Monday, February 28, 2011

KERATITIS

KERATITIS
Oleh Rizka Hanifah, Sked

PENDAHULUAN
Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrate sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh, biasanya diklasifikasikan dalam lapisan yang terkena seperti keratitis superficial, intertitisial dan profunda.1,2 Keratitis dapat disebabkan karena sindrom dry eye, blefaritis, konjungtivitis kronis, keracunan obat, sinar ultraviolet, atau dapat juga karena infeksi sekunder. Gejala klinisnya dapat berupa, mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan. Gejala lainnnya yang mungkin ditemukan adalah mata terasa perih, gatal dan mengeluarkan kotoran.1



PATOFISIOLOGI
Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tak dapat segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapt di dalam stroma segera bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagi injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat, yang tampak sebagi bercak bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbul ulkus kornea yang dapat menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada perdangan yang hebat, toksin dari kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descement dan endotel kornea. Dengan demikian iris dan badan siliar meradang dan timbulah kekeruhan di cairan COA, disusul dnegan terbentuknya hipopion. Bila peradangan tersu mendalam, tetapi tidak mengenai membran descement dapat timbul tonjolan membran descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan yg dipermukaan penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan parut. Pada peradangan yang dlaam penyembuhan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut yang dpaat berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila ulkusnya lebih mendalam lagi dapat timbul perforasi yang dapat mengakibatkan endophtalmitis, panophtalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi.

KLASIFIKASI 3

Keratitis dapat dibagi berdasarkan etiologi dan lokasi.
Berdasarkan Lokasi:
Keratitis Superficial :
1. Keratitis epitelial (tes fluoresin +)
a. Keratitis pungtata superficial
b. Keratitis Herpes simpleks
c. Keratitis Herpes zooster

2. Keratitis subepitelial (tes fuoresin -)
a. Keratitis numularis dari Dimmer
b. Keratitis disiform dari Westhoff

3. Keratitis stromal (tes fluoresin -)
a. Keratitis neuroparalitik
b. Keratitis et lagoftalmus

Keratitis Profunda :
1. Keratitis Interstitial
2. Keratitis Sklerotikans
3. Keratitis Disiformis

Keratitis Superfisial Nonulseratif :
1. Keratitis pungtata superfisial dari Fuchs
2. Keratitis numularis dari Dimmer
3. Keratitis disiformis dari Westhoff
4. Keratokonjungtivis epidemika

Keratitis Superfisial Ulseratif :
1. Keratitis pungtata ulseratifa
2. Keratitis flikten
3. Keratitis herpetika
4. Keratitis sika
5. Rosasea keratitis

Keratitis Profunda Nonulseratif :
1. Keratitis interstitial
2. Keratitis pustuliformis profunda
3. Keratitis disiformis
4. Keratitis sklerotikans


Keratitis Profunda Ulseratif :
1. Keratitis et lagoftalmus
2. Keratitis neuroparalitik
3. Dll. 

Menurut Etiologi :
1. Bakteri : Diplococcus pneumonia, Streptococcus hemolyticus, Pseudomonas aeroginosa, dll
2. Virus : Herpes simpleks, Herpes zooster, dll
3. Jamur : Candida, Aspergillus sp.
4. Alergi
5. Avitaminosis A
6. Kerusakan N.V

• Keratitis Pungtata Superfisial
Keratitis Pungtata Superfisialis adalah suatu keadaan dimana sel-sel pada permukaan kornea mati. Mata biasanya terasa nyeri, berair, merah, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan penglihatan menjadi sedikit kabur. Keratitis ini dapat bersifat ulseratif atau non ulseratif. 

• Keratitis Numularis
Keratitis ini didiuga oleh virus. Klinis tanda-tanda radang tidak jelas, di kornea terdapt infiltrat bulat-bulat subepitelial, dimana ditengahnya lebih jernih, disebut halo. Keratitis ini bila sembuh akan meninggalkan sikatrik yang ringan.

• Keratitis Disiformis
Keratitis ini awalnya banyak ditemukan pada petani di pulau jawa. Penyebabnya adalah virus yang berasal dari sayuran dan binatang. Di kornea tampak infiltrat bulat-bulat, yang ditengahnya lebih padat dari pada dipinggir. Umumnya menyarang usia 15-30 tahun.

• Keratokonjungtivis Flikten
Terutama didapatkan pada anak-anak dengan kebersihan yang buruk. Biasanya didaptkan pembesaran kelenjar leher dan tonsil. Dikornea flikten merupakan benjolan dengan diameter 1-3 mm berwarna abu-abu dan menonjol di atas permukaan kornea. 

• Keratokonjungtivis Sika
Terjadi akibat kekeringan pada bagian permukaan kornea an konjungtiva. Kekeringan ini dapat disebabkan kurnagnya komponen lemak, kurangnya air mata, kurangnya komponen musin, penguapan berlebihan dll. Penderita akan mengeluh mata gatal, fotofobia, berpasir, dll.

• Keratitis Rosasea
Keratitis yang didapat pada orang yang menderita acne rosasea, yaitu penyakit dengan kemerahan dikulit, disertai akne di atasnya. 

• Keratitis lagoftalmos
Terjadi akibat mata tidak menutup sempurna yang dapat terjadi pada ektropion palpebra, protrusio bola mata atau pada penderita koma dimana mata tidak terdapat reflek mengedip. Umumnya bagian yang terkena adalah kornea bagian bawah

FAKTOR-FAKTOR RESIKO 4
Faktor-faktor resiko yang memicu terjadinya keratitis termasuk segala lesi yang mengenai permukaan epitel dari kornea. Penggunaan dari kontak lensa meningkatkan resiko terjadinya keratitis, terutama jika cara penggunaannya tidak baik. Selain itu, penurunan kualitas dan atau kuantitas dari air mata juga dapat memicu timbulnya keratitis. Gangguan fungsi imun seperti pada penyakit AIDS atau penggunaan kortikosteroid dan kemoterapi juga dapat meningkatkan perkembangan munculnya keratitis. 

MANIFESTASI KLINIS 4
Gejala dari keratitis biasanya mencakup nyeri, perih, dan penglihatan buram. Nyeri yang dirasakan dapat sedang hingga berat tergantung pada sebab dan luasnya inflamasi. Fotofobia juga dapat timbul. Pada temuan klinis dapat didapatkan mata merah, berair, dan terdapat kekeruhan pada kornea. 

DIAGNOSIS 4
Diagnosis dari keratitis dapat didirikan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan menggunakan slit lamp untuk melihat dengan baik seluruh permukaan okular khususnya kornea secara detail. Pada kasus dimana diduga terjadi infeksi, kultur dapat diambil dari permukaan mata untuk menentukan spesifikasi patogen.

Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah :1
• Pemeriksaan tajam penglihatan
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan untuk mengetahui fungsi penglihatan setiap mata secara terpisah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan kartu snellen maupun secara manual yaitu menggunakan jari tangan.
• Uji dry eye
Pemeriksaan mata kering atau dry eye termasuk penilaian terhadap lapis film air mata ( tear film ), danau air mata ( teak lake ), dilakukan uji break up time tujuannya yaitu untuk melihat fungsi fisiologik film air mata yang melindungi kornea. Penilaiannya dalam keadaan normal film air mata mempunyai waktu pembasahan kornea lebih dari 25 detik. Pembasahan kornea kurang dari 15 detik menunjukkan film air mata tidak stabil.
• Ofthalmoskop
Tujuan pemeriksaan untuk melihat kelainan serabut retina, serat yang pacat atropi, tanda lain juga dapat dilihat seperti perdarahan peripapilar.
• Keratometri ( pegukuran kornea )
Keratometri tujuannya untuk mengetahui kelengkungan kornea, tear lake juga dapat dilihat dengan cara focus kita alihkan kearah lateral bawah, secara subjektif dapat dilihat tear lake yang kering atau yang terisi air mata.
• Tonometri digital palpasi
Cara ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau sulit dinilai seperti pada sikatrik kornea, kornea ireguler dan infeksi kornea. Pada cara ini diperlukan pengalaman pemeriksa karena terdapat factor subjektif, tekanan dapat dibandingkan dengan tahahan lentur telapak tangan dengan tahanan bola mata bagian superior.1

PENGOBATAN
Penatalaksanaan keratitis bergantung pada etiologi yang mendasarinya. Bentuk sediaan yang diberikan dapat berupa tetes mata, pil, atau intravena. Semua benda asing yang ada pada kornea dan konjungtiva harus dihilangkan. Keratitits pungtata superficial penyembuhannya dapat berakhir dengan sempurna. Infeksi keratitis biasanya membutuhkan antibakteri, antifungal, atau terapi antiviral, apabila virus yang menjadi penyebabnya, keratitis tidak perlu mendapatkan pengobatan yang khusus karena biasanya dapat sembuh lebih kurang dalam 3 minggu. Pemberian cendo citrol tetes mata (6 x 1 tetes) yang diindikasikan kortikosteroid dapat menekan infeksi sekunder.5 Tetes mata steroid sering diberikan untuk mengurangi inflamasi dan scar yang mungkin timbul. Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati karena beberapa infeksi dapat lebih buruk setelah penggunaan. Jika penyebab keratitis adalah mata kering, dapat diberikan salep dan air mata buatan. Jika penyebabnya adalah sinar ultraviolet atau lensa kontak, diberikan salep antibiotik dan obat untuk melebarkan pupil. Jika penyebabnya adalah reaksi terhadap obat-obatan, maka sebaiknya pemakaian obat dihentikan. Pada umumnya, pengguna kontak lensa akan diberi nasihat untuk tidak meneruskan kembali, walaupun tidak berakaitan dengan sebab timbulnya keratitis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit Buku Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. 147-6.
2. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes : Opthalmologi. Edisi 9. Jakarta Penerbit Erlangga Medikal Series; 2006. 66-0.
3. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. Edis 5. Jakarta. 1990
4. Keratitis. Diunduh dari : http://www.medicinenet.com/keratitis/page3.htm Pada tanggal 28 Februari 2011
5. BPP ISFI. ISO Indonesia vulome 41. Jakarta : BPP ISFI; 2006. 450-2.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment