Thursday, October 6, 2011

Gangguan Berpikir & Halusinasi

Gangguan Proses Pikir dan Isi Pikir
Dewi Sitoresmi A

Berpikir adalah aliran ide, simbol, dan asosiasi yang bertujuan, diawali sebuah masalah atau tugas dan berakhir pada kesimpulan yang berorientasi pada kenyataan: bila terdapat urutan yang logis, cara berpikir dianggap normal; parapraksis (meleset dari logika secara tidak sadar, disebut juga Freudian slip) dianggap sebagai bagian cara berpikir normal. Cara berpikir abstrak adalah kemampuan untuk menangkap esensi suatu keseluruhan, memecah keseluruhan menjadi bagian, dan mencerna isyarat umum.1
A.      Gangguan menyeluruh dalam bentuk atau proses pikir1
1. Gangguan mental: sindrom perilaku atau psikologis yang nyata secara klinis dan disertai distress atau disabilitas, bukan sekedar respons yang diharapkan terhadap peristiwa tertentu atau terbatas dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat.
2. Psikosis:
ketidakmampuan untuk membedakan kenyataan dari khayalan; uji realitas terganggu, disertai pembentukan realitas baru (berlawanan dengan neurosis, gangguan mental dengan uji realitas yang tetap baik, perilaku dapat tidak bertentangan dengan norma sosial umum, tapi berlangsung lama atau berulang tanpa terapi)
3. Uji realitas: evaluasi dan penilaian objektif terhadap dunia di luar dirinya
4. Gangguan bentuk pikir: kelainan dalam bentuk pikir dan bukannya isi pikir, cara berpikir ditandai dengan asosiasi longgar, neologisme, dan konstruksi yang tidak logis; proses pikir terganggu, dan orangnya disebut psikotik.
5. Pikiran tak logis: pikiran yang mengandung kesimpulan yang salah atau kontradiksi internal; hanya dianggap psikopatologis bila sangat nyata dan tidak disebabkan oleh nilai budaya atau defisit intelektual.
6. Dereisme: aktivitas mental yang tidak sejalan dengan logika atau pengalaman
7. Pemikiran autistik: preokupasi dengan dunia pribadi di dalam dirinya sendiri; istilah yang biasa digunakan cukup bersinonim dengan dereisme.
8. Pemikiran magis: bentuk pikiran dereistik; cara berpikir yang menyerupai fase preoperasional pada anak (Jean Piaget), ketika pikiran, kata-kata, atau tindakan dianggap memiliki kekuatan (contohnya, menyebabkan atau mencegah suatu peristiwa).
9. Proses pikir primer: istilah umum untuk cara berpikir dereistik, tidak logis, magis; normal terdapat dalam mimpi, terdapat secara abnormal pada psikosis.
10.         Tilikan emosional: tingkat pemahaman atau kesadaran yang mendalam yang cenderung mengarah ke perubahan kepribadian dan perilaku yang positif.
B.      Gangguan spesifik dalam bentuk pikir1
1. Neologisme: kata baru yang diciptakan oleh pasien, seringkali dengan menggabungkan suku kata dari kata-kata lain, untuk alasan psikologis yang idiosinkratik.
2. Word salad: pencampuran kata atau frase yang inkoheren.
3. Sirkumstansialitas: gaya bicara tak langsung yang terlambat mencapai poin tertentu namun akhirnya dapat berangkat dari poin asal ke tujuan yang dikehendaki ditandai oleh detail dan kata-kata sisipan yang berlebihan
4. Tangensialitas: ketidakmampuan untuk mencapai asosiasi pikiran yang mengarah ke tujuan; pembicara tidak pernah beranjak dari poin awal ke tujuan yang diinginkan.
5. Inkoherensi: pikiran yang secara umum tidak dapat dipahami; pikiran atau kata-kata yang keluar tanpa hubungan logis maupun tidak sesuai tata bahasa, mengakibatkan disorganisasi.
6. Perseverasi: respon yang menetap terhadap stimulus sebelumnya meski telah diberikan stimulus baru; sering disebabkan oleh gangguan kognitif.
7. Verbigerasi: pengulangan atau kalimat tertentu tanpa makna.
8. Ekolalia: pengulangan kata atau kalimat yang diucapkan seseorang yang bersifat psikopatologis; cenderung berulang dan persisten dapat diucapkan dengan intonasi mengejek atau terputus-putus.
9. Kondensasi: penggabungan berbagai konsep menjadi satu.
10.         Jawaban tidak relevan: jawaban yang tidak selaras dengan pertanyaan yang diajukan (orang tersebut tampak mengabaikan atau tidak memperhatikan pertanyaan).
11.         Asosiasi longgar: aliran pikiran berupa perpindahan ide dari satu subjek ke subjek lain dalam cara yang sama sekali tidak berhubungan; bila parah, pembicaraan dapat menjadi inkoheren.
12.         Derailment: deviasi alur berpikir yang terjadi secara berangsur atau mendadak tanpa bloking; kadang digunakan sebagai sinonim asosiasi longgar.
13.         Flight of ideas: permainan kata-kata atau verbalisasi kontinu dan cepat yang menghasilkan perpindahan konstan dari satu ide ke ide lain; ide cenderung berhubungan dan pada keadaan yang tidak begitu parah, pendengar masih dapat mengikutinya.
14.         Clang association: keterkaitan kata-kata dengan bunyi yang mirip namun berbeda arti kata-kata tersebut tidak memiliki hubungan logis; dapat mencakup pembentukan rima dan sajak.
15.         Bloking: interupsi alur pikiran secara mendadak sebelum suatu pikiran atau ide tuntas; setelah jeda sebelum suatu pikiran atau ide tuntas; setelah jeda sejenak, seseorang tampak tidak ingat hal yang sedang atau akan dikatakan (disebut juga sebagai deprivasi pikiran).
16.         Glosolalia: pengungkapan wahyu melalui kata-kata yang tidak dapat dimengerti artinya (juga disebut sebagai bicara dalam lidah); tidka dianggap sebagai gangguan berpikir bila dikaitkan dengan praktek agama Pantekosta tertentu; disebut juga sebagai kriptolalia, bahasa tutur pribadi.
C.      Gangguan isi pikir spesifik1
1. Miskin isi: pikiran yang hanya memberi sedikit informasi karena hampa, pengulangan kosong, atau kalimat samar.
2. Ide berlebihan: kepercayaan salah yang menetap dan tidak masuk akal, dipertahankan tidak seteguh waham.
3. Waham: kepercayaan yang salah, didasarkan pada kesimpulan yang salah tentang realitas eksterna, tidak konsisten dengan latar belakang intelegensi dan budaya pasien; tidak dapat dikoreksi dengan penalaran.
a.       Waham bizar: kepercayaan yang salah dan aneh, sangat tidak masuk akal (contohnya, penyusup dari angkasa luar telah menanamkan elektroda ke dalam otaknya).
b.      Waham sistematik: kepercayaan yang salah atau kepercayaan yang disatukan oleh satu peristiwa atau tema tunggal (contohnya, seseorang merasa dikejar-kejar oleh CIA, FBI, atau mafia).
c.       Waham yang kongruen-mood: waham yang isinya sesuai dengan mood (contohnya, pasien depresi yang percaya bahwa dirinya bertanggung jawab akan kehancuran dunia).
d.      Waham yang tidak kongruen-mood: waham dengan isi yang tidak sesuai dengan mood atau netral terhadap mood (misalnya, seorang pasien depresi yang memliki waham kendali pikir atau siar isi pikir).
e.      Waham nihilistik: perasaan yang salah bahwa dirinya, orang lain, dan dunia ini tidak ada atau akan mengalami kiamat.
f.        Waham kemiskinan: kepercayaan yang salah pada seseorang bahwa ia bangkrut atau akan kehilangan semua harta bendanya.
g.       Waham somatik: kepercayaan salah yang melibatkan fungsi tubuh (contohnya, kepercayaan bahwa otaknya membusuk atau meleleh).
h.      Waham paranoid: termasuk diantaranya adalah waham kejar dan waham rujukan, kendali, dan kebesaran (dibedakan dari ide paranoid, yaitu kecurigaan dengan kadar lebih rendah dari proporsi waham).
                        i.      Waham kejar: kepercayaan yang salah pada seseorang yang merasa dirinya dilecehkan, dicurangi, atau dikejar; sering ditemukan pada pasien dengan kasus hukum yang memiliki kecenderungan patologis untuk mengambil tindakan hukum karena adanya suatu perlakuan salah yang imajiner.
                      ii.      Waham kebesaran: konsep seseorang akan arti penting diri, kekuatan atau identitiasnya yang terlalu dilebih-lebihkan.
                     iii.      Waham rujukan: kepercayaan yang salah dalam diri seseorang bahwa perilaku orang lain ditujukan kepada dirinya; bahwa peristiwa, objek, atau orang lain memiliki kepentingan tertentu dan luar biasanya, biasanya dalam konotasi negatif; berasal dari ide rujukan, yaitu ketika seseorang secara salah merasa bahwa orang lain membicarakan dirinya (contohnya, kepercayaan bahwa orang di tv dan radio berbicara kepada atau mengenai dirinya).
i.         Waham menyalahkan diri: perasaan menyesal dan rasa bersalah yang tidak pada tempatnya.
j.        Waham kendali: perasaan yang salah bahwa keinginan, pikiran, atau perasaan seseorang dikendalikan oleh kekuatan dari luar.
                        i.      Penarikan pikiran: waham bahwa pikiran seseorang dihilangkan dari dirinya oleh orang atau kekuatan lain.
                      ii.      Insersi pikiran: waham bahwa suatu pemikiran ditanamkan ke otak seseorang oleh orang atau kekuatan lain.
                     iii.      Diar pikiran: waham bahwa pikiran seseorang dapat didengar oleh orang lain, seolah-olah pikiran tersebut disiarkan di udara.
                    iv.      Kendali pikiran: waham bahwa pikiran seseorang dikendalikan oleh orang atau kekuatan lain.
k.       Waham ketidaksetiaan (waham cemburu): kepercayaan salah yang berasal dari kecemburuan patologis seseorang bahwa kekasihnya tidak setia.
l.         Erotomania: kepercayaan delusional, lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria, bahwa seseorang sedang jatuh cinta pada dirinya (juga diskenal sebagai kompleks (clerambault-Kandinsky).
m.    Pseudologia fantastika: bentuk kebohongan ketika seseorang tampaknya mempercayai bahwa khayalannya menjadi nyala dan terjadi pada dirinya; dikaitkan dengan sindrom Munchausen, berulangkali memalsukan penyakit.
4. Kecenderungan atau preokupasi pikiran: pemusatan isi pikir pada ide tertentu, dikaitkan dengan nada afektif yang kuat, seperti kecenderungan paranois atau preokupasi bunuh diri atau membunuh.
5. Egomania: preokupasi patologis mengenai diri sendiri
6. Monomania: preokupasi terhadap suatu objek tunggal,
7. Hipokondria: kekhawatiran yang berlebihan akan kesehatan yang tidak didasarkan atau patologi organik yang nyata, melainkan interpretasi yang tidak realistis atas tanda atau sensasi fisik yang dianggap abnormal.
8. Obsesi: menetapnya secara patologis suatu pikiran atau perasaan kuat yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran dengan usaha yang logis; dikaitkan dengan ansietas.
9. Kompulsi: kebutuhan patologis untuk bertindak berdasarkan sebuah impuls yang, bila ditahan, akan menimbulkan ansietas; perilaku repetitif sebagai respons terhadap suatu obsesi atau dilakukan berdasarkan aturan tertentu, tanpa maksud tujuan tertentu untuk mengakhirinya selain untuk mencegah sesuatu terjadi di masa akan datang.
10.         Koprolalia: secara kompulsif mengeluarkan kata-kata kotor.
11.         Fobia: kengerian patologis yang tidak bervariasi, berlebihan, tidak rasional, dan menetap akan suatu stimulus atau situasi spesifik; sehingga timbul hasrat yang kuat untuk menghindari stimulus yang ditakutkan tersebut.
a.       Fobia spesifik: rasa takut yang terbatas pada suatu objek atau situasi yang jelas (contohnya, takut akan laba-laba atau ular).
b.      Fobia sosial: takut dipermalukan oleh orang banyak, contohnya takut berbicara di depan umum, takut tampil, atau makan di tempat umum.
c.       Akrofobia: takut akan ketinggian
d.      Agoraphobia: takut akan tempat terbuka
e.      Algofobia: takut akan rasa nyeri
f.        Ailurofobia: takut akan kucing
g.       Eritrofobia: takut akan warna merah (merujuk kepada takut mukanya akan bersemu merah).
h.      Panfobia: takut akan segala hal
i.         Klaustrofobia: takut akan tempat tertutup.
j.        Xenophobia: takut akan orang asing
k.       Zoophobia: takut akan hewan
l.         Fobia jarum: ketakutan patologis yang intens dan menetap akan disuntik; juga disebut fobia injeksi darah.
12.         Noesis: wahyu berupa pencerahan yang terjadi menimbulkan perasaan bahwa seseorang terpilih untuk memimpin atau memerintah.
13.         Unio mystica: perasaan berlebih mengenai kesatuan mistis dan suatu kekuatan tak terbatas; tidak dianggap sebagai gangguan isi pikir bila sejalan dengan lingkungan agama atau budaya pasien.

GANGGUAN WAHAM1,2
Berdasarkan revisi teks edisi keempat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR), diagnosis gangguan waham ditegakkan bila seseorang memperlihatkan waham yang tidak bizarre dengan durasi sekurang-kurangnya 1 bulan dan tidak disebabkan oleh gangguan psikiatri lain. Tidak bizar berarti bahwa waham harus mengenai situasi yang dapat terjadi dalam kehidupan nyata, seperti merasa diikuti, terinfeksi, dicintai dari jauh, dan lain-lain; yaitu, mereka biasanya harus mengalami fenomena tersebut yang, meskipun tidak nyata dapat terjadi.
Penyebab gangguan waham tidak diketahui. Pasien yang saat ini digolongkan mengalami gangguan waham mungkin mengalami sekelompok keadaan heterogen dengan waham sebagai gejala yang menonjol. Substansi dan keadaan medis nonpsikiatri dalam kisaran luas, termasuk faktor biologis yang nyata, dapat menyebabkan waham, tetapi tidak setiap penderita tumor otak, misalnya, mempunyai waham.
Keadaan neurologis yang paling sering disertai waham adalah keadaan yang mengenai sistem limbik  dan ganglia basalis. Pasien yang wahamnya disebabkan penyakit neurologis dan yang tidak memperlihatkan gangguan intelektual cenderung mengalami waham kompleks yang serupa dengan penderita gangguan waham. Sebaliknya penderita gangguan neurologis dengan gangguan intelektual sering mengalami waham sederhana tidak seperti waham pada pasien dengan gangguan waham. Oleh karena itu, gangguan waham dapat melibatkan sistem limbik atau ganglia basalis pada pasien yang mempunyai fungsi korteks serebri intak.
Gangguan waham dapat timbul sebagai respons normal terhadap pengalaman abnormal pada lingkungan, sistem saraf tepi, atau sistem saraf pusat. Oleh karena itu, jika pasien mengalami pengalaman sensorik salah yaitu merasa diikuti (misal mendengar langkah kaki), pasien mungkin percaya bahwa mereka sebenarnya diikuti. Hipotesis tersebut bergantung pada adanya pengalaman seperti halusinasi yang perlu dijelaskan.
Norman Cameron menguraikan tujuh situasi yang mempermudah perkembangan gangguan waham, yaitu peningkatan harapan mendapatkan perlakuan yang sadistik, situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan, isolasi social, situasi yang meningkatkan rasa iri dan cemburu, situasi yang merendahkan harga diri, situasi yang menyebabkan orang untuk melihat kekurangan mereka dalam diri orang lain, dan situasi yang meningkatkan potensi untuk perenungan terhadap kemungkinan arti dan motivasi.
Pasien dengan gangguan waham terutama menggunakan mekanisme defense berupa proyeksi, penyangkalan dan pembentukan reaksi. Tipe waham tertentu yang dihubungankan dengan gangguan waham, yaitu waham bizar, cemburu, erotomania, kebesaran, kongruen-mood, tidak kongruen-mood, kendali, rujukan, kejar, somatik, siar pikiran, insersi pikiran.
Prinsip tindakan keperawatan pada waham adalah:
-          Tetapkan hubungan saling percaya
-          Identifikasi isi dan jenis waham
-          Kaji intensitas, frekuensi, dan lamanya waham
-          Identifikasi stressor waham
-          Identifikasi stressor terbesar yang dialami baru-baru ini
-          Hubungan unsur waham dan onset stress
-          Jika pasien bertanya apakah anda percaya waham tersebut, katakana bahwa itu merupakan pengalaman pasien. Contohnya, “Saya mengerti anda merasa sebagai….tapi sukar bagi saya untuk mempercayainya karena…”
-          Penuhi kebutuhan yang dipenuhi oleh waham
-          Identifikasikan kebutuhan emosional yang dipenuhi oleh waham
-          Sekali waham dimengerti, hindari dan jangan mendukung pembicaraaan berulang tentang waham.

HALUSINASI2

Prinsip tindakan keperawatan pada pasien halusinasi, adalah:
-          Tetapkan hubungan saling percaya
-          Identifikasi apakah pasien sebelumnya telah minum obat bius atau alKohol
-          Kaji isi, frekuensi, waktu, intensitas, perasaan dan tindakan yang berhubungan dengan halusinasi
-          Jika pasien bertanya, nyatakan secara sederhana bahwa pemeriksa tidak mengalami stimulus yang sama. Contohnya, “Saya percaya anda mendengar suara…tapi saya sendiri tidak mendengarnya.”
-          Bantu pasien menjelaskan kebutuhan yang mungkin direfleksikan dalam isi halusinasi
-          Bantu pasien mengidentifikasi hubungan antara halusinasi dan kebutuhan yang direfleksikan
-          Sarankan dan kuatkan penggunaan hubungan interpersonal dalam memenuhi kebutuhan.

DAFTAR PUSTAKA
1.       Kaplan Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry.Ed. Ke-7. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2000.
2.       Bagian Keperawatan Jiwa, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Gangguan orientasi realitas. Diunduh dari http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/d7d6b0dd3e6159dbe5c9e38074d7afc37ba6b285.pdf pada 26 Desember 2010.



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment