Wednesday, September 21, 2011

HORMON ADRENALIN

EFEK BIOLOGIS HORMON ADRENALIN
Oleh: Dewi Sitoresmi




1.      MINERALOKORTIKOID1

Aktivitas aldosteron, mineralokortikoid yang utama, terutama adalah di tubulus distal ginjal, tempat hormon ini meningkatkan retensi Na+ dan meningkatkan eliminasi K+ selama proses pembentukan urin. Peningkatan retensi Na+ oleh aldosteron secara sekunder memicu retensi osmotik H2O sehingga volume CES bertambah, yang penting dalam pengaturan jangka panjang tekanan darah.
Mineralokortikoid esensial untuk kehidupan. Tanpa aldosteron, orang akan cepat meninggal akibat syok sirkulasi karena penurunan hebat volume plasma yang disebabkan oleh pengeluaran berlebihan Na+ penahan H2O. pada defisiensi kebanyakan hormon lainnya, kematian tidak segera datang, walaupun defisiensi hormone kronik pada akhirnya menyebabkan kematian prematur.

Sekresi aldosteron ditingkatkan oleh:
-          Pengaktifan sistem rennin-angiotensin-aldosteron oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan penurunan Na+ dan tekanan darah
-          Stimulasi langsung korteks adrenal oleh peningkatan konsentrasi K+ plasma
Selain efeknya pada sekresi aldosteron, angiotensin mendorong pertumbuhan zona glomerulosa dengan cara yang sama dengan efek TSH pada tiroid. Hormon tropik adrenal, ACTH, terutama mempengaruhi zona-zona korteks bagian dalam dan kurang merangsang sekresi aldosteron. Dengan demikian, tidak seperti pengaturan kortisol, pengaturan sekresi aldosteron umumnya tidak bergantung pada kontrol hipofisis anterior.

2.      GLUKOKORTIKOID
Kortisol, glukokortikoid utama, berperan penting dalam metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak; memperlihatkan efek permisif yang bermakna pada aktivitas hormon lain, dan membantu kita mengatasi stres.1
A.     Efek metabolik2
-          Metabolisme glukosa hati
Glukokortikoid meningkatkan glukoneogenesis hati dnegan menstimulasi enzim glukoneogenetik, phosphoenolpyruvate carboxykinase dan glucose 6-phosphatase. Hormon ini memiliki efek permisif dimana mereka meningkatkan respon hati terhadap hormon glukagon glukoneogenetik. Hormon ini juga meningkatkan pelepasan substrat untuk glukoneogenesis dari jaringan perifer, khususnya otot. Efek yang terakhir tersebut dipicu oleh penurunan glukokortikoid-induced pada uptake asam amino perifer dan sintesis protein.
Glukokortikoid juga meningkatkan pelepasan gliserol dan asam lemak bebas dengan lipolisis dan meningkatkan pelepasan laktat otot. Hormone ini memicu sintesis glikogen hati dan menyimpannya dengan menstimulasi aktivitas glycogen synthetase dan menghambat pemecahan glikogen. Efek ini tergantung insulin.
-          Metabolisme glukosa perifer
Glukokortikoid juga menganggu metabolisme karbohidrat dengan menghambat uptake glukosa perifer di otot dan jaringan adiposa. Efek ini dan efek lain yang dideskripsikan di atas mungkin berakhir pada peningkatan sekresi insulin pada keadaan kelebihan glukokortikoid kronik.
-          Efek pada jaringan adiposa
Pada jaringan adiposa, efek yang dominan adalah peningkatkan lipolisis dengan pelepasan gliserol dan asam lemak bebas. Hal ini sebagian disebabkan stimulasi langsung lipolisis oleh glukokortikoid, dan sebagian lain disebabkan penurunan uptake glukosa dan diperkuat oleh glukokortikoid dengan efek hormone lipolitik. Walaupun glukokortikoid adalah lipolitik, peningkatan deposisi lemak adalah manifestasi klinik dari kelebihan glukokortikoid. Paradoks ini mungkin dijelaskan dengan peningkatan nafsu makan karena level yang tinggi dari steroid ini dan dengan efek lipogenik dari hiperinsulinemia yang muncul di fase ini. Alasan tentang deposisi dan distribusi lemak yang abnormal pada fase kelebihan kortisol tidak diketahui. Kesimpulannya, lemak secara klasik dideposit secara sentral di wajah, area cervical, batang tubuh, dan perut; ekstremitas biasanya lebih ramping.
B.     Efek Permisif1
Kortisol sangat penting karena sifat permisifnya. Sebagai contoh, kortisol harus ada dalam jumlah yang adekuat agar katekolamin dapat memicu vasokontriksi. Seseorang yang tidak memiliki kortisol jika tidak diobati dapat mengalami syok sirkulasi pada situasi-situasi stress yang memerlukan vasokonstriksi luas yang segera.
C.     Peran dalam adaptasi terhadap stress1
Kortisol berperan penting dalam adaptasi terhadap stress. Stress dapat terjadi dalam bentuk fisik (trauma, pembedahan), kimia (penurunan pasokan oksigen), fisiologis (olahraga berat, nyeri), psikologis atau emosi (rasa cemas, ketakutan), dan sosial (konflik pribadi, perubahan gaya hidup). Semua jenis stress adalah perangsang kuat untuk sekresi kortisol.
Walaupun peran pasti kortisol dalam adaptasi terhadap stress belum diketahu, penjelasan berukut mungkin memada walaupun masih bersifat spekulatif. Manusia primitif atau hewan yang terluka atau menghadapi situasi yang mengancam nyawa harus menunda makan. Efek kortisol yang menyebabkan perubahan dari simpanan protein dan lemak menjadi penanbahan simpanan karbohidrat dan peningkatan ketersediaan glukosa darah akan membantu melindungi otak dari malnutrisi selama periode puasa terpaksa ini. Di samping itu, asam-asam amino yang dibebaskan oleh penguraian protein akan dapat digunkana untuk memperbaiki jaringan yang rusak apabila terjadi cedera fisik. Dengan demikian terjadi peningkatan ketersediaan glukosa, asam amino, dan asam lemak untuk digunakan apabila diperlukan.
D.     Efek terhadap hormone lain2
-          Fungsi tiroid
Glukokortikoid saat berlebih berefek pada fungsi tiroid. Walaupun level basal TSH biasanya normal, sintesis dan pelepasan TSH diinhibisi oleh glukokortikoid, dan respon TSH terhadap TRH biasanya dibawah normal. Konsentrasi serum total T4 biasanya rendah karena ada penurunan TBG, tetapi level FT4 normal. Konsentrasi total dan free T3 mungkin rendah, karena kelebihan glukokortikoid menurunkan konversi T4 menjadi T3 dan meningkatkan konversi kepada reverse T3. Di samping gangguan tersebut, manifestasi hipotiroidisme tidak muncul.
-          Fungsi gonad
Glukokortikoid juga berefek pada gonadotropin dan fungsi gonad. Pada laki-laki, glukokortikoid menginhibisi sekresi gonadotropin dengan menurunkan responnya terhadap GnRH yang dikenluarkan dan konsentrasi plasma testosteron yang di bawah normal. Pada wanita, glukokortikoid juga menekan respon LH terhadap GnRH, berakibat pada supresi ekstrogen dan progestin dnegan inhibisi ovulasi dan amenorrhea.
E.     Efek terhadap sel darah dan fungsi imun2
-          Eritrosit
Glukokortikoid memiliki sedikit efek pada eritropoesis dan konsentrasi hemoglobin. Walaupun polisitemia ringan dan anemia mungkin terdapat pada Cushing’s syndrome dan Addison’s disease, gangguan tersebut lebih mungkin adalah efek sekunder dari gangguan metabolisme androgen.
-          Leukosit
Glukokortikoid mempengaruhi baik pergerakan dan fungsi leukosit. Oleh karena itu, administrasi glukokostikoid meningkatkan jumlah neutrofil/leukosit (PMN) intravaskular dengan meningkatkan pelepasan PMN dari sumsum tulang, dengan meningkatkan waktu paruh sikulasi PMN, dan dengan menurunkan pergerakan PMN keluar kompartemen vascular. Administrasi glukokortikoid menurunkan jumlah limfosit, monosit, dan eusinofil yang bersirkulasi, utamanya dengan meningkatkan pergerakan mereka keluar ke sirkulasi. Kebalikannya (neutropenia, limfositosis, monositosis, dan eusinofilia) terlihat pada insufisiensi adrenal. Glukokortikoid juga menurunkan migrasi sel inflamasi (PMN, monosit, dan limfosit) ke daerah jejas, dan hal ini mungkin adalah mekanisme mayor dari aksi anti inflamasi dan peningkatan kepekaan terhadap infeksi yang muncul setelah administrasi kronik. Glukokortikoid juga menurunkan produksi limfosit dan mediator dan fungsi efektor dari sel-sel tersebut.
-          Efek imun
Glukokortikoid mempengaruhi aspek imunologik dan respon inflamasi, termasuk mobilisasi dan fungsi leukosit. Glukokortikoid menginhibis phospholipase A2, enzim kunci pada sintesis prostaglandin. Inhibisi ini dimediasi oleh suatu kelas peptide yang disebut lipocortin atau annexin. Hormone ini juga mengganggu pelepasan substansi efektor seperti lymphokine IL-1, pemrosesan antigen, produksi dan klirens antibody, dan fungsi spesifik lainnya dari derivat-sumsum tulang dan limfosit derivat-thymus. Sistem imun, mempengaruhi HPA aksis. IL-1 menstimulasi sekresi CRH dan ACTH. Walaupun secara tradisional digunakan sebagai antiinflamasi dan/atau agen imunosupresi, glukokortikoid, khususnya pada dosis rendah, juga memiliki efek permisif dan stimulasi dari respon inflamasi terhadap jejas.
F.      Agonis dan Antagonis2
-          Agonis
Pada manusia, kortisol, glukokortikoid sintetik (prednisolon, dexamethasone), kostikosteron, dan aldosteron adalah glukokortikoid agonis. Glukokortikoid sintetik memiliki substansi yang afinitasnya lebih tinggi pada reseptor glukokortikoid, dan memiliki aktivitas glukokortikoid yang lebih tinggi dari kortisol saal berada pada konsentrasi equimolar. Kortikosteron dan aldosteron memiliki afinitas substansial terhadap reseptor glukokortikoid, meskipun demikian, konsentrasi plasmanya secara normal jauh lebih rendah dari kortisol, dan oleh karena itu, steroid ini tidak mmeiliki efek fisiologik glukokortikoid yang signifikan.
-          Antagonis
Glukokortikoid antagonis terikat pada reseptor glukokortikoid tetapi tidak menimbulkan aksi-inti yang dibutuhkan untuk menghasilkan respon glukokortikoid. Steroid ini berkompetisi dengan steroid agonis seperti kortisol untuk menempati reseptor, dan karena ini menginhibisi agonis. Steroid lain memiliki aktivitas agonis parsial saat bekerja sendirian (contoh, mereka menimbulkan respon glukokortikoid parsial). Meskipun demikian, pada konsentrasi yang sufisien, mereka berkompetisi dengan steroid agonis untuk menempati reseptor dan karena itu berkompetisi untuk menginhibisi respon agonis.
Agonis parsial tersebut mungkin berfungsi sebagai antagonis parsial pada keadaan dimana terdapat lebih banyak glukokortikoid yang aktif. Steroid seperti progesterone, 11-deoxycortisol, DOC, testosterone, dan 17-ekstradiol memilki efek antagonis atau parsial agonis-parsial antagonis. Meski demikian, peran fisiologik hormone ini pada aksi glukokortikoid mungkin tidak penting, karena mereka bersirkulasi pada konsentrasi rendah. Agen antiprogestational RU 486 (mifepristone) memiliki peran antagonis glukokortikoid dan telah digunakan untuk memblok aksi glukokortikoid pada pasien Cushing’s Syndrome.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Ed. Ke-2. Jakarta: EGC, 2001: 652-3.
2.      Gardner DG, Shoback D, editors. Greenspan's Basic & Clinical Endocrinology. 8th ed.[E-BOOK] New York:

3.      McGraw-Hill. 2007
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment