Monday, December 5, 2011

TATALAKSANA & PENCEGAHAN DIABETES MELITUS


TATALAKSANA FARMAKOLOGI DM
 Oleh Rizka Hanifah 

Terapi Insulin
Insulin masih merupakan obat utama untuk DM tipe 1 dan beberapa DM tipe 2. Suntikan insulin dapat dilakukan dengan berbagai cara:
§  intra vena : bekerja sangat cepat yakni dalam 2-5 menit akan terjadi penurunan glukosa darah
§  intramuskuler : penyerapannya lebih cepat 2 kali lipat daripada subkutan
§  subkutan : penyerapanya tergantung lokasi penyuntikan, pemijatan, kedalaman, konsentrasi. Insulin diberikan subkutan dengan tujuan mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal sepanjang hari. Insulin subkutan umumnya diberikan kepada DM tipe 1, DM tipe 2 yang tidak dapat diatasi hanya dengan diet dan antidiabetik oral, pasien DM pascapankreatomi atau DM dengan kehamilan, Dm dengan ketoasidois, koma nonketosis, atau komplikasi lain, dan sebelum tindakan operasi.
Preparat insulin berdasarkan puncak dan jangka waktu efeknya:
  1. kerja cepat à yaitu insulin reguler, satu-satunya insulin jernih/larutan insulin (yang lain suspensi). Satu-satunya yang cocok untuk pemberian intravena. Untuk kebutuhan postprandrial.
  2. kerja sedang à NPH mengandung protamin dan sejumlah zink yang mempengaruhi reaksi imunologik seperti urtikaria pada lokasi suntikan. Untuk memenuhi kebutuhan insulin basal.
  3. campur kerja cepat dan sedang
  4. kerja panjang à kadar zink tinggi untuk memperpanjang waktu kerjanya. Untuk memenuhi kebutuhan insulin basal.

Preparat dan Dosis
Sediaan insulin umumnya diperoleh dari bovine (sapi) atau porcine (babi). Kebutuhan insulin pada pasien DM umumnya berkisar antara  5-150 U sehari.

Efek Samping
1.      Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi akibat dosis insulin yang terlalu besar atau karena adanya faktor yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin.
2.      Reaksi Alergi dan Resistensi
3.      Lipoartrofi dan Lipohipertrofi
Lipoartrofi jaringan lemak subkutan di tempat suntikan dapat timbul akibat varian respon imun terhadap insulin; sedangkan lipohipertrofi dimana terjadi penumpukan lemak subkutan terjadi akibat efek lipogenik insulin yang kadarnya tinggi pada daerah tempat suntikan.
4.      Efek samping lain
Edema, rasa kembung di abdomen, dan gangguan vius, timbul pada banyak pasien DM dengan hiperglikemia berat atau ketoasidosis yang sedang diterapi dengan insulin.

Interaksi
Beberapa hormon bersifat antagonis terhadap efek hipoglikemik insulin, seperti hormon pertumbuhan, kortikotropin, glukokortikoid, tiroid, estrogen, progestin, dan glukagon.

OBAT ANTIDIABETIK ORAL
Ada 5 golongan antidiabetik oral (ADO) yang dapat digunakan untuk DM dan telah dipasarkan di Indonesia, yakni golongan: sulfonilurea, meglitinid, biguanid, penghambat α-glukosidase, dan tiazolidinedion.

Golongan Sulfonilurea
Terdiri dari 2 generasi:
  1. Generasi 1: tolbutamid, tolazamid, asetoheksimid, dan klorpropamid.
  2. Generasi 2: gliburid/glibenklamid, glipizid, gliklazid, dan glimepirid.

Mekanisme Kerja
Golongan obat ini sering disebut sebagai insulin secretagogues, kerjanya merangsang sekresi insulin dari granul sel-sel β dan akan terjadi sekresi insulin.

Efek Samping
Insidens efek samping generasi 1 sekitar 4%, insidensnya lebih rendah lagi untuk generasi 2. Hipoglikemia, bahkan sampai koma tentu dapat timbul. Reaksi ini lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut dengan gangguan fungsi hepar atau ginjal, terutama dengan menggunakan sediaan dengan masa kerja panjang.

Indikasi
Pada umumnya hasil yang baik diperoleh pada pasien yang diabetesnya mulai timbul di atas 40 tahun. Sulfonilurea tidak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada pasien DM juvenil, pasien yang kebutuhan insulinnya tidak stabil, DM berat, DM dengan kehamilan dan keadaan gawat.

Interaksi
Obat yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu penggunaan sulfonilurea antara lain insulin, alkohol, fenformin, dan sulfonamid.

Meglitinid
Meglitinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid, mekanisme kerjanya sama dengan sulfonilurea tetapi struktur kimianya berbeda. Pada pemberian oral absorpsinya cepat dan kadar puncaknya dicapai dalam waktu 1 jam. Masa paruhnya 1 jam, karenanya harus diberikan beberapa kali sehari, sebelum makan. Metabolisme utamanya di hepar dan metabolitnya tidak aktif. Sekitar 10% di metabolisme di ginjal. Efek samping utamanya hipoglikemia dan gangguan saluran cerna.

Biguanid
Sebenarnya ada tiga jenis dari golongan ini: fenformin, buformin, dan metformin. Tetapi yang pertama telah ditarik dari pasaran karena sering menyebabkan asidosis laktat.20,21 Sekarang yang paling banyak digunakan adalah metformin. Metformin menurunkan produksi glukosa di hepar dan meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adiposa terhadap insulin. Efek ini terjadi karena adanya aktivasi kinase di sel. Metformin oral akan mengalami absorpsi di intestin, dalam darah tidak terkait dengan protein plasma, ekskresinya melalui urin dalam keadaan utuh. Masa paruhnya sekitar 2 jam. Hampir 20 % pasien dengan metformin mengalami mual, muntah, diare serta metalic state; tetapi dengan menurunkan dosis keluhan-keluhan tersebut segera hilang. Biguanid tidak boleh diberikan pada kehamilan, pasien penyakit hepar berat, penyakit ginjal dengan uremia dan penyakit jantung kongestif dan penyakit paru dengan hipoksia kronik.

Golongan Tiazolidinedion
Mekanisme kerja
Tiazolidinedion merupakan agonis poten dan selektif Peroxixome-Proliferators-Aactivated-Receptor γ (PPARγ), mengaktifkan PPARγ membentuk kompleks PPARγ-RXR dan terbentuklah GLUT baru. Di jaringan adiposa PPARγ mengurangi keluarnya asam lemak menuju otot, dan karenanya dapat mengurangi resistensi insulin. Jadi agar obat dapat bekerja harus tersedia insulin. Pada pemberian oral absorbsi tidak dipengaruhi makanan, berlangsung kurang lebih 2 jam. Metabolismenya di hepar. Ekskresnya melalui ginjal. Efek sampinya antara lain peningkatan berat badan, edema, pertambahan volume plasma dan memperburuk gagal jantung kongestif.

Penghambat enzim α-glukosidase
Akarbose merupakan oligosakarida yang berasal dari mikroba dan miglitol secara kompetitif menghmbat glukoamilase dan sukrase, tetapi efeknya pada α amilase pankreas lemah. Kedua preparat dapat menurunkan glukosa plama postparandial pada DM tipe 1 dan 2. Efek sampinya bersifat dose-dependent, antara lain malabsorpsi, flatulen, diare, dan abdominal bloating.

UPAYA PREVENTIF DAN PROMOTIF DM
Tujuan program pengendalian DM di Indonesia adalah terselenggaranya pengendalian faktor risiko untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan DM. Pengendalian DM lebih diprioritaskan pada pencegahan dini melalui upaya pencegahan faktor risiko DM yaitu upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Penyakit ini dapat dicegah dengan merubah pola makan yang seimbang.

Tips Pencegahan Diabetes :
  1. Membiasakan diri untuk hidup sehat.
  2. Biasakan diri berolahraga secara teratur. Perbanyak melakukan aktifitas fisik minimal 30 menit setiap harinya. Diantaranya, berenang, bersepeda, jogging, jalan cepat.
  3. Hindari menonton televisi atau menggunakan komputer terlalu lama.
  4. Jangan mengonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan. garam yang tinggi. Hindari makanan siap saji dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
  5. Konsumsi sayuran dan buah-buahan.
  6. Kurangi makanan yang mengandung banyak protein, lemak, gula dan garam. Rajin memeriksa kadar gula urine setiap tahun

Family Conference

Family conference adalah pertemuan antara dokter dengan keluarga pasien untuk menemukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi pasien dan mengidentifikasi bagaimana peran pasien dalam keluarga.
Ada 5 keterlibatan dokter dengan keluarga pasien:
1.      minimal: hanya dengan pasien
2.      berkomunikasi dengan keluarga (pendamping) secara teratur bila pasien datang untuk kontrol, terkait medis dan klinis.
3.      keluarga dibutuhkan untuk mengetahui faktor stress dan perasaan dalam kaitannya terhadap pasienà bagaimana hubungan antar anggota keluarga, masalah keluarga apa yang ada.
4.      assessment fungsi-fungsi keluargaà biologis, psikologis, riwayat penyakit keluarga, lingkungan rumah.
5.      family terapi

Penelitian tentang peran keluarga dalam penanganan pasien DM menunjukkan bahwa dosis terapi insulin berkurang seiring peningkatan dukungan terstruktual dari keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang optimal membutuhkan dukungan dan pengawasan dari keluarga serta penghargaan terhadap individu dan autonomi sesuai peran pasien tersebut dalam keluargaà upayakan partisipasi keluarga dalam terapi penyakit.
Tujuan dari penilaian keluarga dan keterlibatannya dalam pelayanan kesehatan:
·         Mengetahui keterlibatan keluarga dalam masalah medis pasien
·         Berkomunikasi dengan anggota keluarga lain mengenai manajemen penyakit pasien
·         Mengenali adanya masalah perilaku
·         Menilai perilaku dan respon emosional keluarga terhadap maslah pasien dan memberikan dukungan emosional’
·         Menyediakan penyuluhan/bimbingan untuk meningkatkan adaptasi emosi fungsional keluarga terhadap masalah medis pasien
·         Melakukan penilaian awal dalam hubungan dokter-pasien-keluarga.
Tahapan Konferensi keluarga:
Tugas pra konferensi:
·         Persiapan
·         Mempersiapkan dan mempelajari genogram
·         Mengembangkan hipotesis
Tugas saat konferensi
Fase 1. bersosialisasi
Fase 2. mengembangkan goals
Fase 3. mendiskusikan masalah
Fase 4. identifikasi sumber-sumber masalah
Fase 5. menentukan rencana
Tugas pasca konferensi
·         Merevisi genogram
·         Merevisi hipotesis
·         Menulis laporan konferensi

Penyuluhan kesehatan pada penderita diabetes mellitus merupakan suatu hal yang amat penting dalam regulasi gula darah penderita DM dan mencegah atau setidaknya menghambat munculnya penyulit kronik maupun penyulit akut yang ditakuti oleh penderita. Penyuluhan diperlukan karena penyakit diabetes penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup. Berhasilnya pengobatan diabetes tergantung pada kerja sama antara petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya. Pasien yang mempunyai pengetahuan cukup tentang diabetes, kemudian selanjutnya mengubah perilakunya, akan dapat mengendalikan kondisi penyakitnya sehingga ia dapat hidup lebih lama.
Penyuluhan diabetes Mellitus dapat dilakukan untuk pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier. Penyuluhan mengenai DM dan pengelolaannya sangat penting untuk mendapatkan ketaatan berobat pasien yang baik dan teratur. Pengaturan sistem rujukan yang baik menjadi sangat penting untuk memback up pelayanan kesehatan primer yang merupakan ujung tombak pengelolaan DM. Dengan demikian akan dapat diharapkan hasil pengelolaan yang sebaik-baiknya, apalagi bila ditunjang pula dengan adanya tata cara pengelolaan baku yang dapat menjadi pegangan bagi para pengelola.

1.      Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006.
2.      Suharti K. Suherman. Insulin dan Antidiabetik Oral. In: Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Sulistia Gan Gunawan, editor. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2008.
3.      Sidartawan Soegondo. Farmakoterapi pada Pengendalian Glikemia Diabetes Melitus Tipe 2. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Aru W sudoyo, editor. Edisi 5.  Jakarta: Internal Publishing; 2009.
4.      Bertram G Katzung. Basic Clinical Pharmacology. Edisi ke-10. San Fransisco: McGrawHill inc,. 2006.


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment