Sunday, January 8, 2012

Farmakologi Antitusif, Mukolitik, Dekongestan, & Kortikosteroid


Farmakologi (Obat Simtomatik dan Antiinfeksi)
Oleh: Rr. Dewi Sitoresmi A


OBAT SIMTOMATIK
Antitusif

Secara umum berdasarkan tempat kerja obat, antitusif dibagi atas antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yang bekerja di sentral. Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan nonnarkotik.1

*Antitusif yang bekerja di perifer
Obat golongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal di saluran napas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anestesi langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran napas.1
a.       Obat-obat anestesi
Obat anestesi lokal seperti benzokain, benzilalkohol, fenol, dan garam fenol digunakan dalam pembuatan lozenges. Obat ini mengurangi batuk akibat rangsang reseptor iritan di faring, tetapi hanya sedikit manfaatnya untuk mengatasi batuk akibat kelainan saluran napas bawah.1
b.      Lidokain

Obat anestesi yang diberikan secara topikal seperti tetrakain, kokain dan lidokain sangat bermanfaat dalam menghambat batuk akibat prosedur pemeriksaan bronkoskopi.1
c.       Demulcent
Obat ini bekerja melapisi mukosa faring dan mencegah kekeringan selaput lendir. Obat ini dipakai sebagai pelarut antitusif lain atau sebagai lozenges yang mengandung madu, akasia, gliserin dan anggur. Secara obyektif tidak ada data yang menunjukkan obat ini mempunyai efek antitusif yang bermakna, tetapi karena aman dan memberikan perbaikan subyektif obat ini banyak dipakai.1
*Antitusif yang bekerja sentral
Obat ini bekerja menekan batuk dengan meninggikan ambang rangsang yang dibutuhkan untuk merangsang pusat batuk. Dibagi atas golongan narkotik dan nonnarkotik.
Golongan narkotik
Opiat dan derivatnya mempunyai beberapa macam efek farmakologik, sehingga digunakan sebagai analgesik, antitusif, sedatif, menghilangkan sesak karena gagal jantung kiri dan antidiare. Di antara alkaloid ini, morfin dan kodein sering digunakan. Efek samping obat ini adalah penekanan pusat napas, konstipasi, kadang-kadang mual dan muntah, serta efek adiksi.  Opiat dapat menyebabkan terjadinya bronkospasme karena penglepasan histamin, tetapi efek ini jarang terlihat pada dosis terapeutik untuk antitusif. Di samping itu narkotik juga dapat mengurangi efek pembersihan mukosilier dengan menghambat sekresi kelenjar mukosa bronkus dan aktivitas silia. Terapi kodein kurang mempunyai efek tersebut.1
a.       Kodein
Obat ini merupakan antitusif narkotik yang paling efektif dan salah satu obat yang paling sering diresepkan. Pada orang dewasa dosis tunggal 20-60 mg atau 40-160 mg per hari biasanya efektif. Kodein ditolerir dengan baik dan sedikit sekali menimbulkan ketergantungan. Di samping itu, obat ini sangat sedikit sekali menyebabkan penekanan pusat napas dan pembersihan mukosilier. Efek samping pada dosis biasa jarang ditemukan. Pada dosis agak besar dapat timbul mual, muntah, konstipasi, pusing, sedasi, palpitasi, gatal-gatal, banyak keringat dan agitasi.1
b.      Hidrokodon
Merupakan derivat sintetik morfin dan kodein, mempunyai efek antitusif yang serupa dengan kodein. Efek samping utama adalah sedasi, penglepasan histamin, konstipasi dan kekeringan mukosa. Obat ini tidak lebih unggul dari kodein.1
Golongan nonnarkotik
a.       Dekstrometorfan
Obat ini tidak mempunyai efek analgesik dan ketergantungan, sering digunakan sebagai antitusif nonnarkotik. Obat ini efektif bila diberikan dengan dosis 30 mg setiap 4-8 jam. Dosis dewasa 10-20 mg, setiap 4 jam, anak-anak umur 6-11 tahun 5-10 mg, sedangkan anak umur 2-6 tahun dosisnya 2,5- 5 mg setiap 4 jam.1
b.      Butamirat sitrat
Obat golongan antitusif nonnarkotik yang baru diperkenalkan ini bekerja secara sentral dan perifer. Pada sentral obat ini menekan pusat refleks dan di perifer melalui aktivitas bronkospasmolitik dan aksi antiinflamasi. Obat ini ditoleransi dengan baik oleh penderita dan tidak menimbulkan efek samping konstipasi, mual, muntah dan penekanan susunan saraf pusat. Dalam penelitian uji klinik, obat ini mempunyai efektivitas yang sama dengan kodein dalam menekan batuk. Butamirat sitrat mempunyai keunggulan lain yaitu dapat digunakan dalam jangka panjang tanpa efek samping dan memperbaiki fungsi paru yaitu meningkatkan kapasitas vital dan aman digunakan pada anak. Dosis dewasa adalah 3x15 ml dan untuk anak umur 6-8 tahun 2x10 ml, sedangkan anak berumur lebih dari 9 tahun dosisnya 2x15 ml.1
c.       Noskapin
Noskapin tidak mempunyai efek adiksi meskipun termasuk golongan alkaloid opiat. Efektivitas dalam menekan batuk sebanding dengan kodein. Kadang-kadang memberikan efek samping berupa pusing, mual, rinitis, alergi akut dan konjungtivitis. Dosis dewasa 15-30 mg setiap 4- 6 jam, dosis tunggal 60mg aman dalam menekan batuk paroksismal. Anak berumur 2-12 tahun dosisnya 7,5-15 mg setiap 3-4 jam dan tidak melebihi 60 mg per hari.1


d.      Difenhidramin
Obat ini termasuk golongan antihistamin, mempunyai manfaat mengurangi batuk kronik pada bronkitis. Efek samping yang dapat timbul ialah mengantuk, kekeringan mulut dan hidung, kadang-kadang menimbulkan perangsangan susunan saraf pusat. Obat ini mempunyai efek antikolinergik, karena itu harus digunakan secara hati-hati pada penderita glaukoma, retensi urin dan gangguan fungsi paru. Dosis yang dianjurkan sebagai obat batuk ialah 25 mg setiap 4 jam tidak melebihi 100 mg/hari untuk dewasa. Dosis untuk anak berumur 6-12 tahun ialah 12,5 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 50 mg/hari, sedangkan untuk anak 2-5 tahun ialah 6,25 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 25 mg/hari.1

Retensi cairan yang patologis di jalan napas disebut mukostasis. Obat-obat yang digunakan untuk mengatasi keadaan itu disebut mukokinesis. Obat mukokinetik dikelompokkan atas beberapa golongan. 

Ekspektoran
Ekspektoran ialah obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran napas (ekspetorasi). Penggunaan ekspektoran didasarkan pengalaman empiris. Mekanisme kerjanya diduga berdasarkan stimulasi mukosa lambung dan selanjutnya secara reflex merangsang sekresi kelenjar saluran napas lewat N.vagus, sehingga menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak. Obat yang termasuk golongan ini, ialah:2
a.       Ammonium klorida
Biasanya digunakan dalam bentuk campuran dengan ekspektoran lain atau antitusif. Ammonium klorida dosis besar dapat menimbulkan asidosis metabolik, dan harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan insufisiensi hati, ginjal, dan paru. Dosis ammonium klorida sebagai ekspektoran pada orang dewasa ialah 300 mg (5 mL) tiap 2-4 jam.2
b.      Gliseril guaiakolat
Penggunaan obat ini hanya didasarkan pada tradisi dan kesan subyektif pasien dan dokter. Efek samping yang mungkin timbul dengan dosis besar, berupa kantuk, mual, dan muntah. Obat ini tersedia dalam bentuk sirop 100mg/5mL. Dosis dewasa yang dianjurkan 2-4 kali 200-400 mg sehari.2
Mukolitik
Mukolitik adalah obat yang dapat mengencerkan sekret saluran napas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum. Contoh mukolitik, ialah:2
a.       Bromheksin
Bromheksis ialah derivat sintetik dari vasicine, suatu zat aktif dari Adhatoda vasica. Obat ini digunakan sebagai mukolitik pada bronkitis atau kelainan saluran napas yang lain. Efek samping pemberian oral berupa mual dan peninggian transaminasi serum. Bromheksin harus hati-hati digunakan pada pasien tukak lambung. Dosis oral untuk dewasa yang dianjurkan 3 kali 4-8 mg sehari. Obat ini rasanya pahit sekali.2
b.      Ambroksol
Ambroksol, suatu metabolit bromheksin diduga sama cara kerja dan penggunaannya.2
c.       Asetilsistein
Asetilsistein adalah derivat H-asetil dari asam amino L-sistein, digunakan dalam bentuk larutan atau aerosol. Pemberian langsung ke dalam saluran napas melalui kateter atau bronksokop memberikan efek segera, yaitu meningkatkan jumlah sekret bronkus secara nyata. Efek samping berupa stomatitis, mual, muntah, pusing, demam dan menggigil jarang ditemukan. Efek toksis sistemik tidak lazim oleh karena obat dimetabolisme dengan cepat.1
Dosis yang efektif ialah 200 mg, 2-3 kali per oral. Pemberian secara inhalasi dosisnya adalah 1-10 ml larutan 20% atau 2-20 ml larutan 10% setiap 2-6 jam. Pemberian langsung ke dalam saluran napas menggunakan larutan 10-20% sebanyak 1-2 ml setiap jam. Obat ini selain diberikan secara inhalasi dan oral, juga dapat diberikan secara intravena. Pemberian aerosol sangat efektif dalam mengencerkan mukus. Bila diberikan secara oral dalam jangka waktu yang lama obat ini ditoleransi dengan baik dan tidak mempunyai efek toksik.1
Di samping bersifat mukolitik, N-asetilsistein juga mempunyai fungsi sebagai antioksidan. N-asetilsistein merupakan sumber glutathion, yaitu zat yang bersifat antioksidan. Pemberian N-asetilsistein dapat mencegah kerusakan saluran napas yang disebabkan oleh oksidan. Penelitian pada penderita penyakit saluran napas akut dan kronik menunjukkan bahwa N-asetilsistein efektif dalam mengatasi batuk, sesak napas dan pengeluaran dahak. Perbaikan klinik pengobatan dengan N-asetilsistein lebih baik bila dibandingkan dengan bromheksin.1
Dekongestan
A-agonis banyak digunakan sebagai dekongestan nasal pada pasien rhinitis alergika atau rhinitis vasomotor dan pada pasien infeksi saluran napas atas dnegan rhinitis akut. Obat-obatan ini menyebabkan venokonstriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor α1 sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian mengurangi penyumbatan hidung.3
Reseptor α2 terdapat pada arteriol yang membawa suplai makanan bagi mukosa hidung. Vasokonstriksi arteriol ini oleh α2- agonis dapat menyebabkan kerusakan structural pada mukosa tersebut. Pengobatan dnegan dekongestan nasal seringkali menimbulkan hilangnya efektivitas, rebound hyperemia dan memburuknya gejala pada pemberian kronik atau bila obat dihentikan. Mekanismenya belum jelas, tetapi mungkin melibatkan desensitisasi reseptor dan kerusakan mukosa. α1-agonis yang selektif lebih kecil kemungkinannya untuk menimbulkan kerusakan mukosa.3
α1-agonis dapat diberikan per oral (pseudoefedrin, efedrin, dan fenilpropanolamin ) atau secara topical (xylometazoline, naphazoline, tetrahydrozoline, oxymetazoline, epinefrin, phenylephrine).4
Kortikosteroid
(Penjelasan umum mengenai golongan ini terdapat di LTM saya pada modul renal, pemicu 2.)
Obat pengontrol asma yang paling efektif adalah kortikosteroid. Cara pemberian yang paling baik adalah secara inhalasi. Pemakaian kortikosteroid inhalasi jangka panjang dapat menurunkan kebutuhan terhadap kortikosteroid sistemik. Pada asma kronik berat dibutuhkan dosis inhalasi yang tinggi untuk mengontrol asma. Bila dengan dosis inhalasi yang tinggi belum juga dapat mengontrol asmanya, maka ditambahkan kortikosteroid oral. Pada pemakaian kortikosteroid inhalasi jangka panjang dapat timbal efek samping kandidiasis orofaring, disfonia dan kadang-kadang batuk. Efek samping itu dapat dicegah dengan pemakaian spacer atau dengan mencuci mulut sesudah pemakaian alat.5
Pemberian obat kortikosteroid jangka panjang mungkin perlu untuk mengontrol asma persisten berat, tetapi pemberian itu terbatas oleh karena risiko terhadap efek samping. Pemberian inhalasi kortikosteroid jangka lama selalu lebih baik daripada pemberian secara oral maupun parenteral.5
Contoh Kortikosteroid inhalasi adalah beclomethasone, budesonide, flunisolide, fluticasone, triamcinolone.4


ANTIINFEKSI
ANTIMIKROBA
Antimikroba yang biasa digunakan untuk pengobatan infeksi traktus respiratorik nonspesifik adalah:
Betalaktam
Yang termasuk antibiotik betalaktam adalah golongan penisilin, cephalosporin (generasi I-IV), dan golongan lain seperti carbapenem dan betalactamase inhibitor. (sudah pernah dijelaskan pada Modul Renal, pemicu kedua. Lihat kembali LTM saya, ya. J)
 Makrolida
Antibiotika golongan Makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin Lakton yang besar dalam rumus molekulnya. Golongan Makrolida menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secara reversibel dengan Ribosom subunit 50S, dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis kuman dan kadar obat Makrolida. Sekarang ini antibiotika Makrolida yang beredar di pasaran obat Indonesia adalah Eritomisin, Spiramisin, Roksitromisin, Klaritromisin dan Azithromisin. 6
1.      Eritromisin
Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces erythreus. Aktif terhadap kuman gram positif seperti Str. Pyogenes dan Str. Pneumoniae. Yang biasa digunakan, untuk infeksi Mycloplasma pneumoniae, penyakit Legionnaire, infeksi Klamidia, Difter, Pertusis, Infeksi Streptokokus, Stafilokokus, infeksi Campylobacter, Tetanus, Sifilis, Gonore. Sediaan dari Eritromisin berupa kapsul/ tablet, sirup/suspensi, tablet kunyah dan obat tetes oral. Efek samping yang berat akibat pemakaian Eritromisin dan turunannya jarang terjadi. Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan eksantem yang cepat hilang bila terapi dihentikan. Ketulian sementara dapat terjadi bila Eritromisin diberikan dalam dosis tinggi secara IV. Eritromisin dilaporkan meningkatkan toksisitas Karbamazepin, Kortikosteroid, Siklosporin, Digosin, Warfarin dan Teofilin. 6
2.      Spiramisin
Spiramisin adalah antibiotika golongan Makrolida yang dihasilkan oleh Streptomyces ambofaciens. Secara in vitro (tes laboratorium) aktivitas antibakteri Spiramisin lebih rendah daripada Eritromisin.  Sediaa yang tersedia dari spiramisin adalah bentuk tablet 500 mg. Seperti Eritromisin, Spiramisin digunakan untuk terapi infeksi rongga mulut dan saluran nafas.6
Spiramisin juga digunakan sebagai obat alternatif untuk penderita Toksoplasmosis yang karena suatu sebab tidak dapat diobati dengan Pirimentamin dan Sulfonamid (misalnya pada wanita hamil, atau ada kontra indikasi lainnya). Efeknya tidak sebaik Pirimentamin dan Sulfonamid. Pemberian oral kadang-kadang menimbulkan iritasi saluran cerna.6
3.      Roksitromisin
Roksitromisin adalah derivat Eritromisin yang diserap dengan baik pada pemberian oral. Obat ini lebih jarang menimbulkan iritasi lambung dibandingkan dengan Eritromisin. Juga (bioavailabilitas) kadar obat yang tersedia tidak banyak terpengaruh oleh adanya makanan dalam lambung. Kadar obat dalam darah dan plasma lebih tinggi dari Eritromisin. Bentuk sediaan yang beredar adalah tablet atau kapsul 150 mg dan 300 mg. 6
Indikasinya diperuntukkan untuk infeksi THT, saluran nafas bagian atas dan bawah seperti bronkitis akut dan kronik, penumonia, uretritis (selain Gonore) akut dan kronis, infeksi kulit seperti pioderma, impetigo, dermatitis dengan infeksi, ulkus pada kaki. 6
4.      Klaritromisin
Klaritromisin juga digunakan untuk indikasi yang sama dengan Eritromisin. Secara in vitro (di laboratorium), obat ini adalah Makrolida yang paling aktif terhadap Chlamydia trachomatis. Absorpsinya tidak banyak dipengaruhi oleh adanya makanan dalam lambung. Efek sampingnya adalah iritasi saluran cerna. Klaritromisin juga meningkatkan kadar Teofilin dan Karbamazepin bila diberikan bersama obat-obat tersebut. 6
5.      Azitromisin
Azitromisin digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri seperti bronkitis, pneumonia, penyakit akibat hubungan seksual dan infeksi dari telinga, paru-paru, kulit dan tenggorokan.  Azitromisin tidak efektif untuk pilek, flu atau infeksi yang disebabkan oleh virus. Bentuk sediaan dari Azitromisin adalah tablet atau suspensi oral (cairan). Biasanya digunakan dengan atau tanpa makanan satu kali sehari. 6
Respiratory quinolon
(Penjelasan umum mengenai golongan ini terdapat di LTM saya pada modul renal, pemicu 2.)
Secara umum, efektivitas fluorokuinolon generasi pertama (siprofloksasin, ofloksasin, enolsasin) untuk infeksi bakterial saluran napas bawah adalah cukup baik. Namun, perlu diperhatrikan bahwa kuman S. pneumonia dan S. aureus yang sering menjadi penyebab ISN bawah kurang peka terhadap golongan obat ini.7
Kuinolon baru (moksifloksasin, gemifloksasin) dan levofloksasin mempunyai daya antibakteri yang cukup baik terdapat kuman gram-positif, gram negated, dan kuman atipik penyebab ISN bawah. Gatifloksasin sekarang tidak dipasarkan lagi karena mempengaruhi stabilitas kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus.7
Siprofloksasin efektif untuk mengatasi eksaserbasi cystic fibrosis yang disebabkan oleh P. aeroginosa, namun, penggunaan obat ini untuk jangka panjang mengakibatkan timbulnya resistensi. Siprofloksasin dan ofloksasin merupakan fluorokuinolon yang dapat digunakan dalam pengobatan tuberculosis oleh kuman yang resisten terhadap banyak obat (multidrug resistant) serta mikrobakteria atipik.7


ANTIJAMUR untuk infeksi sistemik
Infeksi sistemik dapat dibagi menjadi infeksi dalam/internal (aspergilosis, blastomikosis, koksidiodomikosis, kriptokokosis, histoplasmosis, mukormikosis, parakoksidiodomikosis, dan kasdidiasis), dan infeksi subkutan (kromomikosis, misetoma, sporotrikosis).8
1.      Amfoterisin B
Obat ini menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang. Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung pada dosis dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi. Amfoterisin B berikatan kuat dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor sehingga terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel. Obat ini dapat menghambat aktivitas Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis, beberapa spesies Candida, Torulopsis glabrata, Rhodotorula, Blastomyces dermatitis, Paracoc braziliensis, beberapa strain Aspergillus, Sporotrichum schenckii, Microsporum audiouini dan spesies Trichophyton.8
2.      Flusitosin
Obat ini efektif untuk pengobatan Kriptokokosis, Kandidosis, Kromomikosis, Torulopsis dan Aspergilosis. Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dnegan bantuan sitosin deaminasi dan dalam sitoplasma akan bergabung dnegan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan fosforilasi. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil. 8
3.      Imidazol dan triazol
Kelompok imidazol terdiri atas ketokonazol, mikonazol, dan klotrimazol. Sedangkan kelompok triazol meliputi itrakonazol, flukonazol, dan vorikonazol.8
-          Ketokonazol
Ketokonazol mempunyai aktivitas anti jamur baik sistemik maupun nonsistemik, Efektif terhadap Candida, Coccioides immitis, Cryptococcus neoformans, H.capsulatum, B.dermatitidis, Aspergillus dan Sporothrix.8
-          Itrakonazol
Antijamur sistemik turunan triazol ini erat hubungannya dengan ketokonazol. Itrakonazol memberikan hasil memuaskan untuk indikasi yang sama dengan ketokonazol antara lain terhadap blastomikosis, histoplasmosis, koksidioidomikosis, sariawan pada mulut dan tenggorokan serta tinea versikolor. Berbeda dari ketokonazol, intrakonazol juga memberikan efek terapi terhadap aspergilosis di luar SSP.8

DAFTAR PUSTAKA
1.       Yunus, Faisal. Penatalaksanaan Batuk dalam Praktek Sehari-hari. Cermin Dunia Kedokteran No. 84 Tahun 1993. Diunduh dari http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/07PenatalaksanaanBatuk084.pdf/07PenatalaksanaanBatuk084.html pada 15 Juni 2010.
2.       Estuningtyas, Ari, dan Azalea Arif. Obat Lokal. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Gunawan, Sulistia Gan, dkk. Ed. Ke-5. Jakarta: Departemen Farmakologi FKUI, 2008: 531-2.
3.       Setiawati, Arini, dan Sulistia Gan. Obat Adrenergik. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Gunawan, Sulistia Gan, dkk. Ed. Ke-5. Jakarta: Departemen Farmakologi FKUI, 2008: 81.
4.       Departemen Farmakologi FKUI. Farmakologi Obat-Obat Simtomatik Saluran Napas. Slide kuliah modul respirasi tahun 2007.
5.       Yunus, Faisal. Manfaat Kortikosteroid pada Asma Bronkial. Cermin Dunia Kedokteran No. 121 Tahun 1998. Diunduh dari http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/06ManfaatKortikosteroid121.pdf/06ManfaatKortikosteroid121.html pada 15 Juni 2010.
6.       Makrolida. Diunduh dari http://www.medicastore.com/apotik_online/antibiotika/makrolida.htm pada 15 Juni 2010.
7.       Setiabudy, Rianto. Golongan Kuinolon dan Fluorokuinolom Dalam: Farmakologi dan Terapi. Gunawan, Sulistia Gan, dkk. Ed. Ke-5. Jakarta: Departemen Farmakologi FKUI, 2008: 720.
8.       Setiabudy, Rianto dan Bahroelim Bahry. Obat Jamur. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Gunawan, Sulistia Gan, dkk. Ed. Ke-5. Jakarta: Departemen Farmakologi FKUI, 2008: 571-5.
Reaksi:

1 komentar:

  1. makasih gan sebelumnya mengenai informasi yang disajikan. dan kebetulan mw nanya untuk mekanisme kerja dari GG. terimakasih

    ReplyDelete