Apotik Online - BeliObatOnline.com

Mau beli obat secara online? Buka aja BeliObatOnline.com. Pengiriman ke seluruh Indonesia. Harga khusus pemesanan banyak. Aman dan Terpercaya

Jasa Cari dan Buka Jurnal Kedokteran Berbayar

Butuh partner cari jurnal? mau buka jurnal berbayar? yuk lihat buktinya! cuma 20.000/jurnal.

Jasa Pembuatan Tinjauan Pustaka dan Slide Presentasi

Sibuk? Butuh bantuan membuat tinjauan pustaka atau slide presentasi? Hubungi Kami. Klik di sini.

Terjemahan Inggris-Indonesia untuk Umum dan Kedokteran

Butuh bantuan untuk menerjemahkan? Kami bisa bantu. Lihat kualitas kerja kami di sini.

Artikel Edukasi Kesehatan untuk Masyarakat

Tersedia berbagai macam artikel untuk masyarakat agar bisa lebih mengerti kesehatan dengan baik.

Thursday, April 28, 2011

CARDIAC MARKER, Pemeriksaan Lab Ginjal

PEMERIKSAAN LABORATORIUM


CARDIAC MARKER
Peran cardiac marker pada diagnosis, penentu risiko, serta pengobatan pada pasien dengan sakit dada dan dicurigai mengidap Acute Coronary Syndrome (ACS) terus berkembang. Evaluasi klinik dari pasien dengan kemungkinan ACS biasanya terbatas karena gejala yang tidak spesifik. Guideline konsensus yang terbaru dari American College of Cardiology (ACC) dan the European Society of Cardiology (ESC) menjelaskan kembali tentang Acute Myocardial Infarction (AMI). Cardiac marker dan cardiac troponin, secara khusus, adalah pusat dari definisi terbaru AMI. Guideline ini merupakan perubahan yang signifikan dari klasifikasi original yang dikeluarkan oleh WHO tentang AMI.1

a. Cardiac Troponin
Troponin adalah protein pengatur yang ditemukan di otot rangka dan jantung. 3 subunit yang telah diidentifikasi termasuk troponin I (TnI), troponin T (TnT), dan troponin C (TnC). Gen yang mengkode isoform TnC pada otot rangka dan jantung adalah identik. Karena itulah tidak ada perbedaan struktural diantara keduanya. Walaupun demikian, subform TnI dan TnT pada otot rangka dan otot jantung berbeda dengan jelas, dan immunoassay telah didesain untuk membedakan keduanya. Hal ini menjelaskan kardiospesifitas yang unik dari cardiac troponin.1
Troponin bukanlah marker awal untuk myocardial necrosis. Uji troponin menunjukkan hasil positif pada 4-8 jam setelah gejala terjadi, mirip dengan waktu pengeluaran CK-MB. Meski demikian, mereka tetap tinggi selama kurang lebih 7-10 hari pasca MI.1
Cardiac troponin itu sensitif, kardiospesifik, dan menyediakan informasi prognostik untuk pasien dengan ACS. Terdapat hubungan antara level TnI atau TnT dengan tingkat mortalitas dan adverse cardiac event pada ACS. Mereka telah menjadi cardiac marker pilihan untuk pasien dengan ACS.1

b. Creatine Kinase-MB isoenzym
Sebelum cardiac troponin dikenal, marker biokimia yang dipilih untuk diagnosis AMI adalah isoenzim CK-MB. Kriterium yang kebanyakan digunakan untuk diagnosis AMI adalah 2 serial elevasi di atas level cutoff diagnostik atau hasil tunggal lebih dari dua kali lipat batas atas normal. Walaupun CK-MB lebih terkonsentrasi di miokardium (kurang lebih 15% dari total CK), enzim ini juga terdapat pada otot rangka. Kardiospesifitas CKMB tidaklah 100%. Elevasi false positive muncul pada beberapa keadaan klinis seperti trauma atau miopati.1
CK-MB pertama muncul pada 4-6 jam setelah gejala, puncaknya adalah pada 24 jam, dan kembali normal dalam 48-72 jam. CK-MB level walaupun sensitif dan spesifik untuk diagnosis AMI, tidak prediktif untuk adverse cardiac event dan tidak mempunyai nilai prognostik.1

c. Relative index (Indeks relatif), CK-MB dan total CK
Indeks relatif dihitung berdasarkan rasio [CK-MB (mass) / total CK x 100] dapat membantu klinisi untuk membedakan elevasi false positive peningkatan CK-MB otot rangka. Rasio yang kurang dari 3 konsisten dengan sumber dari otot rangka. Rasio >5 mengindikasikan sumber otot jantung. Rasio diantara 3-5 menunjukkan gray area. Indeks relatif CK-MB/CK diperkenalkan untuk meningkatkan spesifitas elevasi CK-MB untuk MI.1
Pemakaian indeks relatif CK-MB/CK berhasil jika pasien hanya memiliki MI atau kerusakan otot rangka tapi tidak keduanya. Oleh sebab itu, pada keadaan dimana terdapat kombinasi AMI dan kerusakan otot rangka (rhabdomyolysis, exercise yang berat, polymyositis), sensitifitas akan jatuh secara signifikan. 1
Diagnosis AMI tidak boleh didasarkan hanya pada elevasi indeks relatif saja. Elevasi indeks relatif dapat terjadi pada keadaan klinis dimana total CK atau CK-MB pada batas normal. Indeks relatif hanya berfungsi secara klinis bila level CK dan CK-MB dua-duanya mengalami peningkatan. 1


d. Mioglobin
Mioglobin telah menarik perhatian sebagai marker awal pada MI. Mioglobin adalah protein heme yang ditemukan pada otot rangka dan jantung. Berat molekulnya yang rendah menyebabkan pelepasannya yang cepat. Mioglobin biasanya meningkat pada 2-4 jam setelah terjadinya infark, puncaknya adalah pada 6-12 jam, dan kembali ke normal setelah 24-36 jam. 1
Uji cepat mioglobin telah tersedia, tetapi kekurangannya adalah kurang kardiospesifik. Uji serial setiap 1-2 jam dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifitas. Peningkatan atau perbedaan 25-40% setelah 1-2 jam adalah penanda kuat dari AMI. Pada kebanyakan penelitian, mioglobin hanya mencapai 90% sensitifitas untuk AMI. Nilai prediktif negatif mioglobin tidak cukup tinggi untuk mengeklusi diagnosis AMI. Penelitian original yang mengevaluasi mioglobin menggunakan definisi origininal WHO tentang AMI yang distandarkan pada CK-MB. Dengan adopsi dari standar troponin untuk definisi AMI dari ESC/ACC, sensitifitas mioglobin untuk AMI menurun. 1

e. Creatine Kinase-MB isoforms
Isoenzim CK-MB terdapat dalam 2 isoform, yaitu CK-MB1 dan CK-MB2. CK-MB2 adalah bentuk jaringan dan awalnya dilepaskan oleh miokardium setelah MI. Kemudian berubah di serum menjadi isoform CK-MB1. Hal ini terjadi segera setelah gejala terjadi. Isoform CK-MB dapat dianalisis menggunakan elektroforesis tegangan tinggi. Rasio CK-MB2/CK-MB1 juga dihitung. Normalnya, isoform jaringan CK-MB1 lebih dominan sehingga rasionya kurang dari 1. Hasil pemeriksaan dikatakan positif jika CK-MB2 meningkat dan rasionya lebih dari 1,7. 1
Pelepasan isoform CK-MB termasuk cepat. CK-MB2 dapat dideteksi di serum pada 2-4 jam setelah onset dan puncaknya adalah 6-9 jam. Ini adalah marker awal dari AMI. Dua penelitian besar menyebutkan bahwa sensitivitasnya adalah 92% pada 6 jam setelah onset gejala dibandingkan dengan 66% untuk CKMB dan 79% untuk mioglobin. Kekurangan terbesar dari uji ini adalah relatif sulit dilakukan oleh laboratorium. 1

f. C-reactive Protein
CRP, marker inflamasi nonspesifik, diperhitungkan terlibat secara langsung pada coronary plaque atherogenesis. Penelitian yang dimulai pada awal 1990an menunjukkan bahwa level CRP yang meningkat menunjukkan adverse cardiac events, baik pada prevensi primer maupun sekunder. Level CRP berguna untuk mengevaluasi profil risiko jantung pasien. Data baru mengindikasikan bahwa CRP berguna sebagai indikator prognostik pada pasien dengan ACS. Peningkatan level CRP memprediksi kematian jantung dan AMI. 1

g. Referensi Nilai
Hasil normal bervariasi berdasarkan laboratorium dan metode yang digunakan. Informasi di bawah ini adalah dari ACC dan the American Heart Association (AHA). 2
1. Total CK = 38–174 units/L untuk laki-laki dan 96–140 units/L untuk perempuan.
2. CKMB = 10-13 units/L.
3. Troponin T = kurang dari 0,1 ng/mL.
4. Troponin I = kurang dari 1,5 ng/mL.
5. Isoform CKMB = rasio 1,5 atau lebih.
6. Mioglobin = kurang dari 110 ng/mL

UJI FUNGSI GINJAL

1. Urea Clearance
Urea clearance mengukur fungsi glomerulus karena ureum difiltrasi melalui glomerulus tersebut. Tetapi nilai urea clearance tidak boleh dipandang sama dengan nilai glomerular filtration rate, karena sebagian dari ureum itu di dalam tubuli berdifusi kembali ke dalam darah. Banyaknya ureum yang berdifusi kembali ikut ditentukan oleh besarnya diuresis.4
Nilai urea clearance disebut dengan ml/menit. Jika diuresis sama dengan atau melebihi 2 ml/menit, rumus yang digunakan akan berbeda dengan jika diuresis kurang dari 2 ml/menit. Selain menyebut urea clearance dengan ml/menit, ada juga cara lain yang lebih lazim dipakai, yaitu menyebutnya dengan %. Apabila didapat diuresis 2 ml/menit atau lebih, maka nilai clearance dibandingkan dengan 72 ml/menit yang dianggap 100%. Jika diuresis kurang dari 2 ml/menit, nilai clearance dibandingkan dengan 54 ml/menit yang dianggap 100% pula. 4
Nilai normal berkisar antara 70-110%. Nilai normal tersebut sebenarnya diperhitungkan untuk orang yang memiliki luas badan sekitar 1,73 m2. Jika luas badan seseorang tidak mendekati nilai tersebut, maka harus diadakan koreksi atas berat badan dan panjang badan. 4
Percobaan ini sering dilakukan selama 2 jam, tetapi bisa juga dijadikan 4 jam atau lebih. Lamanya ini tidak mempengaruhi hasil, tetapi 2 jam itu dianggap jangka waktu minimal. Clearance yang diperhitungkan dengan diuresis 2 ml/menit atau lebih (maximal clearance) lebih dapat dipercaya dari clearance yang memakai diuresis kurang dari 2 menit (standard clearance). Apabila diuresis rendah sekali (<0,5 ml/menit), hasil percobaan tidak dapat dipercaya. 4

2. Creatinin clearance
Seperti juga urea clearance, tes ini menilai faal glomerulus. Tetapi lain dari ureum, kreatinin tidak berdifusi kembali ke dalam darah, karena itu nilai normal untuk creatinin clearance lebih besar dari urea clearance dan mendekati nilai glomerular filtration rate.4 Nilai normalnya adalah 117 +- 20, biasanya disebut dengan satuan ml/menit, bukan dengan %. Panjang dan berat badan dipergunakan untuk mengadakan koreksi atas diuresis terhadap luas badan 1,73 m2, seperti juga pada urea clearance.4

3. Asam urat
Asam urat adalah salah satu bagian dari BUN (blood urea nitrogen). Level yang meningkat dapat dilihat di penyakit ginjal, beberapa keganansan, penyakit hati, konsumsi alkohol dan kebanyakan pengobatan untuk melawan keganasan. Level yang menurun tidak menunjukkan gejala klinis yang signifikan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada spesimen dari pasien, baik yang berpuasa maupun tidak walaupun lebih dipilih spesimen dari pasien yang berpuasa. Referensi nilai normalnya adalah 2-7 mg/dl untuk wanita dan 2,1-8,5 mg/dl untuk pria.5

PROFIL TIROID
Kelenjar tiroid memproduksi dua hormon penting, yaitu thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3). Hormone-hormon ini mempengaruhi banyak fungsi normal tubuh, termasuk pemakaian oksigen, detak jantung, sintesis protein, metabolisme karbohidrat, juga produksi dan pemecahan kolesterol dan trigliserida.5 Produksi hormon tiroid dikontrol oleh hormon dari kelenjar pituitary yang disebut Thyroid Stimulating Hormone (TSH). Pengukuran TSH menyediakan informasi tentang komunikasi dua arah antara kelenjar pituitary dan kelenjar tiroid. 5 Komponen penting yang digunakan untuk sintesis hormon tiroid adalah iodin. Bentuk mayor dari hormon tiroid dalam darah adalah thyroxine (T4), yang paruh waktu hidupnya lebih panjang dari T3. Rasio T4 banding T3 yang dilepaskan di darah sekitar 20:1. 5 TSH adalah tes yang pertama digunakan untuk menilai fungsi tiroid. Peningkatan level TSH berasosiasi dengan hypothyroidism dan penurunan levelnya berasosiasi dengan hyperthyroidism. Tes ini dapat menggunakan spesimen dari pasien baik yang berpuasa ataupun tidak. 5 Untuk FT4, nilai normalnya adalah 0,8-1,5 ng/dk untuk dewasa dan 0,8-2 ng/dl untuk anak. Untuk FT3, nilai normalnya adalah 0,2-0,5 ng/dl untuk dewasa dan 0,1-0,6 ng/dl untuk anak. Sedangkan untuk TSH, nilai normalnya adalah 0,3-4 mIU/L untuk dewasa dan 1,3-19 mIU/L.5

 DAFTAR PUSTAKA
1. Schreiber, Donald. Use of Cardiac Markers in The Emergency Department. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/811905-overview pada 4 Mei 2010.
2. DeMoranville, Victoria E. Cardiac Marker Tests. Diunduh dari http://www.surgeryencyclopedia.com/A-Ce/Cardiac-Marker-Tests.html pada 4 Mei 2010.
3. Immanuel, Suzanna. Laboratory Diagnosis of Cardiovasculer Disease. Slide Kuliah Kardiovaskuler 2010. 4. Gandasoebrata. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat, 1969: 128-31. 5. American Society for Clinical Laboratory Science. Chemistry Test. Diunduh dari http://www.ascls.org/labtesting/labchem.asp pada 4 Mei 2010.

Wednesday, April 27, 2011

Hidrosefalus karena virus

Penyebab Hydrocephalus karena Infeksi Virus

Sesungguhnya penyebab hidrosefalus sangatlah beragam, namun pada artikel ini akan dibahas penyebab infeksi hidrosefalus oleh karena virus.

Perjalanan Infeksi

Virus-virus masuk ke dalam tubuh melalui salah satu dari beberapa pathway yang ada. Sebagai contoh, virus Mumps, measles, dan VZV memasuki tubuh melalui jalur pernapasa. Poliovirus dan enterovirus lainnya masuk lewat rute oral-intestinal, sedangkan HSV terutama lewat rute mukosa oral atau genital. Virus-virus lainnya didapat dari inokulasi (masuknya antigen ke dalam jaringan organisme hidup, sebagai konsekuensi dari gigitan binatang (misal rabies) ataupun nyamuk (infeksi arbovirus). Virus-virus seperti rubella virus, CMV, dan HIV dapat juga menginfeksi fetus dengan menyeberangi plasenta (transplacentally).

Setelah masuk ke dalam tubuh

Tuesday, April 26, 2011

Oxyuris Vermicularis (Cacing Kremi)

Oxyuris Vermicularis

Epidemiologi
Insiden cacing Enterobius vermicularis tinggi di negara-negara barat terutama di USA yang mencapai 35-41%. Pada daerah tropis insiden lebih sedikit oleh karena cukupnya sinar matahari, udara panas, kebiasaan ke WC dimana sehabis defekasi dicuci dengan air tidak dengan kertas toilet. Akibat dari hal tersebut pertumbuhan telur menjadi terhambat sehingga dapat dikatakan penyakit ini tidak berhubungan dengan keadaan sosial ekonomi tetapi lebih dipengaruhi oleh iklim dan kebiasaan hidup.


Penularan cacing ini tidak merata pada lapisan masyarakat melainkan menyebar pada suatu keluarga atau kelompok-kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama. Enterobiasis sering menyerang anak-anak usia 5-14 tahun. Udara yang dingin, lembab dan ventilasi yang jelek merupakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan telur. 

Morfologi & Daur Hidup

Monday, April 25, 2011

DEMAM DENGUE DAN SINDROM SYOK DENGUE

DEMAM DENGUE DAN SINDROM SYOK DENGUE

Demam Dengue (DD)1
Demam Dengue (DD) merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:
·         Nyeri kepala
·         Nyeri retro-orbital (nyeri di bagian belakang orbita mata)
·         Mialgia (badan terasa pegal-pegal) atau artralgia (nyeri pada satu sendi atau lebih tanpa disertai peradangan atau keterbatasan gerak sendi)
·         Ruam kulit (rash)
·         Manifestasi perdarahan (petekaie atau uji bendung/torniquet/Rumpel leede positif)

Saturday, April 23, 2011

Bioetika Kedokteran

Bioetika
Bioetika menurut F. Abel adalah studi interdisipliner tentang problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran, pada skala mikro maupun makro, termasuk dampaknya terhadap masyarakat luas serta sistem nilainya pada masa kini dan masa mendatang. Bioetika dapat diartikan sebagai pandangan yang lebih luas dari etika kedokteran karena begitu saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan hidup. Bioetika merupakan ”genus”, sedangkan etika kedokteran merupakan ”spesies”. Kedua hal tersebut saling berkaitan dalam applikasinya sehari-hari dalam kasus-kasus medis.
Pembagian teori etika
Ditinjau dari segi inti :
1. Etika kebijaksanaan :
a. Dasar agama/kepercayaan : moralitas agama non-samawi.
b. Dasar filsafat : etika kebahagian (Yunani).
2. Etika kewajiban :
a. Dasar agama : moralitas agama samawi (etika teonom)
b. Dasar filsafat : Immanuel Kant (etika otonom).
Ditinjau dari segi metodologisnya :
1. Etika Substantif
Dasarnya etika kebijaksanaan atau etika kewajiban.
2. Etika Prosedural :
a. Dasar Keadilan : contoh John Rawls
b. Dasar Komunikasional : contoh Juergen Habermas

Ditinjau dari segi subyek pelaksananya :
1. Etika maksim (prinsip subyektif bertindak, sikap dasar hati nurani ketika bersikap-tindak-perilaku-konkrit).
Misalnya etika kebijaksanaan. Bisa dilihat konteksnya, keterarahan pada maksim tertentu yang merangkai dalam satu jalinan makna (seperti tanggungjawab), dapat memperlihatkan watak seseorang dan dapat membedakan antara legalitas dan moralitas.
2. Etika norma-norma
Dasarnya ialah peraturan-peraturan (hukum) sehingga tak bisa membedakan legalitas - moralitas.
Dalam menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan pasien baik yang tergolong sederhana atau mudah, dokter akan mengahadapi berbagai masalah etika. Dalam memecahkan masalah tersebut dokter dituntut untuk dapat melakukan suatu tindakan pengambilan keputusan yang tepat. Dampak-dampak yang ditimbulkan dalam mengambil sebuah tindakan tertentu dapat memberi hasil yang positif maupun negatif. Keputusan yang diambil oleh seorang dokter pada dasarnya dibagi menjadi dua, yakni
a. keputusan medis yang dipengaruhi oleh indikasi medik dan pengetahuan biomedik
b. keputusan etis yang dipengaruhi oleh info medik, keputusan pasien, kualitas hidup, dan fitur kontekstual.
Dalam pengambilan keputusan, dokter tidak boleh hanya memperhatikan hal medis saja, tetapi juga harus melihat segi etisnya, sebab dalam kedokteran pasien tidak hanya sebagai objek tetapi juga sebagai subjek. Hal inilah yang sering kali membuat dokter sulit untuk mengambil keputusan sebab pengambilan keputusan etis bukanlah hal yang mudah.
Dalam dunia kedokteran, terdapat berbagai macam prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Namun, yang digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan terdiri dari empat prinsip yang biasa disebut sebagai Kaidah Dasar Bioetik (KDB). Terdapat empat prinsip utama di dalam Kaidah Dasar Bioetik, yaitu beneficence, non-maleficence, autonomy, dan justice.

a. Beneficence
Beneficence atau tindakan berbuat baik mengacu pada tindakan yang dilakukan demi kebaikan pasien. Beneficence bersifat sangat umum dalam dunia kedokteran. Artinya bahwa hampir setiap saat prinsip ini diterapkan dalam mengambil keputusan.
Adapun prinsip-prinsip dari beneficence adalah sebagai berikut:
1. General beneficence :
• melindungi & mempertahankan hak yang lain
• mencegah terjadi kerugian pada yang lain,
• menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,
2. Specific beneficence :
• menolong orang cacat,
• menyelamatkan orang dari bahaya.
3. Mengutamakan kepentingan pasien (altrualisme).
4. Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain tetapi juga sebagai saudara yang patut ditolong.
5. Maksimalisasi akibat baik yang dapat diterima pasien.
6. Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada yg hidup)
Beneficence biasanya diterapkan dalam kasus yang simpel dan umum. Kondisi pasien sadar dan tidak begitu parah. Pengobatan yang diberikan wajar tidak berlebihan ataupun dikurang-kurangi. Intinya, dokter mengutamakan kepentingan pasien dan bertindak demi kebaikan pasien.


b. Non-maleficence / Primum non nocere
Prinsip dasar non-maleficence adalah primum non nocere, yang artinya pertama-tama jangan menyakiti. Prinsip ini melarang dokter berbuat jahat atau membuat derita pasien, serta mewajibkan dokter untuk meminimalisasi akibat buruk.
Kewajiban dokter untuk menganut non-maleficence berdasarkan hal-hal berikut :
1. pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko kehilangan sesuatu yang penting
2. dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut
3. tindakan dokter terbukti efektif
4. manfaat bagi pasien lebih besar daripada kerugian dokter

Dalam kaidah non-maleficence, dikenal juga prinsip double effect, yakni bahwa tindakan yang merugikan tidak selalu dianggap tindakan yang buruk. Tindakan ini boleh dilakukan jika bertujuan memperoleh akibat baik, dan tidak ada cara lain yang lebih tepat.
Prinsip double effect:
 tindakan tersebut secara intrinsik tidak salah, setidaknya netral
 niatnya memperoleh akibat baik tidak boleh dari akibat buruk
 akibat buruk bukan tujuan untuk mencapai pokok tujuan
 pertimbangan yang layak: tidak ada cara lain yang lebih tepat

c. Justice
Justice atau keadilan berarti menangani kasus yang sama dengan cara yang sama. Prinsip justice selengkapnya adalah sebagai berikut:
• Treat similar cases in a similar way = justice within morality. Hal ini mengindikasikan kesamaan rindakan pada kasus yang sama.
• Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni :
a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan /membahagiakannya)
b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).
 Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat), khususnya : yang-hak dan yang-baik
Jenis keadilan :
a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima)
b. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada :
• Setiap orang andil yang sama
• Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya
• Setiap orang sesuai upayanya.
• Setiap orang sesuai kontribusinya
• Setiap orang sesuai jasanya
• Setiap orang sesuai bursa pasar bebas
c. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama :
• Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien.
• Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social – ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil).
• Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu
• Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan).
d. Hukum (umum) :
• Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak.
• pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum.

d. Autonomy
Menurut pandangan Kant, otonomi kehendak otonomi moral yakni kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. Kaidah ikutannya ialah Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting. Autonomy erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects), letting die.

Ciri khusus autonomy, yaitu:
 kesukarelaan serta tanpa paksaan atau manipulasi
 memahami perspektif pasien
 menolong ia bermusyawarah
 mencoba mempersuasi pasien
 negosiasi rencana terapi timbal balik
 terpaut dalam diskusi dengan pasien
 mempersilahkan pasien memutuskan

Norma dalam etika kedokteran (EK) :
• Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma sopan santun (pergaulan)
• Fakta fundamental hidup bersusila :
Etika mewajibkan dokter secara mutlak, namun sekaligus tidak memaksa. Jadi dokter tetap bebas,. Bisa menaati atau masa bodoh. Bila melanggar : insan kamil (kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah, menyesal, tidak tenang.

Sifat EK :

1. Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika umum)
2. Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain / pasien).
3. Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri = selfimposed, zelfoplegging)
4. Etika normatif (mengacu ke deontologis, kewajiban ke arah norma-norma yang seringkali mendasar dan mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri sendiri, umum, teman sejawat dan pasien/klien & masyarakat khusus lainnya)
5. Etika profesi (biasa):
• bagian etika sosial tentang kewajiban & tanggungjawab profesi
• bagian etika khusus yang mempertanyakan nilai-nilai, norma-norma/kewajiban-kewajiban dan keutamaan-keutamaan moral
• Sebagian isinya dilindungi hukum, misal hak kebebasan untuk menyimpan rahasia pasien/rahasia jabatan (verschoningsrecht)
• Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan & pengalaman profesi kedokteran.
• Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan etika apriori); karena telah berabad-abad, yang-baik & yang-buruk tadi dituangkan dalam kode etik (sebagai kumpulan norma atau moralitas profesi)
• Isi : 2 norma pokok :
• sikap bertanggungjawab atas hasil pekerjaan dan dampak praktek profesi bagi orang lain;
• bersikap adil dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM).
6. Etika profesi luhur/mulia :
Isi : 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan :
• Bebas pamrih (kepentingan pribadi dokter < kepentingan pasien) = altruisme. • Ada idealisme : tekad untuk mempertahankan cita-cita luhur/etos profesi = l’esprit de corpse pour officium nobile 7. Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap krisis moral akibat pengaruh teknologisasi dan komersialisasi dunia kedokteran. Bioetika kedokteran merupakan salah satu etika khusus dan etika sosial dalam kedokteran yang memenuhi kaidah praksiologik (praktis) dan filsafat moral (normatif) yang berfungsi sebagai pedoman (das sollen) maupun sikap kritis reflektif (das sein), yang bersumber pada 4 kaidah dasar moral beserta kaidah turunannya. Kaidah dasar moral bersama dengan teori etika dan sistematika etika yang memuat nilai-nilai dasar etika merupakan landasan etika profesi luhur kedokteran. Pemahaman awal kaidah dasar moral akan menimbulkan kesadaran moral, yang dengan latihan dan paparan terhadap kasus-kasus kedokteran yang sebelumnya dan berkembang di masa mendatang diharapkan akan membekali kemampuan reflektif-analitik dokter, termasuk mahasiswa kedokteran, yang dengan mekanisme pendidikan dalam rangka saling mengingatkan terus menerus dan mencegah penyimpangan (amar ma’ruf – nahi mungkar) antar anggota profesi pada akhirnya akan menumbuhkan tangungjawab etis sesuai dengan moralitas profesi kedokteran. Tanggungjawab etis yang merupakan suara hati seorang dokter akan mempertahankan perilaku etis seluruh anggota profesi agar korps dokter ke depan tetap merupakan profesi mulia dengan setiap anggotanya masing-masing memiliki kesucian hati nurani.

Friday, April 22, 2011

PRESBIKUSIS (hubungan DM, Hipertensi, Gangguan Keseimbangan & Pendengaran)

PRESBIKUSIS
Hubungan Antara DM, Hipertensi, dan Usia Tua
Pada Gangguan Pendengaran dan Keseimbangan

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit dimana kadar glukosa serum tinggi terkait defisiensi insulin relative maupun absolute. Diabetes mellitus sampai sekarang merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan manajemen pengobatannya difokuskan pada pencegahan terjadinya komplikasi kronik.1

Wednesday, April 20, 2011

Pemeriksaan Laboratorium Penyakit-Penyakit Jantung


Pemeriksaan Laboratorium Penyakit-Penyakit Jantung

Penyakit Jantung Iskemik
            Penyebab kematian yang paling umum di dunia Barat adalah penyakit jantung iskemik, yang merupakan akibat dari insufisiensi aliran darah koroner. Penyebab berkurangnya aliran darah koroner ini disebabkan karena aterosklerosis.
            Aterosklerosis adalah suatu penyakit arteri berukuran besar dan sedang akibat terbentuknya lesi lemak yang disebut plak ateromatosa pada permukaan dalam dinding arteri. Sedangkan arteriosklerosis adalah istilah umum yang merujuk pada kekakuan dan penebalan pembuluh darah berukuran apa saja. Cikal bakal aterosklerosis dimulai dengan adanya kerusakan endotel vaskular. Hal ini selanjutnya meningkatkan paparan molekul adhesi pada sel endotel dan menurunkan kemampuan endotel tersebut untuk melepaskan nitric oxide dan zat lain yang membantu mencegah perlekatan makromolekul, trombosit, dan monosit pada endotel.

Tuesday, April 19, 2011

Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Tatalaksana Farmakologi DM

Empat pilar tatalaksana DM :
(1) edukasi, (2) nutrisi, (3) latihan jasmani, (4) intervensi farmakologis (OHO, insulin).
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien,sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus.1

Terapi Insulin
Insulin masih merupakan obat utama untuk DM tipe 1 dan beberapa DM tipe 2. Suntikan insulin dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain intravena, intramuskular, dan umumnya pada penggunaan jangka panjang lebih disukai pemberian subkutan.
 intra vena : bekerja sangat cepat yakni dalam 2-5 menit akan terjadi penurunan glukosa darah
 intramuskuler : penyerapannya lebih cepat 2 kali lipat daripada subkutan
 subkutan : penyerapanya tergantung lokasi penyuntikan, pemijatan, kedalaman, konsentrasi. Lokasi abdomen lebih cepat dari paha maupun lengan. Insulin diberikan subkutan dengan tujuan mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal sepanjang hari yaitu 80-120 mg% saat puasa dan 80-160 mg% setelah makan. Untuk pasien usia diatas 60 tahun batas ini lebih tinggi yaitu puasa kurang dari 150 mg% dan kurang dari 200 mg% setelah makan.
Preparat insulin dapat dibedakan berdasarkan lama kerja (kerja cepat, sedang, dan panjang) atau dibedakan berdasarkan asal spesiesnya. Berdasarkan puncak dan jangka waktu efeknya:
a. kerja cepat  yaitu insulin reguler, satu-satunya insulin jernih/larutan insulin (yang lain suspensi). Satu-satunya yang cocok untuk pemberian intravena. Untuk kebutuhan postprandrial.
b. kerja sedang  NPH mengandung protamin dan sejumlah zink yang mempengaruhi reaksi imunologik seperti urtikaria pada lokasi suntikan. Untuk memenuhi kebutuhan insulin basal.
c. campur kerja cepat dan sedang
d. kerja panjang  kadar zink tinggi untuk memperpanjang waktu kerjanya. Untuk memenuhi kebutuhan insulin basal.

Indikasi dan Tujuan Terapi2
Insulin subkutan umumnya diberikan kepada DM tipe 1, DM tipe 2 yang tidak dapat diatasi hanya dengan diet dan antidiabetik oral, pasien DM pascapankreatomi atau DM dengan kehamilan, Dm dengan ketoasidois, koma nonketosis, atau komplikasi lain, dan sebelum tindakan operasi.

Preparat dan Dosis2
Sediaan insulin umumnya diperoleh dari bovine (sapi) atau porcine (babi). Insulin reguler dapat dikombinasi dengan beberapa jenis insulin lain. Kebutuhan insulin pada pasien DM umumnya berkisar antara 5-150 U sehari. Satu unit insulin kira-kira sama dengan insulin yang dibutuhkan untuk menurunkan glukosa puasa 45 mg/dl pada kelinci.
Dosis terbagi insulin digunakan pada:
1. DM yang tidak stabil dan sukar dikontrol
2. Bila hiperglikemia berat sebelum makan pagi dan tidak dapat dikoreksi dengan insulin dosis tunggal per hari
3. Pasien yang membutuhkan insulin lebih dari 100 U per hari.

Banyak pasien yang mendapat insulin membutuhkan makanan kecil menjelang tidur untuk mencegah hipoglikemia pada malam hari. Kerja fisik perlu pada pasien DM untuk meningkatkan penggunaan glukosa oleh otot, karena kerja fisik menurukan kebutuhan insulin pada DM terkontrol.

Efek Samping
1. Hipoglikemia2,3
Hipoglikemia terjadi akibat dosis insulin yang terlalu besar, tidak tepatnya waktu makan dengan waktu tercapainya kadar puncak insulin, atau karena adanya faktor yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin.
2. Reaksi Alergi dan Resistensi2,3
3. Lipoartrofi dan Lipohipertrofi2
Lipoartrofi jaringan lemak subkutan di tempat suntikan dapat timbul akibat varian respon imun terhadap insulin; sedangkan lipohipertrofi dimana terjadi penumpukan lemak subkutan terjadi akibat efek lipogenik insulin yang kadarnya tinggi pada daerah tempat suntikan.
4. Efek samping lain2
Edema, rasa kembung di abdomen, dan gangguan vius, timbul pada banyak pasien DM dengan hiperglikemia berat atau ketoasidosis yang sedang diterapi dengan insulin.

Interaksi2
Beberapa hormon bersifat antagonis terhadap efek hipoglikemik insulin, seperti hormon pertumbuhan, kortikotropin, glukokortikoid, tiroid, estrogen, progestin, dan glukagon. Salisilat meningkatkan sekresi insulin, namun bisa menyebabkan hipoglikemia.

OBAT ANTIDIABETIK ORAL
Ada 5 golongan antidiabetik oral (ADO) yang dapat digunakan untuk DM dan telah dipasarkan di Indonesia, yakni golongan: sulfonilurea, meglitinid, biguanid, penghambat α-glukosidase, dan tiazolidinedion.

Golongan Sulfonilurea2,4
Terdiri dari 2 generasi:
1. Generasi 1: tolbutamid, tolazamid, asetoheksimid, dan klorpropamid.
2. Generasi 2: gliburid/glibenklamid, glipizid, gliklazid, dan glimepirid.

Mekanisme Kerja2
Golongan obat ini sering disebut sebagai insulin secretagogues, kerjanya merangsang sekresi insulin dari granul sel-sel β yang menimbulkan depolarisasi membran dan keadaan ini akan membuka kanal Ca maka Ca2+ akan masuk ke sel β, merangsang granula yang berisi insulindan akan terjadi sekresi insulin.

Farmakokinetik dan Farmakodinamik2
Berbagai sulfonilurea memiliki sifat kinetik berbeda, tetapi absorpsi melalui saluran cerna cukup efektif. Dalam plasma 90-99 % berikatan dengan protein plasma terutama albumin. Masa paruh dan metabolisme sulfonilurea generasi 1 sangat bevariasi. Masa paruh dan metabolisme sulfonilurea generasi 1 sangat bervariasi. Masa paruh asetoheksamid pendek tapi metabolit aktifnya, 1-hidroksihelsamid masa paruhnya lebih panjang, sekitar 4-5 jam, sama dengan tolbutamid dan tolazamid. Sekitar 10% dari metabolitnya diekskresi melalui empedu dan keluar bersama tinja.
Klorpropamid dalam darah terkait albumin, masa paruhnya panjang, 24-48 jam, efeknya masih terlihat beberapa hari setelah obat dihentikan. Metabolismenya di hepar tidak lengkap, 20% diekskresi utuh di urin.
Mula kerja tolbutamid cepat, masa paruhnya sekitar 4-7 jam. Dalam darah 91-96% tolbutamid terikat protein plasma, dan di hepar diubah menjadi karboksitolbutamid. Ekskresinya melalui ginjal.
Tolazamid, absorbsinya lebih lambat dibandingkan yang lain. Masa paruh sekitar 7 jam.
Sulfonilurea generasi 2, umumnya potensi hipoglikemianya hampir 100x lebih besar dari generasi 1. Meski masa paruhnya pendek, hanya sekitar 3-5 jam, efek hipoglikemiknya berlangsung 12-24 jam, sering cukup diberikan sekali sehari.
Glipizid, absorpsinya lengkap, masa paruhnya 3-4 jam. Potensinya 100 x lebih kuat dari tolbutamid. Metabolismenya di hepar, menjadi metabolit yang tidak aktif, sekiytar 10% diekskresi melalui ginjal dalam keadaan utuh.
Gliburid (glibenklamid), potensinya 200 kali lebih kuat dari tolbutamid, masa paruhnya sekitar 4 jam. Metabolismenya di hepar. Pada pemberian dosis tunggal hanya 25 % metabolitnya diekskresi melalui urin, sisanya melalui empedu.
Karena semua sulfonilurea dimetabolisme di hepar dan diekskresi melalui ginjal, sediaan ini tidak boleh diberikan pada pasien gangguan fungsi hepar atau ginjal yang berat.

Efek Samping2
Insidens efek samping generasi 1 sekitar 4%, insidensnya lebih rendah lagiuntuk generasi 2. Hipoglikemia, bahkan sampai koma tentu dapat timbul. Reaksi ini lebih sering terjadi pada pasien usia lanjut dengan gangguan fungsi hepar atau ginjal, terutama dengan menggunakan sediaan dengan masa kerja panjang.
Efek samping lain, reaksi laergi jarang sekali terjadi, mual, muntah, diare, gejala hematologik, susunan saraf pusat, mata dan sebagainya. Gejala susunan saraf pusat berupa vertigo, bingung, ataksia, dsb. Gejala hemetologik seperti leukopenia dan agranulositosis. Efek samping lain adalah gejala hipotiroidisme, ikterus obstruktif yang bersifat sementara.

Indikasi
Memilih sulfonilurea yang tepat untuk pasien tertentu sangat penting untuk suksesya terapi. Yang menentukan bukanlah umur pasien, waktu terapi dimulai, melainkan usia pasien waktu penyakit DM mulai timbul. Pada umumnya hasil yang baik diperoleh pada pasien yang diabetesnya mulai timbul pada pasien yang diabetesnya mulai timbul di atas 40 tahun.
Sulfonilurea tidak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada pasien DM juvenil, pasien yang kebutuhan insulinnya tidak stabil, DM berat, DM dengan kehamilan dan keadaan gawat.

Interaksi
Obat yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu penggunaan sulfonilurea adalah insulin, alkohol, fenformin, sulfonamid, salisilat dosis besar, fenilbutazon, oksifenbutazon, probenezid, dikumarol, kloramfenikol, penghambat mono amin oksidase, guanetidin, anabolic steroid, fenfluramin, dan klofibrat.

Meglitinid
Meglitinid dan nateglinid merupakan golongan meglitinid, mekanisme kerjanya sama dengan sulfonilurea tetapi struktur kimianya sangat berbeda. Pada pemberian oral absorpsinya cepat dan kadar puncaknya dicapai dalam waktu 1 jam. Masa paruhnya 1 jam, karenanya harus diberikan beberapa kali sehari, sebelum makan. Metabolisme utamanya di hepar dan metabolitnya tidak aktif. Sekitar 10% di metabolisme di ginjal. Efek samping utamanya hipohlikemia dan gangguan saluran cerna. Reaksi alergi juga pernah dilaporkan.

Biguanid2
Sebenarnya ada tiga jenis dari golongan ini: fenformin, buformin, dan metformin. Tetapi yang pertama telah ditarik dari pasaran karena sering menyebabkan asidosis laktat.2,3 Sekarang yang paling banyak digunakan adalah metformin.

Mekanisme kerja
Biguanid sebenarnya bukan obat hipoglikemik tetapi suatu obat hiperglikemik, tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan umumnya tidak menyebabkan hipoglikemia. Metformin menurunkan produksi glukosa di hepar dan meningkatkan sensitivitas jaringan otot dan adiposa terhadap insulin. Efek ini terjadi karena adanya aktivasi kinase di sel.
Metformin oral akan mengalami absorpsi di intestin, dalam darah tidak terkait dengan protein plasma, ekskresinya melalui urin dalam keadaan utuh. Masa paruhnya sekitar 2 jam.
Dosis awal 2 x 500 mg, umumnya dosis pemeliharaan 3x 500 mg, dosis maksimal 2,5 g.

Efek Samping
Hampir 20 % pasien dengan metformin mengalami mual, muntah, diare serta metalic state; tetapi dengan menurunkan dosis keluhan-keluhan tersebut segera hilang.

Indikasi
Sediaan biguanid tidak daapt menggantikan fungsi insulin endogen, dan digunakan pada terapi diabetes dewasa.

Kontraindikasi
Biguanid tidak boleh diberikan pada kehamilan, pasien penyakit hepar berat, penyakit ginjal dengan uremia dan penyakit jantung kongestif dan penyakit paru dengan hipoksia kronik.

Golongan Tiazolidinedion
Mekanisme kerja
Insulin dapat merangsang pembentukan dan translokasi GLUT ke membran sel di organ perifer. Hal ini terjadi karena insulin merangsang Peroxixome-Proliferators-Aactivated-Receptor γ (PPAR- γ) di inti sel dan mengaktivasi insulin insulin-responsive genes, gen yang bereperan pada metabolisme karbohidrat dan lemak. PPAR- γ terdapat di target insulin, yakni di jaringan adiposa, hepar, pankreas, keberadaannya di otot masih diragukan. Bagian lain dari kelompok resptor ini, retinoic x receptor (RXR) merupakan heterodimer partner PPAR, PPAR- γ aktif bila membentuk kompleks PPARγ-RXR yang akan terikat pada responsive DNA elements dan merangsang transkripsi gen, membentuk GLUT baru. Bila terjadi resistensi insulin, maka rangsangan insulin tidak akan menyebabkan aktivasi PPARγ-RXR dan tidak terjadi pembentukan GLUT baru.
Tiazolidinedion merupakan agonis poten dan selektif PPARγ, mengaktifkan PPARγ membentuk kompleks PPARγ-RXR dan terbentuklah GLUT baru. Di jaringan adiposa PPARγ mengurangi keluarnya asam lemak menuju otot, dan karenanya dapat mengurangi resistesni insulin. Jadi agar obat dapat bekerja harus tersedia insulin.
Pada pemberian oral absorbsi tidak dipengaruhi makanan, berlangsung kurang lebih 2 jam. Metabolismenya di hepar. Ekskresnya melalui ginjal.
Efek sampinya anatar lain peningkatanb berat badan, edema, pertambahan volume plasma dan memperbutuk gagal jantung kongestif.
Penghambat enzim α-glukosidase2
Akarbose merupakan oligosakarida yang berasal dari mikroba dan miglitol secara kompetitif menghmbat glukoamilase dan sukrase, tetapi efeknya pada α amilase pankreas lemah. Kedua preparat dapat menurunkan glukosa plama postparandial pada DM tipe 1 dan 2.
Efek sampinya bersifat dose-dependent, antara lain malabsorpsi, flatulen, diare, dan abdominal bloating.

OBAT HIPERGLIKEMIK2
Glukagon menyebabkan glikogenolisis di hepar dengan jalan merangsang enzin adenilsiklase dalam pembentukan CAMP, kemudian CAMP ini mengaktifkan fosforilase, suatu enzim penting untuk glikogenolisis. Sebagian besar glukagon endogen mengalami metabolisme di hati. Glukagon terutama diberikan pada pengobatan hipoglikemaia yang ditimbulkan oleh insulin. Obat tersebut dapat diberikan secara IV, IM, atau SK dengan dosis 1 mg.

Daftar Pustaka
1. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006.
2. Suharti K. Suherman. Insulin dan Antidiabetik Oral. In: Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Sulistia Gan Gunawan, editor. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2008.
3. Sidartawan Soegondo. Farmakoterapi pada Pengendalian Glikemia Diabetes Melitus Tipe 2. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Aru W sudoyo, editor. Edisi 5. Jakarta: Internal Publishing; 2009.
4. Bertram G Katzung. Basic Clinical Pharmacology. Edisi ke-10. San Fransisco: McGrawHill inc,. 2006.

Monday, April 18, 2011

Hipoglikemia pada Anak

Hipoglikemi pada Anak

ETIOLOGI HIPOGLIKEMIA PADA ANAK

Counterregulatory Hormone Deficiency1,2
Abnormalitas dari sekresi counterregulatory hormones yang menyebabkan hipoglikemia biasanya melibatkan GH, kortisol ataupun keduanya. Defisiensi glucagon dan juga epinefrin jarang terjadi. Defisiensi dari GH dari kortisol terjadi sebagi akibat dari hypopituitarism. Petunjuk untuk diagnosis pada infant dengan kelainan ini adalah adanya kondisi hipoglikemia yang disertai dengan midline facial atau defek neurologis (seperti bibir sumbing atau tidak terbentuknya korpus kallosum). Jaundice dan hepatomegali juga dapat terjadi pada kasus ini, menunjukan adanya hepatitis neonatal. Meskipun terjadi defisiensi dari GH, infant umunya lahir dengan ukuran badal yang normal.

Saturday, April 16, 2011

Imunitas Aktif (Vaksinasi)

IMUNITAS AKTIF
OLEH RIZKA HANIFAH,

Imunitas (dari bahasa Latin, immunitas) atau kekebalan tubuh dapat didefinisikan sebagai perlindungan terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi, yang dimediasikan oleh molekul, sel, dan jaringan dalam sistem imunitas. Imunitas mencakup seluruh mekanisme tubuh yang ditujukan sebagai perlindungan terhadap agen-agen asing.1

Imunisasi dan Vaksinasi
Imunisasi (juga disebut immunoprophylaxis) adalah pemberian imunitas atau kekebalan terhadap suatu infeksi tertentu. Imunitas tersebut dapat digolongkan menjadi aktif dan pasif, serta alami dan buatan.2

Tabel 1. Imunisasi Aktif dan Pasif2
Tipe imunitas Cara mendapatkan
Aktif
Alami Infeksi
Buatan Vaksinasi
Pasif
Alami Transfer antibodi transplasental dan kolostral
Buatan Pemberian immune human globulin

Imunitas Aktif Didapat Natural (Naturally acquired active immunity)
Pajanan ke berbagai pathogen memicu infeksi sub-klinis atau klinis yang memberikan hasil berupa respon imun protektif terhadap pathogen.

Imunitas Aktif Didapat Buatan (Artificially acquired active immunity)
Imunisasi dapat diperoleh dengan memasukan pathogen atau komponennya dalam keadaan hidup atau mati. Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif dapat berasal dari organisme hidup, organisme mati, dan komponen microbial atau toxin yang dihasilkan namun telah didetoksifikasi.

Vaksin adalah sediaan yang dimaksudkan untuk membangkitkan imunitas atau proteksi aktif terhadap suatu penyakit dengan cara merangsang produksi antibodi oleh tubuh.1Vaksin dapat dikombinasikan dengan ajuvan, yaitu bahan yang dapat meningkatkan proteksi yang dihasilkan suatu vaksin.3
Vaksin diklasifikasikan menjadi dua klas, yaitu vaksin hidup dan vaksin mati. Vaksin hidup berisi mikroorganisme yang telah dilemahkan virulensi (keganasannya). Pengurangan virulensi dikenal dengan istilah atenuasi (perlemahan). Cara atenuasi yang sederhana terhadap bakteri untuk keperluan vaksinasi adalah dengan pemanasan bakteri sampai tepat di bawah titik kematian atau memaparkan bakteri pada bahan kimia penginaktif sampai batas konsentrasi subletal. Menumbuhkan bakteri pada medium yang tidak cocok untuk pertumbuhannya. Cara etenuasi terhadap virus adalah dengan membiakkan pada spesies yang tidak sesuai untuk tumbuhnya Cara etenuasi yang umum adalah dengan memperpanjang masa pembiakannya di jaringan pembiak.
Baik vaksin hidup maupun vaksin mati memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan vaksin hidup antara lain adalah kekebalan yang dihasilkan sama dengan kekebalan yang diperoleh karena infeksi alami. Merangsang pembentukan antibodi yang lebih tahan lama dan juga memberi perlindungan pada pintu-pintu masuk antigen dan tidak perlu adjuvan. Kekurangan vaksin hidup, antara lain adalah adanya bahaya pembalikan menjadi lebih virulen selama multiplikasi antigen dalam tubuh yang divaksin. Penyimpanan dan masa berlaku vaksin yang terbatas, diperlukan stabilisator dalam penyimpanan. Tingginya resiko tercemar dengan organisme yang tidak diinginkan.
Kelebihan vaksin mati dibandingkan vaksin hidup antara lain adalah tidak menyebabkan penyakit akibat pembalikan virulensi dan mudah dalam penyimpanan. Kekurangan vaksin mati, antara lain adalah perlu perhatian yang luar biasa pada saat pembuatan guna memastikan bahwa tidak tersisa virus virulen aktif di dalam vaksin. Kekebalan berlangsung singkat, sehingga harus ditingkatkan kembali dengan pengulangan vaksinasi yang mungkin menimbulkan reaksi-reaksi hipersensitifitas.
Pada prakteknya, penggunaan istilah “imunisasi” dan “vaksinasi” sering disamakan. Tetapi, seperti yang tertera pada tabel, imunisasi merujuk pada segala upaya untuk memberikan kekebalan tubuh baik aktif maupun pasif; sedangkan vaksinasi merujuk pada pemberian kekebalan aktif secara sengaja dengan pemajanan antigen pada seseorang.1,2 Pada tinjauan pustaka ini, istilah imunisasi mengandung makna yang sama dengan vaksinasi.

Jenis Vaksin
Vaksin dapat digolongkan berdasarkan antigen yang terdapat di dalamnya8,14,19:
• Live vaccine
• Inactivated vaccine
Sifat vaksin attenuated dan inactivated berbeda, hal ini menentukan bagaimana vaksin ini digunakan.1 Vaksin hidup attenuated diproduksi di laboratorium dengan cara melakukan modifikasi virus atau bakteri penyebab penyakit. Vaksin mikroorganisme yang dihasilkan masih memiliki kemampuan untuk tumbuh menjadi banyak (replikasi) dan menimbulkan kekebalan tetapi tidak akan menyebabkan penyakit. Vaksin inactivated dapat terdiri atas seluruh tubuh virus atau bakteri, atau fraksi (komponen) dari kedua organisme tersebut. 1,2,4
Live Vaccine
Live vaccine umumnya berisi organisme (virus atau bakteri) yang sudah dilemahkan sehingga dikenal juga dengan sebutan attenuated live vaccine. Live vaccine dengan organisme yang tidak dilemahkan (natural live vaccine) sangat jarang dipakai.3 Attenuatedlive vaccine dibuat dari virus atau bakteri yang sudah dilemahkan dalam arti kemampuannya untuk menyebabkan penyakit sudah berkurang. Perubahan ini biasanya disebabkan oleh pembiakan berulang-ulang. Untuk menimbulkan respon imun,attenuated live vaccine harus dapat bereplikasi dalam tubuh resipien. Jadi, dosis kecil organisme yang diberikan dalam vaksin dapat bertambah banyak dan memicu respon imun.4
Sebagai vaksin hidup, organisme di dalamnya masih dapat menimbulkan penyakit, namun lebih ringan dibandingkan dengan penyakit alaminya sehingga dianggap sebagai kejadian ikutan (adverse event).Organisme di dalamnya juga secara teoritis dapat kembali bersifat patogenik. Selain itu, vaksin ini bersifat labil dan dapat rusak bila terkena panas atau sinar.4
Walaupun vaksin menyebabkan penyakit, umumnya bersifat ringan dibandingkan penyakit alamiah dan dianggap sebagai kejadian ikutan (adverse event). Respon imun terhadap vaksin pada umumnya sama dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah. Respon imun tidak membedakan antara suatu infeksi dengan virus vaksin yang dilemahkan.1
Imunitas aktif dari vaksin ini tidak dapat berkembang karena pengaruh antibodi yang beredar. Antibodi dari sumber apapun (misalnya transplasental, tranfusi) dapat mempengaruhi perkembangan vaksin mikroorganisme dan menyebabkan tidak adanya respon. Vaksin campak merupakan mikroorganisme yang paling sensitive terhadap antibodi yang beredar di dalam tubuh. Virus vaksin polio dan rotavirus paling sedikit terkena pengaruh.1
Vaksin hidup ini bersifat labil dan dapat mengalami kerusakan bila terkena sinar dan panas, maka harus melakukan pengelolaan dan penyimpanan dengan baik dan hati-hati.1

Inactivated Vaccine
Inactivated vaccine mengandung organisme mati yang masih utuh. Berbagai jenis vaksin golongan ini memiliki efektivitas yang berbeda-beda. Vaksin ini tidak dapat bereplikasi di dalam tubuh, sehingga seluruh dosis antigen dimasukkan dalam suntikan. Berbeda dengan vaksin hidup, vaksin inaktivasi tidak dapat menyebabkan penyakit dan tidak dapat berubah menjadi bersifat patogenik.4
Jenis lain dari vaksin inaktivasi adalah vaksin komponen. Vaksin dapat berisi toksoid atau toksin yang udah diinaktivasi. Bahan tersebutakan merangsang respon imun dari resipien. Vaksin polisakarida adalah vaksin subunit yang terdiri dari molekul gula yang membentuk kapsul bakteri. Terakhir, teknologi rekayasa genetika memungkinkan ragi mengekspresikan antigen permukaan virus hepatitis B.3
Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media biakan kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan penambahan bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin fraksional, organism tersebut dibuat murni dan hanya komponennya yang dimasukkan ke dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari kuman pneumokokus). 1
Vaksin inactivated tidak dapat tumbuh dan tidak hidup, maka seluruh dosis antigen dimasukkan ke dalam suntikan. Vaksin tidak menyebabkan penyakit (walaupun pada orang defisiensi imun) dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk patogenik. Tidak seperti antigen hidup, antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh antibodi yang beredar. Vaksin inactivated dapat diberikan saat antibodi berada di dalam sirkulasi darah. 1
Vaksin inactivated selelu membutuhkan dosis ganda. Pada umumnya, pada dosis pertama tidak menimbulkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu atau menyiapkan sistem imun. Respon imun protektif baru timbul setelah dosis kedua atau ketiga. Hal ini berbeda dengan vaksin hidup, yang mempunyai respon imun mirip atau sama dengan infeksi alami, respon imun terhadap vaksin inactivated sebagian besar humoral, hanya sedikit imunitas selular. Titer antibodi terhadap antigen inactivated membutuhkan dosis suplemen (tambahan) secara periodik. 1

Tabel 2. Jenis vaksin3

Live attenuated
Virus campak, gondongan, rubela, polio (oral)
Bakteri tuberkulosis (BCG)
Inactivated
Whole organism
Virus polio, rabies, influenza
Bakteri pertussis, tifoid, kolera
Toksin tetanus, difteri
Subunit
Virus hepatitis B (hasil rekayasa genetik pada ragi)
Polisakarida kapsul bakteri Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae B

Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I, vaccine-preventable diseases) adalah penyakit dengan vaksin yang terbukti efektivitasnya. Penyakit menular yang dimaksud meliputi tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, campak, poliomielitis, hepatitis B, hepatitis A, meningitis meningokokus, haemophilus influenzae B, kolera, rabies, Japanese encephalitis, tifus abdominalis, rubella, varicella, pneumoni pneumokokus, yellow fever, shigellosis, dan parotitis epidemica.4

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi
Seiring berkembangnya program vaksinasi, masyarakat mulai memperhatikan risiko-risiko yang terkait dengan vaksinasi. Sejak vaksinasi universal diberlakukan di seluruh dunia, kejadian ikutan pascaimunisasi juga semakin sering dilaporkan. Untuk itu diperlukan identifikasi kejadian ikutan pascaimunisasi agar penelitian ilmiah mengenai keamanan vaksinasi terus berkembang.
Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) atau adverseevents following immunization (AEFI) adalah kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, diduga dan dipercaya, akibat imunisasi. Kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi dapat berupa efek vaksin maupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, atau kesalahan akibat program, koinsidensi, reaksi suntikan, atau hubungan kausal yang tidak dapat ditemukan.
Gejala KIPI yang disebabkan vaksin umumnya sudah diprediksi dan secara klinis biasanya ringan.Reaksi ini sudah teridentifikasi dan tercantum pada petunjuk pemakaian vaksin. Reaksi terhadap vaksin dapat bersifat sebagai reaksi lokal, sistemik, dan reaksi vaksin berat.
• Reaksi lokal: nyeri di tempat suntikan, bengkak kemerahan di tempat suntikan 10%, bengkak pada suntikan DTP dan tetanus (50%), BCG scar
• Reaksi sistemik: demam (10%, pada DTP hampir 50%), pembengkakan kelenjar parotis pada mumps; diare, pusing, dan nyeri otot pada kurang dari 1% polio
• Reaksi vaksin berat: kejang, trombositopenia, hypotonic hyporesponsive episode, persistent inconsolable screaming, anafilaksis, ensefalopati akibat imunisasi campak atau DTP
Hubungan antara KIPI dengan vaksin juga diklasifikasikan menurut kriteria yang dibuat oleh WHO.
• Very likely/certain
• Probable
• Possible
• Unlikely
• Unclassifiable

Kegagalan Vaksinasi
Beberapa factor yang menyebabkan kegagalan vaksinasi adalah menyangkut life span vaksin, cara vaksinasi, antibodi maternal, kemampuan membentuk antibodi pada tubuh, dll.

1. Vaksin. Pembatasan life span (masa berlaku) vaksin yang sudah lewat atau kadaluwarsa menyebabkan vaksin tidak berguna apabila digunakan karena tidak akan menghasilkan imunitas yang diharapkan. Apabila temperatur pada saat penyimpanan dan transportasi vaksin di atas 4 derajat celcius, maka vaksin akan kehilangan potensinya. Demikian pula vial dan bahan asal vial yang tidak memenuhi syarat. Bahan pengencer yang disediakan berkualitas rendah. Seringkali digunakan bahan pengencer berupa air sumur, air destilasi atau garam fisiologis, hal ini tidak dibenarkan. Perlu dicatat bahwa bahan pengencer yang digunakan adalah yang telah disediakan oleh pabrik pembuat vaksin. Bahan pengencer tidak boleh dicampur atau ditambahkan zat apapun.
2. Cara Vaksinasi. Secara khusus dosis dan cara/route pemberian vaksin tertentu sudah ditetapkan oleh produsen pembuat vaksin. Apabila hal tersebut dilakukan tidak sesuai aturan maka terjadilah kegagalan vaksin. Jarum suntik dan dropper yang tidak steril dan tidak stabil akan mengurangi potensi vaksin.
3. Salah dosis, kekurangan dosis vaksin akan menimbulkan imunitas yang kurang. Kelebihan dosis akan menimbulkan immunotolerant dan harga vaksin menjadi mahal.
4. Bahan pengencer yang tidak steril menjadikan vaksin tidak murni lagi.
5. Route pemberian vaksin harus dilakukan sesuai petunjuk produsen vaksin. Kesalahan route pemberian vaksin menyebabkan potensi imunitas yang dihasilkan kurang memuaskan.
6. Beberapa vaksin harus diulang pemberiannya dan dikenal dengan istilah booster. Apabila rangkaian pemberian vaksin yang mungkin terdiri dari booster I dan booster II dan seterusnya tidak lengkap dilakukan , maka imunitas yang diharapkan tidak akan tercapai.
7. Antibodi Maternal. Antibodi maternal adalah antibodi yang berasal dari ibu yang diturunkan kepada anak. Kegunaan antibodi tersebut adalah untuk ketahanan tubuh anak terutama pada awal-awal kehidupannya. Antibodi ini diperoleh secara pasif. Vaksinasi yang dilakukan pada saat antibodi maternal masih ada dalam darah sirkulasi, artinya belum secara total dikatabolisme, maka vaksin yang diberikan akan percuma, karena dinetralisir oleh antibodi maternal.
8. Cold Storage (pendingin). Vaksin harus dipertahankan tetap dingin dari mulai dikeluarkan oleh pabrik pembuat sampai pada saat akan diberikan kepada tubuh. Vaksin dan bahan pengencer kadang-kadang menjadi satu tempat, akan tetapi kadang juga terpisah dengan temperatur penyimpanan yang berbeda, hal ini tergantung dari pabrik pembuat vaksin. Tindakan yang lebih hati-hati adalah apabila selama transportasi vaksin ditempatkan di ice box sehingga temperature yang rendah dapat selalu dipertahankan.
9. Kemampuan Membentuk Antibodi. Vaksin yang diberikan akan berhubungan langsung dengan status imun ayam yang menerima vaksin. Immunocompetence adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan kemampuan membentuk antibody yang dimiliki oleh tubuh. Immunocompetence sangat dipengaruhi oleh factor kongenital (bawaan lahir) dan faktor lingkungan. Faktor kongenital yang banyak berperan adalah organ-organ limfoid, yang akan menghasilkan sel-sel limfosit. Apabila ada gangguan pembentukan antibodi oleh organ-organ limfoid di atas maka kekebalan tubuh yang terbentuk pun akan terganggu. Faktor lingkungan yang berperan menentukan immunocompetence tubuh adalah status nutrisi dan penyakit. Nutrisi yang jelek terutama kandungan protein yang rendah akan menurunkan immunocompetence.

Upaya Mengatasi Kegagalan Vaksinasi
Beberapa tindakan untuk mengatasi kegagalan program vaksinasi yang perlu diketahui adalah
(1) vaksin harus diperoleh dari sumber terpercaya, periksa batas waktu pemakaian dan pilih vaksin yang masih panjang batas waktu pemakaiannya
(2) selama transportasi vaksin, hindarkan vaksin dari kontaminasi dan cahaya matahari. Tindakan yang paling aman adalah menyimpan vaksin dalam termos atau ice box
(3) apabila vaksin disimpan, usahakan temperatur penyimpanan sesuai petunjuk pabrik. Baca secara hati-hati petunjuk penyimpanan. Kadang-kadang antara vaksin dengan pengencernya terpisah dan harus harus disimpan pada temperatur yang berbeda
(4) bisa diberikan adjuvant atau immunomodulator untuk mencapai immunocompetence yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ranuh IGN. Imunisasi upaya pencegahan primer. In: Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, editors. Pedoman imunisasi di Indonesia. 3rded. Jakarta:Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008.p2-9.
2. WHO. Vaccine-preventable diseases. Geneva: World Health Organization. [cited 2009 June 13] Available from http://www.who.int/immunization_monitoring/diseases/en/
3. Abbas AK, Lichtman AH. Cellular and molecular immunology. 5thed, updated. Philadelphia, United States: Elsevier Saunders, 2005.
4. Baratawidjaya KG, Rengganis I. Imunologi dasar. Edisi ke-9. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. h. 577-8.

Sunday, April 10, 2011

Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus)

Cacing Tambang
Oleh Rizka Hanifah

Cacing tambang paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Telur akan menetas menjadi larva di luar tubuh manusia, yang akan masuk kembali ke tubuh korban melalui telapak kaki yang berjalan tanpa alas kaki. Larva akan berjalan-jalan di dalam tubuh melalui peredaran darah yang akhirnya tiba di paru-paru lalu dibatukkan dan ditelan kembali. Gejala meliputi reaksi alergi lokal atau seluruh tubuh, anemia dan nyeri abdomen.

Friday, April 8, 2011

Imunostimulan

IMUNOSTIMULAN
Rizka Hanifah

Imunostimulan ditujukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisi-kondisi imunosupresi. Kelompok ini mempengaruhi respon imunitass selular dan humoral. Kelemahannya adalah obat ini memiliki efek yang menyeluruh dan tidak spesifik untuk jenis sel atau antibodi tertentu. Selain itu efek umumnyanya lemah. Indikasi penggunaan imunostimulan adalah keganasan, AIDS, infeksi kronik, yang terutama melibatkan sistem limfatik.

Imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan tetapi sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang berperan pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena induktor paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui sistem komplemen atau limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis mikro dan makro. Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi, hingga mempersulit penggunaan imunomodulator, dalam praktek.
Karakteristik imunomodulator dan metode penguji
Aktivitas suatu senyawa yang dapat merangsang sistem imun tidak tergantung pada ukuran molekul tertentu. Efek ini dapat diberikan baik oleh senyawa dengan berat molekul yang kecil maupun oleh senyawa polimer. Karena itu usaha untuk mencari senyawa semacam ini hanya dapat dilakukan dengan metode uji imunbiologi saja. Metode pengujian yang dapat dilakukan adalah metode in vitro dan in vivo, yang akan mengukur pengaruh senyawa kimia terhadap fungsi dan kemampuan sistem mononuklear, demikian pula kemampuan terstimulasi dari limfosit B & T.


Metode uji aktivitas imunomoduator yang dapat digunakan,yaitu:
1.       Metode bersihan karbon (“Carbon-Clearance”) Pengukuran secara spektrofluorometrik laju eliminasi partikel karbon dari daerah hewan. Ini merupakan ukuran aktivitas fagositosis.
2.       Uji granulosit Percobaan in vitro dengan mengukur jumlah sel ragi atau bakteri yang difagositir oleh fraksi granulosit yang diperoleh dari serum manusia. Percobaan ini dilakukan di bawah mikroskop.
3.       Bioluminisensi radikal Jumlah radikal 02 yang dibebaskan akibat kontak mitogen dengan granulosit atau makrofag, merupakan ukuran besarnya stimulasi yang dicapai.
4.       Uji transformasi limfosit T Suatu populasi limfosit T diinkubasi dengan suatu mitogen. Dengan mengukur laju permbentukan dapat ditentukan besarnya stimulasi.

Persyaratan imunomodulator
Menurut WHO, imunomodulator haruslah memenuhi persyaratan berikut:
1.       Secara kimiawi murni atau dapat didefinisikan secara kimia.
2.       Secara biologik dapat diuraikan dengan cepat.
3.       Tidak bersifat kanserogenik atau ko-kanserogenik.
4.        Baik secara akut maupun kronis tidak toksik dan tidak mempunyai efek samping farmakologik yang merugikan.
5.       Tidak menyebabkan stimulasi yang terlalu kecil ataupun terlalu besar.

Dasar fungsional paramunitas
1.       Terjadinya peningkatan kerja mikrofag dan makrofag serta pembebasan mediator.
2.       Menstimulasi limfosit (yang berperan pada imunitas tetapi belum spesifik terhadap antigen tertentu), terutama mempotensiasi proliferasi dan aktivitas limfosit.
3.       Mengaktifkan sitotoksisitas spontan.
4.       Induksi pembentukan interferon tubuh sendiri.
5.       Mengaktifkan faktor pertahanan humoral non spesifik (misalnya sistem komplemen properdin-opsonin).
6.       Pembebasan ataupun peningkatan reaktivitas limfokin dan mediator atau aktivator lain.
7.       Memperkuat kerja regulasi prostaglandin.


Imunostimulan biologik
Nukleotida  

Nukleotida terdapat pada air susu ibu. Akhir-akhir ini banyak susu formula yang diberi suplementasi nukleotida. Pada penelitian uji banding kasus yang dilakukan pada bayi, satu kelompok diberikan susu ibu atau susu formula yang disuplementasi nukleotida, dibandingkan dengan kelompok yang diberikan susu formula tanpa nukleotida, ternyata terdapat peningkatan aktifitas sel NK pada bayi-bayi yang diberi susu ibu dan formula dengan nukleotida dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula tanpa nukleotida. Peneliti yang sama mendapatkan peningkatan produksi IL-2 oleh sel monosit pada kelompok yang diberi susu formula dengan nukleotida. Nukleotida juga mengaktifkan sel T dan sel B.
  
Kolostrum  
Kolostrum mengandung  “interferon like substance”, dapat menyebabkan aktifasi sitotoksisitas leukosit. Kolostrum juga mengandung makrofag yang berfungsi sebagai penyimpan dan pengangkut imunoglobulin. 

Gonadotropin-releasing hormone’ (GnRH)  
Gonadotropin-releasing hormone meningkatkan pertumbuhan makrofag, sel T dan merangsang sumsum tulang.

Hormon timus 
Hormon timus berperan dalam sel T dan modulasi sel T yang sudah matang. Ada empat macam hormon timus, yaitu timosin a, timolin, timopoietin, dan faktor timus humoral. Hormon tersebut digunakan untuk memperbaiki gangguan fungsi sistem imun pada keadaan usia lanjut, kanker, autoimun, dan kegagalan sistem imun pada pengobatan dengan imunosupresan. Pada kasus tersebut pemberian hormon timus menimbulkan peningkatan jumlah dan fungsi reseptor sel T serta beberapa aspek imunitas selular. Efek samping yang mungkin timbul seperti pemberian hormon yang lain adalah reaksi alergi lokal maupun sistemik.

Limfokin
Limfokin atau sitokin dihasilkan oleh limfosit yang mengalami aktivasi. Ada beberapa limfokin antara lain faktor aktivasi makrofag (MAF), faktor pertumbuhan makrofag (MGF), faktor pertumbuhan sel T (IL-2), faktor stimulasi koloni (CSF), interferon gamma. Faktor yang dihasilkan oleh makrofag misalnya faktor nekrosis tumor (TNF). IL-2 dan TNF telah dapat dibuat dengan bioteknologi genetika. TNF pada percobaan dapat menyembuhkan beberapa tumor pada tikus. Gangguan sintesis IL-2 ada kaitannya dengan kanker, AIDS, usia lanjut dan penyakit autoimun.

Interferon
Ada tiga macam interferon, interferon alfa (IFN-α) yang dihasilkan leukosit, interferon beta (IFN-β) yang dihasilkan fibroblast, dan interferon gama (IFN-γ =  interferon imun) yang dihasilkan oleh sel T yang teraktivasi. Interferon mempunyai khasiat dapat menghambat replikasi DNA dan RNA virus, sel normal dan sel ganas, dapat memodulasi sistem imun. Interferon dalam dosis tinggi menghambat penggandaan sel B dan sel T sehingga menurunkan respons imun selular dan humoral, dan dalam dosis rendah mengatur produksi antibodi serta merangsang sistem imun yaitu meningkatkan aktivitas membunuh sel NK, makrofag dan sel T. Dalam klinik, IFN digunakan pada berbagai kanker seperti melanoma, karsinoma sel ginjal, leukimia mielositik kronik, hairy cell leukimia, dan kapossi’s sarkoma.Efek sampingnya adalah demam, malaise, mialgia, mual, muntah, mencret, leukopenia, trombositopenia, dan aritmia.

Antibodi monoklonal 
Antibodi monoklonal diproduksi secara rekayasa bioteknologi. Dengan cara ini akan dihasilkan antibodi dalam jumlah banyak terhadap epitop tunggal antigen yang dikehendaki. Penggunaannya bersama radioisotop, toksin atau obat lain terutama pada pengobatan neoplasma. Antibodi monoklonal dapat mengikat komplemen untuk membunuh sel tumor manusia dan tikus pada percobaan in vivo.

Bahan dari jamur 
Bahan yang dapat diisolasi dari jamur antara lain lentinan, krestin danschizophyllan. Efek imunostimulasinya adalah meningkatkan fungsi makrofag. Krestin dan lentinan sebagai imunostimulator nonspesifik telah banyak digunakan pada pengobatan kanker.

Bahan dari bakteri
  1. Corynebacterium parvum  Corynebacterium parvum adalah kuman Gram positif. Digunakan sebagai imunostimulator dalam bentuk suspensi kuman yang telah dimatikan dengan pemanasan. Dalam klinik digunakan untuk mencegah pertumbuhan tumor dan mengurangi metastasis.
  2. Lactobacillus acidophilus  Dalam penelitian merupakan dapat menyebabkan pergeseran pola Th-2 ke arah Th-1 walaupun hanya secara lemah meningkatkan IFN-g.
  3. Endotoksin  Endotoksin merupakan lipopolisakarida, komponen dari dinding sel bakteri gram negatif seperti E. coli, shigela, dan salmonela. Sebagai imunomodulator diketahui dapat merangsang penggandaan sel B maupun sel T dan mengaktifkan makrofag. Masih bersifat eksperimen karena bersifat pirogenik dan imunogenik.

Imunostimulan sintetik

Levamisol  Dalam klinik lazim dipakai sebagai obat cacing, dan sebagai imunostimulan levamisol berkhasiat untuk meningkatkan penggandaan sel T, menghambat sitotoksisitas sel T, mengembalikan anergi pada beberapa kanker (bersifat stimulasi nonspesifik), meningkatkan efek antigen, mitogen, limfokin dan faktor kemotaktik terhadap limfosit, granulosit dan makrofag. Selain untuk penyakit hodgkin, penggunaan klinisnya untuk mengobati artritis reumatoid, penyakit virus, lupus eritematosus sistemik, sindrom nefrotik. Diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgBB per oral selama 2 minggu, kemudian dosis pemeliharaan beberapa hari per minggu. Efek samping yang harus diperhatikan adalah mual, muntah, urtikaria, dan agranulositosis. Obat i9ni diabsorpsi dnegan cepat dengan kadar puncak 1-2 jam. Obat ini didistribusikan luas ke berbagai jaringan dan dimetabolisme di hati. Tersedia dalam bentuk tablet 25,40,50 mg.

Isoprinosin  Sebagai imunostimulator isoprinosin berkhasiat meningkatkan penggandaan sel T, meningkatkan toksisitas sel T, membantu produksi IL-2 yang berperan dalam diferensiasi limfosit dan makrofag, serta meningkatkan fungsi sel NK. Diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB. Perlu pemantauan kadar asam urat darah karena pemberian isoprinosin dapat meningkatkan kadar asam urat.
Berbagai derivat sintetiknya sedang dalam penyelidikan untuk AIDS dan berbagai neoplasma. Obat ini dilaporkan mengurangi risiko infeksi terhadap HIV pada tahap lanjut.

Sitokin. Sitokin merupakan kelompok protein yang diproduksi oleh leukosit dan sel-sel yang berkaitan, memiliki peranan khusus dalam sistem imun dan hematopoesis. Sitokin yang sering digunakan di klinik antara lain IL-2, IFN, dan colony stimulatin Factor. IL-2 yang disebut juga T cell growth factor kini tersedia dalam bentuk rekombinan. IL-2 akan meningkatkan ploriferasi dan differensiasi sel Th dan Tc. Selain itu juga merangsang proliferasi dan differensiasi sel B, makrofag, dan meningkatkan sitotoksisitas sel NK. IL-2 digunakan secara IV atau infus kontinu. Efek samping IL=2 adalah hipotensi berat dan cardiotoksisitas. Pada ginjal ddapat meningkatkan kreatinin dan pada sistem hematologi menimbulkan supresi sumsum tulang. Pada SSP juga dapat menyebabkan delirium.

Colony Stimulating Factors. Granulocyte colony stimulating factor (G-CSF), seperti filgastrim dan levogastrim telah disetujui penggunaannya untuk mencegah neutropenia akibat kemoterapi kanker. Granulocyte Macrofag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) digunakan untuk penyelamatan kegagalan transplantasi sumsum tulang dan untuk mempercepat pemulihan setelah transparantasi sumsum tulang autolog.

Muramil dipeptida (MDP)  MDP adalah komponen aktif terkecil dari dinding sel mikobakterium. Bahan tersebut kini dapat dibuat secara sintetik. Sebagai imunostimulan berkhasiat meningkatkan sekresi enzim dan monokin, serta bersama minyak dan antigen dapat meningkatkan respons selular maupun humoral. Dalam klinik telah banyak digunakan untuk pencegahan tumor dan infeksi sebagai ajuvan vaksin.

Vaksin BCG. BCG dan komponen aktifnya merupakan produk bakteri yang emmeiliki efek imunostimulan.  Penggunaan BCG dalam imunopotensiasi bermula dari pengamatan bahwa penderita tuberkulosis kelihatan lebih kebal terhadap infeksi oleh jasad renik lain. Dalam imunomodulasi BCG digunakan untuk mengaktifkan sel T, memperbaiki produksi limfokin, dan mengaktifkan sel NK. Walaupun sudah dicoba untuk berbagai neoplasma, efek yang cukup nyata terlihat pada kanker kandung kemih dengan pemberian intravesika. Efek samping meliputi reaksi hipersensitivitas, syok, menggigil, lesu, dan penyakit kompleks imun.

DAFTAR PUSTAKA

1.       Gunawan SG, Setiabudy R, dkk. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.
2.       Anonim. Imunostimulan Pedang Bermata Dua. Buletin IDAI No 52 TH XXVII. Juni 2007.
3.       Mullins RJ. Echinacea. November, 2010. Diunduh dari http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/natural/981.html pada tanggal 6 April 2011.