Saturday, April 16, 2011

Imunitas Aktif (Vaksinasi)

IMUNITAS AKTIF
OLEH RIZKA HANIFAH,

Imunitas (dari bahasa Latin, immunitas) atau kekebalan tubuh dapat didefinisikan sebagai perlindungan terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi, yang dimediasikan oleh molekul, sel, dan jaringan dalam sistem imunitas. Imunitas mencakup seluruh mekanisme tubuh yang ditujukan sebagai perlindungan terhadap agen-agen asing.1

Imunisasi dan Vaksinasi
Imunisasi (juga disebut immunoprophylaxis) adalah pemberian imunitas atau kekebalan terhadap suatu infeksi tertentu. Imunitas tersebut dapat digolongkan menjadi aktif dan pasif, serta alami dan buatan.2

Tabel 1. Imunisasi Aktif dan Pasif2
Tipe imunitas Cara mendapatkan
Aktif
Alami Infeksi
Buatan Vaksinasi
Pasif
Alami Transfer antibodi transplasental dan kolostral
Buatan Pemberian immune human globulin

Imunitas Aktif Didapat Natural (Naturally acquired active immunity)
Pajanan ke berbagai pathogen memicu infeksi sub-klinis atau klinis yang memberikan hasil berupa respon imun protektif terhadap pathogen.

Imunitas Aktif Didapat Buatan (Artificially acquired active immunity)
Imunisasi dapat diperoleh dengan memasukan pathogen atau komponennya dalam keadaan hidup atau mati. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif dapat berasal dari organisme hidup, organisme mati, dan komponen microbial atau toxin yang dihasilkan namun telah didetoksifikasi.

Vaksin adalah sediaan yang dimaksudkan untuk membangkitkan imunitas atau proteksi aktif terhadap suatu penyakit dengan cara merangsang produksi antibodi oleh tubuh.1Vaksin dapat dikombinasikan dengan ajuvan, yaitu bahan yang dapat meningkatkan proteksi yang dihasilkan suatu vaksin.3
Vaksin diklasifikasikan menjadi dua klas, yaitu vaksin hidup dan vaksin mati. Vaksin hidup berisi mikroorganisme yang telah dilemahkan virulensi (keganasannya). Pengurangan virulensi dikenal dengan istilah atenuasi (perlemahan). Cara atenuasi yang sederhana terhadap bakteri untuk keperluan vaksinasi adalah dengan pemanasan bakteri sampai tepat di bawah titik kematian atau memaparkan bakteri pada bahan kimia penginaktif sampai batas konsentrasi subletal. Menumbuhkan bakteri pada medium yang tidak cocok untuk pertumbuhannya. Cara etenuasi terhadap virus adalah dengan membiakkan pada spesies yang tidak sesuai untuk tumbuhnya Cara etenuasi yang umum adalah dengan memperpanjang masa pembiakannya di jaringan pembiak.
Baik vaksin hidup maupun vaksin mati memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan vaksin hidup antara lain adalah kekebalan yang dihasilkan sama dengan kekebalan yang diperoleh karena infeksi alami. Merangsang pembentukan antibodi yang lebih tahan lama dan juga memberi perlindungan pada pintu-pintu masuk antigen dan tidak perlu adjuvan. Kekurangan vaksin hidup, antara lain adalah adanya bahaya pembalikan menjadi lebih virulen selama multiplikasi antigen dalam tubuh yang divaksin. Penyimpanan dan masa berlaku vaksin yang terbatas, diperlukan stabilisator dalam penyimpanan. Tingginya resiko tercemar dengan organisme yang tidak diinginkan.
Kelebihan vaksin mati dibandingkan vaksin hidup antara lain adalah tidak menyebabkan penyakit akibat pembalikan virulensi dan mudah dalam penyimpanan. Kekurangan vaksin mati, antara lain adalah perlu perhatian yang luar biasa pada saat pembuatan guna memastikan bahwa tidak tersisa virus virulen aktif di dalam vaksin. Kekebalan berlangsung singkat, sehingga harus ditingkatkan kembali dengan pengulangan vaksinasi yang mungkin menimbulkan reaksi-reaksi hipersensitifitas.
Pada prakteknya, penggunaan istilah “imunisasi” dan “vaksinasi” sering disamakan. Tetapi, seperti yang tertera pada tabel, imunisasi merujuk pada segala upaya untuk memberikan kekebalan tubuh baik aktif maupun pasif; sedangkan vaksinasi merujuk pada pemberian kekebalan aktif secara sengaja dengan pemajanan antigen pada seseorang.1,2 Pada tinjauan pustaka ini, istilah imunisasi mengandung makna yang sama dengan vaksinasi.

Jenis Vaksin
Vaksin dapat digolongkan berdasarkan antigen yang terdapat di dalamnya8,14,19:
• Live vaccine
• Inactivated vaccine
Sifat vaksin attenuated dan inactivated berbeda, hal ini menentukan bagaimana vaksin ini digunakan.1 Vaksin hidup attenuated diproduksi di laboratorium dengan cara melakukan modifikasi virus atau bakteri penyebab penyakit. Vaksin mikroorganisme yang dihasilkan masih memiliki kemampuan untuk tumbuh menjadi banyak (replikasi) dan menimbulkan kekebalan tetapi tidak akan menyebabkan penyakit. Vaksin inactivated dapat terdiri atas seluruh tubuh virus atau bakteri, atau fraksi (komponen) dari kedua organisme tersebut. 1,2,4
Live Vaccine
Live vaccine umumnya berisi organisme (virus atau bakteri) yang sudah dilemahkan sehingga dikenal juga dengan sebutan attenuated live vaccine. Live vaccine dengan organisme yang tidak dilemahkan (natural live vaccine) sangat jarang dipakai.3 Attenuatedlive vaccine dibuat dari virus atau bakteri yang sudah dilemahkan dalam arti kemampuannya untuk menyebabkan penyakit sudah berkurang. Perubahan ini biasanya disebabkan oleh pembiakan berulang-ulang. Untuk menimbulkan respon imun,attenuated live vaccine harus dapat bereplikasi dalam tubuh resipien. Jadi, dosis kecil organisme yang diberikan dalam vaksin dapat bertambah banyak dan memicu respon imun.4
Sebagai vaksin hidup, organisme di dalamnya masih dapat menimbulkan penyakit, namun lebih ringan dibandingkan dengan penyakit alaminya sehingga dianggap sebagai kejadian ikutan (adverse event).Organisme di dalamnya juga secara teoritis dapat kembali bersifat patogenik. Selain itu, vaksin ini bersifat labil dan dapat rusak bila terkena panas atau sinar.4
Walaupun vaksin menyebabkan penyakit, umumnya bersifat ringan dibandingkan penyakit alamiah dan dianggap sebagai kejadian ikutan (adverse event). Respon imun terhadap vaksin pada umumnya sama dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah. Respon imun tidak membedakan antara suatu infeksi dengan virus vaksin yang dilemahkan.1
Imunitas aktif dari vaksin ini tidak dapat berkembang karena pengaruh antibodi yang beredar. Antibodi dari sumber apapun (misalnya transplasental, tranfusi) dapat mempengaruhi perkembangan vaksin mikroorganisme dan menyebabkan tidak adanya respon. Vaksin campak merupakan mikroorganisme yang paling sensitive terhadap antibodi yang beredar di dalam tubuh. Virus vaksin polio dan rotavirus paling sedikit terkena pengaruh.1
Vaksin hidup ini bersifat labil dan dapat mengalami kerusakan bila terkena sinar dan panas, maka harus melakukan pengelolaan dan penyimpanan dengan baik dan hati-hati.1

Inactivated Vaccine
Inactivated vaccine mengandung organisme mati yang masih utuh. Berbagai jenis vaksin golongan ini memiliki efektivitas yang berbeda-beda. Vaksin ini tidak dapat bereplikasi di dalam tubuh, sehingga seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Berbeda dengan vaksin hidup, vaksin inaktivasi tidak dapat menyebabkan penyakit dan tidak dapat berubah menjadi bersifat patogenik.4
Jenis lain dari vaksin inaktivasi adalah vaksin komponen. Vaksin dapat berisi toksoid atau toksin yang udah diinaktivasi. Bahan tersebutakan merangsang respon imun dari resipien. Vaksin polisakarida adalah vaksin subunit yang terdiri dari molekul gula yang membentuk kapsul bakteri. Terakhir, teknologi rekayasa genetika memungkinkan ragi mengekspresikan antigen permukaan virus hepatitis B.3
Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media biakan kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan penambahan bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin fraksional, organism tersebut dibuat murni dan hanya komponennya yang dimasukkan ke dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari kuman pneumokokus). 1
Vaksin inactivated tidak dapat tumbuh dan tidak hidup, maka seluruh dosis antigen dimasukkan ke dalam suntikan. Vaksin tidak menyebabkan penyakit (walaupun pada orang defisiensi imun) dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk patogenik. Tidak seperti antigen hidup, antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh antibodi yang beredar. Vaksin inactivated dapat diberikan saat antibodi berada di dalam sirkulasi darah. 1
Vaksin inactivated selelu membutuhkan dosis ganda. Pada umumnya, pada dosis pertama tidak menimbulkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu atau menyiapkan sistem imun. Respon imun protektif baru timbul setelah dosis kedua atau ketiga. Hal ini berbeda dengan vaksin hidup, yang mempunyai respon imun mirip atau sama dengan infeksi alami, respon imun terhadap vaksin inactivated sebagian besar humoral, hanya sedikit imunitas selular. Titer antibodi terhadap antigen inactivated membutuhkan dosis suplemen (tambahan) secara periodik. 1

Tabel 2. Jenis vaksin3

Live attenuated
Virus campak, gondongan, rubela, polio (oral)
Bakteri tuberkulosis (BCG)
Inactivated
Whole organism
Virus polio, rabies, influenza
Bakteri pertussis, tifoid, kolera
Toksin tetanus, difteri
Subunit
Virus hepatitis B (hasil rekayasa genetik pada ragi)
Polisakarida kapsul bakteri Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae B

Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I, vaccine-preventable diseases) adalah penyakit dengan vaksin yang terbukti efektivitasnya. Penyakit menular yang dimaksud meliputi tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, campak, poliomielitis, hepatitis B, hepatitis A, meningitis meningokokus, haemophilus influenzae B, kolera, rabies, Japanese encephalitis, tifus abdominalis, rubella, varicella, pneumoni pneumokokus, yellow fever, shigellosis, dan parotitis epidemica.4

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi
Seiring berkembangnya program vaksinasi, masyarakat mulai memperhatikan risiko-risiko yang terkait dengan vaksinasi. Sejak vaksinasi universal diberlakukan di seluruh dunia, kejadian ikutan pascaimunisasi juga semakin sering dilaporkan. Untuk itu diperlukan identifikasi kejadian ikutan pascaimunisasi agar penelitian ilmiah mengenai keamanan vaksinasi terus berkembang.
Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) atau adverseevents following immunization (AEFI) adalah kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, diduga dan dipercaya, akibat imunisasi. Kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi dapat berupa efek vaksin maupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, atau kesalahan akibat program, koinsidensi, reaksi suntikan, atau hubungan kausal yang tidak dapat ditemukan.
Gejala KIPI yang disebabkan vaksin umumnya sudah diprediksi dan secara klinis biasanya ringan.Reaksi ini sudah teridentifikasi dan tercantum pada petunjuk pemakaian vaksin. Reaksi terhadap vaksin dapat bersifat sebagai reaksi lokal, sistemik, dan reaksi vaksin berat.
• Reaksi lokal: nyeri di tempat suntikan, bengkak kemerahan di tempat suntikan 10%, bengkak pada suntikan DTP dan tetanus (50%), BCG scar
• Reaksi sistemik: demam (10%, pada DTP hampir 50%), pembengkakan kelenjar parotis pada mumps; diare, pusing, dan nyeri otot pada kurang dari 1% polio
• Reaksi vaksin berat: kejang, trombositopenia, hypotonic hyporesponsive episode, persistent inconsolable screaming, anafilaksis, ensefalopati akibat imunisasi campak atau DTP
Hubungan antara KIPI dengan vaksin juga diklasifikasikan menurut kriteria yang dibuat oleh WHO.
• Very likely/certain
• Probable
• Possible
• Unlikely
• Unclassifiable

Kegagalan Vaksinasi
Beberapa factor yang menyebabkan kegagalan vaksinasi adalah menyangkut life span vaksin, cara vaksinasi, antibodi maternal, kemampuan membentuk antibodi pada tubuh, dll.

1. Vaksin. Pembatasan life span (masa berlaku) vaksin yang sudah lewat atau kadaluwarsa menyebabkan vaksin tidak berguna apabila digunakan karena tidak akan menghasilkan imunitas yang diharapkan. Apabila temperatur pada saat penyimpanan dan transportasi vaksin di atas 4 derajat celcius, maka vaksin akan kehilangan potensinya. Demikian pula vial dan bahan asal vial yang tidak memenuhi syarat. Bahan pengencer yang disediakan berkualitas rendah. Seringkali digunakan bahan pengencer berupa air sumur, air destilasi atau garam fisiologis, hal ini tidak dibenarkan. Perlu dicatat bahwa bahan pengencer yang digunakan adalah yang telah disediakan oleh pabrik pembuat vaksin. Bahan pengencer tidak boleh dicampur atau ditambahkan zat apapun.
2. Cara Vaksinasi. Secara khusus dosis dan cara/route pemberian vaksin tertentu sudah ditetapkan oleh produsen pembuat vaksin. Apabila hal tersebut dilakukan tidak sesuai aturan maka terjadilah kegagalan vaksin. Jarum suntik dan dropper yang tidak steril dan tidak stabil akan mengurangi potensi vaksin.
3. Salah dosis, kekurangan dosis vaksin akan menimbulkan imunitas yang kurang. Kelebihan dosis akan menimbulkan immunotolerant dan harga vaksin menjadi mahal.
4. Bahan pengencer yang tidak steril menjadikan vaksin tidak murni lagi.
5. Route pemberian vaksin harus dilakukan sesuai petunjuk produsen vaksin. Kesalahan route pemberian vaksin menyebabkan potensi imunitas yang dihasilkan kurang memuaskan.
6. Beberapa vaksin harus diulang pemberiannya dan dikenal dengan istilah booster. Apabila rangkaian pemberian vaksin yang mungkin terdiri dari booster I dan booster II dan seterusnya tidak lengkap dilakukan , maka imunitas yang diharapkan tidak akan tercapai.
7. Antibodi Maternal. Antibodi maternal adalah antibodi yang berasal dari ibu yang diturunkan kepada anak. Kegunaan antibodi tersebut adalah untuk ketahanan tubuh anak terutama pada awal-awal kehidupannya. Antibodi ini diperoleh secara pasif. Vaksinasi yang dilakukan pada saat antibodi maternal masih ada dalam darah sirkulasi, artinya belum secara total dikatabolisme, maka vaksin yang diberikan akan percuma, karena dinetralisir oleh antibodi maternal.
8. Cold Storage (pendingin). Vaksin harus dipertahankan tetap dingin dari mulai dikeluarkan oleh pabrik pembuat sampai pada saat akan diberikan kepada tubuh. Vaksin dan bahan pengencer kadang-kadang menjadi satu tempat, akan tetapi kadang juga terpisah dengan temperatur penyimpanan yang berbeda, hal ini tergantung dari pabrik pembuat vaksin. Tindakan yang lebih hati-hati adalah apabila selama transportasi vaksin ditempatkan di ice box sehingga temperature yang rendah dapat selalu dipertahankan.
9. Kemampuan Membentuk Antibodi. Vaksin yang diberikan akan berhubungan langsung dengan status imun ayam yang menerima vaksin. Immunocompetence adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan kemampuan membentuk antibody yang dimiliki oleh tubuh. Immunocompetence sangat dipengaruhi oleh factor kongenital (bawaan lahir) dan faktor lingkungan. Faktor kongenital yang banyak berperan adalah organ-organ limfoid, yang akan menghasilkan sel-sel limfosit. Apabila ada gangguan pembentukan antibodi oleh organ-organ limfoid di atas maka kekebalan tubuh yang terbentuk pun akan terganggu. Faktor lingkungan yang berperan menentukan immunocompetence tubuh adalah status nutrisi dan penyakit. Nutrisi yang jelek terutama kandungan protein yang rendah akan menurunkan immunocompetence.

Upaya Mengatasi Kegagalan Vaksinasi
Beberapa tindakan untuk mengatasi kegagalan program vaksinasi yang perlu diketahui adalah
(1) vaksin harus diperoleh dari sumber terpercaya, periksa batas waktu pemakaian dan pilih vaksin yang masih panjang batas waktu pemakaiannya
(2) selama transportasi vaksin, hindarkan vaksin dari kontaminasi dan cahaya matahari. Tindakan yang paling aman adalah menyimpan vaksin dalam termos atau ice box
(3) apabila vaksin disimpan, usahakan temperatur penyimpanan sesuai petunjuk pabrik. Baca secara hati-hati petunjuk penyimpanan. Kadang-kadang antara vaksin dengan pengencernya terpisah dan harus harus disimpan pada temperatur yang berbeda
(4) bisa diberikan adjuvant atau immunomodulator untuk mencapai immunocompetence yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ranuh IGN. Imunisasi upaya pencegahan primer. In: Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, editors. Pedoman imunisasi di Indonesia. 3rded. Jakarta:Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008.p2-9.
2. WHO. Vaccine-preventable diseases. Geneva: World Health Organization. [cited 2009 June 13] Available from http://www.who.int/immunization_monitoring/diseases/en/
3. Abbas AK, Lichtman AH. Cellular and molecular immunology. 5thed, updated. Philadelphia, United States: Elsevier Saunders, 2005.
4. Baratawidjaya KG, Rengganis I. Imunologi dasar. Edisi ke-9. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. h. 577-8.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment