Friday, March 4, 2011

Mata & Refraksi Cahaya

A. Mata Sebagai Media Refraksi dan Pendeteksi Cahaya
Mata menangkap pola iluminasi dalam lingkungan sebagai suatu “gambaran optik” pada sebuah lapisan sel-sel peka cahaya, yaitu retina. Gambaran yang dikode di retina disalurkan melalui serangkaian pengolahan visual yang semakin kompleks setiap langkahnya sampai akhirnya secara sadar dipersepsikan sebagai gambar yang mirip dengan gambar asli. Sel-sel retina mendeteksi stimulus berupa cahaya sebagai gelombang yang kekuatannya diukur dalam satuan foton. Fotoreseptor pada mata sensitif pada cahaya dengan panjang gelombang antara 400 sampai 700 nm. Cahaya dengan warna merah merupakan cahaya dengan panjang gelombang terpanjang, sedangkan cahaya dengan warna ungu adalah cahaya dengan panjang gelombang terpendek. Selain perbedaan panjang gelombang, cahaya juga dibedakan atas intensitasnya (terang-gelap).

Gelombang cahaya akan mengalami pembiasan atau refraksi jika melalui permukaan dengan indeks bias yang berbeda melalui sudut tertentu. Refraksi cahaya pada mata dilakukan oleh kornea dan lensa, karena keduanya memiliki permukaan yang tidak rata, transparan, dan indeks bias yang berbeda dengan udara. Gelombang cahaya yang datang dari jarak lebih dari 6 m adalah gelombang paralel. Gelombang paralel yang masuk ke mata akan memiliki bayangan yang jatuh di retina. Jika yang masuk ke mata adalah gelombang divergen, mata akan mengalami akomodasi sehingga bayangan dapat jatuh tepat di retina. Akomodasi adalah proses perubahan pada kecembungan lensa, di mana bentuk lensa semakin cembung dan menebal. Ketika melihat objek dengan jarak dekat, muskulus siliaris akan mengalami kontraksi sehingga ligamentum suspensorium lensa mata menjadi terenggang dan akibatnya lensa menjadi lebih cembung secara pasif karena tidak ada tarikan dari ligamentum suspensorium lensa. Pada individu yang masih muda, perubahan kekuatan lensa yang terjadi akibat proses akomodasi dapat mencapai 12 dioptri.

Kemampuan untuk melakukan akomodasi berkurang seiring dengan bertambahnya usia, dan mencapai titik kritis pada usia 40 tahun ketika individu mengalami kesulitan dalam melihat obyek jarak dekat. Hal ini terjadi lebih cepat pada individu dengan hipermetropia. Masalah ini diatasi dengan lensa baca konveks.


Tidak semua cahaya yang melewati kornea dapat mencapai fotoreseptor di retina karena adanya iris, struktur berpigmen yang merupakan ekstensi dari koroid di dalam humor akweus. Lapisan pigmen yang terdapat pada iris menghalangi cahaya untuk mencapai struktur mata yang lebih dalam, oleh karena itu cahaya hanya dapat masuk melalui pupil, sebuah celah di bagian tengah iris. Ukuran lubang ini dapat disesuaikan oleh variasi kontraksi otot iris untuk menentukan jumlah cahaya yang dapat masuk. Kedua kelompok jaringan otot polos yang dimaksud merupakan muskulus dilator pupil, yang tersusun secara radial, dan muskulus sphincter pupil, yang tersusun secara sirkuler. Pada keadaan terang susunan saraf parasimpatis akan teraktivasi dan memicu kontraksi muskulus sphincter pupil sehingga diameter pupil akan mengecil, sedangkan pada keadaan remang susunan saraf simpatis akan teraktivasi dan memicu kontraksi muskulus dilator pupil sehingga diameter pupil akan membesar.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment