Tuesday, February 7, 2012

OBAT PELUMPUH OTOT


OBAT PELUMPUH OTOT
Oleh Anggia Widyasari

Menurut mekanisme kerjanya, obat ini dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu :
1. Obat penghambat kompetitif yang menstabilkan membran, misal d-tubokurarin
2. Obat penghambat secara depolarisasi persisten misalnya suksinilkolin.
Obat pelumpuh otot atau penghambat transmisi neuromuskular dapat berinteraksi dengan reseptor asetilkolin dengan cara mendepolarisasi endplate atau dengan berkompetisi dengan tempat perikatan asetilkolin. Mekanisme yang pertama terdapat pada obat-obat depolarisasi sementara yang kedua terdapat pada agen nondepolarisasi.2
Pelumpuh otot depolarisasi memiliki struktur yang sangat dekat dengan asetilkolin sehingga dapat berikatan dengan reseptor asetilkolin dan menimbulkan potensial aksi dari otot. Akan tetapi obat ini tidak dimetabolisme oleh asetilkolinesterase dan bertahan di celah sinaps lebih lama sehingga depolarisasi endplate terjadi lebih lama. 3
Depolarisasi endplate yang berlanjut akan mengakibatkan
terjadinya relaksasi otot karena waktu terbukanya kanal sodium terbatas. Setelah eksitasi di awal dan terbukanya kanal sodium, kanal akan tertutup dan tidak bisa terbuka lagi ingga endplate terrepolarisasi. Endplate tidak akan bisa mengalami repolarisasa selama agen pelumpuh otot depolarisasi terus berikatan dengan reseptor setilkolin. Hal ini disebut blok fase I. Setelah cukup lama depolarisasi endplate akan bisa menyebabkan perubahan di reseptor asetilkolin yang menyebabkan blok fase II, yang menyerupai mekanisme pada pelumpuh otot nondepolarisasi. 3
Pelumpuh otot nondepolarisasi akan berikatan dengan reseptor asetilkolin tetapi tidak menyebabkan terbukanya kanal ion. Karena asetilkolin menjadi tidak bisa berikatan dengan reseptornya, maka tidak terjadi potensial aksi di endplate. Meski hanya satu subunit yang diblok, blokade neuromuskular tetap akan terjadi.3
Melihat mekanisme kerjanya di atas, pelumpuh otot depolariasi bekerja sebagai agonis reseptor asetilkolin sementara yang nondepolarisasi bekerja sebagai antagonis kompetitif.3
Pelumpuh otot depolarisasi tidak dimetabolisme oleh asetilkolinesterase, karena itu mereka akan berdifusi dan dihidrolisis di plasma dan hepar oleh enzim lain yang disebut pseudokolinesterase.3
Agen nondepolarisasi, kecuali mivacurium tidak dimetabolisme oleh asetilkolinesterase maupun pseudokolinesterase. Pulihnya efek blokade obat-obat ini bergantung pada redistribusi, metabolisme dan eksresi relaksan oleh tubuh, atau pemberian agen reversal spesifik yang menghambat enzim asetilkolinesterase. Pemberian inhibitor asetilkolinesterase akan meningkatkan jumlah asetilkolin di celah sinaps sehingga dapat berkompetisi dengan agen pelumpuh otot nondepolarisasi. 3
Penawar pelumpuh otot yang sering digunakan di antaranya neostigmin 0,04-0,08 mg/kg, piridostigmin 0,1-0,4 mg/kg, dan edrophonium 0,5-1,0 mg/kg. Obat-obat penawar pelumpuh otot ini dapat menyebabkan hipersalivasi, perspirasi, bradikardi, bronkospasme, hipermotilitas usus, dan pandangan kabur sehingga harus disertai obat vagolitik seperti glikopirolat.

FARMAKODINAMIK PELUMPUH OTOT DEPOLARISASI
Pelumpuh otot depolarisasi (nonkompetitif, leptokurare) bekerja seperti asetil-kolin, namun di celah saraf otot tidak dirusak oleh kolinesterase, sehingga memerlukan waktu cukup lama berada di celah sinaptik. Oleh sebab itu terjadilah depolarisasi yang ditandai oleh fasikulasi yang disusul relaksasi otot lurik. Suksinilkolin (diasetil-kolin) dan dekametonium merupakan golongan pelumpuh otot depolarisasi. 4
Asetilkolin (Ach) yang dilepaskan dari ujung saraf motorik akan berinteraksi dengan reseptor nikotinik otot (Nm) di lempeng akhir saraf (endplate) pada membran sel otot rangka dan menyebabkan depolarisasi lokal (endplate potential, EPP) yang bila melewati ambang rangsang (Et) akan menghasilkan potensial aksi otot (muscle action potential, MAP). Sehingga MAP akan menimbulkan kontraksi otot.4
Suksunilkolin menghambat dengan cara menimbulkan depolarisasi persisten pada lempeng akhir saraf (endplate) karena obat-obat ini bekerja sebagai agonis asetilkolin namun tidak segera dipecah oleh kolinesterase. Pada mulanya endplate potensial  (EPP) menghasilkan beberapa muscle action potensial (MAP) yang menyebabkan terjadi fasikulasi otot selintas. Kemudian membran otot mengalami akomodasi terhadap rangsangan yang persisten dari endplate potensial sehingga tidak lagi membentuk muscle action potensial, keadaan ini disebut blok fase I. Setelah itu, terjadi repolarisasi endplate potensial walaupun obat masih terikat pada reseptor nikotinik otot. Keadaan desesitasi reseptor terhadap obat ini disebut blok fase II.5

PERBEDAAN ANTARA PENGHAMBAT KOMPETITIF
DAN PENGHAMBAT SECARA DEPOLARISASI PERSISTEN

P

Obat golongan 1
Obat golongan 2

(penghambat kompetitif)
(penghambat secara depolarisasi persisten)
EPP
Tidak mencapai ambang rangsang
Persisten diatas ambang rangsang
Efek mula-mula terhadap otot
Tidak ada
Kontraksi (fasikulasi) selintas
Mula kerja
3 menit
1 menit
Masa kerja
20-40 menit
4 menit



DAFTAR PUSTAKA
1.  Guyton
2. Neuromuscular blocking agent. In: Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. Clinical Anesthesia. 5th ed. Lippincott Williams and Wilkins; 2006.
3.  Neuromuscular blocking agent. In: Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Clinical Anesthesiology. 4th ed. McGraw Hill; 1996.
4.  Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. ed 2. Jakarta : Bagian   Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. P 66-9.
5. Setiawati A, Gan S. Pelumpuh Otot dan Pelemas Otot. Dalam: Gunawan SG, Nafrialdi RS, Elysabeth. Farmakologi dan Terapi. Ed 5. Jakarta: Departemen  Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. P 105-10.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment