Saturday, January 7, 2012

Tonsilitis


TONSILITIS
Oleh: Rr. Dewi Sitoresmi A.

Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut, yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), dan tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/Gerlach’s tonsil). Penyebaran infeksinya melalui udara (air borne droplets), tangan, dan ciuman. Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak.1

A.Tonsilitis Akut



1. Tonsilitis viral
Gejala tonsilitis viral lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab yang paling sering adalah virus Epstein Barr. Hemofilus influenza merupakan penyebab tonsilitis akut supuratif. Jika terjadi infeksi virus coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri dirasakan pasien.1
Terapi
Istirahat, minum cukup, analgetika, dan antivirus diberikan jika gejala berat.1
2. Tonsilitis bakterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A Streptokokus beta hemolitikus yang dikenal sebagai strept throat, pneumokokus, Streptokokus viridian, dan Streptokokus piogenes. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas. Secara klinis, detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak kuning.1
Bentuk tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Bila bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur-alur, maka akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini juga dapat melebar sehingga terbentuk semacam membran semu (pseudomembrane) yang menutupi tonsil.1
Gejala dan tanda
Masa inkubasi 2-4 hari. Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorok dan nyeri sewaktu menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan, dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih (referred pain) melalui saraf glossofaringeus (N.IX). Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna, atau tertutup oleh membran semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan.1
Terapi
Antibiotika spektrum lebar penisilin atau eritromisin. Antipiretik dan obat kumur yang mengandung desinfektan.1
Komplikasi
Pada anak sering menimbulkan komplikasi otitis media akut, sinusitis, abses peritonsil (quincy throat), abses parafaring, bronchitis, glomerulonefritis akut, miokarditis, arthritis serta septikemia akibat infeksi v. jugularis interna (sindrom Lemierre). Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernapas melalui mulut, tidur mendengkur (ngorok), gangguan tidur karena terjadinya sleep apnea yang dikenal sebagai obstructive sleep apnea syndrome (OSAS).1

B.Tonsilitis Membranosa
Penyakit yang termasuk dalam golongan tonsilitis membranosa ialah tonsilitis difteri; tonsilitis septik (septic sore throat); Angina Plaut Vincent; penyakit kelainan darah seperti leukemia akut, anemia pernisiosa, neutropenia maligna serta infeksi mono-nukleosis; infeksi jamur moniliasis, aktinomikosis, dan blastomikosis; infeksi vorus morbili, pertusis, dan skarlatina.1
1. Tonsilitis difteri
Frekuensi penyakit ini sudah menurun berkat keberhasilan imunisasi pada bayi dan anak. Penyebab tonsilitis difteri ialah kuman Corynebacterium diphteriae, kuman yang termasuk gram positif dan hidup di saluran napas bagian atas yaitu hidung, faring, dan laring. Tidak semua orang yang terinfeksi kuman ini akan menjadi sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam darah seseorang. Tonsilitis difteri sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini.1
Gejala dan tanda
Gambaran klinik dibagi dalam 3 golongan yaitu gejala umum, gejala lokal, dan gejala akibat eksotoksin.
-    Gejala umum seperti juga gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh biasanya subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat, serta keluhan nyeri menelan.1
-    Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak tertutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membran semu. Membran ini dapat meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring, laring, trakea, dan bronkus, dan dapat menyumbat saluran napas. Membran semu ini melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Bila infeksinya berjalan terus, kelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian besarnya sehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck).1
-    Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan menimbulkan kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai dekompensatio cordis, mengenai saraf cranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernapasan, dan pada ginjal menimbulkan albuminuria.1
Diagnosis
Diagnosis tonsilitis difteri ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membran semu dan didapatkan kuman Corynebacterium diphteriae.1
Terapi
Anti Difteri Serum (ADS) diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit. Antibiotik penisilin atau eritromisin diberikan 25-50 mg per kg berat badan dibagi dalam 3 dosis selama 14 hari, Kortikosteroid 1,2 mg per kg berat badan per hari, dan antipiretik untuk simtomatis. Karena penyakit ini menular, pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu.1
Komplikasi
Laringitis difteri dapat berlangsung cepat, membran semu menjalar ke laring dan menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda usia pasien makin cepat timbul komplikasi ini. Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung atau dekompensasio cordis. Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata untuk akomodasi, otot faring serta otot laring sehingga menimbulkan kesulitan menelan, suara parau, dan kelumpuhan otot-otot pernapasan. Albuminuria akibat komplikasi ke ginjal.1
2. Tonsilitis septik
Penyebabnya adalah Streptokokus hemolitikus yang terdapat dalam susu sapi sehingga dapat timbul endemik. Karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum, maka penyakit ini jarang ditemukan.1
3. Angina Plaut Vincent (stomatitis ulcer membranosa)
Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang atau defisiensi vitamin C.1
Gejala
Demam sampai 390C, nyeri kepala, badan lemah, dan kadang-kadang terdapat gangguan pencernaan. Rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi, dan gusi mudah berdarah.1
Pemeriksaan
Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membran putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi, serta prosesus alveolaris, mulut berbau dan kelenjar sub mandibula membesar.1
Terapi
Antibiotika spektrum lebar selama 1 minggu. Memperbaiki higiene mulut. Vitamin C dan vitamin B kompleks.1
4. Penyakit kelainan darah
Tidak jarang tanda pertama leukemia akut, angina agranulositosis dan infeksi mononucleosis timbul di faring atau tonsil yang tertutup membran semu. Kadang-kadang terdapat pendarahan di selaput lendir mulut dan faring serta pembesaran kelenjar mandibula.1
·   Leukemia akut
Gejala pertama sering berupa epistaksis, pendarahan di mukosa mulut, gusi dan di bawah kulit sehingga kulit tampak bercak kebiruan. Tonsil membengkak ditutupi membran semu tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri yang hebat di tenggorok.1
·   Angina agranulositosis
Penyebabnya adalah akibat keracunan obat dari golongan amidopirin, sulfa, dan arsen. Dari pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan faring serta di sekitar ulkus tampak gejala radang. Ulkus ini juga dapat ditemukan di genitalia dan saluran cerna.1
·   Infeksi mononucleosis
Pada penyakit ini terjadi tonsilofaringitis ulsero membranosa bilateral. Membran semu yang menutupi ulkus mudah diangkat tanpa timbul pendarahan. Terdapat pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak, dan regioinguinal. Gambaran darah khas yaitu terdapat leukosit mononukleus dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain ialah kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (reaksi Paul Bunnel).1

C.Tonsilitis Kronik
Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat. Kuman penyebabnya sama dengan tonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman golongan gram negatif.1
Patologi
Karena proses radang berulang yang timbul, maka selain epitel mukosa, jaringan limfoid juga terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik, kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan di sekitar fosa tonsilaris. Pada anak, proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa submandibula.1
Gejala dan tanda
Pada pemeriksaan, tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Rasa ada yang mengganjal di tenggorok, dirasakan kering di tenggorok dan napas berbau.1
Terapi
Terapi lokal ditujukan pada higiene mulut dengan berkumur atau obat isap.1
Komplikasi
Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronik, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkulosis. Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala sumbatan serta kecurigaan neoplasma.1
Indikasi tonsilektomi
The American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi adalah:1
1.       Serangan tonsilitis lebih dari 3 kali per tahun walaupun telah mendapatkan terapi yang adekuat
2.       Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial
3.       Sumbatan jalan napas yang berupa hipertrofi  tonsil dengan sumbatan jalan napas, sleep apnea, gangguan menelan, gangguan berbicara, dan cor pulmonale
4.       Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, absen peritonsil yang tidak berhasil hilang dengan pengobatan.
5.       Napas bau yang tidak berhasil hilang dengan pengobatan
6.       Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bakteri group A Streptococcus beta hemoliticus
7.       Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan
8.      
Otitis media efusa/otitis media supuratif


 
                               
Differential Diagnosis
Limfoma leher dan kepala
Tumor ganas nasofaring
Tumor ganas tonsil
Masalah lain yang perlu dipertimbangkan adalah sore throat, Gastroesophageal reflux disease (GERD), Obstructive sleep apnea, Leukemia, dan infeksi jamur.

Daftar Pustaka
1.    Rusmarjono dan Efiaty Arsyad Soepardi. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi adenoid. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Soepardi, Efiaty Arsyad, dkk. Ed. Ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2008: 221-4
2.    Shah, Udayan K. Tonsillitis and Peritonsillar Abscess: Differential Diagnoses and Workup. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/871977-diagnosis pada 29 Juni 2010. 
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment