Tuesday, March 8, 2011

Temperatur (Panas) Tubuh

A. Regulasi Temperatur
Produksi panas tubuh secara primer bergantung terhadap oksidasi metabolik yang dilakukan tubuh terhadap makanan. Tubuh secara homeostatik menjaga temperatur pada level yang optimal untuk metabolisme sel, hal ini penting karena elevasi dari temperatur tubuh di atas normal dapat menyebabkan malfungsi saraf dan denaturasi protein yang bersifat ireversibel.
Temperatur tubuh ditentukan oleh inner core dan outer shell. Temperatur pada inner core pada organ-organ abdominal, thoraks, sistem saraf pusat dan otot rangka cenderung konstan dan fungsinya optimal pada suhu sekitar 100oF (37,8oC). Pada outer shell yaitu kulit dan jaringan lemak subkutan lebih labil dan dapat mengalami fluktuasi hingga 68o-104oF (20o dan 40o) tanpa mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan sebagai upaya outer shell menjaga konsistensi temperatur pada inner core.
Hipotalamus yang bertindak sebagai termostat tubuh, mengintegrasikan sejumlah input informasi aferen yang diterima dari berbagai reseptor thermal yang terletak di segala penjuru tubuh. Hipotalamus adalah termostat yang sangat sensitif karena mampu merespon perubahan temperatur pada aliran darah walaupun hanya sebesar 0,01oC. Temperatur inner core dimonitor oleh reseptor thermal sentral yang terletak pada hipotalamus itu sendiri, organ abdomen dan tempat lainnya. Sedangkan temperatur kulit dimonitor oleh reseptor thermal perifer.
Input panas ke dalam tubuh akibat keadaan lingkungan dan produksi panas yang bersifat internal sedangkan output panas adalah berkurangnya panas dari permukaan tubuh yang berhadapan dengan lingkungan sekitar. Kedua proses ini dapat terganggu oleh: (1) Perubahan pada produksi panas dari dalam tubuh, misalnya pada saat berolahraga (2) Perubahan pada suhu lingkungan sekitar sehingga mempengaruhi derajat penerimaan panas maupun pelepasan panas. Perpindahan energi ini dapat terjadi secara (1) Radiasi, (2) Konduksi dan (3) Evaporasi dengan berkeringat.

B. Pengendalian produksi panas tubuh
Tubuh dapat menghasilkan panas secara internal dari akitivitas metabolik dan secara eksternal dari lingkungan sekitar. Dalam keadaan istirahat, panas tubuh sebagian besar dihasilkan oleh organ-organ thoraks dan abdominal sebagai hasil dari proses aktivitas metabolik yang sedang berlangsung. Kadar panas ini dapat berubah akibat perubahan pada aktivitas otot rangka atau aksi hormonal.

1. Otot Rangka
Ketika suhu inner core menurun, sebagai respon terhadap pajanan suhu dingin, hipotalamus memanfaatkan keadaan tersebut dengan meningkatkan aktivitas otot guna menghasilkan lebih banyak panas. Hipotalamus melalui neuron motor meningkatkan tonus otot rangka secara perlahan, hingga tubuh mulai menggigil. Mekanisme ini sangat efisien dalam meningkatkan produksi panas. Kemudian secara disadari proses ini diperkuat dengan penambahan gerak pada tubuh. Kegiatan ini juga dipengaruhi oleh hipotalamus sebagai bagian dari sitem limbik. Namun pada keadaan sebaliknya, tonus otot maupun gerakan-gerakan volunter berkurang. Berbeda dengan respon tubuh terhadap suhu dingin, hal diatas kurang efisien dalam mengurangi panas tubuh. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi temperatur tubuh, semakin tinggi aktivitas metabolik yang terjadi.

2. Nonshivering Thermogenesis
Mekanisme tubuh selain melalui refleks dan gerakan volunter dalam meningkatkan produksi panas adalah melalui proses kimiawi. Hal ini dimediasi oleh hormon epinephrine dan hormon tiroid yang dapat meningkatkan produksi panas dengan menstimulasi metabolisme lemak. Proses ini penting terutama pada bayi yang baru lahir karena memiliki brown fat yang merupakan jaringan adiposa yang dapat mengubah energi kimiawi menjadi panas.

3. Kulit
Jumlah pengurangan suhu melalui radiasi, konveksi maupun konduksi bergantung pada gradien temperatur antara kulit dan lingkungan. Dalam menjaga suhu inner core, kulit sebagai outer core dapat mengatur aliran darah yang melalui kulit. Aliran darah yang melalui kulit selain berfungsi memberi nutrisi pada kulit juga memberi peran pada regulasi temperatur. Aliran ini dapat menyesuaikan dari 400 ml/s hingga 2500 ml/s. Semakin banyak aliran darah dari inner core menuju kulit, semakin dekat temperatur kulit dan inner core. Vasodilatasi dari pembuluh arteriol kulit menyebabkan peningkatan aliran darah sehingga menyebabkan peningkatan pelepasan panas dari tubuh. Sedangkan, vasokonstriksi dari pembuluh darah ini mencegah hilangnya panas dari tubuh. Respon vasomotor ini dikoordinasikan oleh hipotalamus dengan peningkatan aktivitas simpatik, pembuluh darah mengalami vasokonstriksi sebagai respon terhadap pajanan suhu dingin dan berlaku sebaliknya.
Kemudian pengaturan oleh sentral kardiovaskular pada medulla juga mengatur aktivitas arteriol kulit dengan mengendalikan aktivitas simpatik untuk meregulasi tekanan darah. Hal ini digambarkan sebagai berikut, tekanan darah dapat turun pada kondisi lingkungan yang sangat panas karena terjadinya vasodilatasi pada arteriol kulit sebagai respon terhadap pengaturan hipotalamus melebihi perintah yang diberikan oleh sentral kardiovaskular pada medulla.

4. Berkeringat
Berkeringat adalah proses evaporatif dibawah kontrol nervus simpatik. Ketika temperatur lingkungan menyamai temperatur kulit, maka berkeringat adalah upaya untuk pengurangan panas dari dalam tubuh. Pada temperatur normal, 100 ml keringat diproduksi setiap harinya, volume ini dapat meningkat sebanyak 1,5 liter ketika cuaca panas dan hingga 4 liter ketika melakukan olahraga berat.

C. Tempat Pengukuran Temperatur Tubuh
Tempat yang sering digunakan untuk mengukur suhu tubuh terletak pada mulut (dibawah lidah) dan ketiak, keduanya memiliki temperatur yang sama, namun pengukuran pada anus biasanya 1oF (0,56oC) lebih tinggi. Pengukuran pada anus menunjukkan suhu yang paling mendekati suhu inti tubuh karena lokasi pengukuran dekat dengan salah satu organ abdomen yaitu usus. Kemudian suhu tubuh juga dapat dilakukan dengan mengukur temperatur darah pada arteri temporal menggunakan temporal scanner. Alat ini mengukur panas yang diradiasikan oleh tubuh.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment