Saturday, May 7, 2011

Tumor Like Lesion - Lesi Prekanker

Tumor-Like Lesions
LESI PREKANKER
Oleh Rizka Hanifah

Aktinik Keratosis
                Keratosis aktinik(AK) merupakan neoplasma kulit yang mengandung proliferasi dari keratinosit epidermis yang menunjukkan gambaran sitologik yang menyimpang akibat pajanan radiasi sinar UV. AK merupakan lesi prekanker yang dapat berkembang menjadi Squamous Cell Carcinoma (SCC), sekalipun tidak semua AK akan menjadi SCC. AK merupakan prediktor utama dalam menentukan apakah seorang individu akan mengalami kanker kulit melanoma ataupun non-melanoma.
                Faktor resiko AK antara lain adalah usia tua, jenis kelamin (umumnya laki-laki), kulit yang terang dan mudah mengalami sunburn, pajanan kumulatif terhadap UV, immunosupresi, riwayat kanker sebelumnya, dan riwayat sindrom genetik seperti xeroderma pigmentosum. Sinar UV yang merupakan faktor utama dari AK menginduksi terjadinya AK dengan dua cara. Pertama, pajanan sinar UV memicu mutasi gen yang memicu munculnya tumor. Selanjutnya, sinar UV bertindak sebagai immunosupresan yang mencegah penolakan terhadap tumor.
                AK muncul pada daerah-daerah yang sering terpajan matahari. Gejala umum dari AK adalah pruritus, rasa terbakar dan tersengat, perdarahan, dan adanya krusta. Lesi AK yang tipikal adalah erythematous AK yang berukuran 2-6 mm, berwarna merah, rata, kasar, atau berupa papul bersisik. Akan tetapi, masih banyak jenis-jenis lain dari AK.

                Pada histopatologik, kelainan hanya terjadi pada epidermis, sekalipun infiltrat peradangan pada dermis dapat terlihat. Temuan histopatologik lainnya adalah keratinosit yang atipikal, pleomorfik, terutama pada stratum basale. Terlihat pula akantosis, hiperkeratosis, dan parakeratosis. Adneksa kulit biasanya tetap ada, dan tetap ortokeratosis sekalipun diselingi oleh parakeratosis. Perbandingan nukleus-sitoplasma yang meningkat pada keratinosit atipikal dan mitosis juga terlihat. Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk membedakan AK dengan SCC yang merupakan diagnosis banding utama. Diagnosis banding lainnya antara lain lentigo, veruka vulgaris, psoriasis, dermatitis seboroik, liken planus, dan keratosis tipe lainnya.
                Prognosis dari AK terbagi menjadi 3, persisten, regresi, atau bertransformasi menjadi keganasan (SCC). Adalah suatu hal yang mustahil untuk mengetahui akan menjadi apa AK selanjutnya. Resiko AK menjadi SCC mulai dari 1 sampai 20 persen. Penatalaksanaan AK utamanya adalah destruksi dari lesi tersebut dengan 3 cara, yaitu Liquid Nitrogen Cryosurgery, kuret dengan atau tanpa electrocautery, dan eksisi. Terapi lainnya adalah dengan obat topikal, yaitu 5-florouracil, imiquimod, dan diklofenak, dan terapi prosedural, berupa cryopeeling, dermabrasi, laser, dan terapi fotodinamik. Pencegahan dari AK adalah menghindari radiasi sinar UV.

Arsenical Keratoses
                Keratosis arsenik adalah lesi prekanker berkaitan dengan arsenikisme kronik akibat pajanan obat, okupasi, dan lingkungan. Seperti AK, keratosis arsenik dapat menjadi SCC. Penampakan klinisnya adalah papul kekuningan dan keratotik, biasanya pada daerah tekan di telapak tangan dan kaki. Penatalaksanaannya mirip dengan AK.

Thermal Keratoses
                Merupakan lesi prekanker akibat pajanan yang terlalu lama dari radiasi inframerah, dan dapat menjadi SCC. Sumber dari radiasi dapat berupa api, mesin, kompor kayu bakar, pemanas, dan laptop. Penampakan dari lesi berupa erythematous ab igne, dengan penampakan histopatologik yang tidak berbeda dengan AK.

Hydrocarbon Keratoses
                Disebut juga pitch keratoses, tar keratoses, atau tar warts. Terjadi pada orang dengan pekerjaan yang biasanya terpajan oleh hidrokarbon aromatik polisiklik, yang dihasilkan oleh pembakaran tak sempurna dan distilasi batu bara, gas alam, dan minyak mentah. Pekerjaan lain yang beresiko adalah pekerja aspal, teknisi mesin diesel, dan pembersih cerobong asap. Seperti AK, dapat menjadi SCC. Keratosis atipikal dapat muncul pada nostril, bibir atas, dan genitalia. Penampakan pada kulit lainnya berupa bercak hiperpigmentasi, jerawat, dan telengiektasia.

Chronic Radiation Keratoses
                Merupakan lesi prekanker akibat radiasi, yang muncul bertahun-tahun setelah radiasi. Dapat disebabkan oleh sinar x, bom atom, atau kecelakaan nuklir dan dapat menjadi SCC. Masa laten dapat serta mencapai 56 tahun. SCC yang diinduksi radiasi pengion amat agresif. Area umumnya adalah pada telapak tangan dan kaki serta mukosa. Penampakan berupa papul atau plak hiperkeratotik pada area dermatitis radiasi kronik.

Chronic Scar Keratoses
                Disebut juga keratosis sikatriks, merupakan lesi prekanker yang muncul pada daerah scar yang lama. Patogenesisnya belum diketahui. Pada luka bakar, diduga scar akibat luka bakar mengakibatkan adanya toksin karsinogen, turunnya imunitas, iritasi kronik, dan kerusakan DNA. Dapat menjadi SCC, tapi dapat juga menjadi karsinoma sel basal, melanoma, dan sarkoma. Dapat dicegah dengan penatalaksanaan luka yang baik, skin graft yang dini, pencegahan kontraktur, dan eksisi dini pada jaringan yang menunjukkan perubahan degeneratif.

Reactional Keratoses
                Disebabkan oleh reaksi terhadap proses inflamasi seperti lupus eritematosus kutan, pemphigus vulgaris, liken sklerosis, liken planus, dan infeksi fungi dalam yang kronis. Terjadi hiperplasia pseudoepitelomatosa.

PUVA Keratoses
                Disebabkan pajanan UV A dan psoralen.

Viral Keratoses
                Disebut juga dengan kutil, adalah lesi keratosis paling umum yang ditemukan pada manusia. Lesi ini disebabkan oleh HPV. Terdapat dua jenis keratosis viral yang berpotensi menjadi keganasan, yaitu Bowenoid Papulosis dan Epidermodysplasia Verruciformis. Keduanya dapat menjadi SCC.

Bowen Disease
                Disebut juga Squamous Cell Carcinoma Insitu, dapat menjadi SCC. Umumnya terjadi pada orang dewasa, penyakit ini mengenai kulit dan mukosa. Faktor-faktor etiologinya antara lain radiasi ultraviolet, arsenikisme, terapi dengan psoralen dan UV-A, radiasi, immunosupresi, pajanan radiasi pengion, dan infeksi HPV. BD umumnya memiliki penampakan diskret, membesar dengan lambat, plak dengan warna merah muda sampai merah tipis, dengan batas sebagian tidak tegas, dan di atasnya terdapat sisik atau krusta. Dapat pula terlihat hiperkeratotik dan berveruka.

                Pada pengamatan histopatologik, terlihat hiperkeratosis, parakeratosis, akantosis, dan lapisan-lapisan epidermis sudah tidak dapat dikenali lagi.

                Diagnosis banding dari penyakit Bowen adalah karsinoma sel basal superfisial, dermatitis, liken planus, psoriasis, keratosis aktinik, atau keratosis seboroik. 3 sampai 5 persen BD beresiko menjadi karsinoma yang invasif. Penatalaksanaan dari penyakit ini adalah eksisi, Mohs micrographic surgery, kuret, cryosurgery, pengobatan topikal dengan 5-fluorouracil atau imiquimod, ablasi laser, radioterapi, atau terapi fotodinamik.

Eritroplasia Queyrat
                Merupakan karsinoma sel skuamosa insitu yang melibatkan permukaan mukosa penis pria yang tidak disirkumsisi. Secara klinis berbeda dengan Bowen’s Disease, disebabkan oleh HPV tipe 8 dan 16. Gejalanya berupa kemerahan pada glans penis, prepusium, dan uretra, dengan rasa nyeri, gatal, sulit ditariknya kulit dari glans, perdarahan, dan krusta. Penampakan histopatologis serupa dengan Bowen’s Disease. Dapat berubah menjadi SCC dan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan sirkumsisi. Penatalaksanaan sama dengan Bowen’s Disease.

Leukoplakia
                Merupakan diagnosis klinis eksklusi untuk lesi putih menetap pada rongga mulut yang tidak sembuh secara spontan. Merupakan lesi prekanker yang umum, dan berpotensi menjadi karsinoma sel skuamosa oral. Adanya leukoplakia merupakan penanda dari peningkatan resiko keganasan lain dari rongga mulut dan saluran pernapasan dan pencernaan. Faktor resiko dari leukoplakia adalah penggunaan tembakau, kontaminan alkohol, lesi pre-malignant lain, dan infeksi HPV tertentu. Tidak ada konsensus tentang penatalaksanaannya.

Erythroplakia
                Merupakan diagnosis klinis eksklusi untuk lesi kemerahan menetap pada rongga mulut. Eritroplakia merupakan lesi prekanker yang paling tidak umum, tetapi memiliki potensi paling besar untuk menjadi karsinoma sel skuamosa oral. Faktor resiko dari eritroplakia adalah penggunaan tembakau dan alkohol. Gambaran histologik berupa displasia, insitu karsinoma. Untuk lesi displastik yang parah, diperlukan eksisi dan Mohs micrographic surgery.

Keratosis Seboroik
                Merupakan tumor epidermis yang umum ditemukan dan sering timbul pada orang tua usia 40-50 tahun. Muncul di banyak daerah di badan, kecuali telapak tangan dan kaki. Secara klinis, keratosis seboroik tampak sebagai plak bulat, datar, seperti koin yang garis tengahnya bervariasi dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter. Lesi berwarna coklat muda hingga cokelat tua merata dan memiliki permukaan granular.
                Secara histologis, neoplasma ini berbatas tegas dari epidermis di sekitarnya. Terdiri atas lembaran-lembaran sel kecil yang mirip dengan sel basal epitel. Terdapat pigmentasi melanin dengan derajat bervariasi, dan pada permukaannya terjadi hiperkeratosis, dan terdapat kista berisi keratin (horn cyst) serta pertumbuhan ke bawah keratin ke dalam massa tumor utama (pseudo-horn cyst) yang merupakan gambaran khas.
                Meskipun jinak dan mudah diterapi dengan eksisi, lesi jenis ini dapat muncul dalam jumlah ratusan secara mendadak pada sindrom paraneoplastik.

Daftar Pustaka
1.       Wolff K, et. al. Fitzpatrick’s Dermatology In General Medicine, 7th ed. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc. 2008; 1007-27
2.       Hartanto H, Darmaniah N, Wulandari N (Ed). Buku Ajar Patologi Robbins, Ed.7, Vol.2. Jakarta: EGC, 2004; 892-99
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment