Friday, April 1, 2011

Komplikasi dan Pencegahan Demam Berdarah (Dengue)

KOMPLIKASI DAN PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH
Oleh Rizka Hanifah, 0806324431

Pendahuluan


Demam Berdarah Dengue (DBD) bukanlah sebuah penyakit baru di Indonesia. Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh Indonesia mencapai 26.015 penderita dari jumlah penduduk sebesar 238,452,946 jiwa, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang. Kasus tertinggi terdapat di DKI Jakarta yakni 11.534 orang. Pada bulan Desember 2006, data terakhir menunjukkan adanya penurunan maupun kenaikan jumlah penderita untuk beberapa propinsi di Indonesia. Ada enam propinsi yang mengalami penurunan jumlah penderita dari 672 kasus menjadi 136 kasus. Akan tetapi ada sebelas propinsi yang mengalami kenaikan jumlah penderita dari 4553 kasus meningkat menjadi 7883 kasus, sehingga dapat diperkirakan peningkatan yang terjadi hampir mencapai 50 persen. Hingga tanggal 31 Januari 2007 DBD telah menelan 144 korban jiwa dari total penderita sebanyak 8.019 orang. Sementara itu dari 2.066 penderita DBD di Jawa Tengah selama Januari sampai pertengahan Februari 2004 sedikitnya 55 orang meninggal dunia dengan jumlah penduduk 32.397.431 jiwa.1 
Salah satu faktor yang mendorong peningkatan kasus DBD adalah keterbatasan petugas-petugas kesehatan untuk melakukan penyuluhan secara berkesinambungan. Akan tetapi kepedulian masyarakat terhadap hal tersebut juga masih kurang sehingga perlu adanya peningkatan kegiatan penyuluhan dari petugas kesehatan kepada masyarakat baik perorangan, keluarga dan masyarakat umum. Selama ini partisipasi masyarakat dalam mengikuti kegiatan dibidang kesehatan masih kurang. Hal itu terlihat dari keikutsertaan masyarakat belum maksimal dan belum sepenuhnya melibatkan semua lapisan masyarakat. Selama ini partisipasi dalam upaya pencegahan DBD baru dilakukan oleh ibu rumah tangga saja di tingkat keluarga. Pernyataan ini diperkuat oleh sumber yang menyebutkan bahwa subjek penelitian dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk adalah ibu rumah tangga sedangkan anggota keluarga yang lain belum banyak terlibat seperti halnya remaja.1

Komplikasi akibat DBD 

Kebanyakan orang yang menderita DBD pulih dalam waktu dua minggu. Namun, untuk orang-orang tertentu dapat berlanjut untuk selama beberapa minggu hinga berbulan-bulan. Gejala klinis yang semakin berat pada penderita DBD dan dengue shock syndromes dapat berkembang menjadi gangguan pembuluh darah dan gangguan hati. Hal ini tentu dapat mengancam jiwa.2,3

Sindrom Syok Dengue (SSD)4
Seluruh kriteria Demam Berdarah Dengue (DBD) disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi: 
Nadi yang cepat dan lemah
Tekanan darah turun (≤ 20 mmHg)
Hipotensi (dibandingkan standar sesuai umur)
Kulit dingin dan lembab
Gelisah
Sindrom syok dengue, menurut sumber lain3: pada penderita DBD yang disertai syok, setelah demam berlangsung selama beberapa hari, keadaan umum penderita tiba-tiba memburuk. Pada sebagian besar penderita ditemukan tanda kegagalan peredaran darah yaitu kulit teraba lembab dan dingin, sianosis sekitar mulut, nadi menjadi cepat dan lemah, kecil sampai tidak dapat diraba. Tekanan darah menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, dan tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Penderita kelihatan lesu, gelisah, dan secara cepat masuk dalam fase kritis syok. Penderita seringkali mengeluh nyeri di daerah perut sesaat sebelum syok timbul. Nyeri perut hebat seringkali mendahului perdarahan gastrointestinal, dan nyeri di daerah retrosternal tanpa sebab yang dapat dibuktikan memberikan petunjuk terjadinya perdarahan gastrointestinal yang hebat. Syok yang terjadi selama periode demam biasanya mempunyai prognosis buruk. 
Tatalaksana sindrom syok dengue sama dengan terapi DBD, yaitu pemberian cairan ganti secara adekuat. Pada sebagian besar penderita, penggantian dini plasma secara efektif dengan memberikan cairan yang mengandung elektrolit, ekspander plasma, atau plasma, memberikan hasil yang baik. Nilai hematokrit dan trombosit harus diperiksa setiap hari mulai hari ke-3 sakit sampai 1-2 hari setelah demam menjadi normal. Pemeriksaan inilah yang menentukan perlu tidaknya penderita dirawat dan atau mendapatkan pemberian cairan intravena.
Komplikasi menurut sumber lain:5

Ensefalopati Dengue 
Pada umumnya ensefalopati terjadi sebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan pendarahan, tetapi dapat juga terjadi pada DBD yang tidak disertai syok. Gangguan metabolik seperti hipoksemia, hiponatremia, atau perdarahan, dapat menjadi penyebab terjadinya ensefalopati. Melihat ensefalopati DBD bersifat sementara, maka kemungkinan dapat juga disebabkan oleh trombosis pembuluh darah –otak, sementara sebagai akibat dari koagulasi intravaskular yang menyeluruh. Dilaporkan bahwa virus dengue dapat menembus sawar darah-otak. Dikatakan pula bahwa keadaan ensefalopati berhubungan dengan kegagalan hati akut.
Pada ensefalopati cenderung terjadi udem otak danalkalosis, maka bila syok telah teratasi cairan diganti dengan cairan yang tidak mengandung HC03- danjumlah cairan harus segera dikurangi. Larutan laktat ringer dektrosa segera ditukar dengan larutan NaCl (0,9%) : glukosa (5%) = 1:3. Untuk mengurangi udem otak diberikan dexametason 0,5 mg/kg BB/kali tiap 8 jam, tetapi bila terdapat perdarahan saluran cerna sebaiknya kortikosteroid tidak diberikan. Bila terdapat disfungsi hati, maka diberikan vitamin K intravena 3-10 mg selama 3 hari, kadar gula darah diusahakan > 80 mg. Mencegah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial dengan mengurangi jumlah cairan (bila perlu diberikan diuretik), koreksi asidosis dan elektrolit. Perawatan jalan nafas dengan pemberian oksigen yang adekuat. Untuk mengurangi produksi amoniak dapat diberikan neomisin dan laktulosa. Usahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan (misalnya antasid, anti muntah) untuk mengurangi beban detoksifikasi obat dalam hati. Transfusi darah segar atau komponen dapat diberikan atas indikasi yang tepat. Bila perlu dilakukan tranfusi tukar. Pada masa penyembuhan dapat diberikan asam amino rantai pendek.


Kelainan ginjal 
Gagal ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase terminal, sebagai akibat dari syok yang tidak teratasi dengan baik. Dapat dijumpai sindrom uremik hemolitik walaupun jarang. Untuk mencegah gagal ginjal maka setelah syok diobati dengan menggantikan volume intravaskular, penting diperhatikan apakah benar syok telah teratasi dengan baik. Diuresis merupakan parameter yang penting dan mudah dikerjakan untuk mengetahui apakah syok telah teratasi. Diuresis diusahakan > 1 ml / kg berat badan/jam. Oleh karena bila syok belum teratasi dengan baik, sedangkan volume cairan telah dikurangi dapat terjadi syok berulang. Pada keadaan syok berat sering kali dijumpai acute tubular necrosis, ditandai penurunan jumlah urin dan peningkatan kadar ureum dan kreatinin.

Udem paru 
Udem paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagai akibat pemberian cairan yang berlebihan. Pemberian cairan pada hari sakit ketiga sampai kelima sesuai panduan yang diberikan, biasanya tidak akan menyebabkan udem paru oleh karena perembesan plasma masih terjadi. Tetapi pada saat terjadi reabsorbsi plasma dari ruang ekstravaskuler, apabila cairan diberikan berlebih (kesalahan terjadi bila hanya melihat penurunan hemoglobin dan hematokrit tanpa memperhatikan hari sakit), pasien akan mengalami distress pernafasan, disertai sembab pada kelopak mata, dan ditunjang dengan gambaran udem paru pada foto rontgen dada. 

Komplikasi demam berdarah biasanya berasosiasi dengan semakin beratnya bentuk demam berdarah yang dialami, pendarahan, dan shock syndrome. Komplikasi paling serius walaupun jarang terjadi adalah sebagai berikut:
dehidrasi
Pendarahan
Jumlah platelet yang rendah
hipotensi
bradikardi
Kerusakan hati
Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit, bervariasi dari hanya sekedar dapat diraba (just palpable) sampai 2-4 cm di bawah lengkung iga kanan, derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit. Untuk menemukan pembesaran hati ,harus dilakukan perabaan setiap hari. Nyeri tekan di daerah hati sering kali ditemukan dan pada sebagian kecil kasus dapat disertai ikterus. Nyeri tekan di daerah hati tampak jelas pada anak besar dan ini berhubungan dengan adanya perdarahan.5
Gangguan neurogik (kejang, ensephalopati)


Pencegahan 

Mengingat obat dan vaksin pencegah penyakit DBD hingga dewasa ini belum tersedia, maka upaya pencegahan dan pemberantasan DBD, dilakukan dengan cara memberantas nyamuk Aedes yang merupakan vector penyakit DBD. Pemberantasan vector ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan insektisida dan tanpa insektisida. Insektisida yang umum digunakan dalam pemberantasan DBD adalah bubuk abate, dengan penaburan bubuk abate di sekolah, tempat – tempat umum dan disemua tempat penampungan air, dirumah dan bangunan yang ditemukan jentik Aedes aegypti ditaburi bubuk abate sesuai dengan dosis 1 sendok makan (10 g) abate untuk 100 liter air. 
Pemberantasan DBD tanpa menggunakan insektisida dilakukan dengan cara 3M di rumah dan halaman masing-masing dengan melibatkan seluruh keluarga, dengan cara sebagai berikut :1,2
Menguras bak mandi sekurang-kurangnya 1 minggu sekali
Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
Mengganti air Vas bunga/tanaman air seminggu sekali
Mengganti air tempat minum burung
Menimbun barang-barang bekas yang dapat menampung air
Menabur bubuk abete atau altosid pada tempat-tempat penampungan air yang sulit dikuras atau di daerah yang air bersih sulit didapat, sehingga perlu penampungan air hujan
Memelihara ikan di tempat-tempat penampungan air. Takaran abate : 1 sendok peres (+ 10 gram) untuk 100 liter air. Takaran altosid : 1/4 sendok peres (+ 2,5 gram) untuk 100 liter


CDC (2010) telah memberikan aturan umum untuk mencegah transfer virus dan patogen lain yang disebabkan nyamuk dan vektor pengigit lainnya.6 
Mencegah Wabah: Untuk menjauhkan kemungkinan, pejalan sebaiknya menghindari daerah-daerah yang terkenal sebagai transmisi penyakit. CDC Travelers' Health telah memberikan informasi-informasi mengenai daerah yang berpotensi mentransmisikan penyakit. 
Sadari puncak pajanan dalam aspek waktu dan tempat.Pajanan gigitan artopoda dapat berkurang jika pejalan memodifikasi aktivitas dan kebiasaan mereka. Walaupun nyamuk dapat mengigit kapanpun dalam sehari, namun aktivitas tertinggi gigitan dari vektor untuk penyakit-penyakit tertentu (dengue dan chikunguya) adalah sepanjang pagi dan siang. Vektor untuk penyakit lain seperti malaria lebih aktif pada hari senja atau malam hari. Hindari pergi keluar ruangan atau mengurangi aktivitas saat pajanan sedang tinggi. Lokasi juga harus diperhatikan tempat yang berumput dan atau tumbuh-tumbuhan sering sebagai lokasi pengigitan. Kantor kesehatan resmi setempat juga dapat membantu menunjukan tempat-tempat yang memiliki aktivitas artopoda tertinggi. 
Menggunakan pakaian yang sesuai. Pejalan dapat meminimalisasi pajanan kulit dengan menggunakan pakaian lengan panjang, celana panjang, sepatu boot, dan topi. Pembasi insektisida seperti permetrin dapat diaplikasikan ke baju dan perlengkapan untuk proteksi tambahan. 
Kelambu: kelambu penting untuk memberikan proteksi dan mengurangi ketidaknyamanan karena gigitan nyamuk. Jika kelambu tidak dapat mennyentuh tanah, kelambu dapat diselipkan di bawah kasur. Kelambu menjadi lebih efektif bila diberikan permetrin.Permetrin dapat berfungsi selama beberapa bulan jika kelambu tidak dicuci. 
Insektisida: Aerosol insektisida, obat nyamuk dapat membantu namun perlu dihindari inhalasi langsung. 
Pembasmi nyamuk. CDC merekomendasikan pembasmi nyamuk harus mengandung hingga 50% DEET (N,N-diethyl-m-toluamide).



DAFTAR PUSTAKA
Rahmawati I. Partisipasi Remaja Sma Dalam Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kecamatan Sukoharjo. Surakarta. 2008. Diunduh dari http://etd.eprints.ums.ac.id/2721/1/J410040019.pdf pada 28 Maret 2011
Kasper DL, dkk. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16 ed. New York: Mc-Graw Hill. 2005.
Anonim. Dengue Fever. National Institute of Allergy and Infectious Disease. 2007. Diunduh dari http://www.niaid.nih.gov/topics/denguefever/understanding/pages/complications.aspx pada 28 Maret 2011
Aru WS, Bambang S, Idrus A, Marcellus SK, Siti S. Demam Berdarah Dengue in Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi VI. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. Jakarta. h.1711.
Suroso. T. Hadinegoro SR, Wuryadi S, Sumanjuntak G, Umar AI, Pitoyo PD, et.al. Penyakit Demam Berdarah Dengue dan Demam Berdarah Dengue. WHO dan Depkes. RI, Jakarta 2000. P.3 – 58
P Charles. Dengue Fever. Diunduh dari http://www.emedicinehealth.com/dengue_fever/page10_em.htm#prevention pada tanggal 28 Maret 2011

Reaksi:

4 komentar: