Thursday, September 29, 2011

Perubahan Anatomi & Fisiologi pada Kehamilan


Perubahan Anatomi dan Fisiologi pada Kehamilan
Dewi Sitoresmi A


Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. Satu hal yang menakjubkan adalah bahwa hampir semua perubahan ini akan kembali seperti keadaan sebelum hamil setelah proses persalinan dan menyusui selesai.1
Uterus1
Selama kehamilan, uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi hasil konsepsi sampai persalinan. Pada perempuan tidak hamil, uterus mempunyai berat 70 g dan kapasitas 10 mL atau kurang. Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir kehamilan volume totalnya mencapai 5 L bahkan dapat mencapai 20 L atau lebih dengan berat rata-rata 1100 g.
Pembesaran uterus meliputi
 peregangan dan penebalan sel-sel otot, sementara produksi miosit yang baru sangat terbatas. Bersamaan dengan hal itu terjadi akumulasi jaringan ikat dan elastik, terutama pada lapisan otot luar. Kerja sama tersebut akan meningkatkan kekuatan dinding uterus. Daerah korpus pada bulan-bulan pertama akan menebal tetapi seiring dengan bertambahnya usia kehamilan akan menipis. Pada akhir kehamilan, ketebalannya hanya berkisar 1,5 cm bahkan kurang.
Pada awal kehamilan, penebalan uterus distimulasi terutama oleh hormon ekstrogen dan sedikit oleh progesteron. Akan tetapi, setelah kehamilan 12 minggu lebih, penambahan ukuran uterus didominasi oleh desakan dari hasil konsepsi. Pada awal kehamilan, tuba fallopi, ovarium, dan ligamentum rotundum berada sedikit di bawah apeks fundus, sementara pada akhir kehamilan akan berada sedikit di atas pertengahan uterus. Posisi plasenta juga mempengaruhi penebalan sel-sel otot uterus, dimana bagian uterus yang mengelilingi tempat implantasi plasenta akan bertambah besar lebih cepat dibandingkan bagian lainnya sehingga akan menyebabkan uterus tidak rata. Fenomena ini dikenal dengan tanda Piscaseck.
Sejak trimester pertama kehamilan, uterus akan mengalami kontraksi yang tidak teratur dan umumnya tidak disertai nyeri. Pada trimester kedua, kontraksi ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan bimanual. Fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh Braxton Hicks pada tahun 1872 sehingga disebut dengan kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi ini muncul tiba-tiba dan sporadik, intensitasnya bervariasi antara 5-25 mmHg. Sampai bulan terakhir kehamilan biasanya kontraksi ini sangat jarang dan meningkat pada 1 atau 2 minggu sebelum persalinan. Hal ini erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah reseptor oksitosin dan gap junction diantara sel-sel miometrium. Pada saat ini, kontraksi akan terjadi setiap 10-20 menit, dan pada akhir kehamilan kontraksi ini akan menyebabkan rasa tidak nyaman dan dianggap sebagai persalinan palsu.
Serviks1
Satu bulan setelah konsepsi, serviks akan menjadi lebih lunak dan kebiruan. Perubahan ini terjadi akibat penambahan vaskularisasi dan terjadinya edema pada seluruh serviks, bersamaan dengan terjadinya hipertrofi dan hiperplasia pada kelenjar-kelenjar serviks. Selama kehamilan, kolagen secara aktif disintesis dan secara terus menerus diremodel oleh kolagenase, yang disekresi oleh sel-sel serviks dan neutrofil. Kolagen didegradasi oleh kolagenase intraseluler yang menyingkirkan struktur prokolagen yang tidak sempurna untuk mencegah pembentukan kolagen yang lemah dan kolagenase ekstraseluler yang secara lambat akan melemahkan matriks kolagen agar persalinan dapat berlangsung. Proses remodeling ini sangat kompleks dan melibatkan proses kaskade biokimia, interaksi antara komponen seluler dan matriks intraseluler, serta infiltrasi stroma serviks oleh sel-sel inflamasi seperti netrofil dan makrofag. Proses remodeling ini berfungsi agar uterus dapat mempertahankan kehamilan sampai aterm dan kemudian proses desktruksi serviks yang membuatnya berdilatasi memfasilitasi persalinan. Proses perbaikan serviks terjadi setelah persalinan sehingga siklus kehamilan yang berikutnya akan berulang. Waktu yang tidak tepat bagi perubahan kompleks ini akan mengakibatkan persalinan preterm, penundaan persalinan menjadi postterm, dan bahkan gangguan persalinan spontan.
Kulit1,2
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi kemerahan, kecoklatan, atau kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah payudara dan paha. Perubahan warna tersebut diakibatkan oleh robekan di lapisan dalam kulit. Warna garis yang timbul dapat berbeda tergantung warna dan elastisitas kulit ibu. Perubahan ini dikenal dengan nama striae gravidarum. Selain striae kemerahan itu, seringkali ditemukan garis berwarna perak berkilau yang merupakan sikatrik dari striae sebelumnya. Setelah melahirkan, lama-lama garis-garis kulit tersebut memutih dan kembali ke warna kulit ibu. Walau mungkin tidak hilang sama sekali, tetapi tidak separah ketika hamil.
Pada banyak perempuan, kulit di garis pertengahan perutnya (linea alba) akan berubah menjadi hitam kecoklatan yang disebut dengan linea nigra. Kadang-kadang akan muncul dalam ukuran yang bervariasi pada wajah dan leher yang disebut dengan chloasma atau melasma gravidarum. Selain itu, pada areola dan daerah genital juga akan terlihat pigmentasi yang berlebihan. Pigmentasi yang berlebihan itu biasanya akan hilang atau sangat jauh berkurang setelah persalinan. Kontrasepsi oral juga bisa menyebabkan terjadinya hiperpigmentasi yang sama.
Perubahan ini dihasilkan dari cadangan melanin pada daerah epidermal dan dermal yang penyebab pastinya belum diketahui. Adanya peningkatan kadar serum melanocyte stimulating hormon pada akhir bulan kedua masih sangat diragukan sebagai penyebabnya. Ekstrogen dan progesteron diketahui mempunyai peran dalam melanogenesis dan diduga bisa menjadi faktor pendorongnya.
Mengurangi Stretch Mark
Makan dengan pola makan sehat cukup  buah , sayuran segar, sereal, biji-bijian dan kacang-kacangan.
-          Minum cukup  air
-          Naikkan berat badan secara perlahan dan tetap
-          Lakukan latihan fisik ringan secara teratur untuk  mengontrol kenaikan berat badan Ibu
-          Konsumsi vitamin E membantu kulit tetap kencang.

Traktus Digestivus1,3
Seiring dengan makin membesarnya uterus, lambung dan usus akan tergeser. Demikian juga dengan yang lainnya seperti apendiks yang akan bergeser ke arah atas dan lateral.
Gusi akan menjadi lebih hiperemis dan lunak sehingga dengan trauma sedang saja bisa menyebakan perdarahan. Epulis selama kehamilan akan muncul, tetapi setelah persalinan akan berkurang secara spontan. Hemorrhoid juga merupakan suatu hal yang sering terjadi akibat konstipasi dan peningkatan tekanan vena pada bagian bawah karena pembesaran uterus. Hati pada manusia tidak mengalami perubahan selama kehamilan baik secara anatomik maupun morfologik. Pada fungsi hati kadar alkalin fosfatase akan meningkat hampir 2x lipat, sedangkan serum aspartat transamin, alani transamin, gama glutamil transferase, albumin, dan bilirubin akan menurun.
Mual dan Muntah
Mual dan muntah dalam kehamilan (morning sickness), terjadi pada kurang lebih 80% perempuan hamil. Biasanya keluhan ini mulai dirasakan antara minggu keempat dan ketujuh kehamilan dan menghilang ketika kehamilan memasuki minggu ke-20. Namun pada 10% perempuan hamil, keluhan mual dan muntah ini tetap ada meski telah memasuki trimester ketiga kehamilan.
Penyebab pasti dari keluhan mual dan muntah dalam kehamilan masih belum jelas, namun umumnya kondisi ini bersifat ringan, dapat menghilang sendiri dan dapat diatasi dengan tindakan-tindakan konservatif. Hanya sedikit data yang mendukung teori bahwa faktor psikologis bertanggung jawab terhadap terjadinya mual dan muntah dalam kehamilan. Perlambatan motilitas lambung akibat pengaruh hormon progesteron yang kadarnya meningkat semasa kehamilan diduga berkontribusi terhadap terjadinya mual dan muntah dalam kehamilan. Sedangkan peran hormon-hormon lain (hormon estrogen dan human chorionic gonadotropin/ HCG) yang kadarnya juga meningkat selama masa kehamilan masih kontroversial.
Sejumlah kecil perempuan hamil mengalami mual dan muntah yang lebih hebat. Kasus mual dan muntah dalam kehamilan terberat disebut sebagai hiperemesis gravidarum, yang mungkin terjadi pada 1 dari 200 perempuan hamil. Gambaran klinis dari hiperemesis gravidarum meliputi muntah yang berlangsung terus menerus, kekurangan cairan (dehidrasi), ketosis, gangguan keseimbangan elektrolit, dan penurunan berat badan lebih dari 5% dari berat badan semula.
Hal-hal yang diduga terkait dengan peningkatan kejadian hiperemesis gravidarum adalah kehamilan ganda (kembar), penyakit trofoblas gestasional, kelainan genetik janin (triploid, sindroma trisomi 21/ Down syndrome), dan hydrops fetalis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi kronik lambung oleh Helicobacter pylori mungkin berperan dalam terjadinya hiperemesis gravidarum. Dampak negatif hiperemesis gravidarum ini dapat memengaruhi baik ibu (misalnya robek/ rupturnya kerongkongan/ esofagus) maupun janin (misalnya pertumbuhan janin menjadi terhambat dan kematian janin).
Perempuan hamil dengan kondisi mual dan muntah yang berlangsung terus menerus atau dengan keluhan mual dan muntah yang semakin memburuk atau jika mual dan muntah baru timbul setelah usia kehamilan 9 minggu, sebaiknya dievaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab keluhan mual dan muntah tersebut. Penyebabnya dapat terkait dengan kehamilan itu sendiri (hiperemesis gravidarum, perlemakan hati akut dalam kehamilan, dan kondisi pre-eklampsia) maupun penyebab yang tidak terkait dengan kehamilan (kelainan saluran cerna, saluran kemih, metabolik, neurologik/ saraf, dan toksisitas/ keracunan atau intoleransi obat-obatan).
Tatalaksana awal pada perempuan hamil yang mengalami keluhan mual dan muntah yang bersifat ringan umumnya konservatif dan meliputi perubahan pola makan dan dukungan emosional. Mereka dianjurkan untuk makan dalam porsi kecil setiap kali makan namun frekuensi pemberiannya sering/ small frequent feeding, menghindari makanan yang berbau tajam/ terlalu menusuk hidung dan tekstur makanan yang dapat menimbulkan rasa mual. Makanan sebaiknya tidak memiliki cita rasa yang berlebihan, mengandung tinggi karbohidrat/zat gula, dan rendah lemak (karena lemak dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga menimbulkan rasa mual/ begah). Makanan yang agak asin (misalnya biskuit, keripik kentang) umumnya dapat ditoleransi di pagi hari. Selain itu, minuman yang agak asam (misalnya lemon) biasanya lebih dapat ditoleransi perempuan hamil dibandingkan air putih. Perempuan hamil yang mengalami depresi atau perubahan afektif lainnya sebaiknya mendapatkan dukungan emosional yang cukup.   
Perempuan dengan mual dan muntah dalam kehamilan yang lebih berat mungkin memerlukan terapi obat. Vitamin B6 (Pyridoxine) aman dan efektif digunakan untuk mengatasi keluhan tersebut. Jika terapi dengan vitamin B6 gagal, dapat diberikan anti muntah yang lain dari golongan antiemetik/ antihistamin/ antikolinergik/ obat yang meningkatkan motilitas saluran cerna (misalnyametoclopramide, diphenhydramine, meclizine, dimenhydrinate, atau ondansetron).

Pusing dan Pingsan4
Sistem kardiovaskular pada ibu hamil mengalami perubahan dramatis, seperti detak jantung naik, jantung memompa lebih banyak darah per menit dan jumlah darah dalam tubuh bertambah sebesar 40 hingga 45 persen. Tekanan darah secara bertahap berkurang pada awal kehamilan, mencapai titik terendah di tengah kehamilan, kemudian naik, dan kembali ke batas normalnya pada akhir kehamilan. Biasanya, sistem kardiovaskular dan sistem saraf mampu menyesuaikan diri dengan semua perubahan ini, tetapi terkadang juga tidak. Ketidakmampuan itu dapat membuat wanita hamil merasa pusing atau bahkan pingsan. Beberapa penyebab umum pusing dan pingsan selama kehamilan, yaitu:
1.       Berdiri terlalu cepat
Ketika seseorang duduk, darah cenderung berkumpul di ekstremitas bawah. Saat tiba-tiba berdiri, maka darah yang kembali dari kaki ke jantung tidak cukup banyak. Akibatnya, tekanan darah tiba-tiba turun, menyebabkan pusing karena jumlah darah dan oksigen di dalam otak tidak mencukupi.
2.       Berbaring dengan punggung (Telentang)
Saat kehamilan berlanjut, khususnya selama trimester kedua dan ketiga, pertumbuhan rahim dapat menyebabkan penurunan sirkulasi di kaki bagian bawah. Hal ini terjadi karena adanya tekanan pada vena cava inferior dan vena panggul. Ketika seorang wanita hamil berbaring telentang dalam waktu lama, dapat terjadi kondisi yang disebut sindrom hypotensive. Sindrom tersebut merupakan kondisi dimana terjadi peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, yang menyebabkan gejala kegelisahan, mual, sakit kepala ringan, dan lainnya.
3.       Tidak cukup makan dan minum
Banyak wanita hamil cenderung merasa mual karena morning sickness, sehingga mereka malas untuk makan atau minum. Hal itu dapat menyebabkan gula darah rendah atau yang disebut hipoglikemia, yang dapat membuat pusing atau pingsan selama kehamilan. Dehidrasi juga dapat menyebabkan pusing atau pingsan.
4.       Anemia
Anemia merupakan masalah umum pada kebanyakan wanita hamil. Anemia menyebabkan penurunan sel darah merah untuk membawa oksigen ke otak dan organ-organ lain. Hal ini menimbulkan perasaan pening dan pusing. Kekurangan zat besi adalah penyebab paling umum anemia.
5.       Kepanasan
Menghabiskan waktu di ruangan yang sangat panas atau mandi air panas dapat menyebabkan pembuluh darah melebar, menurunkan tekanan darah dan menyebabkan pusing dan pingsan selama kehamilan.
6.       Hiperventilasi
Olahraga berlebihan atau segala jenis aktivitas fisik yang berat dapat menyebabkan hiperventilasi. Hal ini bisa mengakibatkan kecemasan, sesak napas dan pusing, yang dapat menyebabkan pingsan selama kehamilan.
7.       Vasovagal syncope
Kadang-kadang, wanita merasa pusing ketika terjadi rangsangan untuk batuk, buang air kecil atau buang air besar. Tindakan ini pada akhirnya mendorong suatu respon vasovagal, di mana terdapat penurunan tekanan darah akibat tindakan saraf vagus. Hal ini menyebabkan penurunan denyut jantung, pusing dan kelelahan, juga pingsan.
Edema5
Edema terjadi karena ada penumpukan cairan yang berlebihan di jaringan. Selama kehamilan, hal ini normal terjadi pada tungkai bawah dan terkadang di tangan, karena tubuh menahan lebih banyak air. Perubahan kimia darah juga menyebabkan sejumlah cairan masuk ke dalam jaringan. Uterus yang membesar juga memberikan tekanan pada vena pelvis dan vena cava inferior. Tekanan tersebut memperlambat blood return dari ektremitas bawah, menyebabkan penumpukan, hingga akhirnya menekan cairan dari vena untuk keluar ke jaringan kaki dan pergelangan kaki. Edema paling sering muncul selama trimester ketiga.
Setelah proses persalinan, edema akan menghilang dengan cepat seiring dengan eliminasi kelebihan cairan oleh tubuh. Beberapa hari pertama setelah persalinan, ibu akan banyak berkeringat dan sering berkemih.
Gerakan janin6
Biasanya bayi sudah mulai menendang pertama kali di usia kehamilan 16 hingga 20 minggu. Wanita yang lebih kurus lebih cepat dan lebih sering merasakan gerakan bayi daripada wanita yang gemuk. Gerakan janin sering dideskripsikan ibu seperti sensasi popcorn popping, a goldfish swimming around, atau butterflies fluttering. Di awal trimester kedua walaupun janin bergerak dan menendang secara teratur, gerakan tersebut sering tidak cukup kuat untuk dirasakan ibu. Tetapi pada akhir trimester dua, gerakan tersebut akan menjadi lebih kuat dan lebih teratur.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Sulin, Djusar. Perubahan Anatomi dan Fisiologi pada Perempuan Hamil. Dalam: Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Ed. Ke-4. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2010: 175-85.
3.       Permata Cibubur, Rumah Sakit Ibu Anak dan Klinik Spesialis. Mual dan Muntah pada Kehamilan. Diunduh dari http://www.permatacibubur.com/en/see.php?id=Apr1-1&lang=id pada 1 November 2010.
4.     Baby Center. Dizziness and Fainting during Pregnancy. Diunduh dari http://www.babycenter.com/0_dizziness-and-fainting-during-pregnancy_228.bc pada 1 November 2010.
5.       Baby Center. Swollen Extremities (Edema) during Pregnancy. Diunduh dari http://www.babycenter.com/0_swollen-extremities-edema-during-pregnancy_230.bc pada 1 November 2010.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment