Monday, September 26, 2011

Mekanisme dan Respon Tubuh terhadap Stres


STRES DAN MEKANISME ADAPTASI
Dewi Sitoresmi

Stres
Menurut Hans Selye dari Handbook of Stres, stres adalah suatu hasil yang biasanya bersifat nonspesifik terhadap beban dan dapat menimbulkan efek mental ataupun somatik. Selain itu, stres dapat pula diartikan sebagai usaha penyesuaian diri terhadap stresor. Stres yang terjadi dapat merupakan stres fisik atau psikologi. Reaksi yang ditunjukkan individu dapat bervariasi dan jelas bergantung pada keparahan situasi. Faktor predisposisi seperti kepribadian atau adanya riwayat gangguan mental di masa lalu dapat membuat reaksi menjadi lebih serius. Reaksi stres dirasakan baik dalam level fisik, kognitif, emosi, dan perilaku.1,2,
Stresor adalah segala hal yang dapat menyebabkan stres. Keparahan stresor atau banyak stresor tidak selalu memprediksikan keparahan gangguan/efek yang ditimbulkan. Keparahan stresor adalah
fungsi derajat, kuantitas, durasi, reversibilitas, lingkungan, dan konteks pribadi yang kompleks. Contohnya, kehilangan orang tua berbeda pada anak berusia 10 tahun dan 40 tahun. Pengaturan kepribadian serta norma atau nilai budaya atau kelompok juga turut berperan di dalam ketidakproporsionalan respons terhadap stresor.1,3
Stres dibagi menjadi dua macam:1
a.       Eustres
Eustres atau stres positif muncul saat level stres cukup tinggi untuk memotivasi seseorang melakukan sesuatu demi mencapai suatu tujuan
b.      Distres
Distres atau stres negatif muncul saat level stres, baik terlalu tinggi atau terlalu rendah, membuat badan dan pikiran seseorang mulai memberikan respon negatif terhadap stresor.
Hans Seyle mengembangkan suatu model stres yang disebut sindrom adaptasi umum.2 Model ini terdiri atas tiga fase:
a.       Tahap alarm (alarm stage)1
Saat seseorang mulai merasakan adanya kejadian atau menerima sesuatu yang membuat stres, perubahan psikologi terjadi dalam tubuh. Pengalaman atau hal tersebut mengganggu keseimbangan normal tubuh dan secara cepat, terjadi respon tubuh seefektif mungkin terhadap stresor  .
Contoh:
-          Jantung: denyut jantung meningkat
-          Pernapasan: respirasi meningkat
-          Kulit: temperatur menurun
-          Hormonal:  stimulasi terhadap kelenjar adrenal meningkat dan menimbulkan ‘adrenal rush’
b.      Tahap resistensi (resistance stage)1
Selama fase ini, tubuh mencoba untuk cope (mengatasi) atau beradaptasi dengan stresor dengan memulai proses perbaikan terhadap kerusakan yang terjadi karena stresor tersebut.
Contoh:
-          Indikator perilaku termasuk kurangnya perhatian kepada keluarga, sekolah, atau pekerjaan; perubahan kebiasaan makan; insomnia;hypersomnia; marah; dan kelelahan
-          Indikator kognitif meliputi penyelesaian masalah yang buruk, mimpi buruk, kebingungan, dan hypervigilance (kewaspadaan meningkat)
-          Indikator emosional termasuk menangis, ketakutan, cemas, panik, merasa bersalah, depresi, gelisah,
c.       Tahap kelelahan (exhaustion stage)1
Selama fase ini, stresor tidak dapat ditangani secara efektif sehingga tubuh dan pikiran tidak mampu untuk memperbaiki kerusakan.
Contoh: gangguan pencernaan, sakit kepala, insomnia, emosi.

Respon Tubuh terhadap Stres
Respon neurotransmitter 3
Stresor mengaktifkan sistem noradrenergik di otak (paling jelas di locus ceruleus) dan menyebabkan pelepasan katekolamin dari sistem saraf otonom. Stresor juga mengaktifkan sistem serotonergik di otak, seperti yang dibuktikan dengan meningkatnya pergantian serotonin. Stres juga meningkatkan neurotransmisi dopaminergik pada jaras mesofrontal. Neurotransmitter asam amino dan peptidergik juga terlibat di dalam respon stres. Sejumlah studi menunjukkan bahwa corticotrophin-releasing factor (CRF) (sebagai neurotransmitter, bukan sebagai pengatur hormonal fungsi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal), glutamat (melalui reseptor N-metil-D-aspartat [NMDA]) dan gama aminobutiric acid (GABA) semuanya memainkan peranan penting di dalam menimbulkan respon stres atau mengatur sistem yang berespon terhadap stres lainnya seperti sirkuti otak dopaminergik dan noradrenergik.

Respon endokrin3
Sebagai respon terhadap stres, CRF disekresikan dari hipotalamus ke sistem hipofisial-hipofisis-portal. CRF bekerja di hipofisis anterior untuk memicu pelepasan hormon adrenokortokotropin (ACTH). Setelah dilepaskan, ACTH bekerja di korteks adrenal untuk merangsang sintesis dan pelepasan glukokortikoid. Glukokortikoid sendiri memiliki jutaan efek di dalam tubuh, tetapi kerjanya dapat dirangkum dalam istilah singkat untuk meningkatkan penggunaan energi, meningkatkan aktivitas kardiovaskuler (di dalam respon fight or flight), dan menghambat fungsi seperti pertumbuhan, reproduksi, dan imunitas.
Aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal merupakan pelaku pengendali umpan balik negatif yang ketat melalui produk akhirnya sendiri (ACTH dan kortisol) di berbagai tingkat, termasuk hipofisis anterior, hipotalamus, dan region otak suprahipotalamik seperti hipokampus. Di samping CRF, berbagai secretagogue (zat yang merangsang pelepasan ACTH) dikeluarkan dan dapat memintas pelepasan CRF serta bekerja langsung untuk memulai kaskade glukokortikoid. Contoh secretagogue termasuk katekolamin, vasopressin, dan oksitosin. Yang menarik, stresor berbeda (stres dingin lawan hipotensi) memicu pola pelepasan secretagogue yang berbeda, juga menunjukkan bahwa gagasan respons stres yang sama terhadap stresor umum adalah terlalu disederhanakan.

Respon imun3
Bagian dari respon stres terdiri atas inhibisi fungsi imun oleh glukokortikoid. Inhibisi dapat mencerminkan kerja kompensasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal untuk mengurangi efek fisiologis stres lainnya. Sebaliknya stres juga dapat menyebabkan aktivasi imun melalui berbagai jalur. CRF sendiri dapat merangsang pelepasan norepinefrin melalui reseptor CRF yang terletak di locus cereleus yang mengaktifkan sistem saraf simpatis, baik sentral maupun perifer, serta meningkatkan pelepasan epinefrin dari medulla adrenal. Di samping itu, terdapat hubungan langsung neuron norepinefrin yang bersinaps pada sel target imun. Dengan demikian, di dalam menghadapi stresor, juga terdapat aktivasi imun yang dalam termasuk pelepasan faktor imun humoral (sitokin) seperti IL-1 dan IL-6. Sitokin dapat meyebabkan pelepasan CRF lebih lanjut yang di dalam teori berfungsi untuk meningkatkan efek glukokortikoid sehingga membatasi sendiri aktivasi imun.

Perubahan Kehidupan2,3
Peristiwa atau situasi kehidupan, menyenangkan atau tidak menyenangkan (penderitaan menurut Selye) sering terjadi tanpa disengaja, menimbulkan tantangan yang harus ditanggapi dengan adekuat. Daya tahan stres atau nilai ambang stres (stress/frustration threshold/tolerance) pada setiap orang berbeda-beda. Hal ini tergantung pada keadaan somato-psiko-sosial orang itu. ada orang yang peka terhadap stresor tertentu yang dinamakan stresor spesifik karena pengalaman dahulu yang menyakitkan tidak dapat diatasinya denagn baik.
Menurut teori, setiap orang dapat saja terganggu jiwanya, asal stresor cukup besar, cukup lama atau cukup spesifik walaupun orang tersebut memiliki kepribadian dan emosi yang stabil.
Thomas Holmes dan Richard Rahe membangun skala penilaian penyesuaian sosial setelah menanyakan 394 orang dari berbagai latar belakang untuk mengurutkan derajat relatif penyesuaian yang diperoleh dengan perubahan peristiwa kehidupan. Mereka mendafarkan 43 peristiwa kehidupan yang menyebabkan berbagai gangguan dan stres pada kehidupan rata-rata orang. Akumulasi 200 atau lebih unit perubahan kehidupan dalam satu tahun meningkatkan risiko timbulnya gangguan psikosomatik pada tahun itu. Yang menarik, orang yang menghadapi stres umum dengan optimis, bukannya pesimis, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gangguan psikosomatik. Jika mengalami, mereka lebih mudah pulih.
Adaptasi2
Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menyesuaikan diri terhadap stres, karena penilaian terhadap stresor dan stres berbeda (faktor internal), dan karena tuntutan terhadap individu berbeda (faktor eksternal). Hal tersebut antara lain tergantung pada umur, jenis kelamin, kepribadian, intelegensi, emosi, status sosial, dan pekerjaan individu. Langkah pertama dalam menghadapi dan mengatasi stres adalah mengakui bahwa sedang mengalami stres. Seseorang harus menyadari apa yang sedang terjadi dengan dirinya sendiri, yaitu dengan memperhatikan gejala-gejala dalam diri.
Apabila seseorang merasa mampu mengatasi stres, maka perilakunya akan cenderung berorientasi pada tugas (task oriented), yang tujuan utamanya adalah menghadapi tuntutan keadaan yang menjadi stresor. Cara penyesuaian ini bertujuan menghadapi tuntutan secara sadar, realistik, objektif dan rasional. Cara ini mungkin terbuka atau terselubung dan dapat berupa:
1.       Serangan atau menghadapi tuntutan secara frontal
2.       Penarikan diri atau tidak mau tahu lagi tentang keadaan
3.       Kompromi
Sebagai contoh, apabila seseorang gagal dalam suatu bisnis, mungkin ia akan bekerja lebih keras lagi atau menghadapi secara terang-terangan (serangan), menarik diri dan tidak mau berusaha lagi (penarikan diri), ataupun mengurangi keinginannya lalu memilih jalan tengah (kompromi)
Akan tetapi, bila stres mengancam kemampuan dan harga diri, maka reaksinya akan cenderung berorientasi pada pembelaan ego, yang tujuan utamanya adalah melindungi diri sendiri terhadap rasa devaluasi diri dan meringankan ketegangan serta kecemasan yang menyakitkan. Mekanisme ini penting karena melunakkan kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi perasaan menyakitkan karena pengalaman tidak menyenangkan, serta untuk mempertahankan perasaan layak dan harga diri. Mekanisme ini sebenarnya normal, kecuali sudah menjadi sedemikian keras sehingga bukan lagi membantu malah mengganggu integritas pribadi.
Namun, mekanisme pembelaan ego sebenarnya tidak realistik karena secara riil tidak mengatasi masalah penyesuaian (tidak seperti reaksi yang berorientasi pada tugas), tetapi mengandung banyak unsur penipuan diri sendiri dan distorsi realitas. Lagipula mekanisme ini sebagian besar bekerja secara tidak disadari, sehingga sukar untuk dinilai dan dievaluasi secara sadar. Berbagai macam mekanisme pembelaan ego dapat dilihat pada halaman lampiran.
Apabila stres terjadi terus menerus dan melampaui daya penyesuaian, maka seseorang dapat mengalami dekompensasi kepribadian dan perilakunya akan menunjukkan tanda-tanda disorganisasi dan disintegrasi.

Sekilas Mengenai Psikosomatik4,5
Menurut Wittkower psikosomatis secara luas didefinisikan sebagai usaha untuk mempelajari interelasi aspek-aspek psikologis dan fisik semua faal tubuh dalam keadaan normal maupun abnormal. Ilmu ini mencoba mempelajari, menemukan interelasi dan interaksi antara fenomena kehidupan psikis dan somatik dalam keadaan sehat maupun sakit. Keluhan yang disampaikan penderita gangguan psikosomatik biasanya keluhan fisik, sangat jarang yang mengeluh tentang kecemasan, depresi dan ketegangannya.
Menurut Townsend, ada beberapa gejala spesifik gangguan psikosomatik pada sistem tubuh, diantaranya kardiovaskuler (migrain, hipertensi, sakit kepala berat), pernafasan (hiperventilasi, asma), gastrointestinal ( sindrom asam lambung, anoreksia), kulit (neodermatitis, pruritus, alergi), genitourinaria (dismenore), endokrin (hipertiroid, sindrom menopause)

Gangguan Kardiovaskuler
Mekanisme yang terjadi pada psikosomatis dapat melalui rasa takut atau kecemasan yang akan meningkatkan denyut jantung, daya pompa jantung dan tekanan darah, menimbulkan kelainan pada ritme dan EKG. Gejala-gejala yang sering didapati, antara lain takikardia, palpitasi, aritmia, nyeri perikardial, napas pendek, LELAH, merasa seperti akan pingsan, sukar tidur. Gejala- gejala seperti ini sebagian besar merupakan manifestasi gangguan kecemasan.

Daftar Pustaka
1.       Noorhana. Stress dan Mekanisme Adaptasi. Slide Kuliah Modul Saraf dan Jiwa, FKUI 2010.
2.       Maramis, Willy F. dan Albert A. Maramis. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed. Ke-2. Surabaya: Airlangga University Press, 2009: 83-101
3.       Kaplan Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry.Ed. Ke-7. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2000.
4.       Widianti, Efri, et al. Pengetahuan Pasien Mengenai Gangguan Psikosomatik dan Pencegahannya di Puskesmas Tarogong Garut. Diunduh dari http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/PENGETAHUAN%20PASIEN%20MENGENAI%20GANGGUAN%20PSIKOSOMATIK%20DAN%20PENCEGAHANNYA%20DI%20PUSKESMAS%20TAROGONG%20GARUT.PDF pada 1 Desember 2010.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment