ Intestinum Crassum
Usus besar berukuran panjang 1,5 m dengan diameter 6,5 cm. Usus besar berawal dari ujung ileum di bagian kanan bawah dari abdomen, memanjang ke superior tepat di bawah liver, kemudian memotong ke kiri, turun menuju pelvis, dan berhenti pada anus. Bagian dari mesenterium, yaitu mesokolon menahan bagian transversum dari usus besar pada dinding abdomen posterior. Usus besar memiliki fungsi pencernaan yang tidak terlalu besar selain menyerap air dan elektrolit dari chyme yang tersisa dan membentuk, menyimpan, serta mengeluarkan feses.
Usus besar dibagi menjadi caecum, colon, rectum, dan anal canal. Caecum atau sekum merupakan kantong yang berada sedikit di bawah katup ileocecal yang merupakan pelipatan membran mukosa pada persambungan antara usus kecil dan usus besar yang berfungsi untuk mencegah aliran balik dari chyme. Appendiks , suatu struktur yang berupa proyeksi mirip jari menempel pada batas inferior medial dari sekum. Appendiks yang berukuran 8 cm mengandung jaringan limfa yang banyak, yang dapat berfungsi untuk melawan infeksi.
Bagian superior dari dari sekum berlanjut menjadi colon, yang terdiri dari kolon asendens, kolon transversum, kolon desendens, dan kolon sigmoid. Kolon asendens memanjang ke arah superior dari sekum di sepanjang dinding abdomen kanan menuju permukaan inferior hati. Kolon pada daerah ini membengkok tajam ke arah sinistra membentuk fleksura hepatika/ fleksura colic dekstra dan berlanjut melewati rongga abdomen atas sebagai kolon transversum. Pada bagian kiri rongga abdomen, kolon membengkok kembali, yang disebut fleksura splenic/ fleksura kolik sinistra, yang menandakan perubahan menjadi kolon desendens. Dari fleksura splenik, kolon desendens memanjang menuju inferior sepanjang dinding abdomen kiri ke regio pelvis. Kolon kemudian berbelok ke arah medial dari pinggir pelvis membentuk lekukan berbentuk S, yang disebut kolon sigmoid.
Ujung terminal 20 cm dari saluran GI adalah rektum, dengan 2-3 cm dari rektum merupakan canalis analis. Rectum berada pada anterior dari sacrum, dan terikat kuat dengan peritoneum. Anus merupakan bukaan keluar dari canalis analis. Dua otot sphincter menjaga bukaan anus, yaitu internal anal sphincter yang merupakan otot polos dan external anal sphincter yang merupakan otot rangka. Membran mukosa dari canalis analis tersusun dalam pelipatan longituinal yang memiliki vaskularisasi yang tinggi, yaitu kolum anal.

Liver/ Hati
Hati merupakan organ dalam terbesar dengan berat 1,3 kg pada orang dewasa. Hati berada tepat di bawah diafragma, di regio epigastrikum dan hipkondriak dekstra. Hati berwarna merah-kecoklatan akibat banyaknya vaskularisasi. Hati memiliki 4 lobus dan dua ligamen penyokong. Di bagian anterior, lobus dekstra dipisahkan dari lobus sinistra oleh ligamentum falciformis yang menyambungkan hati ke dinding anterior abdomen. Di bagian inferior, lobus caudatus terletak di dekat vena kava inferior, sementara lobus quadratus terletak bersebelahan dengan kandung empedu. Ligamentum teres, yang merupakan sisa-sisa dari vena umbilikalis memanjang dari ligamentum falciformis ke umbilikus. Ligamentum triangular dan ligamentum koronaria menempelkan hati ke diafragma, sementara ligamentum hepatogastrikum dan hepatodeodenum masing-masing menempelkan hati ke lambung dan duodenum.

Kandung Empedu/ Vesika Felea
Kandung empedu merupakan organ seperti kantung yang menempel pada permukaan inferior dari hati. Organ ini menyimpan dan mengonsentrasikan empedu. Sebuah katup sphincter pada pangkal leher kandung empedu memungkinkan pemyimpanan empedu sekitar 35-50 ml. Lapisan mukosa bagian dalam kandung empedu memiliki pelipatan yang mirip dengan gastric folds pada lambung. Saat kandung empedu terisi oleh cairan empedu, ukuran den bentuknya mengembang seperti buah pir kecil. Empedu secara kontinu diproduksi oleh hati dan keluar melalui duktus hepatikus ke duktus koledokus menuju duodenum. Saat usus halus kosong, sphincter ampulla menyempit dan empedu akan masuk lewat duktus cystikus ke kandung empedu untuk disimpan. Kandung empedu diperdarahi oleh arteri sistikus yang merupakan cabang arteri hepatika dekstra, dengan sistem drainase lewat vena sistikus yang mengarah ke vena porta hepatika.

Pankreas
Pankreas disebut juga kelenjar campuran/mixed glands karena memiliki baik fungsi eksokrin maupun endokrin. Fungsi endokrin dilakukan oleh sekumpulan sel yang disebut pancratic islets atau pulau Langerhans. Sel-sel ini mensekresikan hormon insulin dan glukagon. Sebagai kelenjar eksokrin, pankreas mensekresikan cairan pankreas lewat duktus pankreatikus ke duodenum. Pankreas merupakan organ retroperitoneal.
Reaksi:

1 komentar: