Thursday, December 22, 2011

Ascaris lumbricoides - Askariasis

Ascaris lumbricoides
Oleh Rizka Hanifah 

Ascaris lumbricoides
Infeksi cacing usus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut Moersintowati masyarakat pedesaan atau perkotaan yang padat dan kumuh mudah terinfeksi oleh cacing. Salah satu penyebab infeksi cacing usus adalah A.lumbricoides. Infeksi yang disebabkan oleh cacing ini disebut askariasis.

 Epidemiologi
Sekitar 1,4 milyar orang di dunia terinfeksi oleh A.lumbricoides.  Di daerah endemik, termasuk negara di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin, prevalensinya mencapai 10-90%. Prevalensi di Indonesia sebesar 90%.  A.lumbricoides sering menginfeksi anak berumur dibawah 10 tahun dengan prevalensi paling banyak pada usia 7-12 tahun.

Daur Hidup dan Morfologi A.lumbricoides
A.lumbricoides jantan berukuran
10 - 30 cm, sedangkan betina 22 – 35 cm, dan berwarna merah muda kekuningan. Pada stadium dewasa cacing A.lumbricoides hidup di rongga usus halus. Telur dari cacing betina dapat mencapai 100.000 – 200.000 butir sehari, telur ini terdiri atas telur yang dibuahi dan yang tidak dibuahi. Di lingkungan yang kondusif, telur yang dibuahi dapat tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bila bentuk infektif ini tertelan manusia, akan berkembang menjadi larva di usus halus. Kemudian larva akan menerobos dinding usus lalu masuk ke pembuluh darah atau saluran limfa menuju jantung. Setelah masuk jantung, larva mengikuti aliran darah ke paru lalu menembus dinding pembuluh darah dan dinding alveolus, kemudian masuk ke rongga alveolus dan naik ke trakea. Larva lalu menuju faring dan menimbulkan rangsangan batuk kemudian tertelan masuk ke dalam esofagus dan menuju usus halus untuk tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses ini berlangsung sekitar 2 bulan sejak tertelannya larva hingga menjadi cacing dewasa. Jangka hidup A.lumbricoides adalah 12-18 bulan.7,8


Patofisiologi & Manifestasi Klinis
Walaupun mayoritas infeksi cacing A.lumbricoides bersifat asimptomatik, tetapi pada kondisi hiperinfeksi dapat menyebabkan kekurangan gizi.  A.lumbricoides dapat mengeluarkan cairan tubuh yang bersifat toksik sehingga dapat muncul gejala seperti demam typhoid yang disertai dengan tanda-tanda alergi. Pada anak-anak dengan infeksi berat dapat terlihat perut yang menonjol dan mata yang pucat serta kotor. Selain itu, gangguan dapat disebabkan oleh larva yang masuk ke paru sehingga menyebabkan perdarahan pada dinding alveolus, hal ini disebut sindroma Loeffler.
Cacing dewasa dapat menyebabkan gangguan mekanik seperti obstruksi dan   perforasi ulkus di usus sehingga perut sering sakit, mual, diare, dan konstipasi. Migrasi cacing ke organ seperti lambung, esofagus, mulut, hidung dan bronkus dapat menyebabkan sumbatan pernapasan. Askariasis dapat menyebabkan kegawatan bila sejumlah besar cacing menggumpal menjadi suatu bolus sehingga menyumbat rongga usus dan menyebabkan gejala abdomen akut.

Diagnosis
Diagnosis askariasis ditetapkan dengan menemukan telur melalui pemeriksaan tinja, atau menemukan cacing dewasa dalam muntah atau tinja. Jumlah telur dapat digunakan untuk menentukan berat ringannya infeksi.

Tata Laksana
Pengobatan dapat dilakukan baik secara individual mapun secara massal pada masyarakat.Pilihan obat antara lain:
  1. Albendazol
Dosis albendazol pada dewasa dan anak-anak yang berusia lebih dari 2 tahun adalah 400 mg per oral. Dosis dapat diulang 2-3 hari untuk infeksi A.lumbricoides berat.
  1. Mebendazol
 Mebendazol 100 mg dapat diminum dua kali sehari selama 3 hari untuk dewasa dan anak usia lebih dari 2 tahun.
  1. Pirantel Pamoat
Pirantel Pamoat diberikan 11 mg/kgBB per oral dengan dosis maksimal 1 g untuk dewasa dan anak diatas 2 tahun. Pengobatan dapat diulangi setelah 2 minggu apabila masih ditemukan telur pada feses setelah pengobatan.

Daftar Pustaka
  1. Moersintowarti B. Pengaruh cacingan pada tumbuh kembang anak. Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Penanggulangan Cacingan. Fakultas Kedokteran Unair. Surabaya; 1992
2.      Dora-Laskey A, Ezenkwele UA, Weiss EL. Ascaris lumbricoides [online]. May 2010. Diunduh pada 11 Januari 2010 dari http://emedicine.medscape.com/article/788398-overview
3.      Angraini R, Dimyati Y, Lubis B, Pasaribu S, Lubis CP. Association between soil-transmitted helminthiasis and hemoglobin concentration in primary school children. Paediatrica Indonesiana. 2005; 45(1-2):24-5.
4.      Kayser FH, Bienz KA, Eckert J, Zinkernagel. Colour atlas of medical microbiology [e-book]. Thieme; 2005. p.577-9.
5.      Direktorat Jenderal PP & PL, Departemen Kesehatan R.I. pedoman pengendalian cacingan. Jakarta: 2007.
6.      Soedarto. Helmintologi kedokteran. Edisi ke- 2. Jakarta: EGC; 1995.
7.       Katzung BG.Clinical pharmacology of the antihelmintic drugs.Basic and clinical pharmacology 10th edition. New York: Mcgraw hill; 2006.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment