Saturday, September 24, 2011

EFEK GLUKAGON

GLUKAGON
Oleh Dewi Sitoresmi

Peran
Walaupun insulin berperan sentral dalam mengontrol penyesuaian-penyesuaian metabolik antara keadaan absoptif dan pasca absortif, produk sekretorik sel alfa pulau Langerhans pankreas, yaitu glukagon juga sangat penting. Banyak pakar ilmu faal memandang sel-sel beta penghasil insulin dan sel-sel alfa penghasil glukagon sebagai pasangan sistem endokrin yang sekresi kombinasinya merupakan faktor utama dalam mengatur metabolisme bahan-bakar.
Glukagon mempengaruhi banyak proses metabolik yang juga dipengaruhi oleh insulin, tetapi umumnya efek glukagon berlawanan dengan efek insulin. Glukagon bekerja terutama di hati, tempat hormon ini menimbulkan berbagai efek pada metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.
1.       Efek pada karbohidrat



Efek keseluruhan glukagon pada metabolisme karbohidrat timbul akibat peningkatan pembentukan dan pengeluaran glukosa oleh hati sehingga terjadi peningkatan kadar glukosa darah. Glukagon menimbulkan efek hiperglikemik dengan menurunkan sintesis glikogen, meningkatkan glikogenolisis, dan merangsang glukoneogenesis.
2.       Efek pada lemak
Glukagon juga melawan efek insulin berkenaan dengan metabolisme lemak dengan mendorong penguraian lemak dan menghambat sintesis trigliderida. Glukagon meningkatkan pembentukan keton (ketogenesis) di hati dengan mendorong perubahan asam lemak menjadi badan keton. Dengan demikian, di bawah pengaruh glukagon kadar asam lemak dan badan keton dalam darah meningkat.
3.       Efek pada protein
Glukagon menghambat sintesis protein dan meningkatkan penguraian protein di hati. Stimulasi glukoneogenesis juga memperkuat efek katabolik glukagon pada metrabolisme protein di hati. Walaupun meningkatkan katabolisme rptein di hati, glukagon tidak memiliki efek bermakna pada kadar asam amino darah karena hormon ini tidak mempengaruhi protein otot, simpanan protein yang utama di tubuh.

Sekresi glukagon
Dengan mempertimbangkan efek katabolik glukagon pada simpanan energi tubuh, anda dapat dengan tepat memperkirakan bahwa sekresi glukagon meningkat selama keadaan pascaabsoptif dan menurun selama keadaan absorptif, berkebalikan dengan sekresi insulin. Insulin cenderung menyebabkan zat-zat gizi disimpan saat kadar mereka dalam darah tinggi, misalnya setelah makan, sedangkan glukagon mendorong katabolisme simpanan zat gizi antara waktu makan untuk mempertahankan kadar zat-zat gizi tersebut dalam darah, terutama glukosa darah.
Seperti sekresi insulin, faktor utama yang mengatur sekresi glukagon adalah efek langsung konsentrasi glukosa darah pankreas endokrin. Dalam hal ini, sel-sel alfa pankreas meningkatkan sekresi glukagon sebagai respon terhadap penurunan glukosa darah. Efek hiperglikemik hormon ini cenderung memuilhkan konsentrasi glukosa darah ke normal. Sebaliknya, peningkatan konsentrasi glukosa darah, seperti yang terjadi setelah makan, menghambat sekresi glukagon, yang juga cenderung memulihkan kadar glukosa darah ke normal.
Dengan demikian, terdapat hubungan umpan balik negatif langsung antara kosentrasi glukosa darah dan kecepatan sekresi sel alfa, tetapi hubungan tersebut berlawanan arah dengan efek glukosa darah pada sel beta. Dengan kata lain, peningkatan kadar glukosa darah menghambat sekresi glukagon tetapi merangsang sekresi insulin, sedangkan penurunan glukosa darah menyebabkan peningkata sekresi glukagon dan penurunan sekresi insulin.
Karena glukagon meningkatkan glukosa darah dan insulin menurunkan glukosa darah, perubahan sekresi hormon-hormon pankreas sebagai respon terhadap penyimpangan glukosa ini bekerja sama secara homeostasis untuk mkadar glukosa drah ke normal. Demikian juga, penurunan konsentrasi asam lemak darah secara langsung merangsang pengeluaran glukagon dan menghambat pengeluaran insulin oleh pankreas, keduanya merupakan mekanisme kontrol umpan balik negatif untuk mmeulihkan kadar asam lemak darah ke normal.

Efek-efek yang berlawanan dari konsentrasi glukosa dan asam lemak darah pada sel alfa dan beta pankreas tersebut sesuai untuk mengatur kadan molekul-molekul nutrient tersebut sesuai untuk mengatur kadar molekul-molekul nutrient tersebut dalam sirkulasi darah, karena efek insulin dan glukagon pada metabolisme karbohidrat dan lemak saling berlawanan. Efek konsentrasi asam amino darah pad asekresi kedua hormon ini adalah cerita yang lain. pengnignkatan konsentrasi asam amino darah merangsang sekresi glukagon dan insulin. Mengapa hal ini tampak paradox, karena glukagon tidak menimbulkan efek apapun pada konsentrasi asam amino darah?

Efek peningkatan kadar asam amino darah yang sama pada sekresi glukagon dna insulin akan masuk akal bila anda meneliti efek kedua hormon ini pada kadar glukosa drah. Apabila selama penyerapan makanan kaya protein penginaktan asam amino darah hanya merangsang sekresi insulin, dapat terjadi hipoglikemia. Karena setelah mengkonsumsi makanan kaya protein hanya terdapat sedikir karbohidrat untuk diserap, peningkatan sekresi insulin yang dipicu oleh asam amino akan menyebabkan sebagaian besar glukosa masuk ke dalam sel, sehingga, terjadi penurunan mendadak kadar glukosa darah yang tidak sesuai. Namun, pengningkatan sekresi glukagon yang terjadi secara bersamaan karena dirangsang oleh peningkatan kadar asam amino darah akan meningkatkan pembentukan glukosa oleh hati. Karena efek hiperglikemik glukagon melawan efek hipoglikemik insulin, hasil akhir setelah kita mengkonsumsi makanan kaya protein tetapi rendah karbohidrat adalah kestabilan kadar glukosa darah (dan pencegahan hipoglikemia sel-sel otak).

Kelebihan glukagon memperparah hiperglikemia pada DM
Belum diketahui adanya kelainan klinis yang semata-mata disebabkan oleh defisiensi atau kelebihan glukagon. Namun, diabetes mellitus sering disertai oleh peningkatan berlebihan sekresi glukagon, karena insulin diperlukan agar glukosa dapat masuk ke dalam sel alfa, tempat nutrient ini dapat mengontrol sekresi glukagon. Akibatnya, para pengidap diabetes sering memperlihatkan peningkatan sekersi glukagon bersamaan dengan insufisiensi insulin mereka karena peningkatan kadar glukosa darah tidak mampu menghambat sekresi glukagon seperti dalam keadaan normal. Karena glukagon adalah hormon yang meningkatkan kadar gula darah, kelebihannya akan memperparah hiperglikemia pada diabetes mellitus. Karena itu, sebagian pengidap diabetes tergantung insulin berepson paling baik terutama terhadap kombinasi terapi insulin dan somatostatin. Dengan menghambat sekresi glukagon, somatostatin secara tidak langsung ikut membantu menurunkan konsentrasi glukosa darah dibandingkan dengan apabila hanya diberikan insulin.


DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia, dari Sel ke Sistem. Ed. Ke-2. Jakarta: EGC, 2001:674-5.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment