Tuesday, September 20, 2011

Penyebab Gondok

Gondok
Oleh Dewi Sitoresmi

PENDAHULUAN1,2,3
Goiter atau gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid, dan dapat terjadi dalam bentuk diffuse atau nodular. Penyakit ini merupakan penyakit tiroid yang tersering,  endemik  di bagian tertentu dunia dan juga dapat terjadi secara sporadik. Baik endemik maupun sporadik, adanya gondok mencerminkan gangguan sintesis hormon tiroid yang paling sering disebabkan oleh defisiensi yodium dalam makanan. Faktor lain yang sering dihubungkan dengan gondok endemik ialah
faktor goitrogen, kelebihan unsur yodium, nutrisi, dan genetik.
Pada penyakit ini, fungsi tiroid dapat normal (gondok non toksik), over aktif (gondok toksik), atau under aktif (gondok hipotiroid). Gondok dapat membesar ke dalam ruang retrosternal, dengan atau tanpa pembesaran substantial anterior. Karena hubungan secara anatomis kelenjar tiroid ke trakea, laring, saraf laryngeal superior dan inferior, dan esophagus, pertumbuhan abnormal dapat menyebabkan sindrom kompresif yang bermacam-macam.
Gondok endemik terjadi di daerah yang tanah, air, dan pasokan makanannya hanya mengandung sedikit yodium. Kata endemik digunakan jika gondok terdapat pada lebih dari 10% persen populasi di suatu tempat.
Dengan meningkatnya suplementasi yodium ke dalam makanan, frekuensi dan keparahan gondok endemik telah berkurang secara bermakna. Gondok sporadik jauh lebih jarang terjadi daripada gondok endemik. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada perempuan daripada laki-laki dengan insidensi puncak pada usia pubertas atau dewasa muda saat terjadi peningkatan fisiologik kebutuhan akan tiroksin.
Gondok sporadik dapat disebabkan oleh sejumlah penyakit, termasuk ingesti zat yang mengganggu sintesis hormon tiroid, misalnya kalsium dan sayuran yang termasuk golongan brassica dan cruciferae (misal kol, kembang kol, tauge, brusel, dan lobak cina) yang berlebihan. Pada kasus yang lain, gondok dapat terjadi akibat defek herediter enzim yang mengganggu sintesis hormon tiroid. Namun, pada sebagian kasus penyebab gondok sporadik tidak jelas.

EPIDEMIOLOGI2
Terakhir dilaporkan dalam MDIS Working Paper 1993, gondok sering ditemukan di daerah pegunungan seperti pegunungan Alpen, Himalaya, Andes, Bukit Barisan, dan sebagainya. Meskipun demikian, terlihat juga di dataran rendah seperti Finlandia, Belanda, dan malah di tepi pantai seperti di Yunani, Jepang, pantai Kebumen di Jawa Tengah dan kepulauan Maluku.
Survey epidemiologis untuk gondok endemik biasanya didasarkan atas besarnya kelenjar tiroid, dilakukan dengan metode palpasi, menurut klasifikasi Perez (1960) atau modifikasinya :
A.      Grade 0                                : tidak teraba
Grade I                 : teraba dan terlihat hanya dengan kepala ditengadahkan
Grade II                                : mudah dilihat, kepala posisi biasa
Grade III              : terlihat dari jarak tertentu

B.      Karena perubahan awal gondok perlu diwaspadai maka grading system di atas, khususnya grade I dibagi lagi menjadi 2 kelas:
Grade Ia               : tidak teraba atau jika teraba tidak lebih besar dari kelenjar tiroid normal
Grade Ib              : jelas teraba dan membesar, tetapi umumnya tidak terlihat meskipun kepala posisi tengadah. Ukuran tiroid disebut normal apabila sama atau lebih besar dari falangs akhir ibu jari tangan pasien.

C.     Kriteria palpasi di atas kemudian disederhanakan untuk mencegah kesulitan membedakan grade Ia dan grade Ib dengan modifikasi sebagai berikut (2001):
Grade 0                     : tidak terlihat maupun teraba gondok
Grade 1                   : gondok teraba tetapi tidak terlihat apabila leher dalam posisi normal (tiroid tidak terlihat membesar). Adanya nodul meskipun tidak membesar dimasukkan dalam grade ini.
Grade 2                    : pembengkakan di leher yang jelas terlihat pada leher dalam posisi normal dan pada palpasi memang membesar (kelenjar tiroid dianggap membesar apabila besar setiap lobus lateral lebih dari volume falangs terminal ibu jari pasien yang diperiksa.

D.      Untuk masa depan, pemeriksaan tiroid dianjurkan dilakukan dengan ultrasonografi, sebab cara ini mudah, peka, reliable, objektif dibandingkan palpasi.

ETIOLOGI/PATOGENESIS2,3
Dasar patogenesis gondok adalah adanya peningkatan kompensatorik kadar TSH serum akibat gangguan sintesis hormon tiroid (atau stimulasi reseptor TSH akibat sebab lain), yang selanjutnya menyebabkan hipertrofi dan hyperplasia sel folikel tiroid (dengan tujuan menormalkan level hormon tiroid) dan akhirnya pembesaran makroskopik kelenjar tiroid.
Gangguan sintesis hormone tiroid dapat terjadi akibat berbagai hal. Penyebab defisiensi hormon tiroid termasuk inborn errors of thyroid hormone synthesis, defisiensi iodium, dan goitrogens. Kelebihan unsur yodium, nutrisi, dan genetic juga dapat berpengaruh. Gondok dapat juga muncul karena agonis TSH reseptor, stimulator TSH reseptor termasuk antobodi TSH reseptor, resistensi hipofisis terhadap hormon tiroid, adenoma hipotalamus atau hipofisis, dan tumor yang memproduksi chorionic gonadotropin manusia.
Faktor Goitrogen
Goitrogen adalah zat/bahan yang dapat mengganggu hormonogenesis tiroid sehingga akibatnya tiroid dapat membesar. Sebagian besar efek goitrogen dibuktikan secara pasti pada binatang percobaan, tetapi pada manusia perannya kecil.
Secara epidemiologis hanya ada dua daerah endemis dimana goitrogen penting. Pertama di pulau Idjwi, Zaire, karena cyanogenicglucoside (tiosianat) yang berasal dari ketela; dan di Candelaria, Columbia, karena sulphurated hydrocarbon dalam air minum yang bersumber dari karang sedimen tertentu. Peran klinis goitrogen baru dipikirkan bila setelah pemberian yodium secara adekuat tidak memperlihatkan penurunan prevalensi gondok seperti yang diharapkan.
Yodium Berlebihan
Yodium disebut berlebihan apabila masukan melebihi jumlah yang diperlukan untuk sintesis hormon secara fisiologis. Syarat mutlak terjadinya kelebihan yodium ialah masukan yodium dosis besar dan terus menerus, seperti yang terjadi di Hokkaido, Jepang. Mereka sangat suka akan ganggang laut yang kaya yodium (mengandung 14,5 g yodium/kg bahan kering). Dengan dosis besar yodium, terjadi inhibisi hormonogenesis khusus yodinisasi tironin dan proses couplingnya. Pada pemberian secara kronik, dapat terjadi escape atau adaptasi terhadap hambatan tersebut (vide Wolff-Chaifoff effect). Bila tidak mampu melaksanakan escape terhadap hambatan ini, maka ia akan mengalami inhibisi hormonogenesis dan terjadilah hipotiroidisme. TSH meninggi dan muncul gondok.

GAMBARAN KLINIS1
Gambaran klinis dominan pada gondok adalah gambaran yang disebabkan oleh efek massa kelenjar yang membesar. Selain efek kosmetik massa yang membesar di leher, gondok juga dapat menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia, dan penekanan pembuluh besar di leher dan toraks bagian atas. Pada sebagian kecil pasien, dapat timbul nodul hiperfungsional atau toksik di dalam gondok menyebabkan hipertiroidisme. Keadaan ini, yang dikenal sebagai sindrom Plummer, tidak disertai oleh oftalmopati infiltratif dan dermopati seperti Penyakit Graves.
Walaupun  jarang, gondok dapat disertai tanda klinis hipotiroidisme. Gondok juga secara klinis penting karena dapat menutupi atau mirip dengan neoplasia yang tumbuh di tiroid.

MORFOLOGI1
Pada sebagian besar kasus, awalnya terjadi pembesaran difus simetrik kelenjar (gondok difus). Folikel dilapisi oleh sel kolumnar yang berdesakan yang mungkin bertumpuk-tumpuk hingga membentuk tonjolan serupa dengan yang ditemukan pada penyakit Graves.  Jika kemudian yodium dalam makanan  ditingkatkan atau jika kebetulan hormon tiroid berkurang, epitel folikel yang terstimulasi tersebut akan mengalami involusi membentuk kelenjar besar yang kaya koloid. Permukaan potongan dari tiroid pada kasus seperti ini biasanya tampak coklat sedikit berkilap dan translusen.
Secara mikroskopis, epitel folikel mungkin hiperplastik pada tahap awal penyakit atau menggepeng dan kuboidal pada masa involusi. Koloid banyak ditemukan pada tahap lanjut.
Seiring dengan waktu episode involusi dan stimulasi yang berulang, menyebabkan pembesaran tiroid yang ireguler (gondok noduler atau multinoduler). Dasar pembentukan nodul ini masih belum jelas. Hal ini mungkin berkaitan dnegan kemampuan diferensial sel epitel tiroid normal untuk membelah diri sebagai respon terhadap TSH. Mungkin, variasi potensi pertumbuhan sel ini dapat menyebabkan terbentuknya nodul jika terjadi pajanan TSH kadar tinggi yang siklis dan berkepanjangan. Pada gondok multinodular, kelenjar memiliki banyak lobus, asimetris, dan membesar yang mungkin mencapai ukuran massif.
Perubahan regresif cukup sering ditemukan, terutama pada lesi lama dan berupa fibrosis, pendarahan, kalsifikasi, dan pembentukan kista.  Gambaran mikroskopik adalah folikel kaya koloid yang dilapisi oleh epitel gepeng inaktif dan daerah hipertrofi dan hyperplasia epitel folikel disertai oleh perubahan regresif seperti telah disebutkan.


DAFTAR PUSTAKA
1.       Kumar, Vinay, Ramzi S. Cotran, dan Stanley L. Robbins. Robbins, Buku Ajar Patologi, Volume 2. Ed. Ke-7. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007: 815-6.
2.       Djokomoeljanto, R. Gangguan Akibat Kurang Yodium. Dalam: Sudoyo, Aru W, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III. Ed. Ke-5. Jakarta: Interna Publishing, 2009: 2009-12.
3.       Mulinda, James R. Goiter. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/120034-overview pada 6 September 2010. 
Reaksi:

3 komentar:

  1. Apa betul kekurangan garam beryodium pasti menyebabkan gondokan?

    ReplyDelete
  2. PASTI? wah ga berani sebut pasti ya. tapi sangat mungkin.

    perlu diketahui, yodium dibutuhkan oleh kelenjar tiroid kita, dimana kelenjar ini berfungsi untuk mengatur proses pencernaan sel2 tubuh.

    tubuh tidka mampu mmebuat yodium sendiri. makanya, perlu asupan yodium dari luar.

    klo kita kurang yodium akibatnya tiroid kita jadi kurg bahan baku deh untuk melakukan aktivitasnya. jadilah gondokk

    ReplyDelete