Monday, September 5, 2011

Flu Burung H5N1

            Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza H5N1 yang ditularkan oleh unggas yang dapat menyerang manusia. Nama lain dari penyakit ini antara lain avian influenza
Virus flu burung (H5N1) dapat menyebar dengan cepat di antara populasi unggas dengan kematian yang tinggi. Bahkan dapat menyebar antarpeternakan dari suatu daerah ke daerah lain. Penyakit ini juga teridentifikasi bersifat zoonosis, yaitu menular dari hewan ternak ke manusia.
Penyakit flu burung dapat ditularkan dari unggas ke unggas lain atau dari peternakan ke peternakan lainnya dengan cara sebagai berikut

1.      Kontak langsung dari unggas terinfeksi dengan hewan yang peka.
2.      Melalui lendir yang berasal dari hidung dan mata.
3.      Melalui kotoran (feses) unggas yang terserang flu burung.
4.      Lewat manusia melalui sepatu dan pakaian yang terkontaminasi dengan virus.
5.      Melalui pakan, air, dan peralatan kandang yang terkontaminasi.
6.      Melalui udara karena memiliki peran penting dalam penularan dalam satu kandang, tetapi memiliki peran terbatas dalam penularan antarkandang.
7.      Melalui unggas air yang dapat berperan sebagai sumber\(reservoir) virus dari dalam saluran intestinal dan dilepaskan lewat kotoran.
Faktor yang dapat membatasi penularan flu burung dari ternak ke manusia adalah jarak dan intensitas dalam aktivitas yang berinteraksi dengan kegiatan peternakan. Semakin dekat jarak peternakan yang terkena wabah virus dengan lingkungan manusia maka peluang untuk menularnya virus bisa semakin besar. Penularan virus ke manusia lebih mudah terjadi jika orang tersebut melakukan kontak langsung dengan aktivitas ternak. Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Virus ini kemudian dikeluarkan bersama kotoran, dan infeksi akan terjadi bila orang mendekatinya. Penularan diduga terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan.
Perlu diperhatikan pula cara pengolahan dan pemasakan daging unggas. Daging yang dimasak harus dipastikan benar –benar matang untuk menghindari adanya sisa kehidupan dari virus. Kematian virus dapat terjadi jika dipanaskan dengan suhu 60C selama 3 jam. Semakin meningkat suhu akan semakin cepat mematikan virus. Telur yang cangkangnya terdapat kotoran kering perlu diwaspadai. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kotoran yang menempel pada telur tadi berasal dari kotoran unggas yang terjangkit flu burung. Jika memperoleh telur seperti ini maka sebaiknya segera mencuci tangan dengan alkohol setelah memegang telur. Sebaiknya menghindari makan telur yang tidak matang atau setengah matang karena kemungkinan masih ada virus yang terkandung di dalamnya.
Orang yang mempunyai risiko besar terserang flu burung adalah pekerja peternakan unggas, penjual, penjamah unggas, sampai ke dokter hewan yang bertugas memeriksa kesehatan ternak di peternakan. Sampai saat ini, peneliti meyakini bahwa flu burung ditularkan dari unggas ke manusia. Kemungkinan penularan flu burung antar-manusia Cecil, tetapi tetap perla diwaspadai. Hal ini dikarenakan virus cepat bermutasi dan beradaptasi dengan manusia sehingga memungkinkan adanya varian baru dari flu burung. Walaupun demikian, sebuah kasus di Vietnam Utara memperlihatkan adanya penularan virus tersebut dari anak kepada ibunya.
Menurut Dr. Feng Lil, pakar mikroba dari Baylor College of Medicine AS, Negara yang terdapat korban manusia dalam kasus flu burung merupakan negara yang memiliki kerusakan lingkungan yang sangat parah serta masyarakatnya yang tidak peduli akan kebersihan dan kerusakan lingkungan. Hal itu disebabkan karena dengan rusaknya lingkungan maka keseimbangan ekologi akan teganggu sehingga jumlah mikroba yang tidak seimbang, sedangkan di mana kondisi awalnya mereka dalam keadaan seimbang dan tidak sampai menyerang manusia. Dan pada akhirnya mikroba tersebut mengalami transformasi, dan mikroba transformatif itulah yang menyerang manusia.
Selain itu, minimnya suplai oksigen yang menimbulkan dampak mikroba tumbuh subur dan perkembangannya tak terkendal, karena oksigen yang apabila terkena sinar ultraviolet berubah menjadi ozon dan O nascend merupakan pembunuh mikroba yang paling efektif. Apabila oksigen berkurang, maka pembuh mikroba dan virus pun berkurang sehingga muncul dampek tersebut.
            Hasil sebuah survey menunjukan bahwa flu burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum begitu kuat.
Virus flu burung adalah sebuah panzootic, penyakit yang merupakan pandemi di antara hewan-hewan, dan terjadi berulang-ulang dengan pandemik yang potensial. Sebuah virus baru akan berpotensi menimbulkan pandemi jika: virus baru tersebut menyerang populasi yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah, virus baru tersebut yang dapat bereplikasi dalam tubuh manusia, virus baru tersebut yang dapat menular dari satu manusia ka manusia lain. Pada saat ini, vrus flu burung telah memenuhi dua syarat pertama tersebut. Jika ketiga syarat telah terpenuhi maka pandemi tidak bisa dielakkan.
            Pandemi flu burung terjaji bila subtipe virus tersebut telah lahir dan bersiklus di antara manusia. Virus H5N1 cukup berpotensial dalam menimbulkan pandemi karena kemampuannya beradaptasi dalam bentuk virus yang menular di antara sesama manusia. Pandemi akan mulai terjadi jika virus tersebut dapat menyebar semudah virus infulenza lainnya paa manusia. Hali ini akan menjadikan virus H5N1 bukan lagi sebagai flu burung tetapi flu manusia. Bahayanya, karena virus ini cukup baru, sistem kekekalan tun=buh manusia belum dapat menangkalnya. Kematian sejumlah besar umat manusia pun dipreiksikan akan terjadi seperti halnya pada kasus Spanish Infuenza dan Asian influenza.

Gejala dan Mekanisme Virus 
Gejala flu burung yang terjadi pada unggas adalah jengger berwana biru, terdapat borok di kaki, serta kematian unggas yang mendadak. Gejala flu burung dapat dibedakan menjadi dua yaitu gejala pada unggas dan gejala pada manusia. Gejala flu burung yang terjadi pada unggas adalah jengger berwana biru, terdapat borok di kaki, serta kematian unggas yang mendadak.
Gejala flu burung pada dasarnya sama dengan flu biasa lainnya hanya cenderung lebih sering dan cepat menjadi parah. Gejala pertama pada manusia yang umum ditemukan adalah kenaikan suhu tubuh hingga sekitar 39°C. Gejala tersebut diikuti dengan keluarnya eksudat hidung yang bersifat mukus (lendir) bening, batuk, dan sakit tenggorokan. Tidak jarang penderitanya tidak nafsu makan, muntah, nyeri perut, dan diare. Gejala klinis lainnya ialah batuk, flu, dan demam yang tidak kunjung turun
   Gejala dari flu burung sangat tergantung dengan jenis virus yang menyebabkan infeksi. Misalnya saja seperti yang terjadi di vietnam pada tahun 2004. data dari Vietnam di tahun 2004 menunjukkan gejala berbeda. Pasien tidak mengeluh sakit tenggorokan atau pilek. Juga tak ada keluhan radang selaput mata. Separuh pasien malah menderita diare dengan tinja yang cair. 
Masa inkubasi sejak mulai tertular hingga timbul gejala adalah sekitar tiga hari. Masa infeksius pada manusia adalah mulai dari 1 hari sebelum gejala timbul hingga 3-5 hari sesudah gejala timbul. Namun, pada anak-anak masa ini dapat terjadi sampai 21 hari.
Sebuah tim dokter internasional mengatakan bahwa gejala flu burung pada manusia lebih luas dan lebih beragam ketimbang yang diperkirakan semula. Virus flu burung dapat menyebabkan encephalitis (membengkaknya otak), diare, dan gejala-gejala lain yang tidak seperti penyakit pernapasan klasik.
Berikut merupakan daftar gambaran klinis dari seorang pasien penderita flu burung:
1.      Demam (suhu badan di atas 38 derajat Celsius)
2.      Batuk-batuk dan tenggorokan terasa kering/nyeri.
3.      Nyeri otot
4.      Severe respiratory distress yang ditandai dengan sesak napas
5.      Radang saluran pernapasan atas atau radang paru-paru (pneumonia)
6.      Infeksi selaput mata (conjunctivitis)
7.      Pusing
8.      Mual dan nyeri perut
9.      Muntah
10.  Diare
11.  Keluar lendir dari hidung
12.  Tidak ada nafsu makan

Penatalaksanaan
 Pengobatan
            Pengobatan pasien flu burung lebih berifat simtomatik yakni pengobatan yang fokus pada gejala yang ada. Selain itu, pasien juga perlu mendapat pengobatan suportif, makanan bergizi, dan istirahat cukup. Daya tubuh pasien harus ditingkatkan.
            Secara umum, terdapat empat cara pengobatan pada penderita flu burung. Pertama, Oksigenasi bila terdapat sesak napas. Kedua, Hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus). Ketiga, pemberian obat anti virus oseltamivir. Terakhir ialah pemberia Amantadin yang diberikan pada awal infeksi
Ada dua jenis antivirus yang tersedia, yakni:
·        kelompok M2 inhibitors yaitu amantadine dan rimantadine. Kedua antivirus ini biasanya diberikan pada awal penyakit, 48 jam pertama selama 3 – 5 hari dengan dosis 5 mg/kg bb/hari dibagi dua dosis. Namun, pada kasus di Vietnam tahun 2004 kedua antivirus ini pernah dilaporkan sudah tidak mempan lagi.
·        kelompok dari neuraminidase inhibitors (Tamiflu®) yaitu oseltamivir dan zanimivir. Oseltamivir diberikan 75 mg, 1 kali sehari selama 1 minggu. WHO menyatakan bahwa oseltamivir masih sensitif terhadap virus yang ada.8
Adapun beberapa obat yang sedang diteliti antara lain:
·         Pegylated Interferon Gamma
·         Long-actig NA inhibitors (LANI)
o   R-118958 (topical), Flunet® (topical)
·         Conjugated sialidase
o   Fludase (topical)
·         HA inhibitors-cyanovirin-N
·         Polymerase inhibitors
o   siRNA; ribavirin (aerosol/iv/po)
·         Protease inhibitors
o   Aprotinin

Pencegahan

Tindakan pencegahan yang berhubungan pada:
A. Unggas
            Prinsip dasar tindakan pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan flu burung, pada unggas adalah dengan:
- Mencegah kontak antara unggas yang rentan dengan virus H5N1.
- Menghilangkan virus H5N1 dengan desinfektan
- Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksinasi
- Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan bersih serta peduli akan hadirnya virus flu burung di sekitar kita
            Tindakan pelaksanaan yang dapat di lakukan adalah:
- Meningkatkan biosekuriti yaitu tindakan pengawasan dan pengamanan yang ketat terhadap unggas piaraan dan ternak yang terinfeksi flu burung
- Vaksinasi bagi unggas sehat dengan vaksin produksi local dan impor yang telah teregistrasi oleh Departemen Pertanian.
- Depopulasi/ pemusnahan unggas atau hewan pembawa virus H5N1 dalam radius 3 kilometer
- Pengendalian lalu lintas keluar masuk ternak unggas dan produk unggas
- Pengawasan kasus flu burung
- Pengisian kandang kembali
- Pemusnahan menyeluruh bagi semua unggas di daerah tertular baru
- Peningkatan kesadaran masyarakat
- Pemantauan dan evaluasi
           
B. Higiene Pribadi dan Lingkungan
            Untuk menjaga higiene diri sendiri dan lingkungan, yang dapat dilakukan :
- Tidak menyentuh unggas hidup atau kotorannya yang mungkin mengandung virus flu burung H5N1
- Selalu mencuci tangan
- Mengelola dan mengolah unggas dengan cara yang benar, caranya :
1. Memilih unggas yang sehat
2. Memasak daging ayam/burung/bebek dan telur sampai benar-benar matang
3. Bila terdapat cairan kemerahan seperti darah yang mengalir dari daging unggas yang di masak atau pada bagian tengah sumsum tulang masih berwarna merah, hendaknya daging tersebut dimasak kembali sampai matang
4. Kuning dan putih telur yang dimasak harus benar-benar matang
5. Apabila membeli ayam hidup, upayakan untuk tidak menyentuhnya
6. Bila membeli daging ayam/bebek, cucilah terlebih dahulu dengan air mengalir sebelum disimpan di dalam lemari es. Setelah itu cucilah tangan dengan sabun.
7. Telur ayam/bebek yang baru dibeli dicuci dulu dengan air mengalir untuk membersihkannya dari kotoran yang biasanya menempel pada kulit telur. Kemudian telur itu di keringkan dengan lap bersih atau tisu, baru di simpan di dalam lemari es. Setelah selesai cucilah tangan dengan sabun.
- Menjaga daya tahan tubuh dengan hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi.dan seimbang,cukup istirahat, olahraga teratur, serta menghindari stress dan rokok.
-Jangan mengonsumsi produk yang mengandung telur mentah atau setengah matang.
- Menjaga hygiene perorangan dan lingkungan

Oseltamivir 
Oseltamivir adalah sebuah obat antiviral, sebuah inhibitor neuraminidase yang digunakan dalam penanganan influensa A dan B, dan banyak dikenal sebagai obat yang dianjurkan untuk menangani flu burung. Oseltamivir dikembangkan oleh Gilead Sciences dan saat ini dijual oleh Roche dengan merek dagang Tamiflu®.
Di Indonesia, pemerintah Indonesia mempunyai hak istimewa untuk memroduksi Tamiflu, namun hanya untuk keperluan pemerintah, bukan komersial. Kelompok dari neuraminidase inhibitors (Tamiflu®) yaitu oseltamivir dan zanimivir. Oseltamivir diberikan 75 mg, 1 kali sehari selama 1 minggu. WHO menyatakan bahwa oseltamivir masih sensitif terhadap virus yang ada.
Dalam kedaan normal, neuraminidase, suatu sialidase mefasilitasi, pelepasan degan membelah reseptor pada permukaan sel. Pada kehadiran neuraminidase pelepasan terhambat dan virus-virus baru yang sudah terbebaskan akan menggumpal menjadi satu. Obat ini memiliki kandungan Oseltamivir, suatu senyawa anti neurominidase. Senyawa ini mampu menghambat enzim neurominidase virus sehingga akan mencegah masuknya materi genetik RNA virus ke sel manusia.       
Melihat cara kerja senyawa ini, maka obat ini hanya efektif pada saat infeksi awal virus, ketika individu yg terserang belum menunjukan gejala klinis. Pada umumnya penderita berobat ke dokter ketika sudah terserang gejala klinis seperti demam tinggi, batuk, sesak napas sebagai akibat virus telah berkembang biak dalam tubuh.
Saat ini, para ahli masih berupaya mencari obat dan vaksin terbaik dalam mengobati flu burung. Hal ini dikarenakan adanya beberapa masalah dalam pengobatan flu burung dengan Oseltamivir, yakni10:
·         Oseltamivir baru memiliki efek maksimal bila diberikan pada 48 jam pertama sakit sementara banyak pasien yang masuk rumah sakit sudah terlambat
·         Kasus di Vietnam dan Thailand menuntukan angka survival Oseltamivir hanya 24%
·         Oseltamivir perlu digabung obat lain agar lebih efektif
·         Dosis yang kini dipakai diperkirakan masih kurang
·         Efek samping yang ditimbulkan cukup banyak, seperti halusinasi, confusion, suicide, seizure, insomia, vertigo, diare, dan dizziness.
·         Beberapa virus telah resisten terhadap Oseltamivir

Daftar Pustaka
1.      Departemen Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/index.php? option=articles&task=viewarticle&artid=214.
2.      Dr. H. Ilham Patu,SpBS Flu Burung di Indonesia. http://www.infeksi.com/ articles.php?lng =in&pg=36.
3.      Ririh Yudhastuti, Sudarmaji. Mengenal Flu Burung dan Bagaimana Kita Menaggulanginya. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.2, NO. 2 Januari  2006 : 183 – 194.
4.      Prof. Dr. HADI S. ALIKODRA. Flu Burung dan Deforestasi. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/25/0901.htm.
5.      David A Bradt, Christina M Drummond (2006). Avian influenza pandemic threat and health systems response. Emergency Medicine Australasia 18 (5-6), 430–443.
6.      Santoso, Mardi, Salim, Herman, dan Alim, Hasanudin. 2005. Avian Influenza (Flu Burung). Cermin Dunia Kedokteran, 148, 21-24.
7.      Kristina, Isminah, dan Wulandari, Leny.”Flu Burung”. www.libang.depkes.go.id/mas kes/.052004/fluburung1.htm (diakses 26 November 2007)
8.      Kristina, Isminah, dan Wulandari, Leny.”Flu Burung”. www.libang.depkes.go.id/mas kes/.052004/fluburung1.htm (diakses 26 November 2007)
9.      Cucunawangsih. Flu Burung Cara Mewaspadai dan Mencegahnya. Your Health Guide. 2006.
10.  Aditama, Tjandra Yoga. 2006. Perkembangan Terbaru Pengobatan Flu Burung. Cermin Dunia Kedokteran, 151, 55-57.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment