Tuesday, November 29, 2011

Alergi Obat


Reaksi Alergi Terhadap Obat dan Obat-Obat yang Menyebabkan Alergi
Rr. Dewi Sitoresmi A.

Gambaran Umum Alergi Obat
Obat didefinisikan sebagai senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit atau menimbulkan suatu kondisi tertentu. Walau pada dasarnya obat diproduksi untuk kesembuhan penderita, kenyataannya obat tetap merupakan bahan asing untuk tubuh yang dapat menimbulkan berbagai reaksi yang tidak diinginkan. Reaksi simpang obat (RSO) terbanyak tidak terjadi melalui reaksi imun, tetapi nonimun seperti efek samping, efek sekunder yang biasanya tidak dapat diramalkan. Ruam kulit merupakan reaksi obat terbanyak. RSO terbanyak terjadi terhadap betalaktam dan antibiotik lain. Dalam spesialisasi alergi-imunologi, alergi obat berarti reaksi imun yang terjadi melalui IgE atau reaksi hipersensitivitas cepat.
Epidemiologi
Reaksi obat yang tidak diinginkan untuk kesehatan masyarakat sangat penting mengingat potensinya yang dapat mengancam nyawa. Menurut WHO, RSO diartikan sebagai respon berbahaya dan tidak diinginkan terhadap obat pada pemberian dosis normal. RSO ditemukan pada 5-15% pemberian obat dan reaksi alergi merupakan sekitar 10% dari RSO.
Jenis Obat. Obat yang paling sering menimbulkan reaksi berat adalah
betalaktam, sulfonamide, AINS, trimetoprim, sulfametoksazol. Reaksi ringan (seperti mual) sering ditimbulkan narkotik, antibiotic, dan obat kardiovaskuler.
Faktor obat: kimiawi dan berat molekul. Obat dengan struktur yang lebih besar/berat molekul tinggi dan kompleks (protein manusia, antisera, insulin) cenderung lebih sering menimbulkan reaksi imun dibanding obat dengan berat molekul rendah
Regimen pengobatan. Induksi alergi meningkat dalam urutan pemberian sebagai berikut: oral, IV, IM, SK, dan topikal. Topikal dan IV lebih cenderung menimbulkan reaksi dibanding dengan oral. Pemberian intermitten lebih cenderung menimbulkan sensitasi dibanding pemberian terus menerus
Faktor pejamu. Meskipun alergi obat dapat terjadi pada setiap usia, namun tersering terjadi pada usia muda atau produktif dan lebih sering pada wanita (2x dibanding pria) yang juga lebih cenderung menderita penyakit autoimun
Atopi  Anak dari ibu dengan alergi obat menunjukkan risiko 15x lebih tinggi dibanding dengan anak dari ibu tanpa alergi obat. Peran atopi dalam alergi obat masih merupakan hal yang controversial.
Penyakit tertentu. Penderita dengan infeksi virus lebih berisiko untuk reaksi obat. Penderita AIDS juga lebih cenderung menderita reaksi kulit khas morbiliform oleh pemberian sulfametoksazol atau trimetroprim
Gangguan metabolism. Defisiensi G6PD (anemia hemolitik), asetilasi lambat (LES), asetilasi cepat (hepatotoksisitas) dan sebagainya memudahkan reaksi terhadap obat tertentu
Lingkungan. Cahaya UV dapat mengubah imunogenisitas obat tertentu

Klasifikasi alergi obat
Berdasarkan Gel dan Coomb, reaksi alergi diklasifikasikan menjadi empat tipe, tipe I-IV. Immediate-type hypersensitivity reactions, diperantarai Imunoglobulin E (IgE) antibodi spesifik obat dengan gambaran urtikaria, angioudem, dan anafilaksis. Reaksi toksisitas akibat obat, diperantarai oleh antibodi IgG atau IgM termasuk anemia hemolitik akibat obat, trombositopenia akibat obat serta leukopenia akibat obat. Reaksi imun kompleks akibat obat diperantarai oleh kebanyakan obat (penisilin, sulfonamid) memiliki berat molekul yang rendah (hapten) yang terikat dengan protein sebelum dikenal oleh limfosit atau antibodi. Reaksi pseudoalergi terhadap obat dapat menyerupai mekanisme imunologi ini, contoh pelepasan histamine oleh opioid dan aktivasi komplemen oleh bahan kontras radioaktif.
Konsep mekanisme alergi obat
A. Konsep hapten
Penisilin dan obat lain dengan berat molekul yang tidak besar seperti sefalosporin, sulfonamid, pelemas otot, antituberkulosis, tiopental, kuinidin, sisplatin, untuk dapat memacu respon imun harus berikatan terlebih dahulu dengan protein pembawa agar dapat menginduksi respon imun spesifik yang disebut konsep hapten. Hapten membuat ikatan kovalen dengan peptida pembawa untuk dapat memacu respon imun.
B. Konsep pro-hapten
Obat lainnya tidak reaktif-inheren dan untuk menjadi intermediet yang reaktif, perlu dikonversi (melalui proses metabolik) terlebih dahulu yang terjadi dengan bantuan enzim/nonenzim yang disebut konsep prohapten. Sulfametoksazol merupakan prototip prohapten yang sendirinya tidak reaktif secara kimiawi, tetapi memperoleh imunogenisitas setelah dimetabolisme dalam sel. Metabolit sitokrom P450 dependen memacu produksi sulfometoksazol yang dengan mudah dapat ditransformasi oleh oksidasi ekstraseluler menjadi sulfametoksazol-hidroksilamin yang sangat reaktif. Yang akhir diikat secara kovalen oleh peptida protein. Hasil gambaran klinisnya dapat variabel sesuai dengan efek prohapten yang dapat dilepas keluar sel di berbagai bagian tubuh. Sulfametoksazol dapat menimbulkan reaksi yang mengenai berbagai organ.
C. Konsep p-i
Selama puluhan tahun, konsep hapten merupakan paradigma yang menerangkan bagaimana molekul kecil seperti berbagai obat dapat memacu respon imun. Dewasa ini ada bukti-bukti yang menunjang mekanisme lain, adanya ikatan reversibel (selain ikatan kovalen) dengan molekul MHC atau reseptor sel T. Konsep baru ini disebut konsep p-i, merupakan interaksi direk farmakologi obat dengan reseptor sel T yang dapat mengaktifkan sel T. interaksi p-i atau konsep p-i dapat dibuktikan secara klinis dan melalui berbagai konsep
Ciri-ciri klinis penyakit alergi obat
Reaksi alergi obat menunjukkan ciri-ciri seperti penyakit alergi pada umumnya:
-          Terjadi hanya pada sebagian kecil penderita yang mendapat obat
-          Manifestasi klinis tidak menyerupai efek farmakologik obat
-          Gejala berhubungan dengan mekanisme imun; reaksi dapat menyerupai reaksi alergi lainnya seperti anafilaksis, urtikaria, asma, dan penyakit serum. Berbagai jenis ruam kulit (terutama eksantema), panas, infiltrasi paru oleh eosinofil, hepatitis, nefritis interstisial akut dan sindrom lupus dapat terjadi pada hipersensitivitas obat.
-          Obat yang menimbulkan reaksi memiliki struktur kimia yang dapat memacu reaksi imun; reaksi dapat ditimbulkan obat dosis kecil atau bahan lain yang memiliki atruktur kimia yang sama atau yang menunjukkan reaksi silang.
-          Oleh karena imunitas itu spesifik, reaksinya tidak universal, tidak berhubungan dengan dosis dan efek farmakologi obat
-          Reaksi pada umumnya tidak terjadi pada pajanan pertama; reaksi imun memerlukan memori (sensitasi)  dan terjadi pada pajanan ulang; reaksi akibat pajanan selanjutnya terjadi lebih cepat.
-          Tanpa adanya pajanan terdahulu, gejala alergi jarang nampak dalam satu minggu pada pemberian yang terus menerus. Setelah sensitasi, meskipun terjadi beberapa tahun sebelumnya, reaksi dapat timbul cepat pada pajanan ulang dengan obat. Pada umumnya, obat yang sudah diberikan bebas untuk beberapa bulan atau lebih lama, jarang menimbulkan reaksi.
-          Eosinofil, bila ditemukan menunjang adanya alergi obat.
-          Antibodi atau sel T yang spesifik untuk obat telah diidentifikasi dan dapat bereaksi dengan obat yang dicurigai atau metabolit obat relevan. Namun, hal itu jarang mempunyai arti diagnostik dalam praktik, kecuali untuk protein dengan berat molekul tinggi.
-          Reaksi sering menghilang dalam beberapa hari setelah obat dihentikan. Namun dalam beberapa hal, reaksi menetap karena dibentuknya metabolit obat sebagai hapten yang dibawa protein. Dalam beberapa hal seperti pada penyakit serum, dibentuk kompleks imun dan bila tidak diobati, gejala menetap untuk beberapa minggu.
Daftar Pustaka
1.       Baratawidjaja, Karnen Garna, dan Iris Rengganis. Alergi Dasar. Ed. Ke-1. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam, 2009: 459-72, 499-509.
2.       Mariyono, Harbanuh, dan Ketut Suryana. Adverse Drug Reaction. Jurnal Penyakit Dalam, Volume 9, Nomor 2, 2008: 167.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment