Friday, September 9, 2011

Rinitis Alergi & Rinitis Vasomotor

Rinitis merupakan inflamasi membran nasal dan ditandai dengan gejala kompleks yang terdiri dari kombinasi: bersin, kongesti nasal, gatal pada hidung, dan rhinorrhea. Mata, telinga, sinus, dan tenggorokan dapat ikut terlibat.
Rinitis diklasifikasikan menjadi:
a.      Rinitis alergi
b.      Rinitis non-alergi

RINITIS ALERGI
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut. Menurut WHO ARIA (Allergic Rinitis and its Impact on Asthma, 2001) rhinitis alergi adalah


kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E.

DIAGNOSIS
a.       Anamnesis
Perhatikan gejala: bersin berulang, rinore encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, kadang disertai lakrimasi.
b.      Pemeriksaan Fisik
-        Pada rinoskopi anterior :  mukosa edema, basah, berwarna pucat disertai sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi.
-        Allergic shiner :  terdapat bayangan gelap di daerah bawah mata karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung.
-        Allergic salute :  menggosok-gosok hidung karena gatal
-        Allergic crease :  garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah
-        Facies adenoid : mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi geligi
-        Cobblestone appearance : dinding posterior faring tampak granuler dan edema
-        Dinding lateral faring menebal
-        Geographic tongue :  lidah tampak seperti gambaran peta.
c.       Pemeriksaan Penunjang
-        In vitro
·         Pemeriksaan Ig E spesifik dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test).
·         Eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Basofil (>5sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri.
-        In vivo
·         Skin End-point Titration / SET à tes cukil kulit, uji intrakutan atau intradermal untuk mencari allergen penyebab. Dapat digunakan untuk mencari penyebab alergi inhalan.
·         Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT) à untuk alergen ingestan.

RINITIS NON-ALERGI
I.      Rinitis Vasomotor
Disebut juga vasomotor catarrh, vasomotor rhinorrhea, nasal vasomotor instability, atau juga non-allergic perennial rhinitis.
Adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia, perubahan hormonal (kehamilan, hipertiroid), dan pajanan obat (kontrasepsi oral, antihipertensi, B-blocker, aspirin, klorpromazin dan obat topikal hidung dekongestan). Rinitis ini digolongkan menjadi non-alergi bila tidak dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan alergi yang sesuai.

GEJALA KLINIK
Gejala sering dicetuskan oleh berbagai rangsangan non-spesifik, seperti asap/rokok, bau yang menyengat, parfum, minuman beralkohol, makanan pedas, udara dingin, pendingin dan pemanas ruangan, perubahan kelembaban, perubahan suhu luar, kelelahan, dan stress/emosi.
Gejala yang timbul mirip dengan rinitis alergi, namun gejala yang dominan adalah hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan (tergantung posisi pasien). Selain itu terdapat rinore yang mukoid atau serosa. Keluhan ini jarang disertai dengan gejala mata.
Gejala dapat memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan dalam 3 golongan, yaitu:
1.       Golongan bersin (sneezers), gejala biasanya memberikan respon yang baik dengan terapi antihistamin dan glukokortikosteroid topikal.
2.       Golongan rinore (runners), gejala dapat diatasi dengan pemberian anti kolinergik topikal
3.       Golongan tersumbat (blockers), kongesti umumnya memberikan respon yang baik dengan terapi glukokortikosteroid topikal dan vasokonstriktor lokal.

DIAGNOSIS
·        Umumnya ditegakkan dengan cara eksklusi, yaitu menyingkirkan adanya rinitis infeksi, alergi, okupasi, hormonal dan akibat obat. Dalam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala.
·         Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran yang khas berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap/merah tua, tetapi dapat pula pucat. Hal ini perlu dibedakan dengan rinitis alergi. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol-benjol (hipertrofi). Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore, sekret yang ditemukan ialah serosa dan banyak jumlahnya.
·         Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi pada jumlah sedikit. Tes cukil kulit biasanya negatif. Kadar Ig E spesifik tidak meningkat.

II.            Rinitis Medikamentosa
Rinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan respons normal vasomotor yang diakibatkan oleh pemakaian vasokonstriktor topikal (tetes hidung atau semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Dapat dikatakan bahwa hal ini disebabkan oleh pemakaian obat yang berlebihan (drug abuse).

Gejala dan Tanda
Pasien mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus dan berair. Pada pemeriksaan tampak edema atau hipertrofi konka dengan sekret hidung yang berlebihan. Apabila diberi tampon adrenalin, edema konka tidak berkurang.

KESIMPULAN
Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama. Rinitis alergi dapat di tegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang baik secara in vitro maupun in vivo. Diagnosis banding untuk rinitis alergi adalah rinitis non-alergi.

Daftar Pustaka :

1.       Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007. p. 128-32, 135-7.
2.       Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, Nadel JA. Murray & Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 4th ed. Philadelhia: Elsevier Saunders; 2005.
3.       Sheikh J, Najib U. Rhinitis Allergic. eMedicine: Medscape; 2009. [cited June 16 2010]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/134825-overview
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment