INSULIN
Oleh Dewi Sitoresmi
Proses Pembentukan dan Sekresi1
Secara fisiologis, regulasi glukosa darah yang baik diatur insulin
bersama dengan glukagon yang disekresikan oleh sel alfa kelenjar pankreas.
Sintesis insulin dimulai dalam bentuk preproinsulin (precursor hormon insulin) pada retikulum
endoplasma sel beta. Dengan bantuan enzim peptidase, preproinsulin mengalami
pemecahan sehingga terbentuk proinsulin, yang kemudian dihimpun dalam
gelembung-gelembung dalam sel tersebut. Proinsulin kemudian diurai kembali oleh
enzim peptidase menjadi insulin dan peptide-C yang keduanya sudah siap
disekresikan secara bersamaan melalui membran sel.
Fungsi insulin sangat dibutuhkan dalam proses
utilisasi glukosa yang
ada dalam darah. Kadar glukosa darah yang meningkat merupakan komponen utama
yang memberi rangsangan terhadap sel beta dalam memproduksi insulin. Diketahui
terdapat beberapa tahapan dalam proses sekresi insulin, setelah adanya
rangsangan oleh molekul glukosa:
Tahap pertama adalah proses glukosa melewati membran
sel. Untuk dapat melewati membran sel beta dibutuhkan bantuan senyawa lain. GLUT
2 yang terdapat dalam sel beta, diperlukan dalam proses masuknya glukosa dari
dalam darah, melewati membran. Kemudian molekul glukosa akan mengalami proses
glikolisis dan fosforilasi di dalam sel, dan kemudian membebaskan molekul ATP.
ATP tersebut akan mengaktifkan penutupan kanal K pada
membran sel. Penutupan ini berakibat terhambatnya pengeluaran ion K dari dalam
sel yang menyebabkan terjadinya tahap depolarisasi membran sel, yang diikuti
kemudian oleh tahap pembukaan kanal Ca. Keadaan inilah yang memungkinkan
masukanya ion Ca sehingga menyebabkan peningkatan kadar ion Ca intrasel.
Suasana ini dibutuhkan untuk proses sekresi insulin melalui mekanisme yang
cukup rumit dan belum seutuhnya dapat dijelaskan.
Dinamika sekresi insulin1
Dalam keadaan fisiologis, insulin disekresikan sesuai dengan kebutuhan
tubuh normal oleh sel beta dalam dua fase, sehingga sekresinya berbentuk
bifasik. Sekresi insulin normal yang bifasik ini akan terjadi setelah adanya
rangsangan seperti glukosa yang berasal dari makanan atau minuman. Insulin yang
dihasilkan ini, berfungsi mengatur regulasi glukosa darah agar selalu dalam
batas-batas fisiologis, baik saat puasa maupun saat mendapat beban.
Sekresi fase 1 (acute insulin
secretion response= AIR) adalah sekresi insulin yang terjadi segera setelah
ada rangsangan terhadap sel beta, muncul cepat dan berakhir juga cepat. Sekresi
fase 1 (AIR) mempunyai puncak yang relatif tinggi, karena hal itu memang
diperlukan untuk mengantisipasi kadar glukosa darah yang biasanya meningkat
tajam, segera setelah makan. Kinerja AIR yang cepat dan adekuat ini sangat
penting bagi regulasi glukosa yang normal karena pda gilirannya berkontribusi
besar dalam pengendalian kadar glukosa darah postprandial. Dengan demikian,
kehadiran AIR yang normal diperlukan untuk mempertahankan berlangsungnya proses
metabolisme glukosa secara fisiologis, bermanfaat dalam mencegah terjadinya
hiperglikemia akut setelah makan atau lonjakan glukosa darah postprandial (postprandial spike) dengan segala akibat
yang ditimbulkannya termasuk hiperinsulinemia kompensatif.
Selanjutnya, setelah sekresi fase 1 berakhir, muncul sekresi fase 2
(sustained phase, latent phase),
dimana sekresi insulin kembali meningkat secara perlahan dan bertahan dalam
waktu relatif lama. Setelah berakhirnya fase 1, tugas pengaturan glukosa darah selanjutnya
diambil alih oleh sekresi fase 2. Sekresi insulin fase 2 yang berlangsung
relatif lebih lama, seberapa tinggi puncaknya (secara kuantitatif) akan
ditentukan oleh seberapa besar kadar glukosa darah di akhir fase 1, disamping
faktor resistensi insulin. Jadi, terjadi semacam mekanisme penyesuaian dari
sekresi fase 2 terhadap kinerja fase 1 sebelumnya. Apabila sekresi fase 1 tidak
adekuat, terjadi mekanisme kompensasi dalam bentuk peningkatan sekresi insulin
pada fase 2. Peningkatan produksi insulin terebut pada hakikatnya dimaksudkan
memenuhi kebutuhan tubuh agar glukosa darah (postprandial) tetap dalam batas
normal. Dalam prospektif perjalanan penyakit, fase 2 sekresi insulin akan
banyak dipengaruhi oleh fase 1.
Biasanya dengan kinerja fase 1 yang normal, disertai pula oleh aksi
insulin yang juga normal di jaringan (tanpa resistensi insulin), sekresi fase 2
juga akan berlangsung normal. Dengan demikian, tidak dibutuhkan tambahan
sintesis maupun sekresi insulin pada fase 2 diatas noemal untuk dapat memeprtahankan
keadaan normoglikemia. Ini adalah keadaan fisiologis yang memang ideal karena
tanpa peninggian kadar glukosa darah yang dapat memberikan dampak
glucotoxicity, juga tanpa hiperinsulinemia dengan berbagai dampak negatifnya.








0 komentar:
Post a Comment