Sunday, September 4, 2011

menelusuri penyebab sesak nafas (Dispnea)

Keluhan sistem pernafasan yang sering menyebabkan seorang pasien datang ke dokter antara lain: sesak, batuk, nyeri dada, dan batuk berdarah. Kita akan membahas satu per satu ya..
Dispnea atau sesak nafas
Bicara mengenai seska nafas tentu snagat banyak diagnosis bandingnya, oleh karena itu hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai waktu timbul sesak, gejala penyerta, dan penyakit lain yang ada. Sebagai contoh:
  • Nyeri dada yang disertai sesak nafas banyak disebabkan oleh emboli paru, infark miokard, atau penyakit pleura.
  • Batuk berdahak yang menyertai sesak nafas biasanya disebabkan radang kronik seperti bronkitis kronik.
  • Demam yang menyertai sesak nafas bisa menunjukan adanya suatu infeksi
  • Hemoptisis atau batuk darah yang menyertai sesak nafas berarti terjadi pecahnya kapiler yang dapat disebabkan karena emboli paru, tumor, atau radang saluran nafas
Secara terperinci sesak nafas dapat disebabkan oleh:

·         Saluran nafas (Asma, emfisema, bronkitis kronik, sumbatan laring, tertelan benda asing)
·         Parenkimal (pneumonia, gagal jantung, dll)
·         Vaskular paru (emboli paru, kor pulmonal, hipertensi paru, veno-oklusi paru)
·         Pleura (pneumotoraks, efusi pleura, dll)
·         Dinding paru (trauma, neurologik, kelainan tulang)

Pemeriksaan fisik yang dapat membantu antara lain
  • Tanda vital untuk menentukan kegawatdaruratan
  •  Keberadaan pulsus paradoksus, hal ini bermanfaat dalam menentukan air trapping pada asma, dan PPOK. 
  • Frekuensi nafas yang kurang dari 5x menandakan hipoventilasi, bila lebih dari 35x  maka dapat terjadi kelelahan otot nafas dan terjadi gagal nafas.
  • JVP! Jangan lupa, karena bila meningkat maka sesak nafas tersebut kemungkinan disebabkan oleh gagal jantung.
  • Palpasi kedua dada pada saat inspirasi dan ekspirasi. Pada orang normal tentu kedua dada akan terangkat secara sama, tapi bila ternyata seseorang mengeluh sesak dan saat palpasi ada bagian dada yang tertinggal, bisa jadi pada bagian tersebut terdapat obstruksi brokus utama, pneumotoraks atau efusi di pleura sehingga paru-paru tidak mengembang sempurna.
  • Fremitus taktil. Hal ini dilakukan dengan menempelkan kedua tangan pada dada pasien dan meminta pasien menyebutkan 77 (tujuh tujuh), pada tangan pemeriksa akan terasa getara udara. Nah! Bila saat melakukan hal tersebut getaran yang dirasakan berbeda dapat menjadi sutau clue untuk kita!. Pada pasien sesak nafas karena atelaktaksis (paru-paru kolaps) getara saat pasien mengatakan 77 akan terasa lebih kencang dibanding yg normal.
  • Suara perkusi! Hipersonor berarti udara di dada kita banyak dan ini bisa terjadi pada sesak karena asma, emfisema, dan pneumotoraks. Sedangkan bila suara perkusi cenderung redup berarti terjadi konsolidasi paru, atau efusi pleura.
  • Poin lain yang tak kalah penting adalah auskultasi. Yak, mendengarkan dengan stetoskop adalah salah satu hal wajib bagi dokter. Berkurangnya intensitas suara nafas pada kedua paru menunjukan obstruksi saluran nafas. Ronki basah halus terdengar pada parenkim paru yang berisi cairan. Keberadaa egofoni menunjukan adanya konsolidasi paru.
  • Analisa gas darah! Pengukuran ini penting untuk melihat tekanan darah sistolik yang kurang dari 90 mmHg, pernafasan lebih dari 35x atau kurnag dari 10x. Nilai ini juga berguna untuk penggunaan oksigen dan keputusan ventilasi mekanis.
  • Spirometri. Nah ini adalah alat untuk mengukur seberapa tersumbatkah saluran pernafasan kita? Bila kurang dari 50% menunjukan sumbatan yang parah.
  •  Imaging!

Pada tatalaksananya jangan lupa untuk mmeberikan oksigen untuk mempertahankan kadar tekanan oksigen dalam tubuh sebesar 60-70 mmHg, dan bila diperlukan ada ventilator mekanis
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment