Tuesday, March 15, 2011

Pengaruh Tiroid Pada Penggunaan Energi

Pemasukan dan Pengeluaran Energi

Setiap sel di dalam tubuh memerlukan energi untuk melaksanakan fungsi-fungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel itu sendiri, serta berperan untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Sumber utama energi bagi tubuh adalah asupan makanan. Energi kimia yang tersimpan dalam ikatan molekul-molekul nutrien akan dilepaskan ketika molekul tersebut diuraikan di dalam tubuh. Energi yang dihasilkan dari proses biokimia tersebut dapat langsung digunakan untuk aktivitas biologik atau disimpan dalam tubuh sebagai sumber energi cadangan.


Namun tidak semua energi yang masuk ke dalam tubuh digunakan untuk melakukan aktivitas. Sebagian besar energi dikeluarkan dari tubuh sebagai panas. Pengeluaran energi dalam tubuh diklasifikasikan menjadi dua kategori : 
1. Kerja eksternal adalah energi yang digunakan pada kontraksi otot rangka saat pergerakan tubuh dan memindahkan objek.
2. Kerja internal terdiri dari :
• Aktivitas otot rangka untuk memelihara postural tubuh dan mengigil
• Energi yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup, seperti memompakan darah, bernapas, transport aktif zat melalui membran plasma, dan energi yang digunakan selama proses pemeliharaan, perbaikan, dan pertumbuhan struktur sel.

Laju Metabolik
Kecepatan penggunaan energi oleh tubuh selama kerja eksternal dan internal dikenal sebagai laju metabolik (metabolic rate). Laju metabolik = pemakaian energi / satuan waktu. Karena sebagian besar energi tubuh dikeluarkan sebagai panas, laju metabolik diekspresikan oleh derajat produksi panas dalam kcal per jam. 

Laju metabolisme dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti aktivitas fisik, emosi, dan asupan makanan. Peningkatan aktivitas otot rangka merupakan faktor yang sangat penting dalam meningkatkan aktivitas fisik. Oleh karena itu, laju metabolik seseorang ditentukan pada kondisi basal standar untuk mengontrol variabel yang dapat mengubah laju metabolik secara bermakna. Melalui cara ini, aktivitas metabolik yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi dasar tubuh dapat ditentukan. Basal metabolic rate (BMR) adalah refleksi dari pemakaian energi internal minimal saat keadaan terjaga. BMR diukur pada kondisi :
1. Istirahat secara fisik, setidaknya telah menghentikan kegiatan olahraga selama 30 menit untuk mengeliminasi pengaruh kontraksi otot yang menghasilkan panas.
2. Istirahat secara mental untuk meminimalisasi tonus otot rangka karena seseorang akan menjadi tegang jika merasa cemas, serta untuk mencegah peningkatan sekresi epinefrin yang dapat meningkatkan laju metabolik. 
3. Suhu ruangan yang nyaman sehingga orang tersebut tidak mengigil. Menggigil dapat meningkatkan produksi panas tubuh akibat kontraksi otot rangka. 
4. Puasa selama 12 jam untuk mencegah termogenesis atau peningkatan metabolik akibat makanan. 

Peningkatan metabolik berkaitan dengan pengolahan dan penyimpanan nutrien.
Kecepatan produksi panas dalam menentukan BMR dapat dihitung secara langsung ataupun tidak langsung. Dengan kalorimetri langsung, seseorang duduk pada ruangan tertutup yang dilalui sirkulasi air pada dindingnya. Perbedaan temperatur antara air yang masuk dan keluar merefleksikan jumlah panas yang dilepaskan oleh subjek dan ditangkap oleh air saat melalui ruangan tersebut. Metode ini dapat langsung mengukur produksi panas namun jarang digunakan karena membutuhkan biaya yang besar dan tempat yang luas.

Pada kalorimetri tidak langsung, hanya konsumsi O2 subjek per satuan waktu yang diukur. Konsumsi O2 berhubungan langsung dengan jumlah produksi panas. Oksigen yang dibutuhkan untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein bervariasi. Rata-rata energi yang dihasilkan setiap liter O2 yang dikonsumsi adalah 4.8 kilokalori. BMR dipengaruhi oleh :
1. Usia dan jenis kelamin
2. Hormon tiroid, hormon androgen, dan hormon pertumbuhan
3. Suhu tubuh
4. Aktivitas fisik
5. Status gizi 

Pengaruh Hormon Tiroid Terhadap BMR
Hormon tiroid merupakan faktor yang paling mempengaruhi metabolisme basal. 
1. Hormon tiroid meningkatkan BMR atau memiliki efek kalorigenik.
2. Efek terhadap metabolisme intermediet
Untuk meningkatkan laju metabolik, hormon tiroid memodulasi derajat berbagai reaksi spesifik yang terlibat dalam metabolisme bahan bakar. Tiroid mempengaruhi proses sintesis dan degradasi karbohidrat, lemak dan protein. Tiroid dalam jumlah sedikit akan meningkatkan proses sintesis, sedangkan dalam jumlah besar akan menimbulkan efek degradasi. 
3. Efek simpatomimetik
Hormon tiroid meningkatkan respon sel target terhadap katekolamin (epinefrin dan norepinefrin) yang merupakan chemical messenger pada sistem saraf simpatis dan hormon dari medula adrenal. Tiroid memicu proliferasi reseptor katekolamin pada sel target.
4. Efek terhadap sistem kardiovaskular
Sebagai efek peningkatan respon terhadap katekolamin, tiroid dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kekuatan kontraksi sehingga meningkatkan cardiac output. Vasodilatasi perifer meningkatkan aliran panas ke permukaan tubuh untuk dilepaskan ke luar tubuh.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment