Monday, August 15, 2011

Mari mengenal PNEUMONIA

Pneumonia

Pneumonia adalah proses inflamasi pada jaringan alveolar paru. Penyebab dari pneumonia antara lain bakteri spt Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Mycoplasma pneumoniae, Enterobacteriaceae, virus seperti respiratory syncytial virus, virus parainfluenza, dll.

Pneumonia berawal dari inhalasi mikroorganisme yang berupa bakteri piogenik atau virus. Apabli yang masuk bakteri, akan terjadi reaksi radang akut terhadap bakteri, tetapi tidak terjadi jejas pada alveolus, sehingga akan terjadi pneumonitis intraalveolar. Kalau yang masuk virus, pneumosit I (komponen utama alveolus) akan terinfeksi, sehingga akan terjadi jejas pada alveolus dan terjadilah pneumonitis interstisialis.


Beberapa jenis pneumonia adalah : 
1. Community-acquired acute pneumonia (Pneumonia akut didapat di masyarakat).
Pnemonia tipe ini merupakan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri antara lain :
a. Streptococcus pneumoniae, merupakan bakteri gram positif. Penyebab tersering pneumonia akut didapat di masyarakat.
b. Haemophilus influenzae (gram negatif). Menyebabkan infeksi saluran nafas bawah dan meningitis pada anak-anak. Merupakan penyebab bakteri tersering eksaserbasi akut PPOK.
c. Moraxella catarrhalis, terutama pada usia lanjut.
d. Staphylococcus Aureus, penyebab pneumonia bakteri sekunder pada anak dan dewasa sehat setelah penyakit virus pada saluran napas.
e. Klebsiella Pneumoniae (gram negatif)
f. Pseudomonas Aeruginosa (infeksi nosokomial)

Seringkali infeksi bakteri timbul setelah adanya infeksi virus traktus respiratorius atas. Infeksi bakteri pada parenkim paru menyebabkan alveolus terisi eksudat radang dan menyebabkan konsolidasi (pemadatan) pada jaringan paru. Secara morfologi pneumonia bakterial menyebabkan 2 bentuk perubahan anatomik yaitu : bronkopneumonia lobular/bronkopneumonia dan pneumonia lobaris

Pneumonia lobaris
Sesuai namanya, yang terinfeksi adalah seluruh bagian dari satu lobus atau bahkan dua lobus paru. Perubahan yang paling terlihat terjadi di alveoli. Banyak terjadi pada laki-laki berusia 20-50 tahun, disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Namun, pada orang tua, penderita diabetes, dan alkoholik, penyebab utamanya adalah Klebsiella pneumoniae. Patologi: terdiri dari 4 fase. Seluruh alveoli pada lobus terinfeksi.
Fase 1: kongesti. Terjadi pada hari 1-2. Paru berwarna merah gelap dan basah. Terjadi kongesti pembuluh darah dan eksudat cairan.
Fase 2: Hepatisasi merah. Terjadi pada hari 2-4. Paru padat, merah, dan kering. Mulai terbentuk anyaman fibrin dan terdapat banyak sel-sel darah merah.
Fase 3: Hepatisasi abu. Hari 4-8. Paru padat dan berwarna abu karena banyaknya jumlah neutrofil. Anyaman fibrin semakin tebal. Terjadi lisis eritrosit. 
Fase 4: Resolusi. Hari 8-10. Eksudat fibrin mencair, diabsorpsi, atau dibatukkan keluar. Terjadi restorasi menjadi normal dalam waktu yang cepat. 

Manifestasi Klinik: demam, batuk, malaise (lesu), nyeri pleura, ‘friction rub’, sputum coklat purulen seperti karat
Komplikasi: 
• Abses terjadi akibat kerusakan dan nekrosis jaringan
• Empiema terjadi akibat tertimbunnya pus di rongga pleura
• organisasi eksudat sehingga paru menjadi jaringan padat,
• penyebaran bakteri ke katup jantung, otak, ginjal, limpa, atau sendi sehingga menyebabkan abses, endocarditis, meningitis dll

Bronkopneumonia
Bronkopneumonia adalah peradangan yang mengenai bronkus dan alveolus di sekitarnya sehingga menimbulkan lokasi berbercak pada paru. Dapat mengenai satu lobus atau multilobus (lebih sering), bilateral dan terletak basal (gravitasi). Ukuran lesi dapat mencapai (diameter) 3 – 4 cm. Penderita pada umumnya adalah anak, orang tua, orang dengan fisik melemah, penderita penyakit jantung, paru, kanker (menahun) penyakit terminal
Patologi:
Bronkiolus yang terinfeksi terisi oleh pus, hal ini menyebabka epitel bersilia pada bronkiolus rusak. Terjadi kongesti pembuluh darah dan emigrasi neutrofil. Alveoli memadat karena terdapat sel-sel pus dan debris fibrin. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia lobaris, abses, pleuritis, empiema, abses metastatik fibrosis. 

Community-acquired atypical pneumonia
Pneumonia atipical didapat merupakan penyakit traktus respiratorius akut yang ditandai dengan bercak peradangan pada paru yang meliputi septa alveolar dan jaringan interstisium. Atypical dalam hal ini berarti sputum sedang, tidak ada konsolidasi, peningkatan relatif sel darah putih, tidak ada eksudat pada alveolus

Penyebab paling umum adalah Mycoplasma pneumonia. Bakteri ini dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda. Dapat terjadi secara sporadik atau lokal epidemic (close communities): Sekolah, kamp militer dll. Inflamasinya menyebar dari bronkiolus ke parenkim paru dan dapat menjadi kronik dengan fibrosis. Selain mycoplasma, penyebab lainya adalah virus, meliputi virus influenza tipe A dan Bn, Respiratory synsitial virus, Adenovirus, Rhinovirus, Rubella, Varicella, Chlamydia pneumonia, dan Coxiella burnetti
Patogenesisnya adalah terjadi ikatan organisma dengan epitel traktus respiratorius atas diikuti nekrosis sel dan respon sel radang. Ketika proses meluas ke arah alveolus biasanya terjadi peradangan interstisium. Kerusakan dari epitel traktus respiratorius menghambat sistem transport mucociliary dan merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya infeksi bakteri sekunder


Morfologi yang terbentuk adalah :
• Bercak-bercak (patchy), seluruh lobus bilateral atau unilateral
• Reaksi radang terbatas pada dinding alveoli
• Septa alveoler melebar, edematous, sel radang mononuklear (limfosit, histiosit, sel plasma)
• Rongga alveolus : bebas eksudat, tetapi dapat juga ditemukan material protein dan membran pink hyaline yang melapisi dinding alveolar

Pada bronkiolus, terdapat sekresi kental, nekrosis epitel bronkiolar, dan infiltrasi mononuclear pada lumen dan dinding. Dinding alveolus menebal karena adanya infiltrasi mononuclear. 

Pneumonia viral

Umumnya, infeksi influenza terjadi pada saluran napas atas. Tapi, pada orang yang lemah dan selama epidemik, seluruh saluran napas dapat terinfeksi. Pada trakea dan bronki, terjadi inflamasi yang intensif disertai perdarahan. Karena nekrosis, terjadi kehilangan epitel. Kemudian terjadi proliferasi epitel disertai infiltrasi mononuclear, kongesti pembuluh darah, dan perdarahan. Pada paru terbentuk membrane hialin.
Virus influenza terdiri dari tiga tipe, yaitu tipe A, B, dan C. Tipe A adalah virus yang paling virulen, termasuk mutan-mutannya. Bisa juga terjadi infeksi sekunder yang terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Haemophilys influenzae, dan Streptococcus pneumoniae.
Reaksi:

1 komentar: