Friday, February 25, 2011

Tekanan Darah & Cold Pressor Test

Pengaturan Tekanan Darah

1. Kontrol Ekstrinsik, saraf dan hormonal

Kontrol ekstrinsik terhadap arteriol mencakup pengaruh saraf dan hormonal dengan efek system saraf simpatis yang terpenting. Serat serat saraf simpatis mempersarafi otot polos arteriol di seluruh tubuh kecuali di otak. Peningatan aktivitas simpatis (hiperreaktor) menimbulkan vasokonstriksi arteriol umum, sedangkan penurunan aktivitas simpatis (hiporeaktor) menyebabkan vasodilatasi arteriol umum. 


Menurut hines-brown, insiden hipertensi tingi pada golongan yang hipereaktor. Vasokonstriksi umum yang diinduksi oleh simpatis secara refleks mengurangi aliran darah ke sel sel jaringan perifer, sehingga kompensasinya adalah peningkatan tekanan arteri rata rata agar darah dapat mengalir ke semua organ hingga ke jaringan perifer. Aktivitas simpatik tonik juga untuk mempertahankan tekanan sehingga organ organ dapat menyerap darah sesuai keperluan melalui mekanisme local yang mengontrol jari jari arteriol. 



Persarafan parasimpatis ke arteriol tidak bermakna, vasodilatasi di tempat tempat lain ditimbulkan oleh penurunan aktivitas vasokonstiktor simpatis di bawah tingkat toniknya, ketika tekanan arteri rata rata meningkat di atas normal, timbul refleks berupa reduksi aktivitas vasokonstriksi simpatis yang menyebabkan vasodilatasi arteriol umum yang membantu menurunkan tekanan pendorong ke tingkat normal.




Bagian utama di otak yang bertanggung jawab terhadap penyesuaian simpatis ke arteriol adalah pusat kontrol kardiocaskular di medulla batang otak. Ini adalah pusat integrasi bagi pengaturan tekanan darah, beberapa bagian lain juga mempengaruhi distribusi darah, yang paling menonjol adalah hipotalamus, yang sebagian dari fungsinya mengontrol suhu, mengontrol aliran darah ke kulit untuk menyesuaikan jumlah panas yang keluar ke lingkungan. 




Selain aktivitas refleks saraf, beberapa hormon juga mempengaruhi jari jari arteriol yaitu mencakup hormon medulla adrenal epinefrin dan norepinefrin, yang secara umum memperkuat system saraf simpatis di sebagian besar jaringan serta vasopressin dan angiotensin II, yang penting dalam mengontrol keseimbangan cairan. 




Stimulasi simpatis pada medulla adrenal menyebabkan kelenjar endokrin ini mengeluarkan epinefrin dan norepinefrin. Norepinefrin medulla adrenal berkaitan dengan reseptor α seperti yang secara simpatis dilepaskan norepinefrin untuk menimbulkan vasokonstriksi umum. Namun ,epinefrin, hormon medulla adrenal yang paling banyak, berikatan dengan reseptor α dan β2. Pengaktifan reseptor β2 menimbulkan vasodilatasi, reseptor tersebut paling banyak di arteriol jantung dan otot rangka, selama aktivitas simpatis epinefrin yang dikeluarkan berikatan dengan resepton β2 di jantung dan otot rangka untuk memperkuat mekanisme vasodilator local di jaringan ini. 

2. Refleks Baroreseptor

Setiap perubahan tekanan darah rata rata akan mencetuskan refleks baroreseptor yang diperantarai secara otonom dan mempengaruhi jantung serta pembuluh darah untuk menyesuaikan curah jantung dan resistensi perifer total sebagai usaha untuk memulihkan tekanan darah ke normal. 

Refleks baroreseptor mencakup reseptor, jalur aferen, pusat integrasi, jalur eferen dan organ efektor. Respon terpenting dalam pengaturan tekanan darah adalah sinus karotikus dan baroreseptor lengkung aorta, yang merupakan mekanoreseptor yang peka terhadap perubahan tekanan arteri rata rata dan tekanan nadi. Ketangggapan reseptor-reseptor tersebut terhadap fluktuasi tekanan nadi meningkatkan kepekaan mereka sebagai sensor tekanan, karena perubahan kecil pada tekanan sistolik atau diastolic dapat mengubah tekanan nadi tanpa mengubah tekanan rata rata. Baroresptor terletak di tempat strategis untuk menyediakan informasi mengenai tekanan darah arteri di pembuluh –pembuluh yang meglir ke otak (baroresptor sinus karotikus) dan di arteri utama yaitu baroresptor lengkung aorta.

Baroresptor secara kontinue menghasilakn potensial aksi sebagai respon terhadap tekanan di dalam arteri. Jika tekanan arteri (tekanan rata rata atau nadi) meningkat, potensial reseptor di kedua baroreseptor itu meningkat, sehingga kecepatan pembentukan potensial aksi di neuron aferen yang bersangkutan juga meningkat, berlaku juga jiga sebaliknya, apabila tekanan darah menurun kecepatan pembentukan aksi di neuron aferen oleh baroreseptor berkurang. 

Pusat integrasi yang menerima impuls aferen adalah pusat kontrol kardiovaskular, terletak di medulla di system batang otak. Sebagai jalur aferen adalah system sara otonom, pusat kardiovaskular mengubah rasio antara aktivitas simpatis dan parasimpatis ke organ organ efektor (jantung dan pembuluh darah).

Cold Pressor Test
Cold pressor test merupakan test peningkatan tekanan darah dengan pendinginan yang dilakukan dengan cara memberikan rangsang pendinginan pada tangan yaitu diletakkan di dalam suatu wadah berisi air es bersuhu 4 derajat celcius selama kurang lebih satu menit. Selama proses tersebut, dilakukan tes pengukuran tekanan darah pada lengan yang berlawanan. Perbedaan tekanan darah setelah intervensi dan saat tekanana basal menunjukkan aktivitas vascular dimana dikatakan hiperekator jika tekanan sistolik naik ≥ 20 mmHg dan tekanan diastolic ≥15 mmHg, dan dikatakan hiporekator jika kenaikan tekanan darah masih dibawah angka angka tersebut,

Efek yang dihasilkan dari test ini adalah nyeri dan peningkatan tekanan darah. Lewis, dalam penelitiannya mengatakan bahwa jika jari diletakkan dalam suhu air 1-18 derajat celcius, akan menimbulkan rasa nyeri hebat. Akan tetapi, apabila suhu melebih 18 derajat celcius, rasa nyeri tidak akan terjadi. Rasa nyeri pada temperatur rendah, secara progressive akan terus meningkat hingga mencapai waktu maksimal 1 menit. Karakteristik dari nyeri yang ditimbulkaan seperti rasa tergilas, “pins and needle sensation”, distribusi menyebar luas, dan dalam, dan pusat nyerinya pada bagian radial, rasa nyeri bersfiat continuous dan non pulsatile. Pergerakan dari jari tangan tidak akan mempengaruhi karakteristik dan intensitas dari nyeri. Mekanisme nyeri secara sederhana dimulai dari transduksi stimuli akibat kerusakan jaringan dalam saraf sensorik menjadi aktivitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf bermielin A delta dan saraf tidak bermielin C ke kornu dorsalis medula spinalis, talamus, dan korteks serebri. Impuls listrik tersebut dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai kualitas dan kuantitas nyeri setelah mengalami modulasi sepanjang saraf perifer dan disusun saraf pusat. Rangsangan yang dapat membangkitkan nyeri dapat berupa rangsangan mekanik, suhu (panas atau dingin) dan agen kimiawi yang dilepaskan karena trauma/inflamasi.

Fenomena nyeri timbul karena adanya kemampuan system saraf untuk mengubah berbagai stimuli mekanik, kimia, termal, elektris menjadi potensial aksi yang dijalarkan ke system saraf pusat. Dalam kaitannya dengan peningkatan tekanan darah, beberapa penelitian mengatakan, cold pressor test berkaitan dalam peningkatan plasma norepinefrin dan peningkatan aktivitas otot simpatis/MSNA (musle sympathetic nerve activity). Peningkatan MSNA berhubungan erat dengan peningkatan tekanan darah arteri dan konsentrasi norepinefrin vena perifer dalam kaitan nya sebagai vasokonstriktor.
Reaksi:

2 komentar:

  1. makasih...saya cukup terbantu membuat laporan biomanzi...hehe :)

    ReplyDelete
  2. Terimakasih...
    Sangat jelas...👍

    ReplyDelete