Sunday, March 13, 2011

Noise Induced Hearing Loss (NIHL)

Noise Induced Hearing Loss (NIHL)
Oleh Rizka Hanifah,Sked

Pendahuluan

Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu atau tidak dikehendaki. Dari definisi ini menunjukkan bahwa sebenarnya bising itu sangat subyektif, tergantung dari masing-masing individu, waktu dan tempat terjadinya bising. Sedangkan secara audiologi, bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekwensi.1 Noise induced hearing loss (NIHL) atau ketulian akibat bising adalah tuli sensorineural yang terjadi sebagai hasil dari paparan kronik dari suara bising dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini sering ditemukan pada negara berkembang dan negara industri. NIHL dimulai pada frekuensi yang tinggi (3000 to 6000 Hz) dan berkembang secara bertahap. 

Pada penelitian yang dilakukan di Sidoarjo pada 50 orang pekerja di pabrik baja menunjukan, dari 25 orang pekerja bagian mesin (25 orang), 84% diantaranya menderita NIHL. Selain itu terdapat perbedaan signifikan pada korelasi antara NIHL dan lamanya waktu bekerja.2 Faktor yang dapat mempengaruhi NIHL anatara lain usia, genetik, penyakit sistemik, infeksi telinga tengah, obat ototoxic, kelelahan, dan merokok. Tidka ada pengobatan atau pembedahan yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan NIHL. Hal yang paling penting adalah mencegah NIHL dengan alat proteksi dan mengurangi paparan dari kebisingan. Di Indonesia, merujuk pada surat keputusan menteri No.SE 01/Men/ 1978, dinyatakan bahwa maksimal intensitas kebisingan di tempat kerja adalah tidak lebih dari 85 dB. Sebagai tambahan, waktu bekerja juga tidak boleh lebih dari 8 jam per hari atau 40 jam per minggu dan bila tingkat kebisingan melebih 85 dB, maka managemen perusahaan harus mengambil langkah untuk dengan menggunakan sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff), dan pelingdung kepala (helmet) atau dnegan mengurangi waktu bekerja. Hal yang sering terjadi adalah pekerja sering kali menolak menggunakan hal tersebut dan harga yang ditawarkan relatif mahal.2

Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan antara lain:3

1. Intensitas kebisingan
2. Frekwensi kebisingan
3. Lamanya waktu pemaparan bising
4. Kerentanan individu
5. Jenis kelamin
6. Usia
7. Kelainan di telinga tengah


Pembagian Bising3
Berdasarkan sifatnya bising dapat dibedakan menjadi:
1. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi luas
Bising jenis ini merupakan bising yang relatif tetap dalam batas amplitudo kurang lebih 5dB untuk periode 0.5 detik berturut-turut. Contoh: dalam kokpit pesawat helikopter, gergaji sirkuler, suara katup mesin gas, kipas angin, suara dapur pijar, dsb.
2. Bising kontinu dengan spektrum frekuensi sempit
Bising ini relatif tetap dan hanya pada frekuensi tertentu saja (misal 5000, 1000 atau 4000 Hz), misalnya suara gergaji sirkuler, suara katup gas.
3. Bising terputus-putus
Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise, yaitu kebisingan tidak berlangsung terus menerus, melainkan ada periode relatif tenang. Contoh kebisingan ini adalah suara lalu lintas, kebisingan di lapangan terbang dll.
4. Bising impulsif
Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya me-ngejutkan pendengarnya. Contoh bising impulsif misalnya suara ledakan mercon, tembakan, meriam dll.
5. Bising impulsif berulang-ulang Sama seperti bising impulsif, tetapi terjadi berulang-ulang misalnya pada mesin tempa.




Pengaruh Kebisingan Pada Pendengaran
Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekwensi bunyi, intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa:1
1. Adaptasi
Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan.
2. Peningkatan ambang dengar sementara
Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahan-lahan akan kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang pendengaran sementara ini mula-mula terjadi pada frekwensi 4000 Hz, tetapi bila pemeparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara akan menyebar pada frekwensi sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan lama waktu pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya. Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensitivitas masing-masing individu.
3. Peningkatan ambang dengar menetap
Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi pada frekwensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan . Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan audiogram.

Pembagian Tuli akibat bising3
Ketulian akibat pengaruh bising ini dikelompokkan sbb:
a. Temporary Threshold Shift = Noise-induced Temporary Threshold Shift = auditory fatigue = TTS
o non-patologis
o bersifat sementara
o waktu pemulihan bervariasi
o reversible/bisa kembali normal
Penderita TTS ini bila diberi cukup istirahat, daya dengarnya akan pulih sempurna. Untuk suara yang lebih besar dari 85 dB dibutuhkan waktu bebas paparan atau istirahat 3-7 hari. Bila waktu istirahat tidak cukup dan tenaga kerja kembali terpapar bising semula, dan keadaan ini berlangsung terus menerus maka ketulian sementara akan bertambah setiap hari-kemudian menjadi ketulian menetap. Untuk mendiagnosis TTS perlu dilakukan dua kali audiometri yaitu sebelum dan sesudah tenaga kerja terpapar bising. Sebelumnya tenaga kerja dijauhkan dari tempat bising sekurangnya 14 jam.

b. Permanent Threshold Shift (PTS) = Tuli menetap
o patologis
o menetap
PTS terjadi karena paparan yang lama dan terus menerus. Ketulian ini disebut tuli perseptif atau tuli sensorineural. Penurunan daya dengar terjadi perlahan dan bertahap sebagai berikut :
• Tahap 1 : timbul setelah 10-20 hari terpapar bising, tenaga kerja mengeluh telinganya berbunyi pada setiap akhir waktu kerja.
• Tahap 2 : keluhan telinga berbunyi secara intermiten, sedangkan keluhan subjektif lainnya menghilang. Tahap ini berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.
• Tahap 3 : tenaga kerja sudah mulai merasa terjadi gangguan pendengaran seperti tidak mendengar detak jam, tidak mendengar percakapan terutama bila ada suara lain.
• Tahap 4 : gangguan pendengaran bertambah jelas dan mulai sulit berkomunikasi. Pada tahap ini nilai ambang pendengaran menurun dan tidak akan kembali ke nilai ambang semula meskipun diberi istirahat yang cukup.

c. Tuli karena Trauma akustik
Perubahan pendengaran terjadi secara tiba-tiba, karena suara impulsif dengan intensitas tinggi, seperti letusan, ledakan dan lainnya. Diagnosis mudah dibuat karena penderita dapat mengatakan dengan tepat terjadinya ketulian. Tuli ini biasanya bersifat akut, tinitus, cepat sembuh secara parsial atau komplit.




Patogenesis4
Pada percobaan dengan hewan yang dipaparkan kebisingan, ditemukan perubahan anatomis yang dari distorsi stereocilia pada sel rambul luar dan dalam hingga hilangnya organ korti dan rupturnya membran reissner. Secara umum tidak ditemukan perubahan pada pembuluh darah, atau ligamentum spiral. Beberapa menit setelah pajanan, edema dari stria vascularis mucul dan menetap selama beberapa hari. Inflamasi dari koklear juga menginisiasi respon trauma akustik dan rekruitmen dari leukosit ke telinga bagian dalam. 
Sel-sel rambut luar lebih rentan terhadap paparan bising daripada sel-sel rambut dalam. Temporary Threshold Shifts secara anatomi berkolerasi dengan penurunan kekakuan dari stereocilia dan sel rambut luar. Stereocilia menjadi tidak teratur dan terkulai sehingga memberikan respon yang buruk. Permanent Threshold Shifts juga berasosiasi dengan stereosilia yang saling berdekatan dan hilangnya stereosilia. Pada paparan yang lebih berat, lesi dapat mengakibatkan rusaknya sel-sel penyokong yang menyebabkan gangguan hingga rusaknya organ corti. Dengan hilangnya stereocilia, sel rambut akan mati. Kematian dari sel sensorik dapat memicu Degenerasi Wallerian dan kehilangan primer serat-serat saraf pendengaran. 
Terdapat dua teori yang terkait dengan mekanisme NIHL. NIHL yang berasal dari paparan bising yang konstant merupakan akibat sekunder dari akumulasi mikrotrauma. Pada sisi lain, TTS mungkin disebabkan karena kelelahan metabolik yang menetap dan menyebabkan kematian sel. Konsep dari auditory fatigue ini dapat menjelaskan fakta bahwa bising yang terputus-putus lebih sedikit memicu gangguan pendengaran menetap daripada bising yang bersifat kontinu pada intensitas level yang sama. 
Fenomena apoptosis pada koklea telah ditemukan pada saat paparan bising berlangsung. Sebuah sinyal kaskade Src-protein tyrosine kinase (PTK) diduga menginisiasi apoptosis pada sel-sel sensorik di koklea. Kaskade ini juga teraktivasi pada sel-sel rambut luar yang dipaparkan dengan bising. 
Pembuktian demi pembuktian telah mendukung kedua teori baik teori kelalahan metabolik dan teori trauma mekanis. Studi eksperimental menunjukan penurunan tekanan oksigen endolimfatik yang secraa langsung berkaitan dengan durasi pajanan bising. Penurunan pada suksinat dehidrogenase dan glikogen juga telah berhasil diobservasi. 
Gen yang diasosikan dengan penderita NIHL adalah PCDH15 dan MYH14 namun, penurunannya secara genetik masih menjadi penelitian. 
Hilangnya pendengaran karena pajanan kronik atau intermiten harus dibedakan dengan trauma akustik. Trauma akustik memiliki patofisiologi tersendiri yaitu robeknya membran dan gangguan fisik dari dinding-dinding sel disertai pencampuran dari perimlimfe dan endolimfe. 
Penelitian membuktikan penurunan suhu tubuh, peningkatan tekanan oksigen, penurunan jumlah radikal bebas, dan penghilangan dari kelenjar tiroid dapat menurunkan sensitivitas individu terhadap terjadinya NIHL. Hipoksia memicu timbulnya kerusakan akibat bising. 
Gambaran Klinis
Tuli akibat bising dapat mempengaruhi diskriminasi dalam berbicara (speech discrimination) dan fungsi sosial. Gangguan pada frekwensi tinggi dapat menyebabkan kesulitan dalam menerima dan membedakan bunyi konsonan. Bunyi dengan nada tinggi, seperti suara bayi menangis atau deringan telepon dapat tidak didengar sama sekali. Ketulian biasanya bilateral. Selain itu tinnitus merupakan gejala yang sering dikeluhkan dan akhirnya dapat mengganggu ketajaman pendengaran dan konsentrasi.3

Secara umum gambaran ketulian pada tuli akibat bising (noise induced hearing loss) adalah:1,4
a. Bersifat sensorineural
b. Hampir selalu bilateral
c. Jarang menyebabkan tuli derajat sangat berat. Derajat ketulian berkisar antara 40 s/d 75 dB.
d. Gangguan pendengaran tidak berlanjut setelah paparan bising dihentikan.
e. Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz. Dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10 – 15 tahun. Selain pengaruh terhadap pendengaran, bising yang berlebihan juga mempunyai pengaruh non auditory seperti pengaruh terhadap komunikasi wicara, gangguan konsentrasi, gangguan tidur sampai memicu stress akibat gangguan pendengaran yang terjadi.
f. Kebanyakan pasien turut mengalami tinnitus yang diasosiasikan baik dnegan TTS dan PTS. Individu yang menyadari bunyi di telinga mereka setelah paparan bising mungkin telah mengalami lesi pada sistem auditori, minimal TTS. TTS yang berulang secara perlahan akan berujung pada PTS. Tinitus setelah pajanan dan TTS merupakan sinyal peringatan akan munculnya NIHL yang permanen. 
Diagnosis5
• Anamnesis 
Riwayat penah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya lebih dari 5 tahun.
• Pemeriksaan fisik 
Pemeriksaan otoskopik tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan tes penala didapatkan hasil Rinne positip, Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik dan Schwabach memendek. Kesan jenis ketuliannya adalah tuli sensorineural yang biasanya mengenai kedua telinga.
• Pemeriksaan audiologik. 
Pemeriksaan audiometric nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekwensi tinggi (umumnya 3000 – 6000 Hz) dan pada frekwensi 4000 Hz sering terdapat takik (notc) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini. Pemeriksaan audiologi khusus seperti SISI ( Short Increment Sensitivity Index ), ABLB (Alternate Binaural Loudness Balance ) dan Speech Audiometry menunjukkan adanya fenomena rekrutmen (recruitment) yang khas untuk tuli saraf koklea. 
Pencegahan6
Berdasarkan penelitian dari National Instute of deafness and Other Communication Diseases (NIDCD), pajanan bising dapat memicu pembentukan dari molekul-molekul dekstruktif yakni radikal bebas yang dapat menyebabkan sel rambut mati. Penelitin kemudia melanjutkan bahwa antioksidan dapat mencegah NIHL hanya jika diminum sebelum pajanan diberikan. Namun studi saat ini, antioksidan dalam salisilat (aspirin) dan Trolox (vitamin E) yang diberikan kepada babi selama 3 hari setelah pajanan bising masih menunjukan hasil yang signifikan pada pengurangan terjadinya NIHL.
Daftar Pustaka
1. Irwandi R. Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Terkait Kerja. 2007. Di unduh dari http://library.usu.ac.id/download/ft/07002746.pdf pada 13 Maret 2011
2. Harmadji S, Kabulah H. Noise Induced Hearing Loss In Steel Factory Workers. Desember 2004. Diunduh dari http://journal.unair.ac.id/filerPDF/FMI-40-4-04.pdf pada 13 Maret 2011
3. Cristopher AS. Noise Induced Hearing Loss. 2009. Diunduh dari http://belibis-a17.com/2009/02/14/noise-induced-hearing-loss-nihl/ pada 13 Maret 2011
4. Mathur NN. Inner Ear, Noise-Induced Hearing Loss. Juli 2009. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/857813-overview pada 13 Maret 2011
5. Soepardi EA, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. h.50-51.
6. Noise-Induced Hearing Loss. Oktober 2008. Diunduh dari http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/noise.asp pada 13 Maret 2011
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment