Wednesday, March 23, 2011

MEKANISME INFLAMASI, BATUK, DEMAM

MEKANISME INFLAMASI SALURAN NAPAS

Inflamasi saluran napas melibatkan interaksi beberapa tipe sel dan mediator yang akan menyebabkan gejala rinitis dan asma1. Inhalasi antigen mengaktifkan sel mast dan sel Th2 di saluran napas. Keadaan tersebut akan merangsang produksi mediator inflamasi seperti histamin dan leukotrien dan sitokin seperti IL-4 dan IL-5. Sitokin IL-5 akan menuju ke sumsum tulang menyebabkan deferensiasi eosinofil1. Eosinofil sirkulasi masuk ke daerah inflamasi alergi dan mulai mengalami migrasi ke paru dengan rolling (menggulir di endotel pembuluh darah daerah inflamasi), mengalami aktivasi, adhesi, ekstravasasi dan kemotaksis2. Eosinofil berinteraksi dengan selektin kemudian menempel di endotel melalui perlekatannya dengan integrin di superfamili immunoglobulin protein adhesi yaitu vascular-cell adhesion molecule (VCAM)-1 dan intercellular adhesion molecule (ICAM)-1.1,3


Eosinofil, sel mast, basofil, limfosit T dan sel Langerhan masuk ke saluran napas melalui pengaruh beberapa kemokin dan sitokin seperi RANTES, eotaksin, monocyte chemotactic protein (MCP)-1 dan macrofag inflamatory protein (MIP)-1ά yang dilepas oleh sel epitel. Eosinofil teraktivasi melepaskan mediator inflamasi seperti leukotrien dan protein granul untuk menciderai saluran napas. Survival eosinofil diperlama oleh IL-4 dan GM-CSF, mengakibatkan inflamasi saluran napas yang persisten1.


Akumulasi sel mast pada saluran napas merupakan patofisiologi penting baik pada asma maupun rinitis alergi. Efek biokimia spesifik akibat degranulasi sel mast hampir sama pada saluran napas atas maupun bawah. Sedangkan efek fisiologis memiliki perbedaan. Edema mukosa yang dimediasi oleh sel mast terjadi baik di saluran napas atas maupun bawah, akan menyebabkan obstruksi. Sedangkan kontraksi otot polos saluran napas bawah lebih berat dalam merespons inflamasi dibanding saluran napas atas. Imunoglobulin E menempel pada sel mast jaringan dan basofil sirkulasi melalui reseptor dengan afinitas tinggi yang diekspresikan oleh permukaan sel. Histamin dan leukotrien dilepas dari basofil maupun sel mast dan akan menyebabkan timbulnya gejala secara cepat dalam beberapa menit. Gejala pada saluran napas atas meliputi rasa gatal pada hidung, bersin dan rinorea. Sedangkan gejala pada saluran napas bawah meliputi bronkokonstriksi, hipersekresi kelenjar mukus, sesak napas, batuk dan mengi.3


MEKANISME DEMAM
Suhu tubuh diatur oleh otak di bagian hipotalamus pada pre-optik anterior, merupakan bagian dari deinsephalon yang merupakan bagian dari otak depan (prosencephalon). Dengan adanya termorespetor ini, suhu tubuh dapat senatiasa berada dalam batas normal yakni sesuai dengan suhu inti tubuh. Suhu inti tubuh merupakan pencerminan dari kandungan panas yang ada di dalam tubuh kita. Kandungan panas didapatkan dari pemasukan panas yang berasal dari proses metabolisme makanan yang masuk ke dalam tubuh.4
Pada umumnya suhu inti berada dalam batas 36,5-37,5°C. Dalam berbagai aktivitas sehari-hari, tubuh kita juga akan mengelurakan panas misalnya saat berolahraga. Bilamana terjadi pengeluraan panas yang lebih besar dibandingkan dengan pemasukannya, atau sebaliknya maka termostat tubuh itu akan segera bekerja guna menyeimbangkan suhu tubuh inti. Bila pemasukan panas lebih besar daripada pengeluarannya, maka termostat ini akan memerintahkan tubuh kita untuk melepaskan panas tubuh yang berlebih ke lingkungan luar tubuh salah satunya dengan mekanisme berkeringat. Dan bila pengeluaran panas melebihi pemasukan panas, maka termostat ini akan berusaha menyeimbakan suhu tersebut dengan cara memerintahkan otot-otot rangka kita untuk berkontraksi(bergerak) guna menghasilkan panas tubuh. 4


Kontraksi otot-otok rangka ini merupakan mekanisme dari menggigil. Contohnya, seperti saat kita berada di lingkunganpegunungan yang hawanya dingin, tanpa kita sadari tangan dan kaki kita bergemetar (menggigil). Hal ini dimaksudkan agar tubuh kita tetap hangat. Karena dengan menggigil itulah, tubuh kita akan memproduksi panas. Hal diatas merupakan proses fisiologis. Lain halnya bila tubuh mengalami proses patologis. Proses perubahan suhu yang terjadi saat tubuh dalam keadaan sakit lebih dikarenakan oleh toksis yang masuk kedalam tubuh. Umumnya, keadaan sakit terjadi karena adanya proses peradangan (inflamasi) di dalam tubuh. 4


Proses peradangan merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengancam keadaan fisiologis tubuh. Proses peradangan diawali dengan masuknya racun kedalam tubuh kita. Contoh racun yang paling mudah adalah mikroorganisme penyebab sakit. Mikroorganisme (MO) yang masuk ke dalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin/racun tertentu yang dikenal sebagai pirogen eksogen. Dengan masuknya MO tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya yakni dengan memerintahkan pertahanan tubuh antara lain berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosit). Dengan adanya proses fagositosit ini, tubuh itu akan mengelurkan zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya interleukin 1/ IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus untuk mengeluarkan suatu substansi yakni asam arakhidonat. Asam arakhidonat bisa keluar dengan adanya bantuan enzim fosfolipase A2. 4
Proses selanjutnya adalah, asam arakhidonat yang dikeluarkan oleh hipotalamus akan pemacu pengeluaran prostaglandin (PGE2). Pengeluaran prostaglandin pun berkat bantuan dan campur tangan dari enzim siklooksigenase (COX). Pengeluaran prostaglandin ternyata akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus. Sebagai kompensasinya, hipotalamus selanjutnya akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patakan ini dikarenakan mesin tersebut merasa bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Sehingga terjadilah demam(suhu tubuh meningkat pada seseorang).4


MEKANISME BATUK
Batuk adalah ekspirasi eksplosif yang memberikan mekanisme proteksi normal untuk membersihkan saluran trakeobronkial dari sekret dan benda asing. Jika sampai berlebihan atau mengganggu, batuk menjadi suatu gejala umum yang perlu mendapatkan perhatian medis. Alasannya bisa karena ketidaknyamanan terhadap batuk itu sendiri, terganggunya gaya hidup normal, dan kekhawatiran terhadap penyebab batuk, terutama adanya kanker.5


Kendali Sistem Saraf Pusat
Batuk diintegrasikan di medulla oblongata, di mana serat aferen masuk pertama kali ke dalam atau dekat nukleus traktus solitaries; output motoriknya terdapat di nukleus retroambigualis yang mengirimkan motor neuron ke otot pernapasan, dan di nukleus ambiguous yang mengirimkan motor neuron ke laring dan pohon bronkial. Kendali volunter batuk dapat mem-bypass pusat integrasi ini, karena pada beberapa pasien dengan kerusakan batang otak kekurangan refleks batuk, namun dapat secara sadar batuk untuk membersihkan jalan napas. 5


Mekanisme Batuk
1. Fase Inspirasi
Fase inspirasi batuk mencakup inspirasi dalam lewat glotis yang terbuka lebar, dengan volume bervariasi dari hampir kapasitas vital hingga yang lebih rendah.
2. Fase Kompresi
Pada fase kompresi, yang berlangsung sekitar 200 milidetik, glotis tertutup sementara otot ekpirasi berkontraksi, dan tekanan intrapleura serta intra alveolar meningkat cepat hingga 300 mmHg (40 kPa).
3. Fase Ekspulsif
Fase ekspulsif mengikuti saat glotis terbuka tiba-tiba. Aliran keluar bergantung pada udara yang tertekan keluar melewati saluran yang menyempit karena tekanan intratorasik yang /meningkat dan efek tekanan alveolar yang tinggi. Fase ekspulsif dapat bertahan lama, atau terpotong-potong oleh penutupan glotis. Pola batuk ditentukan oleh letak anatomis asal batuk dan jenis reseptor yang diaktifkan.


Aliran udara laminar kuat dikombinasikan dengan jalan napas yang menyempit, akan menghasilkan suatu tekanan yang kuat yang membawa benda iritan, bersama sedikit mucus, keluar dari traktus respiratorius. Meskipun transport mukosiliaris merupakan metode utama untuk membersihkan lumen jalan napas pada orang sehat, batuk merupakan mekanisme cadangan, terutama pada pasien paru. Pada banyak penyakit paru, pembersihan mukosiliaris terganggu, sehingga batuk sangat dibutuhkan untuk mengeluarkan sekresi dan debri. Lebih lanjut, studi menunjukkan bahwa batuk lebih efektif jika terdapat hipersekresi mucus. 5


SPUTUM (DAHAK)
Orang dewasa normal menghasilkan mukus sekitar 100 ml dalam setiap hari. Mukus ini diangkut menuju faring dengan gerakan pembersihan normal silia yang melapisi saluran pernapasan. Kalau terbentuk mukus yang berlebihan, proses normal pembersihan mungkin tak efektif lagi, sehingga akhirnya mukus tertimbun. Bila hal ini terjadi, membran mukosa akan terangsang, dan mukus dibatukkan keluar sebagai sputum .5

Bila warna sputum kekuning-kuningan menunjukkan infeksi. Sputum yang berwarna hijau merupakan petunjuk adanya penimbunan nanah. Warna hijau timbuk karena adanya verdoperoksidase yang dihasilkan oleh leukosit polimorfonuklear (PMN) dalam sputum. Sputum yang berwarna hijau sering ditemukan pada bronkiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkiolus yang melebar dan terinfeksi. Banyak penderita infeksi pada saluran napas bagian bawah mengeluarkan sputum berwarna hijau pada pagi hari, tetapi makin siang menjadi semakin kuning.

Sputum yang berwarna merah muda dan berbusa merupakan tanda edema paru akut. Sputum yang berlendir, lekat dan berwarna abu-abu atau putih merupakan tanda bronkitis kronik. Sedangkan sputum yang berbau busuk merupakan tanda abses paru atau bronkiektasis. Apabila sputumnya berwarna hijau dan kuning maka positif terinfeksi. Namun bila sputum berwarna putih dan jernih, berarti sputum atau pasien tidak terinfeksi bakteri. 5

KESIMPULAN
Rasa gatal pada hidung, bersin dan rinorea, bronkokonstriksi, hipersekresi kelenjar mukus, sesak napas, batuk dan mengi merupakan reaksi inflamasi pada sistem respirasi yang diakibatkan oleh histamin dan leukotrien. Keduanya dilepas dari basofil maupun sel mast dan akan menyebabkan timbulnya gejala tersebut. Proses peradangan merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengancam keadaan fisiologis tubuh. Suhu tubuh diatur oleh otak di hipotalamus.


DAFTAR PUSTAKA
1. Busse WW, Lemanske RF. Advances in Immunology. N Engl J Med 2005; 344.
2. Karnen GB. Imunologi dasar. Jakarta : Balai penerbit UI, 2006.
3. Aru W Sudoyo dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II edisi IV.Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006.
4. Sherwood L. Human Physiology, From Cells to Systems. Edisi 5. USA: Thomson; 2004
5. Efianty A, Nurbaiti I, Jenny B, Ratna D R. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta: FKUI; 2007
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment