Friday, April 8, 2011

Imunostimulan

IMUNOSTIMULAN
Rizka Hanifah

Imunostimulan ditujukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisi-kondisi imunosupresi. Kelompok ini mempengaruhi respon imunitass selular dan humoral. Kelemahannya adalah obat ini memiliki efek yang menyeluruh dan tidak spesifik untuk jenis sel atau antibodi tertentu. Selain itu efek umumnyanya lemah. Indikasi penggunaan imunostimulan adalah keganasan, AIDS, infeksi kronik, yang terutama melibatkan sistem limfatik.

Imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan tetapi sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang berperan pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena induktor paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui sistem komplemen atau limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis mikro dan makro. Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi, hingga mempersulit penggunaan imunomodulator, dalam praktek.
Karakteristik imunomodulator dan metode penguji
Aktivitas suatu senyawa yang dapat merangsang sistem imun tidak tergantung pada ukuran molekul tertentu. Efek ini dapat diberikan baik oleh senyawa dengan berat molekul yang kecil maupun oleh senyawa polimer. Karena itu usaha untuk mencari senyawa semacam ini hanya dapat dilakukan dengan metode uji imunbiologi saja. Metode pengujian yang dapat dilakukan adalah metode in vitro dan in vivo, yang akan mengukur pengaruh senyawa kimia terhadap fungsi dan kemampuan sistem mononuklear, demikian pula kemampuan terstimulasi dari limfosit B & T.


Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan,yaitu:
1.       Metode bersihan karbon (“Carbon-Clearance”) Pengukuran secara spektrofluorometrik laju eliminasi partikel karbon dari daerah hewan. Ini merupakan ukuran aktivitas fagositosis.
2.       Uji granulosit Percobaan in vitro dengan mengukur jumlah sel ragi atau bakteri yang difagositir oleh fraksi granulosit yang diperoleh dari serum manusia. Percobaan ini dilakukan di bawah mikroskop.
3.       Bioluminisensi radikal Jumlah radikal 02 yang dibebaskan akibat kontak mitogen dengan granulosit atau makrofag, merupakan ukuran besarnya stimulasi yang dicapai.
4.       Uji transformasi limfosit T Suatu populasi limfosit T diinkubasi dengan suatu mitogen. Dengan mengukur laju permbentukan dapat ditentukan besarnya stimulasi.

Persyaratan imunomodulator
Menurut WHO, imunomodulator haruslah memenuhi persyaratan berikut:
1.       Secara kimiawi murni atau dapat didefinisikan secara kimia.
2.       Secara biologik dapat diuraikan dengan cepat.
3.       Tidak bersifat kanserogenik atau ko-kanserogenik.
4.        Baik secara akut maupun kronis tidak toksik dan tidak mempunyai efek samping farmakologik yang merugikan.
5.       Tidak menyebabkan stimulasi yang terlalu kecil ataupun terlalu besar.

Dasar fungsional paramunitas
1.       Terjadinya peningkatan kerja mikrofag dan makrofag serta pembebasan mediator.
2.       Menstimulasi limfosit (yang berperan pada imunitas tetapi belum spesifik terhadap antigen tertentu), terutama mempotensiasi proliferasi dan aktivitas limfosit.
3.       Mengaktifkan sitotoksisitas spontan.
4.       Induksi pembentukan interferon tubuh sendiri.
5.       Mengaktifkan faktor pertahanan humoral non spesifik (misalnya sistem komplemen properdin-opsonin).
6.       Pembebasan ataupun peningkatan reaktivitas limfokin dan mediator atau aktivator lain.
7.       Memperkuat kerja regulasi prostaglandin.


Imunostimulan biologik
Nukleotida  

Nukleotida terdapat pada air susu ibu. Akhir-akhir ini banyak susu formula yang diberi suplementasi nukleotida. Pada penelitian uji banding kasus yang dilakukan pada bayi, satu kelompok diberikan susu ibu atau susu formula yang disuplementasi nukleotida, dibandingkan dengan kelompok yang diberikan susu formula tanpa nukleotida, ternyata terdapat peningkatan aktifitas sel NK pada bayi-bayi yang diberi susu ibu dan formula dengan nukleotida dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula tanpa nukleotida. Peneliti yang sama mendapatkan peningkatan produksi IL-2 oleh sel monosit pada kelompok yang diberi susu formula dengan nukleotida. Nukleotida juga mengaktifkan sel T dan sel B.
  
Kolostrum  
Kolostrum mengandung  “interferon like substance”, dapat menyebabkan aktifasi sitotoksisitas leukosit. Kolostrum juga mengandung makrofag yang berfungsi sebagai penyimpan dan pengangkut imunoglobulin. 

Gonadotropin-releasing hormone’ (GnRH)  
Gonadotropin-releasing hormone meningkatkan pertumbuhan makrofag, sel T dan merangsang sumsum tulang.

Hormon timus 
Hormon timus berperan dalam sel T dan modulasi sel T yang sudah matang. Ada empat macam hormon timus, yaitu timosin a, timolin, timopoietin, dan faktor timus humoral. Hormon tersebut digunakan untuk memperbaiki gangguan fungsi sistem imun pada keadaan usia lanjut, kanker, autoimun, dan kegagalan sistem imun pada pengobatan dengan imunosupresan. Pada kasus tersebut pemberian hormon timus menimbulkan peningkatan jumlah dan fungsi reseptor sel T serta beberapa aspek imunitas selular. Efek samping yang mungkin timbul seperti pemberian hormon yang lain adalah reaksi alergi lokal maupun sistemik.

Limfokin
Limfokin atau sitokin dihasilkan oleh limfosit yang mengalami aktivasi. Ada beberapa limfokin antara lain faktor aktivasi makrofag (MAF), faktor pertumbuhan makrofag (MGF), faktor pertumbuhan sel T (IL-2), faktor stimulasi koloni (CSF), interferon gamma. Faktor yang dihasilkan oleh makrofag misalnya faktor nekrosis tumor (TNF). IL-2 dan TNF telah dapat dibuat dengan bioteknologi genetika. TNF pada percobaan dapat menyembuhkan beberapa tumor pada tikus. Gangguan sintesis IL-2 ada kaitannya dengan kanker, AIDS, usia lanjut dan penyakit autoimun.

Interferon
Ada tiga macam interferon, interferon alfa (IFN-α) yang dihasilkan leukosit, interferon beta (IFN-β) yang dihasilkan fibroblast, dan interferon gama (IFN-γ =  interferon imun) yang dihasilkan oleh sel T yang teraktivasi. Interferon mempunyai khasiat dapat menghambat replikasi DNA dan RNA virus, sel normal dan sel ganas, dapat memodulasi sistem imun. Interferon dalam dosis tinggi menghambat penggandaan sel B dan sel T sehingga menurunkan respons imun selular dan humoral, dan dalam dosis rendah mengatur produksi antibodi serta merangsang sistem imun yaitu meningkatkan aktivitas membunuh sel NK, makrofag dan sel T. Dalam klinik, IFN digunakan pada berbagai kanker seperti melanoma, karsinoma sel ginjal, leukimia mielositik kronik, hairy cell leukimia, dan kapossi’s sarkoma.Efek sampingnya adalah demam, malaise, mialgia, mual, muntah, mencret, leukopenia, trombositopenia, dan aritmia.

Antibodi monoklonal 
Antibodi monoklonal diproduksi secara rekayasa bioteknologi. Dengan cara ini akan dihasilkan antibodi dalam jumlah banyak terhadap epitop tunggal antigen yang dikehendaki. Penggunaannya bersama radioisotop, toksin atau obat lain terutama pada pengobatan neoplasma. Antibodi monoklonal dapat mengikat komplemen untuk membunuh sel tumor manusia dan tikus pada percobaan in vivo.

Bahan dari jamur 
Bahan yang dapat diisolasi dari jamur antara lain lentinan, krestin danschizophyllan. Efek imunostimulasinya adalah meningkatkan fungsi makrofag. Krestin dan lentinan sebagai imunostimulator nonspesifik telah banyak digunakan pada pengobatan kanker.

Bahan dari bakteri
  1. Corynebacterium parvum  Corynebacterium parvum adalah kuman Gram positif. Digunakan sebagai imunostimulator dalam bentuk suspensi kuman yang telah dimatikan dengan pemanasan. Dalam klinik digunakan untuk mencegah pertumbuhan tumor dan mengurangi metastasis.
  2. Lactobacillus acidophilus  Dalam penelitian merupakan dapat menyebabkan pergeseran pola Th-2 ke arah Th-1 walaupun hanya secara lemah meningkatkan IFN-g.
  3. Endotoksin  Endotoksin merupakan lipopolisakarida, komponen dari dinding sel bakteri gram negatif seperti E. coli, shigela, dan salmonela. Sebagai imunomodulator diketahui dapat merangsang penggandaan sel B maupun sel T dan mengaktifkan makrofag. Masih bersifat eksperimen karena bersifat pirogenik dan imunogenik.

Imunostimulan sintetik

Levamisol  Dalam klinik lazim dipakai sebagai obat cacing, dan sebagai imunostimulan levamisol berkhasiat untuk meningkatkan penggandaan sel T, menghambat sitotoksisitas sel T, mengembalikan anergi pada beberapa kanker (bersifat stimulasi nonspesifik), meningkatkan efek antigen, mitogen, limfokin dan faktor kemotaktik terhadap limfosit, granulosit dan makrofag. Selain untuk penyakit hodgkin, penggunaan klinisnya untuk mengobati artritis reumatoid, penyakit virus, lupus eritematosus sistemik, sindrom nefrotik. Diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgBB per oral selama 2 minggu, kemudian dosis pemeliharaan beberapa hari per minggu. Efek samping yang harus diperhatikan adalah mual, muntah, urtikaria, dan agranulositosis. Obat i9ni diabsorpsi dnegan cepat dengan kadar puncak 1-2 jam. Obat ini didistribusikan luas ke berbagai jaringan dan dimetabolisme di hati. Tersedia dalam bentuk tablet 25,40,50 mg.

Isoprinosin  Sebagai imunostimulator isoprinosin berkhasiat meningkatkan penggandaan sel T, meningkatkan toksisitas sel T, membantu produksi IL-2 yang berperan dalam diferensiasi limfosit dan makrofag, serta meningkatkan fungsi sel NK. Diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB. Perlu pemantauan kadar asam urat darah karena pemberian isoprinosin dapat meningkatkan kadar asam urat.
Berbagai derivat sintetiknya sedang dalam penyelidikan untuk AIDS dan berbagai neoplasma. Obat ini dilaporkan mengurangi risiko infeksi terhadap HIV pada tahap lanjut.

Sitokin. Sitokin merupakan kelompok protein yang diproduksi oleh leukosit dan sel-sel yang berkaitan, memiliki peranan khusus dalam sistem imun dan hematopoesis. Sitokin yang sering digunakan di klinik antara lain IL-2, IFN, dan colony stimulatin Factor. IL-2 yang disebut juga T cell growth factor kini tersedia dalam bentuk rekombinan. IL-2 akan meningkatkan ploriferasi dan differensiasi sel Th dan Tc. Selain itu juga merangsang proliferasi dan differensiasi sel B, makrofag, dan meningkatkan sitotoksisitas sel NK. IL-2 digunakan secara IV atau infus kontinu. Efek samping IL=2 adalah hipotensi berat dan cardiotoksisitas. Pada ginjal ddapat meningkatkan kreatinin dan pada sistem hematologi menimbulkan supresi sumsum tulang. Pada SSP juga dapat menyebabkan delirium.

Colony Stimulating Factors. Granulocyte colony stimulating factor (G-CSF), seperti filgastrim dan levogastrim telah disetujui penggunaannya untuk mencegah neutropenia akibat kemoterapi kanker. Granulocyte Macrofag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) digunakan untuk penyelamatan kegagalan transplantasi sumsum tulang dan untuk mempercepat pemulihan setelah transparantasi sumsum tulang autolog.

Muramil dipeptida (MDP)  MDP adalah komponen aktif terkecil dari dinding sel mikobakterium. Bahan tersebut kini dapat dibuat secara sintetik. Sebagai imunostimulan berkhasiat meningkatkan sekresi enzim dan monokin, serta bersama minyak dan antigen dapat meningkatkan respons selular maupun humoral. Dalam klinik telah banyak digunakan untuk pencegahan tumor dan infeksi sebagai ajuvan vaksin.

Vaksin BCG. BCG dan komponen aktifnya merupakan produk bakteri yang emmeiliki efek imunostimulan.  Penggunaan BCG dalam imunopotensiasi bermula dari pengamatan bahwa penderita tuberkulosis kelihatan lebih kebal terhadap infeksi oleh jasad renik lain. Dalam imunomodulasi BCG digunakan untuk mengaktifkan sel T, memperbaiki produksi limfokin, dan mengaktifkan sel NK. Walaupun sudah dicoba untuk berbagai neoplasma, efek yang cukup nyata terlihat pada kanker kandung kemih dengan pemberian intravesika. Efek samping meliputi reaksi hipersensitivitas, syok, menggigil, lesu, dan penyakit kompleks imun.

DAFTAR PUSTAKA

1.       Gunawan SG, Setiabudy R, dkk. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.
2.       Anonim. Imunostimulan Pedang Bermata Dua. Buletin IDAI No 52 TH XXVII. Juni 2007.
3.       Mullins RJ. Echinacea. November, 2010. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/natural/981.html pada tanggal 6 April 2011. 
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment