Tuesday, August 9, 2011

Pencegahan Penyakit AIDS

Indonesia adalah negara dengan peningkatan kasus baru HIV tercepat di Asia (2007, AIDS Epidemic Update, UNAIDS). Kasus HIV terus meningkat sejak tahun 1987. Pada tahun 2008, terdapat 15.000 kasus (7,5%). Untuk menahan laju epidemi HIV di Indonesia, Skenario cakupan program efektif 80% terhadap populasi kunci pada 2010:
1. Penggunaan kondom pada setiap hubungan seks berisiko menjadi 60%-70%
2. Penggunaan jarum suntik tidak steril diturunkan menjadi 35%-40%

Akan tetapi survei perubahan perilaku di Indonesia pada tahun 2008 menunjukkan belum adanya perubahan perilaku yang nyata di kalangan resiko tinggi.

Infeksi HIV dapat terjadi dalam keluarga. Apabila ditemukan suatu kasus di mana suami mengalami HIV/AIDS, maka sebaiknya
istri juga dites HIV. Begitu pula sebaliknya. Anak yang mengalami HIV dari Ibu bisa langsung terkena AIDS sehingga akan cepat meninggal. Untuk mencegah transmisi HIV/AIDS dibutuhkan perubahan perilaku, intervensi biomedik (kondom, jarum suntik steril, sirkumsisi, obat antiretroviral), pemberdayaan (pendidikan, penanggulangan kemiskinan, kelompok marjinal). Pencegahan juga dapat dilakukan dengan sirkumsisi (sunat), yang dapat menurunkan resiko HIV hinga 50%.

Pencegahan HIV/AIDS dapat dilakukan melalui penyuluhan mengenai cara pencegahan (kondom, jarum suntik). Faktanya, s
irkumsisi (sunat) bagi yang pria dapat mencegah penularan HIV sebesar 58 %. Sleian penyuluhan kita dapat melakukan  PITC (provider initiative testing and counseling), yaitu mengajak pasien untuk berani melakukan test HIV. Test HIV tidak dapat dilakukan dengan metoda skrining, melainkan wajib meminta persetujuan pasien. Hal ini disebabkan karena banyak pasien yang tidak ingin melakukan test HIV bukan karena mahal melainkan karena ia tak mau mengetahui hasil dan ingin hidup dengan lebih lega. Maka dari itu, pengambilan darah harus untuk test HIV harus dikonfirmasi.

Seseorang yang terkena HIV AIDS tidak akan langsung mengalami gejala klinis yang signifikan. UMumnya mereka mengalami demam seperti pada umumnya dna hilang dalam beberapa saat sehingga seseorang tidak akan menyangka dirinya terkena HIV. Masa timbulnya gejala klinis pada HIV adalah 5-10 tahun. Bila telah timbul gejala klinis umunya sudah dalam stadium lanjut. Pasien dengan kondisi ini dapat meninggal dalam waktu 6 bulan sampai 2 tahun bila tidak diberikan ARV. Keterlambatan deteksi HIV menyebabkan hilangnya kesempatan untuk pencegahan penularan lebih lanjut. Selain itu, keterlambatan deteksi juga menyebabkan hilangnya kesempatan untuk memulai terapi sesuai dengan pedoman WHO.

Untuk mendeteksi HIV, dapat dilakukan tes laboratorium berupa tes anti HIV, tes antigen p24, viral load, dan kultur virus. Tes anti HIV relatif murah dan mudah, dan seharusnya tersebar di seluruh Indonesia. Untuk diagnosis, disyaratkan tiga kali pemeriksaan. Rapid Test/Tes cepat. Hasil cepat dinilai, dapat dilakukan pada daerah dengan sarana minim, digunakan untuk tes penyaring/skrining. Akan tetapi, masih kontroversial karena kemungkinana adanya hasil tes positif paslu. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan tes cara lain, seperti Elisa atau Western blot. Tetapi western blot sudah jarang digunakan karena mahal.

Tes HIV pada bayi secara serologis baru dapat dilakukan pada umur bayi 18 bulan. Perjalanan penyakit HIV lebih cepat pada bayi. CD4 (sel imun tubuh) pada bayi sangat tinggi sekali, sehingga yang perlu diperhatikan adalah persentase CD4. Pada orang dewasa, nilai absolut CD4 normal adalah 410-1000. Jika nilai absolut CD4 telah kurang dari 200, maka besar kemungkinannya untuk mengalami infeksi oportunistik.

Diagnosis infeksi HIV di RSCM sebagian besar telah stadium lanjut, dan sudah ada infeksi oprtunistik yang dapat mengancam jiwa. Jika infeksi oportunis dapat ditangani hasil akan lebih baik. Hanya sebagian kecil yang terdiagnosis pada masa tanpa gejala.

Obat Antiretroviral (ARV)
Dinyatakan bermanfaat pada tahun 1996. Tapi, pada saat itu, harga obat mahal tak mungkin dijangkau masyarakat di negara miskin. Para aktivis berjuang agar obat tersebut juga dapat diakses olah masyarakat di negera miskin . 2001, sudah ada obat generik DARI India. Pada tahun yang sama (2001) obat ARV mulai digunakan di Indonesia (kerjasama dengan produsen di India). Pada tahun 2003 akhir, WHO menetapkan program 3by5 (gunakan kombinasi 3 obat dari 5 jenis obat yang ada)

Indikasi Pengobatan ARV untuk HIV
- simptomatik (biasanya setelah 5- 10 tahun)
- apabila CD4 telah mencapai 350 (normalnya ≥450)

Siapa bilang orang HIV tak panjang harapan hidup? perlu diketahui
Keberhasilan terapi ARV mencapai 91,6%. Pada umumnya keadaan klinis membaik yang ditandai dengan:
- peningkatan berat badan setelah 3 bulan setelah penggunaan ARV.
- CD4 mulai meningkat setelag 6 bulan setelah penggunaan ARV
- Viral load (jejak virus) menjadi tidak terdeteksi

Menurut survey dari 100 ibu hamil yang positif HIV, sekitar 7 bayi terinfeksi dalam kandungan, sekitar 15 bayi terinfeksi pada saat persalinan , sekitar 13 bayi terinfeksi melalui ASI pada awal kehidupannya. Jadi, risiko penularan dari ibu ke bayi adalah 35%. Intervensi pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian antiretrovirus selama kehamilan, kemudian persalinan dengan operasi Caesar, dan sesudah melahirkan, bayi diberi susu formula (jangan ASI), dan tidak lupa untuk memberi obat AIDS (ARV) sebagai pencegahan ke bayi.Kalau diintervensi risiko penularan ibu HIV ke bayi bisa ditekan hingga hanya 2 %.

Kalau penderita HIV ingin punya anak, terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan
- Mencegah penularan pada pasangan
- Mencegah penularan pada bayi
- Pencucian sperma HIV dan Infeksi Menular seksual

Oleh karena itu, bila kita menemukan orang sekitar kita dengan kondisi mudah sakit, kian melemah, dan terdapat riwayat bekas penguna jarum suntik, atau pernah melakukan seks bebas, sarankanlah untuk cek HIV. test HIV akan membantu kita untuk mencegah penularan kepada orang-orang yang kita sayangi, dan ingat, semakin cepat HIV diketahui maka akan semakin panjang kemungknan hidup seseorang. Bertindaklah mulai sekarang.
Reaksi:

2 komentar:

  1. biayanya kira-kira berapa yahhh klo mau tes DNA

    ReplyDelete
  2. Why do the medical/pharmaceutical establishment and mass media never inform us of the above HIV test unreliability, after all, we have a right to know..?http://www.easeofmobility.com/best-leg-lifter-guide/

    ReplyDelete